Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Kiss-mu Semangatku


__ADS_3

"Ada Mas Koko, Mas."


Anda saja Dinka tidak mengatakan itu, Abid pasti sudah mencium Dinka di mobil tadi. Dinka itu apa, ya ... menggemaskan dan menggiurkan. Abid seperti merasa sayang jika ada kesempatan yang lewat begitu saja.


Dinka menuju rumah dengan muka merah, sementara Abid salah tingkah dan sedang mencoba biasa saja.


"Lho-lho ... Abid! Dinka!" Suara Rendi terkaget-kaget terdengar dari arah pintu depan, membuat kedua manusia yang menunduk itu mendongak bersamaan.


"Assalamualaikum, Pa." Dinka sedikit mempercepat langkahnya, kemudian mencium punggung tangan sang Papa.


Abid juga demikian. Namun, Dinka merasa aneh.


"Ayo masuk, Nak! Mamanya Dinka di dapur, lagi masak!"


Papa Rendi merangkul Abid dan melupakan dia.


Wait ... ini nggak benar, kan?


"Pa ...!" Diantara ekspresi bengong di wajahnya, Dinka protes.


Abid dan Rendi menoleh bersamaan, lalu saling pandang, sebelum menatap Dinka lagi.


Telunjuk Dinka menunjuk dadanya sendiri. "Anak Papa itu aku ... kok akrabnya sama Mas Abid? Yang disambut itu harusnya aku, yang pulang ke rumah asalnya itu aku, bukan Mas Abid!"


"Sama aja kali, Din ... kamu biasa pulang ke rumah kamu, sementara Nak Abid baru pertama kali ke sini—"


"Dia nggak akan nyasar walau nggak dituntun begitu?" Dinka tetap tidak terima. Ayolah, apa mereka nggak rindu anak gadis satu-satunya yang sudah hampir dua minggu nggak ketemu, nggak ada kabar, nggak pulang. Atau ... mereka justru senang karena perusuh dan si paling nggak bisa diatur ini pergi?


Abid tersenyum melihat ekspresi kesal Dinka. Keributan di sini membuat Abid merasa hangat. Rasa kesal Dinka justru membuat Abid makin jatuh pada pesona Dinka. Dia pasti wanita yang sayang keluarga, kuat, dan mandiri.


"Ya, tapi Nak Abid anggota keluarga baru kita, Dinka ... wajib disambut dan dihormati—ayo Nak Abid!"


Rendi menepuk pundak Abid lagi dan membawa mereka ke ruang makan. Sementara Abid menarik tangan Dinka hingga tubuh Dinka tersentak mengikuti Abid.


Dieratkan genggaman Abid hingga Dinka mati rasa karenanya.


"Ma, Nak Abid datang." Rendi berteriak hingga membuat penghuni dapur yang berisik itu diam seketika.


Dinka masih sibuk menatap tangannya yang digenggam Abid. Berusaha melepaskan, tetap Abid ketika Papa mertuanya pergi, justru menarik Dinka lebih dekat.


Dinka yang kaget menatap Abid, sementara Abid tersenyum padanya. Bibir Abid baru saja terbuka saat Desy datang dari arah belakang.


Mata Desy jatuh pada Dinka lebih dulu, lalu ke Abid. Dia tampak terkejut.


"Astagfirullah ... maaf, Mama nggak denger kalian datang." Desy bergegas mendekati meja makan. Panik sebab dia kesiangan dan belum selesai memasak pagi ini.


"Duduk, dulu!" Desy canggung menatap Abid, walau dia sudah sering ketemu dengan Abid sebelumnya, tapi sama sekali tidak menyangka kalau pria pendiam itu akhirnya menjadi mantunya.

__ADS_1


"Mama siapkan sarapan dulu, ya!" Desy bingung harus apa dulu. Sepertinya semuanya ingin didahulukan.


"Nggak usah, Ma ... tadi kami udah sarapan. Mana udah bawakan sekalian untuk Mama dan Jen." Dinka melepaskan tangan dari Abid. "Aku ambil dulu ... Mas silakan duduk."


Pikir Dinka, Abid pasti belum kenal keluarganya sampai keadaan canggung begini.


Dia bergegas meninggalkan meja makan dan keluar untuk mengambil masakan yang dibungkuskan oleh mama mertuanya tadi. Dia juga bertemu Koko yang tersenyum penuh arti saat bertemu tatap. Tak lupa tas pakaian Abid diserahkan juga.


"Mas Koko ember!" omel Dinka kesal. "Mas nggak boleh gitu lain kali, ya! Nanti mulutnya kena sumpah, nggak bisa bicara lagi ... kapok!"


Koko terkekeh. "Emberku untuk kebaikan, Mbak. Bukan fitnah keji, hehehe!"


"Sama aja, efeknya bikin saya—"


"Makin cinta sama Mas Bos, kan?" Koko tergelak saat menyerahkan tas berisi sup ikan asam manis yang baunya begitu menggiurkan. Dinka langsung berkeringat, tersentak oleh simpulan Koko yang menjelaskan apa yang ia rasa sekarang ini.


"Mas Bos udah jatuh cinta, tuh sama Mbak Dinka! Buktinya suruh klaim kepemilikan segala, sama kaya ke Mbak Olla dulu."


"Mungkin Mas Abid begitu karena sisa rasa ke Mbak Olla masih ada, Mas. Masih baper sama mantan. Jadi ke sayanya begitu." Dinka tidak mau membohongi diri sendiri. Ranu benar, dan dia harus menjaga hati baik-baik. Patah hati itu sakit sekali. Dinka hanya sadar diri.


Tanpa menunggu Koko merespons, Dinka kembali masuk ke rumah, dan menempatkan tas berisi makanan di meja makan.


"Antar Mas Abid ke kamar, Din ... abis itu sarapan bareng." Ucapan Mama Desy membuat Dinka terkejut. Mas? Ke Abid ... Mas? Astaga ... kenapa orang dirumah ini sayang sama menantu ketimbang anak sendiri? Nggak Jen nggak Abid ... luar biasa emang.


"Tasnya aku bawa aja, cukup kamu tunjukkan dimana kamar kamu." Abid tersenyum seraya berdiri dan menatap Dinka. Kemudian dia menoleh kembali ke arah sang Papa mertua yang mencuri-curi pandang ke ponsel. "Saya ke kamar dulu, Pa."


Ada gesture Abid yang terburu-buru ketika disuruh ke kamar Dinka, dan Dinka sedikit curiga. Jadi ketika dalam perjalanan ke kamar, Dinka langsung memperingati Abid.


"Sudah siang dan Mas harus kerja, lihat udah jam berapa!"


"Jam 8 masih lama ...." Abid membela diri. "Kamar kamu dimana sih?" Dia heran, melihat Dinka membawanya ke bagian belakang rumah ini. "Nggak di lantai dua?"


"Nggak ... aku pilih di belakang, biasa aku piara kucing, jadi biar nggak kemana-mana, aku urus di halaman belakang." Dinka menjelaskan seraya mendorong pintu ruangan paling belakang, tetapi ruangan ini paling luas.


"Selamat datang di kamar Dinka yang sederhana." Abid melongok ke dalam. Ada kulkas juga, kamar mandi di dalam, dan meja kerja yang besar.


"Kalau ke depan apa nggak lama?" Abid takjub melihat seisi ruangan Dinka yang ditata begitu rapi dan simple.


"Pakai itu!" Dinka menunjuk hoverboard milik Ace yang diletakkan di kamarnya. "Lagian nggak seluas rumah kamu, Mas ...."


"Kerasa aja sih kalau jauh, dari depan ke sini lurus terus, hanya belok di ruang tamu tadi." Abid merebahkan badan di ranjang Dinka yang di sisi kirinya ada rak berisi buku.


"Sini, pelukan dulu ... atau cium dulu, mumpung berduaan!"


Bruk!


Dinka barusan akan menaruh tas Abid di meja, tapi karena ucapan Abid, dia meleset dan jatuh.

__ADS_1


"Satu ronde juga masih keburu, Din ... mayan buat semangat sebelum hadapi keluhan pasien! Keluhan kamu kayaknya bikin senyumku nggak hilang sampai sore."


Gubrak!


Dinka kaget sampai nabrak kursi. Astagfirullah, suaminya ini, beneran bikin tobat kelakuannya!


Dinka segera menguasai diri dan menatap Abid. "Mas ... Mas dulu galak ke aku karena apa, sih? Kok bisa kaya gini ke aku sekarang? Nggak merasa bersalah gitu, candu sama tubuh orang yang pernah digalaki?"


Abid berpikir sejenak tanpa mengubah posisi rebahannya. "Em ... itung-itung menebus rasa bersalah, sih. Aku bikin kamu enak dan senang terus mulai sekarang. Tapi emang kamu nyebelin kan, dulu?"


"Aku malah jahat dulu, Mas ... bukan hanya nyebelin." Dinka langsung ingat betapa dia dulu sangat childish, hingga bikin semua orang kesal dan marah padanya. "Aku kepala batu sampai ke mode bebal."


Abid bangkit dari posisinya dan membalas tatapan Dinka beserta senyumnya yang terlihat getir. "Semua orang juga punya masa lalu yang buruknya rasanya nggak ada bandingannya, Din ... tapi semua itu bukan dijadikan alasan buat kita untuk terus mengungkitnya. Mari kita belajar dari masa lalu, untuk masa depan yang lebih baik. Aku yakin kamu wanita baik yang akan jadi istri yang baik pula."


Dinka memalingkan wajah. "Mas nggak tau aja aku sejahat apa."


"Nggak apa-apa, Din ... siapa tau sikap jahat itu suatu saat dibutuhkan. Udah lah, sekarang mari kita lupakan masa lalu. Aku dulu juga egois, hingga membuat istriku akhirnya meninggal. Tapi kita nggak akan hidup untuk rasa bersalah itu, melainkan untuk lebih baik lagi dan tidak mengulanginya lagi. Oke!"


Dinka menarik napas panjang dan berat. "Aku nggak yakin bisa."


"Kamu bisa—"


Dering ponsel Abid menginterupsi, sehingga membuat dua orang itu berpaling ke sumber suara.


"Bentar ya!" Abid mengeluarkan ponsel dari sakunya, kemudian menjawab panggilan tersebut. "Rumah sakit!" Dia memberi tahu, dan Dinka mengalihkan pandangan.


"Halo, ya!" Abid kaget mendengar suara dari rekannya di rumah sakit. "Oke ... aku berangkat sekarang."


Abid mematikan panggilan dan mendekati Dinka. "Aku nggak barengan sama Olla hari ini."


"Aku kan nggak nanya, Mas." Dinka menatap datar suaminya.


"Aku kasih tahu istri aku biar nggak kepikiran selama kita nggak sama-sama. Lagian, aku nggak seperti yang sahabat kamu tuduhkan." Abid mengusap pelan lengan Dinka.


"Mas mungkin hanya nggak mau kalau ucapan Ranu itu benar. Mas nggak ingin ucapan Ranu terwujud." Ada rasa sesak ketika mengucapkan itu. Ya ampun, kenapa sih, harus baper begini, hanya ditinggal kerja saja? Kenapa ada rasa ingin mengekori Abid di otaknya? Syit sekaleeee, khan?


"Percaya sama Mas ... nggak akan ada lagi Olla di antara kita."


Tatapan Abid menyakinkan sekali, jadi Dinka mengangguk. Tak ada gunanya tidak percaya pada ucapan Abid.


"Hati-hati, Mas."


"Kiss dulu, biar makin semangat Mas nya!" Abid menyodorkan pipi, tapi ketika Dinka maju, justru Abid menyambutnya dengan ciuman di bibir yang dalam dan penuh perasaan.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2