
USG menyatakan janin Dinka berjenis kelamin perempuan. Abid tentu senang bukan main ketika mendapati hal tersebut. Gender Reveal pun seharusnya serba pink, namun karena dia ingin memberi kejutan pada semua yang hadir, jadilah gold menjadi pilihan Abid dan Dinka. Gold adalah lambang kejayaan, jadi mereka berharap anak mereka kelak berjaya kehidupannya.
Itu tidak buruk, meski agak lain ... yang buruk adalah tagihan Abid yang diterimanya tadi pagi. Entah kenapa laporan kartu kredit Abid terdampar di tangannya.
Sebuah kesengajaan ... tentu tidak, sebab selama menikah, tak ada tagihan yang masuk ke dia. Mungkin yang ini tidak auto debit jadi dia bisa melihat tagihan tersebut.
Nominalnya sangat besar, dan Dinka sejak tadi resah. Dia tak fokus menatap ke sembarang arah, meski tamu undangan mendapat sambutan meriah darinya. Dia tetap gembira, tapi tetap tidak bisa beralih pikiran dari nominal itu.
Abid sibuk berbincang dengan temannya, lalu salah seorang membisiki sesuatu sehingga membuatnya panik tak karuan. Namun sial, acara sudah dimulai sebab semua sudah hadir termasuk Olla. Dia—Olla, sibuk dengan temanya tanpa sekalipun melirik ke arah Dinka, tetapi tetap memberi senyum pada Abid.
Dia masih ingin mengemis. Berharap Abid menolaknya hingga hatinya tidak lagi menahan sakit. Menangis lalu pergi. Jika Abid goyah, itu bonus ... tolong dicatat. Sebenarnya, dia hanya sedang menyakiti diri sendiri, mempermalukan diri sendiri, dan dengan begitu, dia tidak lagi merasa berhutang budi.
Lebih buruk, dia ingin membuat mamanya menahan malu sama seperti yang didapat oleh keluarga Abid. Olla memang kejam, sama kejamnya seperti saat dia dipaksa mendekati Abid. Lalu ketika desas-desus kalau Abid punya trauma dan menjalani terapi, simpang siur berita yang memaksa Olla mencari tahu sendiri, kemudian tersesat.
Dia salah informasi. Bukan ... dia membeli informasi yang salah. Syit, kan?
Hidupnya sudah kacau, jadi dia akan memperbaiki satu tahap demi tahap. Setelah terpuruk, dia akan memulainya lagi dari nol. Rencananya semulus itu. Dan dia memang visioner yang sangat optimis.
"Boy or girl?!" teriak pembawa acara—rekan kerja di rumah sakita, yang tanpa Olla sadari sudah sampai ke acara paling dinanti—jelas dia tidak, ya.
Perhatiannya mau tak mau teralih ke atas panggung kecil depan sana. Tentu tatapannya hanya tertuju pada Abid.
"Satu-dua-tiga ...!"
Door!!!
"Girl ...!"
Pekikan keras tak mampu dibendung. Si pembawa acara juga ikut tertawa bersama pasangan yang saling memeluk penuh tawa melihat betapa mereka sangat terkejut.
Terutama Mama Resti dan Papa Anton yang lompat seperti anak kecil melihat cucu mereka perempuan. Abid dan Dinka sama sekali tak melarang euforia yang terjadi.
__ADS_1
Mereka terhanyut juga sebenarnya. Namun, Dinka langsung menghilang usai pecah balon barusan.
Abid panik dan mengejar Dinka. Ia takut tagihan kartu kredit yang diterima Dinka membuat istrinya itu salah paham. Abid belum sempat memberitahu soal tagihan itu. Mungkin juga Abid menganggap itu tidak penting mengingat jamnya sudah raib. Dan dia sudah jujur nominalnya dan bagaimana mekanisme pembayarannya. Kali ini dia hanya sedang apes setelah sebelumnya selalu diterima oleh Mbak-mbak dirumah.
Dinka kembali dan bertubrukan dengan Abid.
"Dinka ... Sayang dengar—"
"Mas, aku minta maaf—"
"Apa?!" Keduanya bicara serempak.
"Mas duluan!"
"Kamu duluan!"
"Mas—"
"Meski Mas masih bayar cicilan jam tangan dari Olla, tapi aku udah siapkan jauh lebih banyak buat bayi kita dan kamu!" Abid meraih kedua belah jemari Dinka dan menggenggamnya erat penuh janji. Bagi Abid, wanita—atau istri atau pasangan, wajib mendapat informasi lebih dulu, mendapat informasi tambahan sejelas-jelasnya agar hidup si pria—atau suami, sejahtera.
Harmonis adalah istri bahagia lahir batin. No debat!
Abid belajar dari teman-temannya dan dia percaya itu.
Dinka mengguncang tangan suaminya dengan ekspresi biasa saja tapi mood sekali. "Aku tahu ...," jawabnya gemas.
"Maksudnya?"
"Iya, aku tahu Mas bayar cicilan itu ... wajar kan, kalian baru setahun pacaran, dan jam itu belum lunas—Aku tahu." Dinka cengar-cengir.
"Lalu?" Kening Abid berusaha untuk tetap kalem tanpa lipatan, walau tidak bisa.
__ADS_1
"Aku tadi nyuruh Mas Bisma buat cari tukang sapu jalan, yang aku kasih jam tangan Mas itu. Aku ganti dengan uang sesuai dengan yang tukang sapu itu minta." Dinka masih sama cengengesan. "Mas, jam ini mahal. Sayang kalau dibuang."
Dinka meraih sesuatu di tasnya yang sejak tadi menyampir di pundak.
"Mas jangan jual ... jangan buang yang ini! Ada jerih payah Mas di sini. Dan aku anggap Mbak Olla hanya sales doang, jadi tetap dipakai ya, Mas." Dinka meraih tangan Abid dan memasangkan jam tersebut.
"Aku tahu DP-nya kecil, jadi cicilannya gede. Mbak Olla nggak berarti apa-apa di sini, Mas."
"Sayang ...." Abid cemas, dia takut ini hanya paradoks yang akan menjadi bumerang suatu saat nanti. Abid dilema, dipakai salah, ditolak juga akan bikin Dinka murka.
"Udah, Mas ... aku ini sayang uang. Aku bukan orang yang melulu mikirin ini dari siapa dan terganggu sama mantan Mas. Aku bukan wanita yang kurang kerjaan dengan mencemburui mantan membabi buta!" Dinka menepuk pelan jam berharga nyaris setengah milyar itu. Dia bukan Kristal atau Jen yang menganggap uang segitu murah. Setidaknya belum.
"Jadi ...?"
"Boleh dipakai, boleh di simpan. Tunggu sampai antik, nanti dijual dengan harga yang jauh lebih mahal." Dinka menyeringai licik. Otak berdagangnya langsung mencuat.
Tetap Abid was-was.
"Hanya lain kali, kalau mau beli barang mahal, bilang ke aku, nanti dibelikan Kristal di pusatnya langsung. Dia sudah masuk daftar langganan produk mahal eropa dan dunia."
Abid lupa, istrinya hidup di circle yang uangnya tidak ada nomor serinya. Mereka main perputaran uang yang tak kasat mata. Astaga ....
"Sayang ... kita lagi ada acara penting, loh. Kok jadi mikir jam yang hilang, sih?" Abid sadar soal itu mendadak. Tamunya pasti sibuk mencari keberadaannya.
"Bayi kita laki-laki ... aku tahu."
"Hah?"
"Terbukti dari nafsunya aku lihat kamu, Mas. Bawaannya pengen ngamar mulu."
Astaga ....
__ADS_1