Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Kami Rindu Kamu


__ADS_3

"Din, buruan bangun dah!" Jen berkunjung setelah kurang lebih 3 hari Dinka dipindahkan dari ruang ICU ke ruang HCU(High Care Unit). Ia menyeka kening Dinka dengan handuk basah. Sesuatu yang belum pernah ia lakukan pada Dinka sekalipun. Mereka lebih sering debat ketimbang manis-manisan saat bersama. Tidak tahu apa kata orang, tapi mereka nyaman bicara semaunya, ngatain seenaknya, toh, keduanya tidak ada yang merasa tersakiti.


"Kamu kenapa mesti begini kalau merasa bersalah sama aku? Harusnya kamu bangun, trus kita tengkar tiap hari sampai mabok," ucap Jen seraya menyentuh telapak tangan Dinka yang terasa dingin. "Jangan gini ... aku tuh kesepian, Din! Nggak ada kamu, nggak da yang aku ajak tengkar. Sepi dan gabut bat dah hidup aku sekarang."


Ia lantas mengedarkan pandangan ke langit-langit kamar yang bercahaya sangat terang. "Kamu nggak takut apa sendirian di sini? Pulang yuk, dirumah rame. Ada anaknya Nana juga loh, kemarin nginep ... masa pas rame gini kamu malah di sini? Tuh baby kamu nangis terus nyariin kamu. Bangun, gih ... kek nggak ada kerjaan aja kamu tidur begini? Kucing kamu mogok makan, belum lagi Honey rewel, ah, pokoknya kamu tuh di rindukan, Din!"


Ada mata yang mendadak penuh cairan air mata. Jen rindu. Tapi Dinka enggan bangun. Dia tidur terus dengan damainya. "Bangun, yok ... masa belum ilang juga lelah kamu. Udah empat hari kamu kek gini."


Jen memeluk Dinka dari samping dan mencium pipi Dinka. "Aku tuh sayang kamu ... aku jutek karena kamu cuek. Udah, ya ... aku nggak marah sama kamu, kok. Aku tahu pas itu kamu emosi, aku tuh udah gak inget lagi soal itu. Semua udah ketutup sama kebaikan kamu selama ini, Din."


"Lagian, kalau kamu begini, aku yang merasa bersalah sama kamu. Aku kaya jadi orang jahat yang nggak mau maafin sodara sendiri." Jen terisak sedikit. Tapi dia lega, walau Dinka tidak melihat, tetapi Dinka pasti dengar semua yang dikatakannya.


"Udah, ya ... Kaka—Kautsarazky, sendirian dirumah. Kamu buruan bangun. Besok aku kesini, kamu udah harus duduk dan senyum nyambut aku, ya ... jangan cuek begini."


Jen bangkit, lalu menatap Dinka sejenak. Tapi Jen menubruk Dinka lagi dan menangis tersedu-sedu. "Maafin aku, Din ... maaf."


Tidak ada yang menyangka sama sekali, Dinka akan tidur begini lama. Kata Dokter semua stabil, makanya setelah operasi, Dinka di pindahkan ke sini. Meski ada kondisi dimana Dinka memang mengalami luka di rahimnya. Tetapi tidak begitu parah. Lalu karena jatuhnya yang mungkin saja mencederai tulang ekor, Dinka bisa saja mengalami kelumpuhan.


Tapi itu baru bisa dibuktikan kalau Dinka sadar sepenuhnya. Abid melarang mengusik tidur Dinka. Mungkin di alam mimpinya memang merupakan tempat singgah tanpa rasa sakit.


"Ya ampun, lagi-lagi kamu, Kak!" Ranu mendelik melihat Jen keluar dari ruangan Dinka. "Gantian lah masuknya. Emang sodara Dinka cuma Kak Jen saja?"


Jen mencebik sinis. "Lo bukan siapa-siapa! Gue iparnya!"


"Ih, baru ipar saja bangga! Gue ... kembarannya!" Ranu membalas Jen tak kalah sinis. Ya, mereka begitu sekalian mengeluarkan rasa sakit yang dulu. Memang, semua agak tidak sama ... tapi Ranu akan berusaha lebih lagi agar hubungannya dengan Jen kembali lekat dan erat.


Mereka saudara, masa hanya gara-gara cowok mereka malah menjauh. Sudah, pasti Tuhan punya rencana untuknya.

__ADS_1


"Buruan sana pergi, Kak ... aku mau masuk!" Ranu mengusir Jen sedikit tidak manusiawi. Biar sajalah.


"Dih, kamu nggak perlu pake aturan jam besuk! Kamu kan yang berkuasa di sini!" Jen mengira Ranu lupa siapa dirinya disini.


Ranu menatap Jen penuh ejekan. " Tapi aku nggak mau kekuasaanku malah bikin Dinka nggak cepat membaik! Ini bukan tempat aku main-main sama kekuasaan, Kak ... ini urusan nyawa seseorang. Aku semauku, bisa bikin Dinka pergi selamanya dari kita! Mau?!"


Jen mencebik, menyembunyikan rasa takut. "Dih, canda juga!"


Ranu siap menjawab tapi Jen buru-buru mendorong Ranu. "Sana masuk! Nanti jam berkunjung habis, kapok kamu!"


Jen mendorong Ranu lalu dia sendiri bergegas pergi. Duh, ucapan Ranu ....


***


Hari kelima pasca operasi, dan hari ke empat Dinka di sini. Abid menunggui Dinka seperti biasa. Kali ini yang berbeda, ada baby boy mereka yang bergerak lucu mencari susu.


Jen yang mendonorkan, kebetulan bayi mereka sama-sama cowok, Jen sehat kemudian berlebihan ASI, jadi ya sudah, toh bayi Dinka bisa menerima dengan baik ASI tersebut.


"Mami, aku mau nen sama Mami langsung, nih ... gak mau dari botol, gak enak!"


"Mami aku semalam rewel loh, bikin suster repot! Tapi kalau mami bangun, aku nggak rewel lagi. Aku akan jadi anak baik untuk Mami. Aku janji, Mi!"


Abid tak lelah berbicara seperti anak kecil selama membawa bayi cowoknya yang tampan ini bersama Dinka. Berharap Dinka segera mau bangun, kembali bersamanya lagi. Abid bukan tidak menangis ketika melihat Dinka yang begini, tetapi mungkin Dinka lebih suka semua orang tetap melanjutkan hidup, dan memperlakukan Dinka seperti Dinka yang biasa.


Abid mengusap kening Dinka yang berkeringat. "Haus, ya, Din? Kamu mau minum apa? Nanti kita beli ... kamu boleh minta minuman apa saja, Sayang."


Dipangkunya bayi yang makin brutal meronta keluar dari bedungnya. "Mas kangen suara kamu, Sayang ...."

__ADS_1


Ia mengusap pipi hingga ke bibir Dinka. "Mas rindu kamu."


"Tapi kalau kamu masih nyaman di sana, nggak apa-apa, nikmati dulu waktu kamu di sana! Mas nggak akan usik, tapi tolong pulang, kalau kamu udah bosan, ya! Mas akan di sini nunggu kamu tanpa bosan. Mas cinta sama kamu, Din ... Mas sakit kamu kaya gini."


Dan si bayik makin merah wajahnya, kemudian menangis keras, bahkan menyerupai jeritan. Abid sampai harus menjauhkan telinga karena itu.


"Ya ampun, anaknya Mami suaranya ...." Abid menimang seraya berdiri. Matanya basah walau senyumnya terukir. "Iya, Sayangku ... kamu aus, ya ... duh, Mami Jen pasti pingsan kalau kamu nen-nya kaya gini!"


Bukannya berhenti, tetapi bayi yang belum diberi nama oleh Abid ini, malah makin kencang menangis. Abid kewalahan, dan bersiap meninggalkan ruangan Dinka.


Jeritan itu memenuhi ruangan. Astaga ... telinga siapa pun pasti pengang kalau mendengar. Anak ini memang mewarisi sikap bar-bar bin tarzan maminya.


Abid siap membuka pintu saat ini. Ya ampun, suara tangis bayinya ditakutkan mengganggu Dinka.


Mengganggu? Suara ini mengganggu Dinka?


Tapi bukannya bagus kalau Dinka terganggu ya? Abid berbalik, dan mendapati gerakan jari Dinka.


Mata Abid membola. Ia menatap Dinka dan anaknya bergantian. Lalu buru-buru meletakkan bayi yang masih menangis dan bergerak tak terkendali itu di sebelah Dinka. Membiarkan bayi merah itu membangunkan tidur lelap Mamanya.


"Dokter kenapa?" Seorang perawat melihat bayi Abid menangis, dari ruang pemantauan. Dia bergegas kemari, tetapi didapati malah Abid memintanya diam.


"Wajar kalau anak itu nyari ibunya, kan?" Ya ampun, Abid baru kepikiran. Dan itu berhasil membuat bola mata Dinka bergerak ke sana kemari.


"Ya Allah, Sayangku ...." Abid melihatnya ... melihat Dinka mengerjapkan mata.


Jika boleh, Abid akan memeluk dan berteriak memanggil Dinka. Sungguh ia merasa melihat keajaiban.

__ADS_1


"Saya panggil Dokter dulu, Dokter Abid!"


Ini pertanda baik ....


__ADS_2