
Flashback Ezra dan Radit dalam misi mencari Mangga muda
Meeting berakhir tepat di jam 6 sore, setelah membereskan dokumen penting, Ezra dan Radit berlalu pulang menuju Mansion Utama.
Saat Radit ingin menyalakan mesin mobil nya, ia baru teringat akan seuatu.
"Tuan.. Kita belum mencari mangga muda untuk Nyonya" Ucap nya, astaga bahkan Ezra juga baru ingat.
"Untung saja kau ingat, Radit. Aku benar-benar lupa"
Radit melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan Ezra terus mencari penjual buah tapi tidak ada satu pun yang menjual mangga muda.
Hingga kini Ezra dan Radit sedang berada di pinggir jalan sambil minum Es teh dingin yang dibeli Radit tadi.
"Tuan.. Aku sudah memerintah kan para pengawal kita untuk mencari mangga muda di seluruh swalayan, tapi mereka juga tidak menemukan mangga muda itu" Ucap nya, Ezra menghela napas panjang sambil melihat jam mahal ditangannya yang menunjukkan pukul 20:00 malam.
"Begini saja Tuan, bagaimana kalau kita beli saja mangga yang sudah matang" Saran Radit dengan wajah berbinar seolah-olah ide nya sudah sangat sangat brilian.
"Kenapa kau bisa memiliki ide seperti itu?" Tanya Ezra, ia menahan kesal dihatinya.
"Katakan saja nanti kepada Nyonya, bahwa mangga ini dulu nya juga sempat muda. Jadi itu sama saja kan, aku yakin Nyonya akan mengerti" Jelas nya, seketika sepatu Ezra melayang tepat di kepala Radit.
BUGH
"Aduh.. Sakit Tuan" Lirih nya, ia mengelus kepalanya yang kejatuhan sepatu mahal Ezra.
"Bodoh! Kenapa aku bisa mempekerjakan asisten bodoh seperti mu" Ucap nya, Radit terkekeh-kekeh sambil mengelus kepalanya.
"Kembalikan sepatu ku" Perintah nya, Radit melempar balik, untung saja Ezra menangkap nya jika tidak sudah mengenai wajah tampan nya.
"Radit!" Teriak nya
"Sabar, Tuan. Ah lihat itu" Ucap nya sambil menujukkan kearah sebrang jalan.
"Apa itu?"
"Ada pohon mangga, dan sedang berbuah" Ucap nya, Ezra tersenyum senang.
__ADS_1
"Ayo kita kesana" Ajak nya, Radit menghela napas lega kala Ezra sudah tidak marah dengan perlakuan nya tadi.
Mereka pergi menuju perumahan yang terdapat pohon mangga.
"Ini milik orang, apa kau yakin kita bisa mendapatkan mangga muda itu?" Tanya Ezra kepada Radit yang kini menatap sekeliling perumahan didepan nya.
"Gunakan kekuasaan mu, Tuan" Saran Radit, Ezra menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak ingin anak ku menjadi anak yang angkuh nanti" Ucap nya, Radit menatap kearah Radit yang berada disamping nya.
"Astaa Tuan, bagaimana pun anak mu akan tetap angkuh dan arogan. Pabrik nya aja seperti itu, anak itu tidak jauh sikap nya dari Ayah nya sendiri" Ucap Radit asal, seketika ia menutup mulut nya karna tersadar sudah mengatakan hal yang mungkin membahayakan nya.
"Jika bukan karna mangga muda itu, kau sudah aku habisin sekarang juga!" Ancam nya dengan suara yang sangat menakutkan di telinga Radit.
Radit menelan saliva nya, ia berusaha menetralkan ketakutan nya dengan tertawa kecil
"Bercanda Tuan.. Ayo kita panggil pemilik rumah ini"
Radit dan Ezra turun dari mobil, sebelum mereka memanggil pemilik rumah itu sudah keluar dari rumah nya.
Ezra tersenyum canggung begitu pula Radit
"Saya Ezra.. Saya ingin membeli mangga muda, bapak" Jawab nya, Pemilik mangga muda itu menatap Ezra dari atas sampai bawah.
"Kau seperti orang kaya" Ucap nya, Ezra tersenyum tipis.
"Maaf ya, aku tidak menjual mangga disaat muda seperti itu. Aku akan menjualnya saat sudah matang saja" Tolak nya, Ezra menatap Radit yang juga menatap nya.
"Begini pak, kami akan membayar seluruh buah yang akan kami petik itu. Katakan saja berapa harganya, kami tidak akan keberatan" Jelas Radit, pemilik mangga muda itu menatap intens Ezra yang juga menatap nya.
"Istri mu sedang mengidam?" Tanya nya, Ezra mengangguk mantap.
"Iya Pak, istri ku sangat suka dengan mangga muda. Mohon izinkan saya untuk membeli mangga itu" Rayu nya, pemilik mangga muda itu akhirnya setuju.
"Tapi petik sendiri ya, saya tidak bisa memetik nya jika malam begini"
"Baik Pak, Terima kasih" Ucap Ezra, pemilik mangga muda itu tersenyum, ia duduk di bangku sederhana milik nya.
__ADS_1
"Tuan, emang nya kau bisa memanjat?" Tanya Radit, selama bekerja dengan sang Tuan Muda, Radit tidak pernah melihat sang Tuan memanjat pohon.
Ezra menggelengkan kepalanya cepat, senyum nya membuat perasaan Radit menjadi tak enak.
"Siapa yang mau memanjat pohon itu? Aku? Kenapa harus aku saat aku memiliki kau" Ucap Ezra, astaga dugaan Radit benar.
"Kenapa aku, Tuan? Kan yang ngidam istri mu, memang kau mau anak mu nanti mirip dengan ku?" Tanya Radit mencoba menakut-nakuti sang Tuan.
"Kau kira aku anak TK yang takut dengan kebohongan mu itu?"
Radit menghela napas panjang, ia gagal menipu Ezra.
Kini Radit sedang ancang-ancang untuk memanjat, ia menatap malas Ezra yang menunggu dirinya sambil tangan yang berkacak dipinggang.
"Ayo semangat! Aku selalu mendukung mu" Ujar nya menyemangati Radit.
Radit memanjat dengan usaha keras nya, tapi lagi-lagi ia gagal bahkan hingga terjatuh hingga tubuh nya terasa remuk redam.
"Tuan, aku tidak bisa" Ucap nya, ia tergeletak pasrah di rerumputan itu dengan napas ngos-ngosan.
Ezra berdecak sebal
"Percuma! Kau tidak berguna" Ucap nya, ia mencoba memanjat seperti yang dilakukan Radit tadi.
Tapi Ezra juga bahkan terjatuh diatas tubuh Radit.
"Awww.. Tuan" Rintih Radit, tubuh nya terasa semakin remuk kala menopang tubuh Ezra yang lebih besar darinya.
"Pohon ini terlalu tinggi, Radit. Kita beli saja pohon itu lalu kita potong saja dia" Ucap Ezra, Radit mengangguk setuju.
Pemilik pohon itu tertawa kencang kala melihat Ezra dan Radit yang tergeletak di rerumputan.
"Siapa yang menyuruh kalian untuk memanjat?" Tanya nya, Ezra dan Radit saling menatap satu sama lain lalu mereka menatap pemilik mangga muda itu dengan wajah mereka yang sudah letih.
"Kalau pohon yang ini kalian ngga bisa memanjat nya, pohon yang itu baru" Ucap nya sambil menujukkan kearah tepat dibelakang pohon mangga besar itu.
Radit dan Ezra ternganga saat melihat pohon mangga yang masih kecil sudah berbuah, bahkan tidak perlu gala untuk mengambilnya.
__ADS_1
Seketika Ezra menatap kearah pemilik mangga muda itu dengan tatapan tajam, Radit menertawai kebodohan nya.
"Bagaimana bisa kita tidak melihat pohon itu, Tuan?" Tanya Radit, astaga bahkan Ezra penasaran akan itu. Ia sudah susah payah memanjat tadi, membuat kedudukan nya sebagai CEO tercoreng habis gara-gara mangga muda.