
Dinka terkejut ketika mendengar pengakuan Ranu kalau sekarang dia menggeser posisi Vivian di rumah sakit.
"Kamu bisa, Bes?" Apa iya, menjadi pimpinan itu sebuah bakat yang diwariskan? Dinka melongo. "Ini CEO beneran loh!"
"Bisa lah, Tie!" Ranu terkekeh-kekeh. "Dulu aku sama Papa main ceo-ceo-an, sekarang tinggal praktekkan doang!" Ranu menikmati bagaimana horornya wajah Dinka sekarang. Pasti Dinka berpikir dirinya main-main.
"Tapi kan nggak sama, Ranu ... dulu itu cuma main orat-oret di kertas biar mirip tanda tangan, tapi sekarang bukan soal tanda tangan aja! Kamu ngurus berapa ratus kepala di sana?" Dinka pikir, dialah yang paling konyol di dunia ini, tapi ternyata Ranu lebih gila. Orang kaya mainnya Ya Allah, geser-geser posisi pimpinan.
Tawa Ranu meledak melihat ekspresi Dinka yang syok-syok gimana gitu. "Udah ... jangan mikirin aku, tar babynya stress lagi. Aku masih dipantau Papa dan Mami."
Tangannya melayang ke perut Dinka. "Udah hampir 5 ya, dan baby girl."
Otak Dinka masih berkutat dengan keputusan Ranu yang menurutnya ceroboh, meski dia mengangguk. Karir di Swiss menjanjikan, tapi ya, tidak heran sih, otak anak sultan beda sama otak anak mi instan. Ranu muncul saja semua petinggi perusahaan pasti langsung welcome, dan Swiss bukan lahan baru bagi perusahaan Papa Harris.
Haih ... lama pisah, Dinka lupa gimana orang tua anak itu bekerja.
"Bukan karena aku, kan?" Dinka kegeeran.
Mata Ranu memancing, bibirnya mengukir senyum jahil. "Salah satunya iya. Tapi banyak faktor lain karena kasihan sama Papa dan Mama. Tau kan, tiap anak Mama tuh kaya problematik banget, dan bikin mumet."
Dinka mengangguk. "Sorry, ya, Ran ... mungkin aku juga nyebabin kacaunya hidup anak-anak Mama. Jen terutama."
"Udah ... Kak Jen udah maafin. Mama Papa udah lupa malah." Setahunya begitu, soalnya tak ada bahasan apa-apa soal itu. Lagian, bisa saja Jen sudah terjangkit sejak awal, hanya karena Jen itu malas memeriksakan diri, jadinya penyakitnya tak terdeteksi. Dan Jen suka sekali makanan mentah. Ranu ingat sekali bagaimana Jen keranjingan dengan daging setengah matang, bahkan mentah.
"Jujurly, aku merasa bersalah." Dinka menatap kosong makanan yang sejak tadi hanya diaduk-aduk tanpa berniat disuapkan. Mereka kelelahan belanja, dan sekarang sedang menghabiskan waktu berdua di sebuah pusat perbelanjaan.
"Pengen bilang ke Jen langsung, tapi tiap aku mau mulai, dia pilih kabur. Nggak marah, dan nyinggung, gak bahas, justru malah buat aku tertekan. Beneran gak sih dia lupain kejadian itu atau sengaja gantung aku dengan rasa bersalahku?"
Ranu tersenyum maklum. "Dia pasti udah maafin. Yuk lupain! Kalau belum maafin, Jen pasti nggak mau ngomong sama kamu. Ke aku saja dia agak jaga jarak sebenarnya. Anak-anak dia nggak deket sama aku kaya dekatnya mereka sama kamu. Itu baru belum memaafkan."
__ADS_1
"Udah ketemu sama Darren?" Ya, Dinka belum lihat mereka berdua saling sapa sejak kejadian waktu itu.
"Suatu saat pasti ketemu, sekarang biar aku cari posisi yang pas biar semuanya nyaman. Jen pasti masih kesal. Dan aku belum bisa menatap Kakakmu seperti kakak ipar. Maaf ...." Ranu jujur. Dia sudah tidak berharap, tapi belum juga memiliki pasangan. Baginya, pasangan baru bukan pelarian, melainkan seseorang yang mendapatkan dirinya secara utuh. Jadi sekarang, biar dia sendiri dulu. Lagian, dua adiknya sungguh membuatnya kewalahan.
"Tapi tenang, kalaupun ketamu ... aku udah nggak ada perasaan apapun lagi. Aku udah selesai." Tatapan khawatir Dinka membuat Ranu harus terbuka soal perasaannya. Semua sudah baik bagi Ranu. Darren hanya masa lalu.
"Kamu kuat sekali, Bes." Dinka mengusap tangan Ranu perlahan. "Rasanya aku gak pantes bilang begini, tapi ... Suatu saat jodoh bakal datang. Mungkin sekarang, jodoh kamu sedang memperbaiki diri agar pantas bersamamu."
Ranu mengangguk antusias. Sudahlah, mungkin menikah bukan hal yang mudah bagi Ranu.
"Wah ...."
Mereka berdua langsung menoleh ke suara familiar di belakang.
"Darren!" pekik mereka bersamaan.
Darren tersenyum hangat ke Ranu dan langsung memeluk leher Dinka. Rasanya untuk Ranu masih sama ... sebagai adik sama seperti ke Dinka. Tapi, menyapa sewarm dulu, rasanya belum berani. Dia takut dikira menari di atas luka Ranu.
"Cari kamu, lah!" Darren melirik kesal adiknya. "Ke salon kok sampai malem begini," tuduh Darren seraya melirik tas di bawah kaki Dinka.
"Mana masih kucel begini ... salon apanya?!" Darren terkekeh.
"Aku udah pamit Mas Abid, kok." Dinka kesal melihat Darren yang tahu kebohongannya.
"Aku ke toilet, ya." Ranu menyela, rasanya tak etis berada di sini dan sepertinya keberadaannya tidak dianggap.
"Biar aku yang keluar." Darren langsung mencegah. "Kalian lanjut ngobrol saja."
Ingin Ranu memutar badan sebab tengkuk hingga punggungnya terasa hangat, tapi dia bergeming. Sudah sejauh ini dan Darren muncul tiba-tiba. Nyatanya, gara-gara ini rusaklah move on sebelanga.
__ADS_1
Darren berlalu begitu saja melihat Ranu menolak menatapnya. Dia tahu, Ranu mungkin terkejut melihat kedatangannya.
"Aku cuma nggak siap."
"Nggak apa-apa. Darren kayaknya juga merasa bersalah sama kamu."
Ranu memutar badannya. "Dari awal kan aku yang nggak tahu diri, ngapain dia merasa begitu?"
"Darren pasti tetap bisa sama kamu." Dinka menatap kakaknya pergi. "Tapi Jen lebih butuh Darren daripada kamu."
Ranu sedikit tidak mengerti. Kenapa?
Dinka mengalihkan perhatian ke Ranu lagi. "Jen rapuh, sementara kamu sangat kuat. Darren dan kamu memang lebih baik jadi sodara saja. Ibarat kutub, kalian adalah kutub yang sama."
Ranu mengangguk. Bisa jadi juga, sih ... untungnya, dia bisa mundur di saat yang tepat kalau tidak, mungkin sekarang mereka berdua tidak akan makan bersama dan tertawa di sini berbagi cerita.
Di tempat yang sama, Olla sedang makan bersama beberapa orang di lingkup pertemanannya. Seolah tak terjadi apa-apa, Olla bergabung dan tertawa bersama. Meski Tatapannya tak lepas dari Ranu dan Dinka. Juga pada pria yang memeluk Dinka barusan.
Dia mendengkus kesal sebab merasa dipermainkan oleh Dinka.
"Pantas aku langsung dipecat, ternyata begitu cara dia main?"
Pasti Dinka langsung memakai koneksinya untuk membalas dendam. Ditambah pria sialan itu yang sungguh Olla benci karena peristiwa kemarin lalu.
"Hei, Vincent ...." Olla menenggak habis minuman di gelasnya, sebelum menoleh ke Vincent, dokter di sebuah rumah sakit negeri. Seorang dokter bedah yang koneksinya lumayan bagus juga.
Vincent yang memang irit bicara itu menatap Olla tajam.
"Bantu gue kerja di tempat lo!" pintanya tanpa basa basi. Rumah sakit tempat Vincent bekerja setara dengan rumah sakit milik Dirgantara.
__ADS_1
"Aku bukan HRD rumah sakit itu!" jawab Vincent dingin.
Olla menganga mendengar itu. Vincent apa tidak bisa berbasa basi dengan kawan sendiri? Apa kek ... kepo kek, tanya kenapa kek! Dasar batu!