Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Dia Bukan Penuntut


__ADS_3

"Adikku bukan penuntut, Bid!" Darren duduk berhadapan dengan Abid di sofa kamar. Bee yang tidak bergabung dengan Honey, Ace, dan Jenna merebah malas di sebelah Abid memainkan ponsel. Anak itu ketakutan melihat Papanya pingsan untuk waktu yang jauh lebih lama dari biasanya, jadi sebisa mungkin menjaga jarak sedekat mungkin dengan Abid. Ia takut kehilangan Papanya tersebut.


Abid tersenyum malu. Dinka barusan masuk untuk mengambil tas dan pamit pergi ke salon untuk perawatan. Sendirian ... tanpa Koko atau siapapun. Dinka memang terbiasa mandiri dan tidak suka merepotkan. Maklum, semua orang di rumah mereka bekerja, jadi jelas dia tidak bisa bermanja-manja.


"Dia tipe yang santai dan nerima apa adanya, yang beneran apa adanya banget." Darren terkekeh menjelaskan soal adiknya pada Abid, mungkin belum lama kenal membuat Abid masih meraba bagaimana karakter Dinka sehingga salah paham sering terjadi.


"Prinsip dia, selagi dia masih manusia, yang jadi pacarnya gak perlu sempurna. Kecuali kalau udah jadi bidadari, dia bisa nuntut pasangannya seperfect mungkin."


Abid ikut tertawa mendengar itu. Dinka terlalu merendah. Memang, Dinka tidak baby face, tapi termasuk yang terlihat muda dari usia sebenarnya. Manis, kalau cantik itu berlebihan, dan Abid nyaman bersama Dinka. Hanya, memang Dinka ini bersinggungan dengan konglomerat, aura kaya-nya jadi menular. Abid merasa kecil sebab uang bulanan untuk Dinka saja tidak mencapai setengah dari penghasilan Dinka dari Pet shop dan Pet hotels. Belum dari Mamanya, belum dari Darren dan Jen, belum tiba-tiba transferan "uang jajan" dari Mamaira-nya, bahkan terkadang ada chat aneh dari Papa Harris yang bunyinya: Duh salah pencet nomer rekening, Din.


Dan ketika Dinka ingin mengembalikan, Papa Harris bilang, buat beli odading.


Astaga ... 20 juta beli odading sama pabriknya apa?


Mengingat itu, Abid hanya bisa terpaku. Ya, walau Dinka tak pernah menunjukkan semua chat itu, tapi Abid selalu membacanya di waktu yang tidak tepat. Dinka pelupa, ingat?


"Jadi, kalau kamu belum bisa nyetir karena trauma kamu, udah, nggak usah dipaksa."


Suara Darren membuat Abid kembali dari semua lamunan akan Dinka.


"Adik gue anaknya santai. Lo nggak bisa, adik gue bisa dan sebaliknya. Tapi bukan berarti dia tidak bisa manja! Siap-siap gila kalau dia kumat manjanya! Nih, anak lo dua ... nggak ada apa-apanya sama manjanya Dinka."


Abid mengerti. Sekarang, dia harus melindungi Dinka, menjaga istrinya itu dari apapun. Walau rasa jauh dibawah Dinka masih sulit hilang, tapi dia akan berusaha. Abid boleh Dokter, tapi Dokter yang masih berada di level bawah.


"Buruan sehat, rumah sakit butuh tenaga dokter cekatan kaya kamu!" Darren sedikit banyak tahu, sebab dia selalu menjadi wali Jen untuk rapat di sana.

__ADS_1


"Soal lebih tinggian istri dalam segala hal, aku udah ngerasain gimana rasanya ... tapi aku ajak kompromi dengan dia. Dinka hanya seperempat dari apa yang Jen punya dan kamu bisa bayangin gimana insecure-nya aku, kan?"


Astaga, Abid tidak tahu soal itu. Sebab dia bertemu Darren saat sudah menjadi salah satu pengusaha yang diperhitungkan kelasnya. Sejarah Darren, Abid sama sekali buta.


Tapi mungkin dia bisa belajar. Mulai sekarang dia harus belajar.


***


"Nggak ada simulasi gimana rasanya lahiran normal, ya, Dok?"


Ke salon? Ck, bukan Dinka kalau tidak pintar cari alibi. Sejak pagi dia gelisah mencari cara pergi dari rumah tanpa kawalan. Dan kebetulan yang kebetulan sekali, Jen memberi jalan saat dia buntu. Uh, makasih Jen!


Dokter yang menanganinya adalah seorang wanita seusia Abid, sabar, dan lembut tutur katanya, tak terkesan menggurui, bahkan menjawab dengan santai sekalipun pertanyaan Dinka sangat konyol.


Dokter Tiwi tersenyum mendengarnya, "ada-ada saja kamu, Din!"


Dia sampai menggeleng dan menghentikan tangannya yang sedang menulis hasil pemeriksaan Dinka kali ini.


Tatapannya beralih ke Dinka yang menunggu jawabannya dengan sabar.


"Nggak ada, Dinka! Adanya perasaan yang mirip. Kamu pernah kram pas PMS?"


Dinka menggeleng.


"Sembelit?"

__ADS_1


Pernah kali ya, tapi yang kaya gimana? Dinka tak bisa mengingatnya persis. Hidup Dinka kelewat mudah, tak pernah sakit yang serius, mens biasa saja, nggak ada bad mood atau apa, pokoknya lempeng. Sakit hati juga tidak pernah. Selain kehilangan Myung, tak ada yang bisa membuatnya sakit benar-benar. Dia menghindari namanya sakit, baik harfiah maupun kiasan.


Malah setelah nikah, dia kerap merasa sakit. Digampar mantannya suami, misalnya. Uh, sakit bener kemarin itu yak!


Dokter Tiwi tak habis pikir dengan jalan pikiran Dinka. "Kalau takut ngeden, SC aja, Din ... jangan membuat sulit diri sendiri. Nanti ambil yang paling mahal, dua jam udah bisa jalan. Kaya si Kate Midlleton itu loh, langsung cantik dan ramping. Balik ke bentuk semula.c


"Katanya yang nggak lahiran normal itu bukan ibu sejati, Dok?" Dinka menyatakan resahnya. "Mungkin semahoni, atau seakasia, atau bisa jadi sekayu manis," lanjutnya sedikit memelesetkan keseriusannya.


Dokter Tiwi tak bisa lagi menahan tawanya. "Ya ampun, Dinka. Bisa gitu kamu kemakan statement itu?"


"Hypno aja, Dok ... kayaknya enakan dari yang dua di atas." Dinka memutuskan. Ketakutan membawanya ke mari tiap dua minggu sekali, selang seling dengan dokter satunya.


"Boleh. Kelasnya sudah dibayari oleh Miss Ranu."


Dinka kaget. "Ranu?"


"Biasa aja kali, nyebut akunya?" Ranu muncul entah dari mana lalu duduk di hadapan Dinka dan menarik Dinka ke pelukannya sekalian dengan perut nya yang justru menggemaskan ketika hamil.


"Kok kamu pulang, Ran? Kerjaan disana gimana? Kan kamu—


"Aku nggak mau kerja ah, enak habis uang Papa aja sama kamu!" Dia terkekeh pelan dan menaikkan kedua alis.


"Salah satunya dengan ajak kamu belanja baju baby!" Ranu menarik tangan Dinka hingga keduanya berhenti di parkiran. "Pilih semua yang kamu mau, kata Papa apa yang kamu mau harus beli!"


Dinka masih ha ho melihat kejadian cepat nan tiba-tiba ini. Ranu ini beneran Ranu kan? Beda sekali dengan Ranu yang dulu sewaktu dia masih di Swiss. Atau hanya tubuh kloningan. Kenapa sih, Ranu pulang pergi Indo-Swiss kaya Swiss itu kompleks sebelah aja?

__ADS_1


__ADS_2