Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Attitude-nya Mana? Astaga?!


__ADS_3

"Yang di rumah udah diberesi?" Abid bertanya. Wajahnya datar. Menggeser bantal yang sejak tadi dipakai untuk menutupi bawah perutnya.


"Nggak suka?"


"Biasa aja." Abid menepuk sebelahnya. "Sensi banget sih," candanya.


Dinka duduk di tempat yang Abid tunjuk. "Kalau anak itu masih dijadikan alasan, Mbak Olla sekalian akan aku singkirkan!"


Menyandarkan kepala di bahu Abid, Dinka merengut. "Gak peduli ya, aku dikatain nepotism! Ini menyangkut integritas hubungan pernikahan!"


Matanya melirik galak. "Aku nggak peduli dikatain mutus rezeki orang, sebab calon penikung kalau nggak ditilang diawal, bakal bikin celaka belakangan! Pencuri kalau nggak dikasih pelajaran, habis nanti harta kita!"


"Ya ampun, segitunya ya, posesif sama suami impo, gak bisa apa-apa kaya Mas." Dirapatkan badan Dinka ke dadanya. Sudah jatuh hati Dinka padanya. Abid tersenyum puas.


"Mas udah janji, kan ... kaya apapun kami di sini, nggak bakal bikin aku balik sama dia! Pikir deh, dia udah pergi, lempar kotoran di muka Mas, bikin acara kacau, kalang kabut semua, masa iya Mas mau nerima lagi? Apa otaknya Mas ini ketinggalan di gerbong kereta, sampai nggak bisa mikir ke sana?" Abid meyakinkan. Dan memang begitu perasaan dia ke Olla. Sama sekali tidak ada apa-apanya. Biasa saja, sebab dia sudah pernah marah sampai dadanya sesak, pernah mengamuk sampai tangannya tak bisa berhenti gemetar, pernah memohon sampai dia tak lebih dari seonggok daging busuk di hadapan Olla.


Dia diam karena sudah cukup mulutnya bicara kepada Olla. Muak dan bisa saja dia muntah empedu jika terus mengulanginya lagi. Kepalanya pecah sewaktu-waktu jika terus begitu.


"Janji, ya, Mas!"


"Iya ...." Abid menarik dagu Dinka dan menatap matanya yang jernih itu. "Mas janji demi apapun, demi hidup Mas sendiri! Kalau ingkar, kesialan pasti menimpa Mas!"


Pipi Dinka menggembung penuh kesenangan.


"Mas udah buang masa lalu itu, hanya sisa barang yang Mas belum sempat buang! Tau kan chaos-nya Mas pas kejadian itu, belum lagi Mama ribet sendiri! Lagian, barang terutama jam tangan itu, Olla hanya bayar uang muka, sisanya lebih dari tiga perempat itu aku yang lunasin."


Dinka membeliak tanpa sadar.

__ADS_1


"Nggak apa-apa," ujarnya menenangkan dengan tepukan pelan di bahu. Bibirnya tersenyum. "Itu tetap pemberian mantan. Nanti kamu bisa kasih Mas jam tangan Rolex sebagai ganti. Kamu kan kaya."


Entah itu bercanda atau betulan, tapi Dinka tertawa.


"Sebelum pake yang asli, sini aku Colek duluan, kebetulan sama-sama lek-nya."


Dinka mengarahkan tangannya untuk mencolek Abid di semua bagian. Membuat kedua orang iu tertawa keras saking geli.


Suasana itu berbanding terbalik dengan suasana di ruang rawat anak. Olla murung menatap seonggok pakaian dan jam tangan yang membuat dirinya tersenyum hari ini. Benarkan Abid terganggu dengan barang itu? Bahkan dia minta ganti dengan baju pasien sesaat sebelum pindah ke kamar VIP.


Rere tenang dengan mainan dan botol susu di tangannya. Anak ini membaik drastis, dan Olla sudah sanggup jadi orang tua asuh Rere, hanya Mamanya belum tahu soal ini. Jadi dia menahan Rere di rumah pengasuh bayarannya. Rencananya, dia akan membawa pulang Rere kalau Mamanya sudah menerima Abid kembali.


"Tante ... Rere pub."


Suara itu membuat Olla jatuh kembali ke kegiatan sekarang. Membereskan mainan Rere yanh dibelinya beberapa waktu kemarin. Dia boleh pinjam ruangan ini, sebab Rere harus mendapatkan serangkaian tes medis dan terapi.


Ia mengelak. Halus dan penuh senyum. Bee berpikir logis, semuanya masuk akal.


"Honey mana?"


Tuh, kan ... Tante Olla perhatian sekali bahkan saat Honey tidak ada, dia langsung ngeh.


"Ke kamar Papa."


Mata Bee berkeliaran, demi mengalihkan perhatian dari Olla yang mulai melepas popok Rere.


"Itu baju Uncle Papa?"

__ADS_1


Olla terkejut, tapi segera santai. "Iya, tadi mau Tante buang. Udah ada Mama kamu di sana, pasti Tante diabaikan, kan?" Tawanya miris.


Bee melongok. "Tante itu bodoh! Jelek dan nggak sebanding dengan Tante Olla. Pasti dia tidak tahu harus siapkan apa untuk Uncle Papa."


Olla tersenyum setelah mengambil popok baru. "Papa kamu sayang sama dia, Bee ... kita hanya bisa mendukung, kan?"


"Aku nggak mau!" Bee menarik tas itu. "Biar aku yang anter ke kamar Papa sekarang, dan kasih tau Papa betapa baiknya Tante Olla ini!"


"Bee!" cegah Olla. Namun anak itu sudah melesat keluar tanpa bisa Olla cegat. "Ya ampun, Bee!"


Bee merogoh ke bagian dalam tas. Pasti ada banyak barang yang dibawakan Olla untuk Papanya.


"Ya ampun, tau aja kalau Papa suka jam tangan ini." Bee tersenyum puas. Kerjasama dengan wanita dewasa jauh lebih menyenangkan karena tidak perlu banyak omong. Cukup tau sama tau saja, dan eksekusi pembuktiannya.


Dia melihat jam itu dan menyembunyikannya. No-no, dia tidak mau ketahuan sebagai biang kerok. Jadi dia harus hati-hati.


"Bee ... Uncle Papa di sini." Dinka berteriak dan melambai saat Bee muncul dari entah mana awalnya.


Dia mendekat ke arah anak kecil yang kata Honey sedang menyibukkan diri agar tidak stress ini


"Bee lapar?" tanya Dinka peka. Muka ditekuk begitu pasti ada alasannya.


"Nggak! Aku udah makan!" sahutnya ketus. Namun diam-diam dia meneliti ruangan ini.


"Ini pakaian Papa! Tante jangan nolak kalau Tante Olla anter pakaian! Tante Olla hanya perhatian dan tahu gimana harus bersikap. Beda sama Tante yang sok pintar, sok care, tapi bodoh!" protes Bee.


WTF WTH ini bocah, astaga! Dinka mendumal serasa ingin menyumpal mulut anak kecil ini dengan sengatnya sendiri. Sayang dia tidak punya sengat sebesar mulutnya itu!

__ADS_1


__ADS_2