Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Diam-Diam Melelehkan


__ADS_3

Semua keluarga berkumpul di sini—UGD rumah sakit. UGD ramai sekali, panik, heboh, dan mengundang banyak sekali perhatian dari perawat dan dokter untuk datang. Jelas karena dua anak kecil menangis, seorang wanita muda berteriak memanggil perawat begitu keras, lalu begitu dilihat, ada seorang pria berbadan besar bersandar lemas di bangku penumpang.


Abid diketahui sudah nyaris sembuh. Tapi sekarang, terhitung dua kali dia terkena serangan begini—sesuai keterangan sopir taksi, Bee, dan Dinka.


Yang menangani trauma Abid hanya bisa menarik napas dalam melihat itu. Dia tahu harus mengevaluasi lagi tindakannya. Dia tahu, harus mengulang lagi—semoga tidak dari awal, tapi kelihatannya ... dia tidak berani memikirkan.


Mama Resti dan Mama Desy hanya bisa menunggu dengan wajah yang cemas. Bee dan Honey sudah bisa tenang sekarang di dekapan Mama Resti.


Dinka berdiri di sebelah kanan Abid, yang tanpa menyadari adanya Olla di satu ruangan dengannya. Dia terlalu panik, iya, panik ... Dinka pikir, hanya melihat pasti tidak akan kenapa-naoa, kan? Dan dia menyesal sebab menyepelekan sakit yang dialami suaminya ini.


Olla yang bertugas di UGD pagi ini, seperti mendapat angin segar saat melihat Abid dibaringkan. Ya, kedengaran gila, tapi itulah yang wanita itu rasakan. Berkesempatan memeriksa detak jantung yang membuat jantungnya sendiri berdebar tak keruan.


Terlebih, pakaian dan segala yang melekat di badan Abid adalah pemberiannya—dia sadar itu setelah keadaan teratasi.


Matanya yang berhias bulu mata lentik itu melirik Dinka yang panik. Sudah lewat 40 menit dan Abid belum mau bangun juga, dan wanita itu sama sekali tidak bergeser dari posisinya. Tidak menangis, dan datar.


Apa yang ada di pikiran wanita itu sebenarnya? Dia tidak tampak sedih—bahkan. Sudah begitu, tidak mau melepaskan. Jadi sebenarnya sudah bisa ditebak, kan? Tak ada cinta diantara mereka, dan untuk apa bertahan? Aneh sekali ....


"Ugh ...."


Dinka tersentak dan langsung mendekat, pun dengan Olla. Wanita itu sigap memeriksa Abid kembali.


Mata Abid jatuh ke Olla lebih dulu, mengerjab lagi, sampai matanya jelas melihat ada sosok lain yang melongok begitu penasaran ke arahnya.


Abid tersenyum, tapi dia tidak tau apa bibirnya ikut tersenyum. Dia lega ada Dinka di sana, tampak baik-baik saja. Tangannya langsung terulur.


"Apa yang kamu rasa, Bid? Kamu—"


Olla melihat tangan Abid yang bergerak naik, tapi bukan ke arahnya melainkan ke arah wanita lain.


Dinka menatap Olla lebih dulu meski dia tahu kalau dia lah yang dicari Abid. Dia yang diinginkan Abid. Tidak tau, hanya ingin melihat saja. Barang kali, orang habis pingsan itu tidak boleh pegang istrinya. Ya siapa tau, kan?


Dinka mendekat dan ... "Hemmph!"


Dia kaget saat Abid menariknya jatuh. Jatuh dan langsung bertemu bibir Abid yang seperti mengeluarkan senyum tadi. Mata Dinka membulat sempurna.


"Astaga!" pekik Resti dan Desy bersamaan saat kedua wanita itu masuk.


Dinka menekan dada Abid agar dilepaskan. Ya ampun, dia tidak mau lagi, ya ... perang dengan Olla hanya gara-gara begini ini!


Justru, tangan Abid menekan tengkuk Dinka agar mereka semakin dalam berciuman.


Oh, My Good!


Semua mata yang berada di situ tak bisa berpaling walau ingin. Bahkan dia bocil itu melebarkan matanya.

__ADS_1


Dalam alam bawah sadar Abid tadi, dia melihat kejadian waktu itu terulang lagi, sama persis. Hanya bukan Nara di sana, melainkan Dinka. Luka dan darah itu mengucur dari tubuh Dinka, bukan Nara. Mengerikan sekali. Abid takut, takut jika kedua kalinya, dia jadi pria yang tak berguna. Ditambah, Dinka hanya orang iseng yang asal saja ingin menikah. Jadi jahat sekali kalau dia membunuh Dinka seperti Nara.


Rasa bersalahnya akan jauh lebih besar ketimbang Nara dulu. Bahkan Dinka belum sempat diberi kebaikan olehnya. Cinta apalagi, dia belum mengungkapkan.


Pagutan itu terlepas. Napas Dinka tersengal, mukanya merah, lantas dia berontak. Tapi Abid menahannya lagi. "Makasih untuk tetap di sini sama Mas, Din."


Pria itu tersenyum benar-benar kali ini. Lega dan tak bisa menyembunyikan raut bahagianya.


Ini nggak kebalik, kan? Maksudnya, Dinka yang bilang seperti itu ... yang disangka hampir mati kan, Abid? Kok ini malah—sudahlah.


Dinka hanya bisa mengerjap, lalu Abid memeluknya lagi. Memeluk wanita yang disangkanya mati. Astaga.


Dan, Abid baru sadar ada Olla yang memalingkan muka dengan perasaan terluka ada di sana. Dia melihat Olla menahan tangis hingga matanya memerah.


"Biar saya periksa dulu, lalu boleh pulang kalau keadaan sudah membaik." Olla menyudahi perasaan sakitnya. Dia sedang bekerja sekarang. Dan bekerja di sini, harus profesional.


Dinka membeliak—lagi. Astaga ... dia lupa ada orang banyak di sana. Buru-buru dia menjauhkan diri dari Abid dan berdehem.


"Suami saya suka refleks begitu, maaf!" Dinka mundur, ikut bergabung dengan mertua dan mamanya.


Olla memeriksa Abid perlahan-lahan. Dia ingin menyentuh lagi pria ini. Dia merasakan kalau semua memang tak lagi sama, tapi dia tidak mau menyerah. Olla harus memaksa.


"Tampaknya anda harus opname, sebab keadaan anda masih harus dipantau." Olla mengatakan begitu usai memeriksa Abid, sehingga membuat Abid mengerutkan kening.


Dinka mengangguk, meski bukan dia yang ditanya. "Baik, Dokter... tolong lakukan yang terbaik untuk suami saya."


Olla tidak membalas.


"Desy!"


Semua orang menoleh ke sumber suara.


"Kira?!" Desy langsung menyambut besannya dengan pelukan hangat. "Suaminya Dinka pingsan tadi. Kamu ngapain? Jen kayaknya baik pas dari rumah kemarin? Apa dia muntah sampai parah lagi?"


Kira menggeleng. "Ranu minta aku buat periksa beberapa hal. Nggak tau anak itu maunya apa, suruh mamanya bolak balik ke sini. Kalau mualnya Jen emang nggak bakal ilang sampai trimester pertama habis, kan? Anak itu sudah tiga kali hamil masih saja menyusahkan."


Desy tertawa, "Biar aku saja yang urus, kamu masih punya si kembar yang bikin emosi terkuras. Oh, ya ... kenalkan ini besanku, mamanya Mas Abid."


Resti sejak tadi diam saking kaget bisa bertemu dengan besan Desy, yang tak lain bos di sini. "Kita udah ketemu pas nikahan kemarin," sapa Resti canggung seraya mengulurkan tangan.


Kira tersenyum, "saya boleh sapa kalau ketemu, kan, Bu ...?"


"Kebalik atuh, Bu ... saya yang harus tanya begitu, kan, ya?!" Resti merasa dirinya rendah sekali dihadapan Kira. Ya ampun.


Kira tertawa kecil. "Nggak ada yang kebalik, Bu ... saya suka takut salah ngenali orang. Pernah dibilang sok akrab soalnya dulu."

__ADS_1


"Ih, kalaupun salah mengenali, saya mah nggak apa-apa. Yang bilang sok akrab pasti tidak tau siapa Ibu, kan?"


Ketiganya tertawa. Dinka menyela kemudian, membawa Honey mendekat, sementara Bee cuek melangkah mendekati Papanya.


"Ini Honey, Tante ... anak saya." Dinka mendadak formal dan sopan, membuat Kira mengerutkan alis. Dinka kena pengaruh siapa kok bisa begini?


"Kamu apa kabar, Din ... lama nggak main ke rumah. Pas Ranu pulang, kamu juga nggak main, Ranu sampai kesal. Udah nyuruh Mama masak banyak tapi kamu nggak muncul." Kira merengut.


"Saya—"


"Lain kali main, ajak suami dan anak kamu. Biar kumpul sama cucu Mama yang lain. Pasti mereka senang tambah sodara secantik ini." Kira mencubit pelan pipi Honey. "Halo Honey cantik ... kapan-kapan ke rumah Oma, ya. Main sama Ace, Jenna, Cio, dan Finn."


Honey mengangguk senang.


Setelah itu, Kira menghampiri Abid, dan menyapa Olla dengan senyum sekilas.


Olla yang kaget melihat siapa Desy dan Dinka hanya bisa terbengong. Dinka ini siapa sebenarnya?


Abid berusaha bangun, tapi ditahan oleh Kira. "Cepet sembuh, ya, Mas Dokter. Pingsan pasti karena Dinka yang buat malamnya Mas kacau."


Abid langsung tertawa lebar. "Kami kejar target, Bu."


"Jangan dikejar, cukup jatuhkan di ranjang saja. Kalau dikejar, dia bakal lari, kabur dan ngumpet." Kira mengerling Dinka yang sudah merah di wajah hingga ke seluruh badan. Astaga ... Mama Kira.


Semuanya tertawa, kecuali Olla. Dia merasa berada di dimensi berbeda dengan orang-orang ini.


"Oh, ya ... Ranu kemarin minta Mama kasih hadiah penikahan ke kalian, mungkin besok atau lusa ada orang yang akan datang ke rumah."


Ucapan itu menyedot suara tawa yang ada hingga semuanya terdiam.


"Di rumah Bu Resti atau di rumah kamu, Des? Biar bisa langsung di pakai Dinka dan di foto, lalu di kirimkan ke Ranu." Kira menambahkan.


"Duh, Ma—" Akhirnya Dinka keluar aslinya. Manja ke Kira sama seperti Ranu. "Ranu baru kerja berapa bulan, kan? Kok udah kasih-kasih hadiah? Kamarin juga udah kasih hadiah, kan?"


"Ini katanya udah diucapkan pas kalian masih SMA, jadi ya ... Mama hanya bisa nurut. Hanya yang warna biru nggak ada jadi dia pilih yang putih saja. Dan karena kamu suka ngebut, ditambah kayaknya Lambo terlalu ribet, dia milihnya Audi ... nggak apa-apa, kan? Udah di urus sama Excel juga."


Ada suara ludah diteguk bersamaan, ada mata yang terbengong takjub, sementara Resti bingung. Mereka ngomong apa, sih?


Dan Abid, nyaris pingsan kembali, sebab ... pasti Dinka akan ugal-ugalan saat pakai mobil. Jadi sebenarnya, dia yang tidak setara dengan Dinka. Gadis ini, diam-diam mencengangkan.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2