Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Jauh-jauh Sana


__ADS_3

Nahwa sedikit ramai siang ini, sehingga Dinka harus mengantre untuk order dan membayar. Cukup melelahkan sewaktu berjalan ke sana kemari dan berdiri di depan kasir, tapi demi Honey, Dinka tak bisa mengeluh.


"Lama nggak ke sini, Nahwa makin rame," keluh Honey ketika Dinka kembali membawa tiga mangkuk es krim dan dua cup besar smooties.


"Dulu sering kemari ya?" Dinka mendudukkan badan di kursi seberang Honey, membagikan masing-masing ice cream pesanan, tanpa memikirkan ucapan Honey. Semua orang juga bisa berkomentar begitu. Dia juga lama tidak kemari, karena memang letaknya yang jauh dari rumah, walau memang Nahwa seenak itu.


"Sering banget," jawab Honey seraya menyuapkan es krim ke mulutnya. Berekspresi keenakan yang membuat Dinka tersenyum melihatnya.


"Papa dan Tante Olla sering ketemuan di sini."


"Oh ...!" Dinka agak terkejut mendengarnya. "Kalian sering diajak Papa ketemuan sama Tante Olla?"


"Iya ... makanya Tante Olla selalu manyun dan marah-marah!" Honey menyuapkan lagi es krim nya, sementara Bee melirik adiknya tanpa suara, menikmati es krim malas-malasan.


Dinka menahan tawa. "Kenapa gitu mesti marah?"


Dia menduga, Bee pasti bersikap menyebalkan, lalu Honey pasti jauh lebih manja, sebab Honey baru sedikit-sedikit bisa melakukan sesuatu sendiri sejak bersama nya. Dia ingat awal-awal pernikahan dulu, Honey makan saja tidak bisa sendiri. Semua serba pengasuh, Papa, atau Oma Opa. Sedangkan Olla dan Abid bertemu pasti ingin bermesraan seperti layaknya pasangan.


Heran saja, apa Abid tidak tahu apa maksud dan tujuan Olla mengajaknya ketemuan? Kenapa malah bawa anak-anak?


"Ya, karena nggak bisa pacaran sama Papa, Mami!" Honey kesal, merasa Mami nya tidak tahu kenapa Olla marah. "Mereka nggak bisa senang-senang berdua."

__ADS_1


Dinka mengangguk paham. "Kalau mau senang-senang ya, ke wahana lah. Ngapain senang-senang di sini?"


Honey menyuapkan es krim buru-buru, lalu membiarkan sendoknya tetap di mulut. "Iya juga... Kenapa Papa malah ajak ketemu di sini atau Mekdi, ya? Mana bawa-bawa kita juga."


Oh, jadi Abid yang sengaja bawa mereka? Dinka mengerti. Tapi kenapa? Apa Abid menerima perasaan Olla karena terpaksa?


"Mana Bee mukanya kaya sekarang ini tiap ke sini!" Bee langsung membuang muka agar tidak sampai dilihat Dinka. Agar Dinka tidak tahu kalau alasan Olla marah adalah karena sikapnya. Agar Dinka tidak tahu kalau dia dulu juga menolak Olla sama seperti saat menolak Dinka. Bisa besar kepala nanti kalau tahu Bee tidak suka semua wanita yang dekat dengan Uncle Papa.


Dinka melirik sekilas. "Tapi kenapa gitu, setelah putus malah jadi Tante Kesayangan? Mami nggak mau loh, jadi mantan Papa untuk dapet gelar kesayangan? Nggak apa-apa kok, Bee nggak suka Mami asal Papa suka sama Mami."


Bee menatap Dinka tak percaya. Dia tidak berarti di mata Tante itu, ya?


Dinka mengendikkan bahu menatap Bee. "Yang nikah sama Mami kan Papa, bukan Bee. Jadi kenapa Mami harus mengalah hanya demi menyenangkan seseorang? "


"Bagus kalau gitu, jadi kita nggak perlu lagi pura-pura kan, Bee? Tante tetap bisa mengabaikan kamu karena untuk di sayang Papa, Tante juga nggak butuh pura-pura baik sama kamu!" Dinka mengajak Bee melakukan perang terbuka.


"Tante bisa mengutarakan dengan jelas kenapa Tante enggan mengurus kamu, karena kamu memang nggak butuh Tante!" Dinka menekankan. "Kamu bisa semuanya sendiri."


Bee terdiam, lalu tanpa sengaja, saat dia ingin mengalihkan perhatian dari Dinka, ia melihat Olla. Jelas ini adalah kafe milik teman Olla.


Bee berdiri begitu saja lalu mendatangi Olla yang sibuk melayani pembeli di sana.

__ADS_1


"Tante!"


Olla melirik dengan raut wajah terkejut. Dia menelisik seluruh ruangan, berharap Abid juga ada di sana, tapi ternyata hanya Dinka yang sama sekali tak melihat ke arah Bee.


Olla pura-pura tuli. Tidak ada Abid, dia bisa melakukan apa saja pada anak nakal ini. Bahkan dia berjalan cepat menuju dapur, yang sayangnya Bee tidak menyerah mengejarnya. Kenapa sih, anak ini dibawa ke sini? Sengaja pasti itu mamanya!


"Tante ...!" Bee mendekat dan mencoba meraih tangan Olla yang sedang menulis pesanan.


Ah, Olla menyesal kenapa harus sampai mendatangi pelanggan hanya karena kesalahan menu yang dia buat.


"Apa sih, Bee!" hardik Olla seraya menarik tangannya menjauh. "Aku sibuk kerja, ya, jadi jangan ganggu! Sana sama Mama kamu! Jauh-jauh!"


Olla memang tidak mengibaskan tangan untuk mengusir Bee, tapi ekspresi jijik dan gerakan menjauh itu cukup membuat Bee terluka.


"Tante, Bee ingin Tante—"


"Udah, diem!" Olla menukas dengan galak bahkan berkacak pinggang menghadap Bee. "Aku nggak mau dengar apapun dari mulut anak nakal kaya kamu!"


Bee terdiam. Rasanya ingin menangis. Dia tidak punya siapa-siapa lagi sekarang.


"Udah sana pergi! Jangan panggil aku lagi kaya kita kenal dekat!"

__ADS_1


Olla segera memutar badan dengan gerakan yang kasar, penuh kekesalan. Ah, pasti dia sedang meluapkan kemarahan pada Bee yang selama ini dia tahan.


__ADS_2