Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
How Crazy I am?


__ADS_3

"ARRGGH!"


Olla menjambak rambutnya sendiri. Kenapa baru sekarang dia merasa keputusannya pergi adalah salah? Ha ... kenapa? Otaknya yang cerdas dan visioner itu kemana? Ketinggalan di gerbong kereta, kah? Atau sebenarnya ketika pembagian otak yang waras, dia sedang ketiduran?


Tuhan, ini tidak adil, kan? Dia yang bersama Abid melewati suka dan duka. Tesis demi tesis yang dikerjakan Abid ada campur tangan keringatnya. Usahanya. Bahkan ada koneksi darinya.


Ya, dia ingin Abid cepat selesai kuliahnya yang melelahkan itu, jadi dia bantu sebisanya. Tapi, ketika Abid sukses, orang tuanya salah paham dan jadilah dia bimbang juga galau sendirian.


Lembar keterangan medis itu benar adanya, kan? Walau dikeluarkan beberapa tahun lalu? Jadi kalau itu tidak benar, kenapa Abid enggan menyentuhnya? Mereka manusia dewasa, yang jelas butuh kepuasan dari pasangan. Mereka bisa mempertanggungjawabkan perbuatan indah mereka, kan? Lagipula, wajar jika sebelum menikah mereka lebih dulu uji (T)ombak. Di dunia ini—andai melakukannya, juga tidak sendirian, jadi itu nggak masalah kan?. Hey, ayo buka mata! Banyak yang melakukannya di luar nikah, even itu hanya pacaran saja. Yang muaranya tidak akan sejelas hubungan mereka berdua.


Pernikahan sudah diambang mata. Dan Abid hanya menggenggam tangan saja, mencium pipi seperti mereka hanya teman belaka. Sialnya, Olla perlahan menyadari kalau lembar itu benar. Lantas, kepintarannya membawa celaka. Olla ingin tahu lebih dan lebih, sampai akhirnya dia melihat tanda infertilitas muncul di informasi lain yang dia dapat.


Nara hanya mahasiswa tingkat awal saat Abid menikahinya. Abid yang sudah Coass, Nara yanh masih belia, menikah diam-diam, baru setelah beberapa tahun mereka go public. Itu yang Olla dapat. Faktanya, Abid menolak memberi tahu—bahkan marah, saat Olla bertanya bagaimana Nara dulu.


Sialnya dobel-dobel.


Sekarang, dia bahkan merasa semua pria tidak ada yang mampu menyamai Abid. Dia sudah gila, saat mencampakkan Abid lalu dengan bebalnya dia bilang hanya salah paham, bahkan setelah mencoba meracuni Dinka dengan risetnya yang sangat amatir.


Dia pintar di sebelah mana, coba? Lalu Dinka yang konyol itu apa? Apa benar, orang yang hati-hati dan sabar adalah orang yang paling beruntung? Dia bagaimana selama ini? Unlucky Woman?


Sial!


"Ciyus, kepala gue ikut sakit, Laa!" Nahwa kali bebarapa pulang pergi dari unitnya ke sini demi menjaga Olla. "Lo bisa gak waras dikit?"


Olla menoleh dan tersenyum ke arah Nahwa yang sudah memakai piyama. Wajahnya carut marut dan total Olla terlihat mengerikan di level yang tidak bisa diistigfari.


"Gue takut sama lo kalau lo kaya gini, Laa!"

__ADS_1


"What's wrong with me?" Olla terkikik. "Aku hanya desperate. Sedikit nyesel itu hal yang wajar, kan, Wa? Aku bakal baik lagi setelah ngamuk, remember?"


"Wah ...?!" Nahwa memutar kepalanya saking bingung menghadapi Olla kali ini. "Serius lo depresi? Gue pikir se-stagnan lo, se-stunning lo, depresi minder duluan ...."


Nahwa terkekeh. Walau ia tahu ini tidak lucu, tapi ini Olla yang begitu angkuh bilang tak ada pria yang tak jatuh pada pesonanya. Hei, apa stok pria sudah habis? Lalu Nahwa yang saking sibuk menata finan-sial, ini bagaimana? Pria sudah nggak ada lagi buat wanita berotak seperempat kaya dia, kah?


"Gue belum jadi bidadari, Wa ... gue belum mati! Wajar gue ada kekurangan!" Olla mendorong kepalanya menengadah dengan tangannya. "Tapi segera, gue bakal jadi bidadari jika Abid beneran gak dilepas sama wanita itu!"


"Lo serius?!" Nahwa pikir, sejak tadi Olla yang jelita paripurna ini ngelindur, apa? Dari tadi pertanyaannya hanya serius atau ciyus saja!


"Lo nerima barang bekas?! Lo nerima sisaan orang? Lo bisa gitu ditatap penuh ejekan dari mantan istri suami lo?" Sebentar, Nahwa pikir, dia sedang lancar otaknya sampai ingat semua curhatan Olla sependek mereka berteman. Wah, prestasi ini! Pasti otak Olla sejenak ditransfer ke otak Nahwa, biar aman gitu, dari guncangan dahsyat di fisik Olla.


"Salah, ya?!" Olla membuang napas kasar. "Gue bisa berjuang lagi, Wa ... gue cewek gigih, pantang menyerah, dan mau diajak susah!"


"Ini ... ini yang mesti gue luruskan sebagai mentor percintaan dan hidup lo!" Nahwa mengubah posisi, dia dihadapan Olla sekarang.


Alis Olla naik saat Nahwa menyibak rambutnya yang berantakan. Menepuk pipi Olla seakan Olla baru sadar dari pingsan.


Nahwa menjeda. "Lo pikir barang itu nggak sakit? Nggak rusak? Nggak pecah? Nggak penyok? Trus pas ditangan lo, lo nyaman gitu lihat barang itu nggak available lagi buat lo pakai?"


Olla mengerjab bodoh. Membenarkan logika Nahwa.


"Lo sinting!" Nahwa menghakimi dengan kejam sahabat karibnya sendiri. Wanita yang tetap mau berteman meski otaknya tak genap setengah.


Olla sudut bibirnya tertarik ke atas. "Now, you know how crazy i am ...." Terkekeh selanjutnya, dan itu berhasil membuat Nahwa geram.


"You deserve better, Olla!"

__ADS_1


"Just Abid ... only Abid, Nahwa ... please understand me, Wa!" Olla frustrasi. Apa Nahwa tidak tahu apa artinya arti seseorang dalam hidup orang lain? Apalagi Olla cinta.


"Kenapa dulu lo percaya lembaran sialan itu, kalau jadinya begini? Ini tuh plot twist sekali, Olla! Lo jadi penjahat di kisah lo sendiri!"


Ah, Nahwa lelah. Biar saja dia tersesat dengan kebodohannya. Dia sudah lelah.


Olla membuang muka. Dia juga bertanya-tanya. "Gue hanya takut, Wa ... pilihan gue salah! Gimana gue mesti hadapi keluarga gue? Mereka udah korban banyak buat gue jadi seperti sekarang. Gue nggak tahu kalau sampai Abid beneran begitu, nasib gue gimana?"


Olla menangis.


"Lo cemen jadi manusia, La! Gue nggak tau lo tuh selemah ini ternyata!" Nahwa selesai. Dia memilih pergi. "Minum obat tidur yang gue siapin! Lo bisa sakit jiwa gara-gara kebodohan lo sendiri!"


Ya, benar! Makasih Wa, udah menjelaskan sejelas-jelasnya.


Olla menangis. Sendirian. Sepi. Dan bersimbah penyesalan.


Kepalanya sibuk memikirkan ucapan Dinka tadi siang.


"Kaya apapun usaha Mbak Olla buat balik sama Mas Abid, akan kalah sama kenyataan kalau Mas Abid benci sama Mbak Olla! Dia pakai barang dari Mbak Olla hanya karena saya nggak minta buang! Mas Abid bebas pakai apa saja sesuai kebiasaannya. Bagi saya barang adalah barang, benda mati yang nilainya nggak sebanding dengan saya yang punya perasaan. Toh gampang, saya tinggal minta buat semua dibuang, dibakar dan jadi abu juga asap! Semua lenyap! Sama kaya Mbak Olla di hati suami saya! Lenyap tak ada bekas, buktinya saya bisa masuk dengan leluasa, tanpa sekalipun Mas Abid menyebut nama Mbak Olla di depan saya!"


Olla sudah menangis sejak saat itu. Hanya dia membiarkan semua perawatan mahalnya sia-sia, sebab menahan pegal saat menahan air mata yang sudah siap pecah.


"Dan lagi, Mas Abid hanya nyebut nama saya saat bercinta, Mbak! Dia tidak pernah salah sebut nama, meski matanya terpejam!"


Oh, God! Ambil saja nyawanya sekarang! Olla sudah mati.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2