Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Rencana Olla


__ADS_3

"Lihat sendiri, kan, kemarin pagi gimana?" Bee mengulangi informasi yang kemarin dia sampaikan pada Honey. "Kita sudah dinomorduakan, Honey! Hanya pada Tante Olla kita bisa mengadu sekarang, karena hanya dia yang mau ngerti kita!"


Maksud Bee adalah posisi mereka di hidup Abid.


Honey mengerjapkan matanya yang bulat berbulu mata lentik. "Bee, aku nggak bisa ikut kamu! Walau Tante Olla sayang kita, tapi dia bukan siapa-siapa Uncle Papa lagi. Kita mungkin sudah dianggap orang lain."


"Nggak, Honey!" Bee berkeras. "Tante Olla masih anggap kita sebagai keluarga dia! Aku percaya sama Tante Olla."


Dia meraih tangan Honey yang hari ini memakai pakaian olahraga untuk out bond yang diselenggarakan sekolah di sebuah bumi perkemahan. Mereka berdua diantar oleh Oma Resti tadi, tetapi Oma Resti harus pergi dan menitipkan mereka pada guru pengajar, juga berjanji akan menjemput mereka sebelum acara selesai.


Namun hingga acara usai dan menyisakan beberapa murid saja, Oma Resti belum kembali.


Kesempatan ini Bee manfaatkan untuk bertemu Olla diam-diam.


"Aku nggak mau, Bee!"


"Kamu harus ingat, kita hanya anak adopsi, Honey! Suatu saat mereka akan lupa pada kita, bahkan bisa kembalikan kita ke rumah lama kita!" Bee menjelaskan lagi meski dia sudah sangat kesal. Honey keras kepala.


"Makanya kita harus jadi anak baik, Bee ... biar Uncle Papa nggak marah sama kita dan nggak balikin kita ke rumah kita yang dulu."


"Ck, dia bukan Tante Olla, Honey ... dia orang lain yang kita sama sekali nggak tahu gimana orangnya!" Bee mendelik. Dia merasa perlu menunjukkan pada adiknya yang lugu ini agar tidak mudah percaya sama orang baru.


"Aku hanya ingin melindungi kamu dari orang jahat, Honey!"


Ucapan Bee membuat Honey goyah pada akhirnya. Dia ikut saja saat Bee menuntunnya ke parkiran. Namun sayang, sopir sudah berlari ke arah mereka.


"Bee, Honey!" Heru nama sopir itu, napasnya tersengal kepayahan. "Maaf, Bapak telat jemput kalian!"


"Nggak apa-apa, Pak ... kami baru selesai kok." Bee memutar otak. "Kita ketemu Uncle Papa di rumah sakit boleh nggak, Pak? Honey kangen."


Honey kaget dan langsung menatap Bee yang mengetatkan cekalan pada pergelangan tangan Honey, sehingga dia diam.


Heru mengangguk setelah menatap Honey untuk memastikan. "Ayo, kalau gitu!"

__ADS_1


Dipandu Heru, mereka menuju mobil. Bee duduk di depan dengan sopir sementara Elliora Honey duduk di belakang. Gadis itu cemas.


Sesampainya di rumah sakit, Bee dan Honey berjalan pelan menuju ruangan Abid berada. Bee hafal di mana Olla berada. Sebelum ke ruangan Abid, terlebih dulu melewati tempat Olla bekerja.


Beruntungnya, Heru percaya pada Bee jadi dia tidak mengawal sampai di dalam. Lagian ini Minggu, Abid pasti tidak terlalu sibuk. Kalaupun masuk, Abid hanya melakukan visit pada jam tertentu.


Olla sibuk dengan Rere, gadis kecil itu menangis terus sejak dia mulai membaik. Namun, wanita itu mencoba sabar menghadapi. Ia tahu pasti anak ini bingung dan takut. Ibunya mengalami luka bakar yang dipastikan tidak bisa disembuhkan.


Abid juga masuk dengan mood yang sangat berantakan. Dia melihat Dinka wara wiri di hadapannya dengan riang bersama dua keponakannya. Sesuatu yang menggelitik hatinya. Dinka tipe penyayang banget.


Olla membawa Rere jalan-jalan usai minum susu. Gadis kecil itu kelelahan menangis dan pasti mengantuk.


Di kejauhan, dia melihat Bee berjalan dengan kepala sibuk mengawasi ruang demi ruang yang dilewati.


Olla maju mundur menyapa. Iya kalau Abid lihat, kalau tidak? Iya kalau mereka mau disapa, kalau tidak? Bagaimanapun, kubu mereka berseberangan sekarang. Tapi dia sedang berusaha memperjuangkan Abid kan? Harusnya ambil hati anak-anak juga mudah. Tinggal bermain peran sebagai yang tersakiti, hati anak-anak pasti mudah luluh.


Olla menempatkan diri di posisi yang bisa dilihat oleh dua anak itu.


Perlahan, sekali sebab di dadanya ada seorang anak yang terlelap.


Olla pura-pura terkejut, lantas menoleh. "Eh, Bee ... Honey?!"


Dia melangkah menyambut Bee dan Honey yang berbinar saat berlari menuju dirinya.


"Uncle Papa mana?!" Begitu dekat, Olla memulai aktingnya.


Bee memeluk Olla. "Kami lagi cari Uncle Papa, Tante."


Honey menatap anak yang di pelukan Olla. "Ini anak Tante?"


Olla tersenyum. "Dia kaya kamu sama Bee. Ibunya sakit parah. Mungkin tidak selamat."


Diusapnya kepala Bee pelan. "Tante minta maaf udah bikin Papa kalian kecewa karena pilihan Tante ini! Tante nggak mau bebanin Papa kalian dengan adanya Rere sekarang."

__ADS_1


Honey mengangguk meski dia tidak tau apa arti anggukannya.


Bee mendongak, membuat Olla mengalihkan perhatian dari Honey ke Bee. Tatapan keduanya bertemu.


"Tante harusnya nggak ninggalin Uncle Papa! Uncle Papa pasti bisa nerima Rere." Bee tersentuh atas sikap Olla. Dia benar kan soal Tante Olla ini?


"Papa ingin punya anak sendiri suatu saat nanti, sementara Tante masih fokus sama Rere. Paling tidak sampai seusia kalian," jelas Olla dengan suara yang diberat-beratkan. Disedih-sedihkan. Dilemah-lembutkan.


"Benar kan aku bilang? Tante Jelek itu pasti hanya ingin merebut Uncle Papa dari kami!" Bee mendengus. "Tante harus bantu kami buat pisahin Tante Jelek itu dan Uncle Papa! Bee nggak mau punya mama kaya tante itu! Tante mau, kan?"


Olla mengerutkan kening. "Emang Tante siapa, Bee? Tapi dia yang bisa ngerti Papa kalian. Jelas Tante nggak ada kesempatan! Papa sayang sama Tante itu lebih dari Tante, kan?"


"Nggak! Tante itu pasti hanya manfaatkan Uncle Papa aja! Dia nggak sayang Uncle Papa! Dia mau miliki Uncle Papa sendirian!" Bee nyaris histeris jika saja Olla tidak memintanya tenang.


"Bee, nggak boleh gitu sama orang!" Olla sok bijak. "Kalau mau Tante kembali sama Papa, Bee harus bantu Tante. Mau?!"


Bee mengangguk. "Mau Tante!"


Olla tersenyum manis menutupi hatinya yang bersorak gembira.


"Oke! Dengerin Tante, ya!" Olla menunduk untuk membisiki Bee sesuatu, lalu setelahnya dia menatap Bee lembut. "Bee sama Honey tunggu Papa di ruangan Papa, ya! Jangan kemana-mana! Nanti biar Tante yang nyari Papa, kasih tau Papa kalau anak-anak manis ini datang cari Papanya."


Bee mengangguk.


"Tante nanti akan minta orang buat beliin kalian makanan ya! Jangan keluar atau berisik. Banyak orang sakit di sini. Ngerti?!" Olla mengusap kepala Bee dan matanya menatap Honey. Dia tahu, Honey susah dibujuk, jadi lebih baik dia memberi tahu Bee saja. Honey bisa mengacaukan rencananya kapan saja.


Kedua anak itu pergi setelah Olla memanggil petugas kebersihan dan meminta agar mengawal sampai ruangan Abid juga membelikan camilan.


Dia harus memastikan rencananya lancar hari ini.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2