
"Sudah ... tidur lagi aja!" Abid menekan kepala Dinka dengan lembut ke bahunya saat Dinka mencoba bangun.
Mungkin 15 menit lagi mereka akan tiba di rumah.
Yah, Abid memutuskan pulang daripada di Bali hanya memendam kesal. Tentu dia kesal dengan mamanya sendiri, jadi dia berniat ingin membalasnya dengan cara yang klasik tapi mengena. Salah sendiri, kan ... jelekin anak sendiri sehingga dia bernasib agak sial seperti sekarang.
Tapi boong deh, nggak sesial lagunya Mahalini, sih ... Dinka cukup oke walau koneknya lama.
Bahkan Abid terus memasang senyum sampai sekarang. Dielusnya kepala Dinka yang bergerak mencari posisi terbaik untuk tidurnya.
Pasti Dinka kelelahan. Bagaimana tidak, dia sudah tiga kali mengerjai Dinka lengkap dengan leher penuh tanda merah ciptaannya. Abid puas sekali.
Rumah sudah sepi saat Abid sampai, hanya sopir keluarga yang masih berjaga di depan. Sengaja Abid tidak mengabari orang rumah agar mereka kaget. Mereka pasti tidak menyangka kalau honeymoon-nya sukses besar.
Dinka bergumam tak jelas dan lemah, Abid mengecup bibir Dinka dan mengalungkan tangan wanita itu ke lehernya. "Mas gendong ke kamar," bisiknya.
Namun, tetap saja Papa Anton melihat kepulangan anaknya itu dan bergegas keluar. Bibirnya kelu seketika, keningnya mengerut, dan rasa heran muncul saat melihat Abid menggendong Dinka ke kamarnya. Sesuatu telah terjadi, pikirnya.
Papa Anton menunggu sejenak sampai Abid mengerling tanpa berkata apa-apa.
"Serius anak itu?" Jelas dia dalam mode tak percaya.
"Apanya yang serius, Pak?" Sopirnya menyeletuk dari pintu depan, kedua tangan penuh dengan tas milik Abid dan Dinka.
Papa Anton menoleh. "Itu loh Ko, baru tiga hari kok udah pulang ... apa Abid udah harus balik kerja? Cutinya seminggu kan?"
Koko alias Komari itu tertawa kecil. "Mbak Dinka udah kelelahan, Pak—"
"Kelelahan apa? Lupa Abid sakit?" Papa Anton berdecak kesal, tapi jika iya, tentu dia senang sekali. Entah mengapa hatinya menggeliat senang. Mungkin Abid makin sakit melihat Olla yang kerempeng dan angkuh seperti unta betina. Lain hal saat melihat Dinka yang cuek sekaligus ceria.
Koko meletakkan tas di kursi tak jauh dari Anton.
"Mungkin yang kemarin itu bikin yang loyo makin loyo, Pak ... kalau yang ini, bisa saja pintar menggoda dan ular kobra Mas Abid bahkan bisa ngembang."
Papa Anton menyembunyikan tawa saat Koko menggerakkan tangan seperti kobra yang siap menyerang mangsa. "Sok tau kamu, Ko!"
"Bagus dong, Pak, kalau begitu ... jadi harapan nimang cucu makin besar." Koko terkekeh, lalu meraih tas lagi dan mengisyaratkan pada Anton untuk ke atas menyusul Abid. "Kalau nggak cepet, takutnya mereka udah mau lanjut lagi, Pak!"
Papa Anton tertawa seraya menggeleng. Membiarkan Koko ke kamar Abid. Dia juga harus segera istirahat, syukur-syukur bisa bisa menjalankan ibadah sunnah. Hem, kalau tidak di tampar Mama Resti, karena sejak kejadian kemarin, wanita itu masih kesal.
__ADS_1
***
"Lho-lho ... ini kok—" Resti menjatuhkan roti tawar panggang yang akan diolesi alpukat begitu saja ke piring saat melihat Abid masuk ke ruang makan. Rapi dan tampan seperti biasa.
Resti mendekat, tapi melongok ke belakang putranya, berharap Dinka ada di sana. Namun, sudah bisa ditebak, tidak ada siapa-siapa di sana.
Abid duduk dengan santainya. "Anak-anak mana, Ma? Aku nggak lihat di kamar mereka tadi!"
Resti berdecak. "Nemenin Papamu joging." Ia masih mengerling ke arah Abid. Berharap dia menjelaskan sesuatu soal Dinka tanpa harus diminta.
"Kamu nggak ninggalin istri kamu di Bali, kan?" Resti berjalan cepat ke meja makan. Berkacak pinggang di sebelah Abid. Matanya melotot, antara siap marah, siap mendengar Abid mengiyakan, siap dengan tangan hendak memukul Abid jika sampai itu terjadi. Cemas juga, kalau iya, bagaimana nasib anak itu?
Abid memakan avocado toast buatan Mamanya dengan tenang hingga tertelan. Sengaja dia lakukan itu agar Mamanya kesal.
"Abid! Kamu denger Mama nggak?" Resti hampir saja menjewer telinga anaknya yang bandel itu.
Abid berdecak. "Apa aku setega itu di mata Mama?"
Abid balik bertanya dan membalas tatapan galak itu kesal.
"Kamu itu raja tega kalau sama orang yang nggak kamu kenal!" Resti memperjelas. "Serius kamu bawa pulang Dinka?"
Resti melonggarkan kemarahannya saat melihat ekspresi Abid yang serius itu. "Awas kalau kamu boong! Mama akan buat kamu sengsara kalau kamu beneran tinggalin Dinka di Bali!"
Abid membuang napas kesal, lalu dengan gerakan malas dia melanjutkan sarapan. Resti masih menatap anaknya meski kakinya sudah beranjak meninggalkan ruang makan.
Dia sudah bertekat untuk menghajar Abid jika berbohong. Segera Resti melangkah dengan cepat ke lantai dua dimana ada kamar Abid di sana.
Pintu kamar Abid tidak terkunci, Resti langsung tau kalau Abid bohong. "Kalau ada orang lain, pasti dikunci sama dia! Dasar anak durhaka!"
Resti mendorongnya hingga terbuka, lalu melongok ke segala arah, dan akhirnya pandangannya jatuh ke ranjang yang sudah rapi.
Namun, dia mendengar senandung kecil dari arah kamar mandi. Hatinya mendadak lega.
Tepat saat Resti yang senyum-senyum itu ingin keluar, Dinka membuka pintu kamar mandi dan memekik keras.
"Mama!" Dinka berteriak seraya menutup dadanya yang terbalut handuk sampai lutut. "Ma-maaf, Ma."
Resti membeliak melihat tanda merah memenuhi leher dan dada menantunya. Oh My God! Bibir Resti bergerak tanpa suara, seperti dia melihat hantu.
__ADS_1
"Astagfirullah, Abid ... itu apa, Bid? Kamu apakan anak orang?" batin Resti ngeri sekaligus takjub.
Dinka salah tingkah dipandangi sang mertua seperti itu, jadi dia segera mundur ke kamar mandi lagi. "Dinka akan segera turun dan bantu Mama. Tadi kesiangan."
Sementara Abid di belakang Resti memegang pundak. "Masih mau bilang aku raja tega?"
Resti menoleh, tubuhnya masih gemetar. "Sayang ... kamu—"
"Dulu iya, aku hampir impoten kalau nggak segera berobat! Dan lagi, aku kehilangan istriku, Ma ... jangankan berga irah ... masih ada semangat hidup saja syukur."
"Jadi—"
"Mama bener! Kami beneran honeymoon." Abid dengan kalem menjawab.
"Cu-cucu?!"
"Kalau itu sabar! Baru kemarin kejadiannya, jadi butuh waktu sebulan biar makin meyakinkan!" Abid terkekeh melihat sang Mama meneteskan air mata.
"Kok malah sedih tau mau punya cucu?!" Abid menggoda.
Resti menghamburkan tangis yang sangat keras saat menubruk tubuh anaknya. "Alhamdulillah, Sayang ... Mama bersyukur sekali! Huhuhuhu ...!"
Kebetulan saat itu, Papa Anton juga baru pulang, dan kaget mendengar suara tangisan istrinya. Bergegas dia ke atas bersama Bee dan Honey.
"Mama kenapa, Bid?" tanya Papa Anton panik.
"Uncle Papa?!" teriak Bee dan Honey bersamaan. Keduanya berlari memeluk sang Papa di kaki.
Resti melepaskan diri dari Abid dan menuju suaminya. "Abid sehat, Pa ... kita akan punya cucu."
Papa Anton tersenyum. Bee merengut, dan Honey teriak-teriak sambil melompat-lompat. "Yeee, punya adek! Honey punya adek bayi ... yee!"
Di dalam kamar mandi, Dinka hanya bisa menggigit bibir dengan perasaan cemas. "Burungmu akan kupangkas habis kalau sampai bikin aku bun ting, Mas!"
*
*
*
__ADS_1