Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Move On


__ADS_3

Sehubungan dengan acara syukuran 4 bulanan, Abid mengadakan syukuran dengan mengundang sahabatnya di sebuah resto sekalian dengan acara gender reveal ala-ala. Tidak mewah meski mampu, karena untuk beberapa hal mereka—dokter, memang dalam tahap mengembalikan modal—kecuali memang kaya dari sononya. Abid juga, tapi dia sepenuhnya mampu, hanya memang tidak mau.


Abid tidak suka tampak menonjol, mengingat banyak rekannya yang masih harus banyak mengambil pekerjaan di beberapa rumah sakit.


Olla tentu hadir di acara ini. Tak ada penyebutan gender reveal, hanya syukuran kehamilan. Sejak kejadian terakhir, Olla sudah siap jika kehamilan terjadi diantara mereka, walau tetap saja menerima itu sulit.


"Batalin janji ketemu anak temen Mama hanya demi menghadiri acara mantan kamu, La?" Melia melihat Olla memakai baju keemasan sesuai dresscode yang dia baca di undangan virtual milik Olla. Melia tahu anaknya hendak kemana.


Olla membuang napas lelahnya. Ini sudah kali ke 10 dalam kurun 4 bulan. Wajar Olla lelah.


"Mama yang mendorong aku jadi mantan Abid, kan? Wajar kalau aku masih mau bernostalgia."


Lirikan sinis Olla ditertawakan oleh Melia keras-keras, padahal itu sama sekali tidak lucu. Apa yang lucu dari pelarian diri jelang pernikahan?


"Ya sudah, sana pergi buat sakiti diri sendiri, La!" Melia masih menahan tawa. "Kalau Mama sih, jaga image ya, walau salah dan nyesel harusnya tetap elegan dengan enggak terlihat patah hati di hadapan mantan. Jangan mengemis-ngemis kaya orang nggak ada yang mau lah, paling tidak."

__ADS_1


Olla pikir, dia pantas disakiti sebanyak Abid merasa sakit hati kemarin dulu. Pantas sekali. Dia tidak mau keluar dari kepungan sesal sekarang juga karena ingin menghukum diri sendiri. Biar luka Abid dia rasakan juga. Abid pernah mengemis padanya, diapun juga akan mengemis pada Abid. Setidaknya perasaan mereka bisa setara. Bonusnya; syukur kalau Abid goyah. Kalau tidak, ya sudah.


Olla berdehem kecil seraya menghela napas. "Saran aku, sebaiknya Mama berhenti mencarikan jodoh buat aku. Aku belum mau bersama siapapun sekarang, Ma!"


Olla menoleh, memindahkan tas tangannya ke tangan sebelah. Tatapan dingin Olla membuat tawa Melia hilang. Kiamat sudah dunia Melia. Artinya, tak ada harapan baginya berbesan dengan salah satu temannya atau orang kaya yang lain.


"Aku ingin jeda dari hubungan yang sama sekali bukan berasal dari hatiku sendiri. Aku ingin mencari pasangan untuk diriku sendiri."


Melia tidak terima tentu saja. Pasti lagi-lagi akan seperti Abid yang biasa saja dan masih merangkak. Kenapa Olla tidak mau yang sudah jadi saja? Toh dengan Abid juga sebagian besar Olla terpaksa. Hanya karena Abid terlihat susah didekati.


"Mama tetap akan memutuskan di akhir!" Melia kukuh dengan ekspresi tak tergoyahkan ala dia.


"Dan aku tinggal kabur ke rumah Ayah, karena meski surga di bawah kaki Mama, aku hanya butuh Ayah sebagai wali saat pernikahan." Olla membantah dengan tegas. Tak peduli apapun sebab baktinya pada sang Mama sudah mencapai batas waras seorang Olla.


"Aku sudah membuat orang lain malu karena baktiku ke Mama, karena aku ikut apa kata Mama. Ada orang lain yang terluka hingga putus asa karena ego Mama yang mengerikan. Suatu saat Mama akan mendapat balasan yang setimpal."

__ADS_1


Melia mendelik, geram dan langsung menampar Olla hingga tubuh kurus itu terhuyung.


Olla tertawa licik. "Mama lupa ada visum, dan selamat, Ma ... Mama telah kehilangan aku mulai hari ini! Mama lupa kalau rumah Ayah selalu terbuka untukku!"


Olla mundur, lalu melangkah meninggalkan Melia yang terpaku gemetaran sendiri. Dia baru sadar kalau Olla menjebaknya. Anak itu sudah lama ingin pergi rupanya dan ini caranya pergi dengan cara yang baik. Dia yang membuatnya pergi.


Olla pergi ke rumah sakit untuk melakukan visum sesuai rencana. Dia akan pergi ke rumah Ayah kandungnya setelah ini.


Olla tidak berniat apa-apa dengan surat hasil visum itu, hanya sebagai bentuk perlindungan diri dari mamanya.


Dia tersenyum cerah saat keluar dari rumah sakit dan menelpon Nahwa.


"Wa, buatkan aku salad buah yang cream nya melimpah, lalu pesankan burger jumbo jam 8 malam nanti! Aku ingin makan banyak mulai hari ini, aku ingin gendut, Wa!"


Tentu setelah datang ke acara Abid dia akan memakan semua itu. Dia ingin bebas dari tekanan semua orang. Persetan dengan manner atau jadi wanita elegan seperti yang selama ini Mamanya ajarkan.

__ADS_1


"Hidup cuma sekali, Mama Melia! Kalau mati nanti juga nggak akan makan lagi." Olla terkekeh saat membawa mobilnya menuju resto kenamaan 15 menit dari rumah sakit. Dia berencana makan sampai muntah.


__ADS_2