
Dinka baikan lebih dulu, benar dia terlalu tegang semalam. Pagi ini, dia bergegas memeriksakan kandungannya, bagusnya bayinya tetap tenang dan tidak terpengaruh. Padahal dia cukup khawatir tadi, tapi syukurlah ... jika bayi ini memang sekuat ini berjuang bersamanya.
Siapa bilang Dinka biasa saja selama hamil, lempeng saja tanpa mengingat lagi kesalahannya di masa lalu? Dia masih manusia untuk lupa dan sialnya memori itu seperti disematkan di barisan paling atas. Seakan ingin Dinka terus membacanya setiap saat.
Dinka selalu mendatangi dokter kandungan lain sebagai second opinion, takutnya Abid berkolusi dengan rekan dokternya demi membuat semua baik-baik saja. Dan, menyembunyikan ketakutan itu rasanya sangat menyiksa dan membuatnya hampir gila.
Dinka sadar benar, caranya lupa kalau dia tertekan adalah dengan mengalihkan semua energinya untuk hal menyenangkan. Bercinta misalnya. Dihujam Abid, disenangkan oleh sentuhan pria itu membuat Dinka rileks dan tenang. Jadi dia kerap agresif terlebih jika stress nya tak terkendali.
Hanya ada kantung janin saja ketika dia hamil sudah 8 weeks, perutnya yang tak kunjung membesar walau usia sudah 3 bulan lebih ... apa itu? Dia dibalas dengan cara yang sama? Bayi itu harapan keluarga besar. Ini adalah ketakutan terbesar Dinka.
Blighted Ovum adalah kecurigaan pertamanya. Dia tahu dari mana? Beberapa temannya sudah menikah, dan dia gemar mendengar cerita teman-temannya tersebut. Menghadapi ketakutan adalah memeluknya dan mengenalinya begitu akrab, sayangnya dia tidak berhasil.
Namun, ketika menjelang gender reveal, Abid kukuh USG, dan baby itu beneran ada. Dia lega ... tapi tidak membunuh ketakutannya begitu saja. Dinka berharap bayinya hidup, tapi bagaimana saat melahirkannya nanti? Katanya itu sangat menyakitkan dengan cara apapun. Lantas dia mencari solusi dengan hypnobirthing yang tarifnya juga fantastis di setiap fase kelasnya.
Tapi Dinka tidak pernah yakin. Dalam benaknya melahirkan adalah sakit, dan yang perlu dilebarkan adalah pain tolerance-nya yang sungguh sempit. Disuntik saja dia bisa menjerit-jerit. Ah, payah.
Di tampar Olla saja dia limbung. Padahal Olla itu tak seberapa. Tapi, yah ... Dia memang begitu. Entahlah, hanya memang tidak sepatutnya dia membalas semua kebaikan keluarga Abid dengan sikap cengengnya yang rasanya menjadi-jadi sejak hamil.
"Abid siuman!" Suara itu menginterupsi langkah Dinka kembali ke kamar. Dan Dinka berhenti. Pengecut sekali jika harus mengabaikan Olla setelah kejadian semalam, kan?
"Dan yang disebut Abid adalah Nara, bukan kamu!"
Dinka memutar badan agar bisa melihat mulut yang bicara begitu menyebalkan itu.
__ADS_1
"Bukan kamu juga kan—yang disebut?"
Olla terkesiap. "Setidaknya aku tidak punya hubungan lagi sama Abid, jadi tidak masalah!" Demi menyembunyikan semua tamparan keras dari ucapan Dinka, Olla mengendikkan bahu.
"Jadi apa pedulimu?" Dinka tak mau lagi sopan. Dia bisa bertindak bar-bar seperti manusia jaman batu jika Olla terus mengajaknya duel. Persetan dengan dikatakan kampungan.
"Kecuali Mas Abid bangun dan manggil kamu, mungkin aku cemburu, tapi apa iya aku harus cemburu sama orang yang sudah mati? Kecuali kamu, aku tahu Nara masih punya tempat di hati suamiku dan itu wajar. Aku cukup tahu diri dengan tidak mengubah apapun ruang di hatinya, lagian aku punya tempat terluas di sana. Jadi jangan mengasihani aku, yang memiliki dia jiwa raga, sementara kamu sendiri kaya pengemis yang sibuk cari perhatian dan celah kekurangan kami."
Hah ... mulut itu! Pintar sekali mengelaknya. Olla sampai tidak tahu harus menyangkal bagaimana. Sebab semua itu benar adanya.
Meski gentar, Olla tetap saja menatap Dinka walau getar di matanya kelihatan sekali sudah habis kata untuk menyangkal.
"Sebenarnya, kamu ingin apa dari pernikahan kamu ini, Dinka? Jangan bodoh lah, jadi orang. Jelas Abid masih ingat terus sama Nara dan kamu dianggap tidak pernah ada." Olla ingin mengakui kalau bersamanya dulu, Abid juga tak bisa lepas menyebut Nara entah sadar atau tidak. Apa-apa Nara, sedikit-sedikit Nara, jengah kan lama-lama.
"Berkah apanya? Berkah masuk rumah sakit lebih sering ketimbang pas sama aku?" Olla mencibir.
"Oh, soal itu ... kata Bee, ya? Bee dengar aku minta Mas Abid buat nyetir sendiri? Kamu yang dewasa bisa kacau sama ocehan anak kecil, pantas Abid bosan sama kamu!" Dinka balas merendahkan.
"Denger ya, Dokter Olla! Bee begitu karena dia merasa tidak punya kawan di rumah, semua orang tidak ada yang mendengarkan dia, jadi dia baik sama kamu agar kamu memihak dia. Saya sengaja buat dia merasa sendiri bahkan nanti kamu bakal jauhi dia karena ucapannya membuat kamu rugi banyak. Bee menuduh saya jahat, maka saya wujudkan ... Saya jadi jahat buat dia. Bee bilang saya rebut Papanya, maka saya lakukan. Dan ketika dia bilang kamu baik, maka dimata dia hanya kamu yang baik. Baik entah versi yang mana, tapi saya minta kamu tetap percaya dia, dan saya rasa kejadian semalam sudah masuk ke ranah petinggi rumah sakit."
Olla membeliak. "Kamu—"
"Nggak ... saya bukan pengadu. Itu hanya berlaku bagi pengecut, Olla. Tapi semua orang tau saya anak lain pemilik rumah sakit sejak saya masih bayi, jadi yah, tau lah apa yang Mama Kira lakukan ketika saya disakiti."
__ADS_1
Menggertak saja cukup kan, ya? Tangan kok rasanya sayang kalau buat balas menggampar. Takutnya, ini hanya jebakan, lalu dimanipulasi agar dia terjebak dalam tindak penganiayaan. Biasanya tersangka akan mengaku korban jika sudah kalah telak.
Tapi mungkin, ada Dokter Hamam yang sudah menegur Olla, atau rekaman cctv mengatakan segalanya. Ah, sudahlah.
Seringai Dinka membuat Olla ketar ketir sendiri. Rugi banyak karena Bee? Ah, kenapa dia mesti dengar anak menyebalkan itu? Buat apa dia berpura-pura tetap baik dengan Bee setelah kejahilan anak itu padanya?
"Olla!" Hamam berteriak dsri sudut yang jauh. Langkahnya tergesa-gesa menghampiri dia wanita itu. Ya ampun jangan lagi lah, Olla cari gara-gara dengan Dinka. Apa sih susahnya melepaskan?
"Pulang kamu!" Hamam mendelik. "Nanti siang jam satu kamu harus menghadap Bu Vivian, tahu? Masih aja cari perkara!"
Olla mengerutkan kening tak mengerti. "Aku apa?"
Hamam menyeretnya menjauh, mengabaikan Dinka yang terus menatapnya.
"Kamu udah buat perjanjian apa sama putrinya Bos? Dan semalam, rekaman itu dilihat langsung sama Ranu. Kamu udah gila, ya! Bikin janji yang kamu sendiri nggak sanggup nepati! Kamu lupa kalau dipecat dari sini, kamu nggak bisa kerja dimanapun lagi? Kenapa sih kamu masih ngeyel deketin Abid ...."
Dan Dinka tidak lagi mendengar apa yang Hamam katakan sebab mereka telah lenyap dari pandangan Dinka.
"Ranu ngawasi rumah sakit? Gabut bet hidup dia di Swiss? Katanya kerja terus, masih ya, sempat stalking orang." Dinka mau heran, tapi begitulah posesifnya Ranu padanya, walau dia jelas bukan siapa-siapa.
"Ck, jangan-jangan Ranu itu mulai nyimpang dan suka sama aku, lagi? Hah, bahaya itu!"
Dinka berlalu dengan langkah cepat, diputuskan nanti saja menelpon Ranu sebab ada Abid yang katanya sudah bangun.
__ADS_1
Ah, Mas Bojo ... i miss you so bad! Miss dikelonin kamu, Mas ....