Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Nggak Ada Alasan Benci Kamu


__ADS_3

Sudah pasti, acara empat bulanan untuk kakak ipar Dinka luar biasa. Mewah dan meriah. Kata Dinka ini bukan acara empat bulanan tetapi lebih banyak ke arah menghamburkan uang begitu saja.


Cucu di rumah ini sudah banyak, ada 6, dan di perut Jen adalah yang ke 7—Jeje sudah ada baby, ya🤗, tolong jangan bertanya-tanya—Tapi bagi Opa dan Oma di tengah sana, semua kehamilan adalah hal baru. Perjalanan baru bagi si calon bayi, disambut meriah adalah sebuah keniscayaan.


Dinka mengusap perutnya yang sedikit buncit. Nyaris 3 bulan usianya, dan Dinka masih tidak kelihatan hamil. Keluarga suaminya tidak terlalu menggembar-gemborkan kehamilan Dinka sampai usia yang dipercaya aman untuk go public.


Matanya menatap tamu-tamu yang hadir. Sebagian dia memang kenal, menyapa dan berbincang, sebagian lagi hanya pernah melihat, tapi tidak kenal. Dan diantara ratusan manusia itu—Dinka kesal, kenapa mesti matanya mengenali Olla. Dinka jelas menghindari, dan kelihatannya Olla juga demikian.


Mereka berdua saling tatap dan membuang muka. Dinka punya alasan kuat melakukan itu.


Dan Olla juga merasa malu tampil di sini. Dia hanya datang, lagian dia sudah kalah dalam perang ini. Dia hanya datang sebagai undangan dari tuan rumah, walau jelas kemungkinan dia dan Dinka bertemu.


Lebih gila, sesuatu yang membuatnya gugup berdiri di jangkauan pandangan. Menatapnya dan Olla tidak mungkin menghindar.


"Tante apa kabar?" Dia menyapa sebagai sesama tamu pada Resti yang membalas uluran tangannya hangat.


"Eh, Olla ... Tante baik, Sayang," jawab Resti dengan senyum yang biasanya. Tidak ada yang berkurang dari sambutan wanita itu padanya. Angin segar mendadak berhembus di sekeliling kepalanya. "Kamu sendiri gimana? Sehat dong, ya?"


Olla tersenyum cerah. "Seperti yang Tante lihat."


"Terakhir ketemu, saya nggak sempat nyapa Tante, maaf ya, Tan." Senyumnya adalah yang terbaik, tulus, dan hanya ingin tetap menjalin silaturahmi yang terajut.


"Tante ngerti, kok ...." Masih saja tidak ada yang berubah. Hangat dan ramah. Bahkan Resti meninggalkan obrolan dengan temannya demi fokus pada Olla.


Tunggu, apa sekarang dia masih boleh berharap?

__ADS_1


"Saya senang Tante nggak benci saya," cetus Olla begitu saja.


"Nggak ada alasan bagi saya membenci kamu sekarang, Olla." Resti menyelipkan senyum paling manis di bibirnya.


"Makasih, Tan ... saya lega dengernya. Walau saya tau, saya nggak layak dimaafkan." Olla menunduk. Dia tidak sedang akting sedih, tapi penyesalan itu nyata adanya. Dia sungguh menyesal.


Resti tidak menjawab, melainkan pergi dari sana. "Semua udah berlalu, Olla ... Tante udah lupa. Tante permisi ya, belum ketemu sama tuan rumah soalnya."


Olla mengangguk takzim. Membiarkan Resti pergi. Tak ada alasan baginya untuk menguntit di belakang Resti lagi, atau menahan wanita itu lebih lama. Namun, sikap Resti barusan tidak juga membuat hatinya lega sungguhan. Akan lebih baik kalau Resti memarahinya habis-habisan, memakinya, mencacinya, lalu semua kembali normal sebab telah terlampiaskan. Sayangnya, sekarang Resti memilih sikap itu, yang Olla tahu, ada dendam terselubung dibalik senyum.


"Tante ...!" Olla mengejar. Keputusannya bulat.


Resti berbalik, sejujurnya kepergiannya adalah untuk menghindari tatapan heran semua orang. Dan Resti menahan diri.


Olla mendekat, "Tan ... Saya ingin benar-benar dimaafkan, saya tau Tante masih dendam pada saya—"


"Jika itu membuat Tante lebih baik, saya tidak masalah."


"Sayangnya, Tante nggak mau nurutin kemauan kamu! Bodo amat kamu mau merasa bersalah atau apa, karena emang udah sepantasnya kamu merasa begitu! Yang jelas, aku nggak mau buang-buang tenaga dan waktu buat urusin kamu, Olla ... Kita udah nggak ada urusan lagi. Bagi Tante kamu udah lewat." Resti menukas dan memutus begitu saja semua harapan Olla. Sikap baiknya tadi hanya agar tidak ada keributan di acara orang. Dia sedang menutup muka Olla dari rasa malu.


"Tante, saya—"


"Udah Olla, berhenti sampai sini! Kamu sebaiknya lupakan hubungan yang pernah terjalin dengan kami. Kami udah bahagia, dan kamu harusnya juga begitu."


Pupus.

__ADS_1


Selesai.


Semua sudah berakhir. Olla harus menguatkan diri dengan memegang ujung bajunya saat ini agar tidak terjatuh. Agar air matanya tak lagi keluar di saat seperti ini. Ini sungguh memalukan.


Resti pergi, menjauh dari sesuatu yang membuat suasana hatinya buruk mendadak. Ya ampun. Dia sudah berpenampilan paripurna demi menemui tuan rumah, tapi yang terjadi malah kacau begini.


Sementara itu, Abid yang baru tiba langsung mencari Dinka. Namun tak sengaja melihat keributan Mamanya dengan Olla. Bahkan mereka berdua saling bertatapan. Dan dia tahu kalau harus bicara dengan Olla. Jadi, dia segera keluar menuju tempat yang lebih tenang.


"Aku udah nggak bisa diterima lagi, ya, Bid?!" Olla tersenyum miris. "Beneran secepat itu perasaan kamu berubah?"


"Kamu pernah kami terima dengan tangan terbuka, Olla! Kamu pernah kami jadikan bagian keluarga dan perasaan aku utuh buat kamu. Sepenuhnya! Tapi apa? Kamu pergi gitu aja!" Abid menekankan setiap perkataan yang keluar dari mulutnya. Jujur saja dia muak. Dia lelah. Sejauh ini, dia sudah menghindar, sudah menjauh, sudah menutup diri, tapi Olla menganggap lain rupanya. Dipikirnya apa? Dirinya tempat singgah? Dia sampah, kah?


Mungkin, sekeras kepala Olla ini, butuh lebih dari sebuah kata untuk memberitahu sebesar apa batas dan jarak antara mereka. Apa dipikirnya, pernikahan segampang yang ada di kepalanya?


"Olla, dengar!" Suara tegas Abid membuat Olla yang sejenak tenggelam dalam rasa sesal yang nyata menoleh. Menatap Abid dengan kesadaran penuh.


"Apapun yang terjadi antara kita di masa lalu, silakan kamu kenang sendirian. Silakan kamu simpan di hati kamu sendiri, aku nggak bisa lagi menyelipkan kamu di hatiku, karena aku sudah milik wanita lain. Aku miliknya secara penuh, Olla. Aku bahkan jatuh cinta secepat aku melupakan luka yang kamu buat. Aku sangat mencintai istriku karena aku sudah lupa pada apa yang kamu beri ... yang sebagian besar adalah luka dan rasa malu!"


Olla membuang napasnya yang panas dan sesak hingga menimbulkan suara mendesah yang berat. Tapi Olla tertawa. Miris sekali.


Abid kasihan melihat itu, tetapi bukan tugasnya lagi membuat Olla merasa lebih baik.


"Mungkin kamu harus dijelaskan siapa kita sekarang. Kita adalah mantan, dan selamat tinggal, Olla! Kita tetap rekan kerja, tapi aku harap setiap pertemuan dan percakapan yang terjadi diantara kita, bagiku tidak berarti apa-apa. Aku hanya anggap kamu rekan kerja, Olla ... nothing special!"


Olla melesatkan tatapan tajam tak terimanya. Sungguh ini menyakitkan.

__ADS_1


Tapi Abid sudah selesai. Dia sudah selesai sejak lama, hanya ternyata Olla butuh penjelasan yanh sungguh membuang waktu saja. Baik, dia sudah lakukan, dan harapan besarnya adalah Olla benar-benar berhenti kalau dia pintar.


__ADS_2