
Sialnya, Dinka harus menunggu. Pegal juga duduk diam selama itu hanya untuk menunggu. Dia bukan gentar ya, takut juga buat apa? Ck, apa yang bisa bikin seorang Dinka ini takut sekarang? Dia bahkan membawa ketakutannya kemana-mana sekarang walau dirinya juga heran dengan perutnya yang tak kunjung menggembung.
Dinka menguap, menyesap lagi coklat panas yang kini sudah dingin dan nyaris habis.
"Nunggu lama?" Olla tersenyum cerah hingga Dinka menyipitkan mata saat mendongak. Wanita itu muncul setelah 40 menit penuh telat dari janjinya—Dinka merasa dikerjai. Gerangan apa sebenarnya yang membuat Olla seceria ini—walau bagi Dinka tetap saja ada yang tidak beres?
Dinka curiga, kalau senyum itu berarti dia akan di bully. Olla datang pasti membawa sesuatu. Tapi terserahlah, dia bisa berkata apa saja nanti untuk menyangkal.
"Saya menghargai orang yang mengundang saya untuk bertemu, Dokter Olla! Jadi jika tidak ada pembatalan, sampai malam pun saya akan nunggu." Dinka menatap lekat dan jauh lebih tajam dari terakhir mereka bertemu. Sedang meraba apa maksud wanita itu.
"Jadi apakah seorang Dokter Olla perlu waktu lama sekali sampai akhirnya datang menemui saya? Dokter Olla mau bilang menyerah untuk ajak Mas Abid balikan, ya?" cecar Dinka tanpa takut. Menyerang lebih dulu saat lawan ingin memainkan mode tarik ulur.
Pasti Olla sengaja membiarkannya menunggu.
Olla tetaplah wanita cantik tanpa banyak usaha. Duduk saja, pesonanya membuat mata ingin melirik. Dinka mengakui itu.
Tangannya terlipat di dada. Senyumnya tetap bertahta. Dan Dinka harus bekejaran dengan rasa penasarannya sendiri. Oh, syit sekali.
"Aku wanita pekerja, tolong dimaklumi, ya." Olla menjeda, meneliti wajah penasaran Dinka yang membuat senyum Olla melebar ke telinga. "Saya memang butuh waktu lama untuk berdamai dengan diri saya, Dinka. Sebab Abid adalah keputusan berat bagi saya."
Ya, terus?
"Berat, ya?" Dinka menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyuman smirk. "Saking beratnya sampai kabur di saat-saat paling krusial bagi seorang Abid!"
Olla tersenyum kembali menanggapi dirinya disindir. "Andai kamu tidak datang, aku pasti kembali, Dinka."
"Jadi aku rebut posisi kamu?"
__ADS_1
"Iya." Olla menyahut lugas. "Aku hanya pergi sebentar."
Dinka berdecak. Semacam ngeprank gitu maksudnya? Tapi kenapa saat itu tidak ada yang tertawa? Tidak lucu, kan?
"Sama kaya minyak telon, Dokter ... buat calon suami nggak boleh coba-coba, apalagi coba-cobanya Dokter Olla itu cukup ekstrem." Dinka bisa melihat Olla sama sekali tidak terpengaruh.
"Lagian, sebelum prank wajib briefing dulu, biar hasilnya nggak kacau," sindirnya santai.
"Nggak gitu juga, sih." Olla mengibaskan rambutnya anggunly, "tapi aku kemari cuma mau bilang ke kamu, kalau aku ingin minta Abid baik-baik. Aku dan kamu sudah dewasa, tentu ribut-ribut kaya kemarin itu childish sekali, ya, kan? Jadi mari bicara baik-baik."
Ya ampun.
"Dokter Olla tau, kalau Mas Abid bukan barang dan istri bukan jabatan yang bisa diserahterimakan begitu saja." Dinka jadi sebal. Orang ini kenapa, sih?
"Nama saya diikrarkan atas janji dengan nama Tuhan, dan janji itu bukan aturan yang bisa dilanggar manusia begitu saja." Dinka semakin tajam menatap Olla yang sampai sekarang terlihat tegar. WTF si Olla ini! Kenapa otak Olla hari ini? Apa sewaktu bekerja otaknya ketuker sama sampel yang sudah dibekukan? Jadi bodoh dan bebal gini?
"Dan saya juga punya alasan kuat bertahan di pos saya, Dokter. Jauh lebih kuat dari alasan konyol anda! Saya yang seharusnya minta Dokter Olla buat ngertiin saya, bukan sebaliknya." Dinka menggebu saking sebalnya.
"Dinka, saya mohon," rengek Olla memelas. Mata wanita itu jelas terlihat kekalahan dan rasa sakit yang tidak bisa digambarkan. Olla jelas merasa dia bodoh.
"Masa lalu tidak bisa dibeli dengan uang, Dokter. Saya tidak mau bodoh seperti anda." Dinka melepas tangannya. "Harusnya, Dokter berhenti merengek dan menyakiti diri sendiri seperti ini, karena itu nggak ada gunanya. Sakit dan luka pada diri Mas Abid bukan sembuh dengan dibalas penderitaan yang Dokter Olla alami, tapi karena dia selalu berusaha memaafkan anda!"
Olla intens menatap Dinka.
"Atau mungkin, karena memang Dokter tidak berarti apa-apa jadi dia mudah saja lupa pada Anda!"
Olla tertegun. Rasanya di dada ada hantaman yang kuat.
__ADS_1
"Lalu ketika saya maju untuk berdiri di sisinya, dia malah menggandeng tangan saya."
Dinka tidak tau harus bagaimana, tapi semoga ucapannya tidaklah salah.
"Dokter Olla harus seperti Mas Abid dengan saya."
Olla bingung. Maksudnya bagaimana?
"Kami bahagia sekarang karena kami memaafkan, melupakan, dan berjalan ke depan, sebab yang terjadi di masa lalu adalah keniscayaan yang tidak akan bisa terulang, diubah, atau didesain ulang."
Keduanya kini perlahan saling bertatapan. Olla meremas jemarinya.
"Kalau Dokter Olla tidak bisa melawan penyesalan yang ada, sebaiknya nikmati saja, Dokter. Saya yakin akan ada rasa nikmat diantara semua sakit dan sesal. Hidup sama dibegal situasinya sama, lebih baik lepaskan dari pada nyawa anda melayang. Toh anda bisa mencari lagi apa yang diinginkan begal, selama nyawa masih ada. Saya yakin Dokter bisa melakukannya."
Dinka berdiri perlahan, sementara Olla tampak melamun dan perlahan mengendurkan ketabahan yang dibawanya di awal.
"Pelan-pelan saja, Dokter ... dan jangan lagi memainkan drama seperti ini di masa depan. Jarang orang mau meladeni mantan, hanya saya lagi gabut di rumah makanya saya kemari. Selamat tinggal."
Dinka tidak tahu basa basinya bagaimana dengan mantan dari kekasihmu, karena dia tidak punya siapapun sebelum ini selain keluarganya. Dia juga sedang belajar fasih memiliki pria sebagai suaminya, terkadang dia masih menganggap Abid orang lain saat tubuh mereka tidak menyatu.
*
*
*
Gak jadi up sore, pagi aja lah😌
__ADS_1