Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Kok Nggak Hamil-Hamil, Padahal ...?!


__ADS_3

Jika Dinka tidak salah berhitung, bulan lalu adalah kali ketiga Dinka menstruasi.


"Ini yang ke empat," gumamnya sesaat setelah dia mandi. "Padahal selalu dikeluarkan di dalam ... kok bisa nggak hamil-hamil, ya?!"


Kebingungan sendiri, akhirnya Dinka memutuskan untuk keluar. Arion sedang makan dengan Sus Heni di luar, sementara kedua mertuanya sedang berlibur bersama keluarga besar Abid ke Bali. Dinka juga sudah mulai bekerja meski hanya sebentar-sebentar. Usia Arion sudah 10 bulan, mulai merambat dan tidak bisa diam. Mulutnya makin banyak mengoceh dan mengunyah.


"Mas ...!" Kini, suaranya tak perlu dikecilkan lagi, di kamar malah nyaris tak pernah di tempati kecuali tidur.


"Sudah berangkat, Bu ... belum ada lima menit." Sus Heni masuk dengan menggendong Arion yang belepotan. "Hehe, Arion tadi berantakin sarapannya lagi, Bu, jadi ini mau ganti baju."


Dinka tidak lagi perlu merasa heran apalagi keberatan. Ace, Jenna, besar ditangan siapa? Lagian, dia tidak pernah mencuci baju Arion, jadi alih-alih ngomel atau marah, Dinka malah beralih k lemari Arion untuk mengambil baju ganti.


"Sus, abis dipake langsung difoto ya!" perintah Dinka seraya mengulurkan baju Arion ke Sus Heni yang berjalan cepat ke ranjang. "Ini dari Ranu, belinya di pabriknya langsung."


Dinka asal saja. Mana dia tahu pabrik Gucci sama LV dimana. Pokoknya beli di negaranya langsung. Entah negara mana, sebab Ranu pergi ke beberapa negara di Eropa dan Asia.


"Bu Ranu keren, ya, Bu." Sus Heni takjub. "Masih muda udah keliling dunia."


"Nggak usah heran, Sus ... dia kalau gabut suka keliling dunia." Dinka duduk di ranjang, sebelah Arion yang langsung mengulurkan tangan gemuknya ke arah sang Mami. "Dia nggak mikir cari uang itu susahnya kaya gimana, taunya hanya menghabiskan saja."


Kali ini Sus Heni benar-benar takjub. "Orang kaya dari lahir memnag beda, ya, Bu."


"Dia dulunya nggak begitu," tutur Dinka seraya mengambil Arion ke pangkuan. Anak ini harus segera di lap tangan dan mulutnya agar tidak semakin kemana-mana. "Dia baru jadi seperti itu sejak pria incerannya nikah."


Sus Heni yang awalnya ingin mengambil lap basah ke kamar mandi, jadi urung mendengar itu. "Ada cowok yang nolak cewek setajir Bu Ranu?"


"Ada," jawab Dinka santai.

__ADS_1


"Wah, kurang waras dia, Bu." Sus Heni mencibir, lalu melanjutkan langkah ke kamar mandi. Kisah ini kurang Sus Heni sukai. Harusnya cowok itu mau sama Bu Ranu, kan? Kurang apa sih Bu Ranu? Dan kaya apa sih wanita pilihan cowok itu? Hebatnya apa bisa ngalahin Bu Ranu?


"Siapa sih, Bu, cowok itu?" tanya Sus Heni mencibir.


"Darren—"


"Oh, dia—hah?!"


Sus Heni nyaris terjungkal. Kakinya terantuk daun pintu. "Si-siapa, Bu?"


"Iya Darren." Dinka mengangguk santai.


"Pak Darren?!" Ya Salam. Tapi, pantas sih, orang satu keluarga. Nggak sama adik, karena udah sama kakaknya. Tapi sama-sama luar biasa.


"Hayo! Lagi gibahin siapa?!"


Dinka mendongak, menatap Kakaknya yang datang bersama dua anak balitanya. Kay dan Jenna.


"Ngomongin apa, nih?" Darren merasa ada yang disembunyikan dua wanita ini.


"Nggak ada," jawab Dinka cepat. "Serius kamu nggak apa-apa momong Arion juga? Kalau kamu repot, biar aku bawa aja ke rumah sakit!"


"Ngawur!" Darren masuk dan meletakkan Kay di sebelah Dinka dan langsung lasak menjarah tantenya.


"Masa ke rumah sakit bawa anak bayi? Nggak ada-nggak ada!" Darren segera meraih Arion yang langsung disambut Jenna juga. "Kamu mau antre lama di poli, mau kamu anakmu yang sehat ini jadi sakit?"


"Jangan ngomel ih! Kaya Jen kamu lama-lama!" Dinka beranjak. Ia harus bersiap.

__ADS_1


"Ngapain sih ke rumah sakit segala? Masih sakit kaki kamu?" Darren heran. Dinka masih muda dna kakinya konon sudah tidak perlu diperiksakan lagi, sebab semuanya sudah normal. Dinka bukan nenek-nenek yang harus check up gula darah kan?


Dinka tersenyum penuh misteri. "Rahasia!"


***


Dokter Tiwi adalah tujuan kunjungan Dinka siang ini. Dia menyela—tentu saja, di jam makan siang Dokter cantik tersebut.


"Jadi apa ada masalah, Dok?" Dinka tak sabar melihat Dokter Tiwi yang masih membolak balik catatan. "Saya mens banyak banget, dan perut saya selalu sakit tiap mens. Terus pinggang dan punggung saya juga sering nyeri."


"Di USG saja ya, biar pasti." Dokter Tiwi menatap Dinka. "Mungkin posisinya geser."


"Posisi apa? Rahim saya?" Dinka kaget hingga melongo mendengarnya.


Kini giliran Dokter Tiwi yang merasa aneh mendengar ucapan Dinka. "IUD kamu, Din—apa lagi? Masa kamu nggak tau?"


"Apa Dok?!"


Dokter Tiwi menarik napas panjang lau mengeluarkan catatan riwayat medis Dinka. "Jadi kamu itu abis operasi cesar langsung dipasang kontasepsi. Udah dipasang alat IUD, itu atas perintah Abid juga."


"Apa?!"


Mas Abid?


Jadi Mas Abid sudah tahu? Tapi diam saja? OH, bagu, Mas! Awas kamu Mas!


Pantas ditembak dalam berbagai posisi nggak jadi bayi, ternyata sudah ada ranjau di sana?

__ADS_1


__ADS_2