Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Yah, Nggak Digendong Lagi Dong


__ADS_3

"Bagus, hasilnya bagus!" Dokter saraf Dinka mengangguk-angguk dengan senyum kepuasan menghiasi bibir, melihat hasil pemeriksaan Dinka secara keseluruhan. Ia mengalihkan perhatian dari lembar kertas juga foto X-ray ke arah Abid dan Dinka yang wajahnya tegang. Dia agak heran sebenarnya, ajaib sekali kasus ini.


"Saya nggak perlu operasi, kan, Dok? Saya sembuh beneran? Nggak lagi disuruh ini itu, kan?" Dinka sampai memajukan posisi duduknya untuk memperjelas, sebenarnya dia lelah, sudah pasrah jika harus duduk di kursi roda terus atau memakai kruk. Jujur saja, dia senang di manja dan aji mumpung selagi masih sakit, dia ingin dilayani. Ya elah, kapan lagi Mamanya lembut dan care padanya kan? Paling tidak, nggak ada omelan meski dia bandel menolak minum obat, atau bahkan mogok terapi. Menyenangkan sekali sebenarnya.


Dokter itu mengangguk seraya menautkan kedua belah jemarinya di atas meja. "Benar sekali."


"Wah ...!" Dinka sedikit kecewa.


"Ada apa?"


"Kenapa?"


Abid dan Dokter bertanya serempak. Agak aneh kedengarannya reaksi itu.


Dinka membuang napas pelan, tetapi cukup membuat bahunya jatuh. "Saya nggak digendong lagi dong, Dok!" ujarnya kecewa.


Alis kedua pria di depan dan sebelah Dinka naik bersamaan. Ya ampun.


"Nanti saya minta Abid buat terus gendong kamu, asal kamu nggak nambah gendut." Dokter itu terkekeh sambil menggelengkan kepala. Ada-ada saja.


"Bahkan gendut sekalipun, akan tetap saya gendong, Prof! Anda saksinya!" Abid kesal mendengar ungkapan Dinka barusan. Baru satu orang—wanita ini saja, yang betah lama-lama sakit, betah repot pindah ke kursi roda, susah jalan, bahkan Dinka pernah menahan pipis berjam-jam karena menunggunya pulang. Waktu itu belum lama dia lumpuh, tidak ada siapa-siapa yang bisa membantunya ke kamar mandi. Jadi, Dinka menunggu Abid pulang pas jam istirahat.


Sama sekali Dinka tidak mengeluh. Baik sedih ataupun terluka, Dinka lebih banyak tertawa. Seakan kesedihan bukan hal yang patut melulu di tangisi, atau mungkin dia berpikir: menangis hanya akan menambah beban.


"Ya sudah, karena sudah baik semua—saya katakan begitu, tidak ada keluhan nyeri saat berdiri atau berjalan. Tidak ada sakit di tempat yang saya tanyakan tadi, jadi operasi batal, tapi masih harus rutin periksa, ya! Apalagi kalau ada keluhan, Abid wajib membawa Dinka kesini. Mengerti, kan?" Dokter senior itu menuliskan sesuatu di lembaran kertas. Pekerjaannya masih banyak, tetapi dua manusia ini tetap diutamakan mengingat siapa mereka.


Tatapan Dokter dan Dinka yang seperti bertanya-tanya bersirobok. Lantas ia mengulurkan kertas tersebut dan Dinka menerimanya. Mata wanita itu tak lepas memperhatikan isi tulisan yang hanya terdiri dari satu huruf awal, garis panjang, dan diakhiri dengan titik penuh penekanan. Apa pula ini bacanya?

__ADS_1


"Ini hanya suplemen saja, ya! Minumnya sehari sekali—"


"Kalau bikin bayi, boleh sehari 3 kali, Dok?" sahut Dinka berapi-api. Dinka sudah kenal dekat dengan dokter tersebut. Dulu, dokter itu pernah menolong Ranu atau Si Kembar jika ada masalah dengan tulang maupun saraf. Paling banyak si kembar sih, yang nyaris setiap bulan rutin presensi di sini. Sendi bergeser atau bahkan seringan jahitan di kening barang dua atau tiga, adalah sesuatu yang sama sekali tidak membuat kaget perawat dan dokter di sini.


Jadi wajar Dinka suka semaunya pada dokter ini. Sering diajak bercanda, karena orang di rumah kebanyakan marah-marah.


"Yang 3 kali sehari itu obat, yang artinya kamu sedang sakit, Dinka ... karena kamu sehat, maka konsumsinya suplemen vitamin yang hanya dikonsumsi sehari sekali. Karena kalau kebanyakan multivitamin jadinya malah bikin semuanya tidak baik." Dokter menjawab dengan perumpamaan. Memang begitu keadaannya kan? Memang apa yang mau keluar kalau sudah 3 kali pelepasan. Berapa lama waktu produksi hingga siap dikeluarkan memangnya? Satu detik? Itu memangnya mesin apa? Atau kompresor yang keluarnya angin padahal memakai energi listrik? Kadang-kadang memang, ya!


Pria baru normal lagi setelah tidur atau istirahat beberapa jam untuk bisa melakukan lagi. Itu pun harus ditunjang stamina yang oke. Tetapi kalau terlalu banyak malah bisa dikatakan penyimpangan dan harus diobati.


"Kalau gitu aku mau sakit aja—"


"Iyain aja lah, Prof ... nanti malah makin runyam debat sama dia!" Abid membungkam mulut Dinka dengan tangan besarnya.


Dokter itu terkekeh. "Ke Tiwi saja kalau soal itu, karena itu bukan ranah saya untuk mengizinkan. Kalau kebanyakan entar encok!" Mungkin dia harus angkat tangan.


Abid mendekik sengit. Mulut Dinka yang ember sudah kembali. Sementara Dokter malah tertawa-tawa.


"Kalau bener mah, Abid harus berobat, Din."


Abid mendegus. Kapan sih, dia bisa dikatakan benar? Oh, bukan ... cukup dikatakan wajar atau seperti manusia normal. Banyak nganu dikatakan penyimpangan, nggak nganu dikatakan impoten. Haih, lelahnya jadi manusia bernama pria. Ganteng pula. Heeemmmm.


***


Siang usai memastikan Dinka baik-baik saja dengan memeriksakan ke rumah sakit, Abid membawa Dinka ke rumah. Disambut oleh seluruh keluarga, termasuk Mama Kira yang masih menunggu kepulangan Dinka, Azziel juga.


Begitu melihat Dinka dipapah Abid, semua orang langsung menghambur mengerumun. Setiap mulut bertanya sesuai dengan apa yang mereka pikirkan.

__ADS_1


"Gimana, Bid?"


"Anak Mama nggak papa kan?"


"Hasilnya apa, Bid?"


"Kata Dokter gimana?"


Dan Abid hanya bisa menarik napas saking bingungnya menjawab. Belum lagi tangisan Arion begitu membaui aroma maminya lagi.


Dinka menaikkan bola matanya ke atas. Keributan ini sungguh memekakkan telinga. Dia tidak tahu pertanyaan siapa yang harus dijawab dulu.


"Aku baik kok, malah udah boleh kalau mau kasih Arion adik. Jadi mau request jenis kelamin apa? Mumpung belum diadon nih!"


Ia menatap semua orang di depannya dengan tatapan lelah. Namun justru yang ditatap malah sumringah.


"Cewek dong, dua!"


Astaga ... giliran ditanya begitu saja, mereka kompak jawabnya.


"Ya udah!" Dinka menggandeng tangan Abid, menariknya lebih dekat. "Jaga Arion ya, aku mau ngebut nih ... tau kan, bikin dua anak cewek itu harus fokus dan prosesnya lama?"


Semua orang tergelak melihat ekspresi Dinka yang pura-pura serius itu.


Dinka-Dinka ... ada-ada saja sih!


"

__ADS_1


__ADS_2