Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Rebirth: Kurebut Hati Suamiku Kembali by misshel


__ADS_3

Sepoiler bab 4 yee ... bantu eike dpt cuan lebaran🤧 Ya Allah, sad amat🤧


Judul: Rebirth: Kurebut hati suamiku kembali


Bab 4.


"Kalau begitu kau yang ceroboh, Anya!" Clint menarik ke atas sebelah bibirnya. "Sampai orang dekatmu membuat mu jatuh. Kau terlalu percaya pada seseorang sehingga matamu buta!"


"Maksudmu?!" Alis Zeva mengerut. Clint tahu sesuatu?


Pria itu terkekeh-kekeh, berjalan menuju pintu dan dengan gerak menyebalkan, dia memegang handle pintu. "Kau harus belajar dari kasus kita, Anya! Bahwa orang yang paling mungkin menyakiti kita adalah orang yang paling dekat dengan kita."


Mata Clint melirik Zeva sinis. Dia tahu semuanya, tapi memberi Zeva sedikit bocoran, akan membuat perang ini semakin menarik dan pecah.


Zeva menerima itu dengan pikiran mengerucut ke satu orang dan dia menggeleng. "Kau terlalu larut dalam dendammu padaku, Clint ... sehingga kau tak percaya siapapun."


"Kalau begitu, kau boleh abaikan kataku, Anya!" Clint melemparkan senyum sinis sebelum memutar badan dan membungkuk 90 derajat pada Zeva—adiknya. Yang harusnya Zeva sadari adalah Clint tak pernah memanggil Zeva dengan panggilan lain selain panggilan masa kecilnya—Anya. Zeva harus tahu, Clint marah dan memendam dendam, tapi tak pernah lupa kalau Zeva adiknya.


"Malam, Miss Zevanya."


Lalu ada hati Zeva yang seperti tertusuk jarum, sehingga dia membuang muka. Apa pantas Zeva meminta bantuan pada Clint sekarang? Mungkin Clint punya tangan lain yang bisa membantunya kembali mendapat kepercayaan.


Tidak ....


Tapi Zeva buru-buru pergi setelah Clint dirasa juga sudah jauh darinya. Dia hanya memastikan apa kata Clint tidaklah benar. Bastian tidak mungkin berkhianat.


***


Audit keuangan selalu menguras energi dan emosi, membuat Bastian tak henti mengumpat. Sudah selarut ini, dan pekerjaan mereka tak kunjung selesai.


Bastian jengkel pada Zeva yang tidak menghubunginya sejak kejadian tadi di rumah. Wanita itu—istrinya, entah apa yang dipikirkan sehingga terus mengabaikan dirinya.


"Shyit!" Gebrakan di meja membuat beberapa barang jatuh berantakan. Pria itu mengusap wajahnya kasar.


"Kau butuh kopi, Bas." Roro muncul di sela pintu ruangannya yang terbuat dari kaca.


Senyum wanita itu membuat Bastian mengingat ciuman tadi pagi yang sempat terjeda. Wanita itu begitu perhatian dan lembut padanya.


Sesaat dia memikirkan apa yang terjadi padanya, lalu memilih tersenyum dengan anggukan pelan menyertai. "Yang tanpa gula, ya."


Roro terkekeh seraya masuk dan menyandarkan tubuhnya di pintu dengan daun yang masih terbuka. "Kenapa?" tanyanya lembut. "Tidak biasanya."


Wajah itu segar, penuh senyum, seksi dengan setelan kerja pas di badan. Sekalipun sudah kelelahan, tapi wajahnya tetaplah segar.


"Kepalaku ingin pecah," jawab Bastian tak selera.


"Tunggu sebentar." Roro keluar dengan gaya yang membuat jantung Bastian kembali bergetar.


Pria itu menunduk penuh pikiran, hingga Roro kembali ke ruangannya dan duduk sopan di depan Bastian usai menyodorkan kopi panas di meja Bastian.

__ADS_1


"Kadang, wanita itu ambisinya melebihi lelaki." Roro membuka suara, dia tahu Bastian sedang bermasalah dengan Zeva.


"Aku rindu Zeva yang dulu, yang ceria dengan senyum manisnya." Bastian mengait cangkir dan menyesapnya.


"Semua orang berubah, Bas ...."


"Orang tertentu tidak." Pria itu berdiri dan berjalan ke arah jendela kaca di gedung milik NC yang disewakan untuk perkantoran. Menyakukan tangan ke saku celana. Hatinya merasa hampa.


"Kau misalnya."


Roro kaget. "Kau memperhatikan aku, Bas?"


Roro memutar-mutar kursi dengan tawa salah tingkah yang khas. "Sejak kapan?"


Bastian berbalik, lalu mengungkung Roro di kursinya. "Sejak kita pertama bertemu."


"Dua belas tahun lalu?" Roro mencoba tenang akan sikap Bastian.


Cup


"Ya ...."


Lalu Bastian memagut bibir Roro tanpa penolakan berarti. Pria itu melepaskan semua beban pikiran. Bastian tak pernah menyalurkan hasratnya dengan benar meski telah menikah. Semuanya kacau, sejak pekerjaan Zeva semakin menyita waktu, bahkan mungkin juga gairahnya. Beruntung ada Roro.


Sudah malam, dan tinggal beberapa orang di lantai bawah, jadi mereka bebas. Bastian membuka baju Roro, lalu menjelajahinya tanpa ragu. Roro membiarkan seolah sudah lama mereka tidak melakukannya. Dia tahu, Bastian selalu butuh pelepasan dan dimanja. Pria seperti Bastian suka perhatian dalam bentuk sentuhan.


"Bas ... ini kantor. Dibawah masih ada banyak karyawan lain."


Bastian sudah kalap, di otaknya hanya ingin melepaskan hasrat. Affair di kantor bukankah hal biasa? Selama Zeva tidak tahu, semua akan terkendali.


"Please ...."


Keduanya saling bertatap mata begitu dalam. Sama-sama ingin, tetapi Roro terlihat ragu.


"Minta apa saja, tapi biarkan aku melakukannya Ro," mohon Bastian sekenanya. Tujuannya adalah melepaskan hasratnya. Apapun akan dia lakukan, dan ini hanya sementara. Tidak apa-apa.


"Aku minta kamu selalu ada buat aku, bisa?"


"Tentu saja!"


"Aku ingin kamu seorang diri."


"Tentu aku akan jadi milikmu, Roro."


Roro menarik span selututnya, membuka kakinya lebar, dan meletakkan tangan Bastian di tempat yang diinginkannya.


"Go a head, Bas ... Lakukan apa yang kau inginkan!"


Bastian serta merta menyerbu bibir Roro yang sangat manis, menerkamnya tanpa ampun, sebelum menelusur ke bawah, ke bibir lain di tubuh Roro.

__ADS_1


Wanita itu melenguh. "Ah, Bastian ... terus, Sayang."


Bastian semakin semangat menciumi Roro, sembari membuka bajunya sendiri, lantas segera menghujam Roro dengan segenap tenaga yang dia punya. Dia menumpahkan semua gelora yang tertahan selama ini. Roro menerimanya dengan baik.


Keduanya larut dalam kenikmatan yang menghanyutkan, tanpa di sadari, Zeva sudah berdiri di depan pintu ruangan Bastian. Wanita itu lemas dengan tangan menutup mulut. Dia tidak percaya pada apa yang dilihatnya.


"Bastian ...."


Zeva mengumpulkan kembali kekuatan dan ketabahannya, sebelum mendorong pintu hingga membentur dinding.


Dua sejoli yang sedang bermasyuk ria itu menoleh kaget. Mata mereka melotot hampir jatuh.


"Zeva!" pekik mereka bersamaan, lantas saling menjauh dan menutup badan serampangan.


"Berikan berkas itu, Bas!"


"Aku tidak membawanya, Zeva!" Mati-matian menahan malu, Bastian menarik celana dan bajunya menutup tubuh. "Aku bisa jelaskan—"


"Semua sudah jelas." Zeva menukas seraya melirik Roro. "Cara kalian bekerja sungguh luar biasa!"


Zeva menahan sakit dan tangis. Tapi air matanya tak boleh jatuh di sini. Tangannya tidak boleh melayang ke pipi Roro, sebab tidak tahu siapa yang memulai lebih dulu.


"Aku begini karena kamu abai padaku!" Bastian membela diri. "Aku siap kau ceraikan, tapi aku bukan peselingkuh. Aku ingi pisah baik-baik, bahkan tanpa membawa apa-apa dari rumah kita!"


What?


Roro membeliak. Apa?!


"Aku yang akan pergi dari rumah, itu rumah kamu!"


"Zeva ... Kau yang membuat cinta kita tak utuh lagi, tak sama lagi, tak berharga lagi. Tolong jangan menyalahkan Roro dalam kasus ini!"


"Tidak!" Zeva mundur. "Kita ketemu di pengadilan, Bas. See you!"


Sekali lagi Zeva menatap dua orang yang masih menjijikkan bercampur aroma percintaan mereka. Lantas dia berbalik meninggalkan gedung masih dengan kepala tegak, tak ada tangis, tak ada kepedihan—Zeva menahannya.


Namun, ketika mobilnya melaju, Zeva merasa sebelah hatinya di iris dengan pisau paling tajam secara perlahan. Dia mengutuk, meruntuk, mencaci, dan menghina.


"Aku benci kamu, Bas!"


Zeva menangis tersedu-sedu dan memukul setir hingga tangannya sakit dan memar.


"Bastian brengsek!"


Nyatanya, Zeva terlalu mencintai Bastian.


...****************...


Jan lupa mampir ye, kita bar-bar lagi di sana. Meski awalnya nyesek, mulai bab 9 kita adu mekanik sama calon pelakor🤣

__ADS_1


__ADS_2