Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Aku Mau Empat, Mas!


__ADS_3

"Ah, Mas ...!" Dinka kesal sekarang. Abid menggebu menyetubuhinya. Dia tidak punya kesempatan mengelak. Pria itu seperti kesetanan menggaulinya.


"Apa? Mau lebih dalem? Katakan, Sayang! Minta dan memohonlah!" Abid menumpahkan semua perasaan kesal dan geram pada Dinka yang pergi begitu saja saat datang ke rumah sakit siang tadi. Dinka tidak bilang kalau mencari Bee, dia tahu dari Mamanya. Apa mulutnya susah kalau menyapa lebih dulu? Dan sesorean tadi, Dinka jelas mengelak darinya.


Sialan, kan? Padahal dia sudah sangat ingin masuk ke rumah sejak sore hari. Banyak alasan yang dipakai wanita itu, termasuk membiarkan Ace bermain-main hingga malam hampir larut


Cih, Dinka jijik. Dia marah sekali. "Jangan panggil Sayang saat begini, Mas! Kesannya kaya Mas sedang bayar jasa ke aku!"


Dinka muak. Sayang? Ke Olla jangan-jangan juga begitu, kan? Mungkin di kepala Abid sekarang adalah bayangan berse tubuh dengan Olla.


"Ah, sakit, Mas!" Gerakan Abid menjadi brutal hanya karena ucapan seperti itu darinya.


"Tahan, se ... ben ... tar!" Abid hampir sampai. Dan faking syit sekali, ketika lagi enak-enaknya, harus dicabut dan ditumpahkan dengan bantuan tangannya sendiri. Abid lihai melakukannya—ahli lebih tepatnya. Dia bisa mencabut tepat waktu, tapi ingin sekali rasanya melihat Dinka khawatir dan bermuka masam setiap hari memikirkan benihnya yang shot di dalam dikhawatirkan akan jadi bayi.


Untuk itu, dia sangat mampu dan jauh lebih ahli melakukannya. Legend lebih tepatnya.


Bohong kalau Abid tidak sedang membandingkan samar-samar, bagaimana Nara—mendiang istrinya dengan Dinka. Nara bukan perawan saat menikah dengannya. Sementara Dinka, masih bersegel. Jelas kesannya beda. Meski dia tak mempermasalahkan keadaan Nara waktu itu. Abid merasa terhormat mendapat kesempatan mengoyak selaput tak kasat mata itu.


"Faakk, Dinka!" Abid memejamkan mata ketika dia menarik keluar lalu mengimpit miliknya di antara tubuhnya dan bagian bawah perut Dinka, kemudian tangannya membantu menuntaskan. Lalu bibirnya menghisap bibir Dinka yang egois menikmati pelepasan yang menggigit barusan. Dia meraih bibir Dinka yang digigit kuat. Jelas dia sedang merasakan sensasi nikmat pelepasan-entah-yang-ke-berapa.


"Jangan keterlaluan sama Mas, Dinka! Mas bisa nggak bisa jauhan dari kamu kalau kamu gigit begini!" Abid bergumam dengan napas tersengal. "Love you, Dinka!"


Cuih!


"Jangan katakan itu setelah kita bercinta, Mas. Lucu denger nya!" Dinka tertawa sumbang saat membiarkan napas dan dada mereka saling tumpang tindih tak keruan. Ya, dia memang merinding dan tersentuh setiap Abid memujanya. Hei, memangnya siapa yang tidak?

__ADS_1


Ujung saraf sekujur tubuhnya terbuka, titik dimana urat malu Dinka terekspose. Di sentuh, dibuai, di puja, disebut bagian terindah, dikatakan paling memikat, tak ada duanya, racauan yang mengagungkan betapa nikmat organ tubuh Dinka yang satu itu. Menggigit, sempit, ketat, hisapannya kuat, dan seakan Abid belum pernah merasakan sebelumnya—padahal sudah ribuan kali merasakannya.


Semua orang juga akan merinding sebadan-badan saat pemanasan terjadi. Dinka merasakan itu semua. Semakin kesini semakin intens, ditambah sentuhan pasca melakukan hubungan itu membuat jantung mereka seakan berdebar bersamaan. Benar, ini momen paling intim. Tapi diawali pemaksaan, dimulai dengan perasaan tak karuan dari si pria ... dan pasti setelah kejadian tadi siang, Olla pasti mengadu. Ya, Dinka melihat dengan mata kepalanya sendiri, kalau Olla kembali ke ruangan Abid. Dia tahu, Olla tipe yang suka memutar balikkan peran. Siapa yang rubah di sini, sebenarnya?


Jika saja dia tidak menahan diri, Dinka akan masuk dan melabrak Olla, lebih buruk tangannya bisa mencakar setajam cakar kucing. Tapi pikiran warasnya selalu mengatakan kalau ini rumah sakit. Ini tidak baik. Dan akhirnya, Dinka pergi. Tidak jadi melakukan apa yang Abid mau: mengklaim Abid adalah miliknya.


Cih ... wanita itu! Sungguh Dinka iri pada kesempurnaan Olla.


"Ngaca Mbak Dinka ... kaca di rumah kamu kurang lebar, apa?" Olla tertawa. Cantik sekali walau jelas sedang merendahkan orang lain.


"Kamu nggak usah berlebihan berusaha. Mas Abid kamu akan jadi milikku tak lama lagi. Sebaiknya siapkan diri, hati, dan dada. Tisu yang banyak, karena patah hati itu selain menguras energi juga menguras stok tisu."


"Mbak bicarakan masa depan sendiri?" Sarkas sekali ucapan itu. Dinka bukan wanita cengeng ya! Jadi digertak model apapun, dia tidak gentar. "Kalau iya, aku mau nyumbang tisu segerobak. Kayaknya, tak lama lagi yang Mbak bahas itu bisa jadi lamanya seumur hidup Mbak Olla. Cukup aku bilang pada Mas Abid, kalau ada bayi di perutku, Semua mimpi Mbak Olla pupus."


Kata-kata dari mana itu ya! Tapi ada sesuatu yang geram dalam hatinya mendengar ucapan Olla itu. Dia harus ikut panas, kan? Urusannya apa? Dia yang pergi, dan ingin merebut kembali. Orang pasti malu jika ingat itu, kan? Setidaknya malu pada gelar dan kecantikan yang dianugerahkan padanya. Atau, Dinka boleh berbangga diri saat ada yang menyesal setelah mencampakkan pria yang menikahinya kini? Abid termasuk golongan most wanted man in the world, gitu?


"Yang bersama karena cinta juga bisa pisah, karena kekurangan pasangan, Mbak Olla! Yang udah fix nikah, juga bisa pergi begitu saja hanya karena merasa dia terlalu sempurna untuk pasangan yang punya kekurangan. Tapi, bagi saya ... ketika memutuskan menikah, tentu saya tidak pernah ingin melepaskan pasangan saya! Buat apa nikah kalau hanya untuk cerai, kan? Kalau Mas Abid melepaskan, saya yang akan genggam erat tangannya! Saya boleh egois mempertahankan suami saya, apalagi hanya karena godaan luar! Saya siap diajak tarung, Mbak! Tolong jangan remehkan saya!"


Dinka mengerahkan kemampuannya mendebat. "Saya memang terlihat bodoh, tidak sekeren pangkat dan gelar Mbak, tapi otak saya waras. Yang jauh lebih penting ketimbang cerdas dan berkelas tambah di hati miara nurani yang tumpul dan hati yang buta! Otak saja tidak cukup untuk menjalani hidup, Mbak!"


Dinka maju selangkah, menghadap Olla yang mulai gerah dan tangannya mengepal. "Mbak siapkan aja dada yang lapang, sebab punya saya makin menjulang digarap mantan calon suami Mbak setiap malam! Kami bercinta sampai pagi, dengan senjatanya yang besar dan kekar! Mbak pasti belum tahu bagian itu!"


Olla mendengus. Air matanya tumpah, kakinya gemetar. Dinka menyerang tepat di bagian yang Olla ingin ketahui. Olla penasaran.


"Sayang untuk membuktikan keperkasaan mantan calon suami Mbak, kita harus nunggu empat bulanan. Nanti saya undang, Mbak ... ditunggu dengan sabar ya, Mbak!" Dinka menjauh dengan bibir terangkat sebelah. "Bae-bae, mentalnya Mbak Olla, kalau udah nggak kuat, tolong pesan satu kavling di San Diego Hills."

__ADS_1


"Ah ...." Dinka mengerang ketika Abid menarik ujung dadanya dengan mulut. Membawa seluruh perhatian Dinka kembali ke malam ini, dimana dia mendadak ingin dibuahi pria itu. Karena dorongan ucapannya sendiri siang tadi pada Olla. Empat bulan lagi, dia harus empat bulanan, tapi hamil saja dia takut. Apa dia harus berlari ke kamar Mamanya dan Jen? Bersujud dan menangis di kaki mereka? Minta ampun dan minta dicabut kutukan mereka itu?


Dan bilang kalau sekarang dia takut posisinya digeser wanita lain? Dia mulai ketagihan suara Abid? Lebih buruk, dia mulai cinta pada Abid? Dia ingin pernikahan ini langgeng! Dia ingin rahimnya basah oleh cairan Abid, kemudian tumbuh bayi-bayi lucu di sana, jadi sodara-sodara Ace? Itu indah, tapi ingat dia pernah jahat sekali pada Jen ... kenapa keindahan itu seakan mustahil digapai olehnya.


Argh, Dinka mengerang frustrasi dalam hati.


"Satu kali lagi, Din ...."


Dinka menatap lamat suaminya.


"Aku masih masa subur, Mas ...."


"Ya, Mas ngerti ... udah keluar di luar—lihat!" Abid menunjuk cairannya yang telah menyatu dengan tisu di tempat sampah.


"Keluarkan di dalam aja, Mas ... aku ingin memiliki Mas Abid sendirian, tanpa Mbak Olla punya kesempatan datang! Aku ingin Mas Abid hanya melihat dan mendengarku saja! Aku benci lihat kalian sama-sama walau hanya alasan pekerjaan!" Dinka meregangkan tubuhnya, menarik Abid menggagahi dirinya lagi. Tangannya mengalung di leher Abid.


"Ayo kita punya bayi yang banyak, Mas!"


Abid tercengang. Dia menelan ludah. "Apa!"


"Aku mau empat, Mas!"


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2