
Pada acara itu, Olla sempat bertemu Bee—mereka bercengkrama seperti biasa. Dan Bee mengatakan semuanya. Soal dia tetap menyayangi Olla.
Jadi hari-hari belakangan, Bee yang sudah mendapatkan kembali tab-nya, bisa berhubungan dengan Olla lagi. Bee merasa diasingkan oleh Dinka, ya ... hanya Dinka saja. Yang lain tetap biasa saja.
Di depan semua orang, Dinka bersikap sangat manis, sementara ketika hanya bertiga—berduaan saja dengan Dinka belum pernah sama sekali terjadi, Dinka abai padanya.
Benar Dinka sedang mewujudkan kata-kataku atau memang ini sifat aslinya? Bee bertanya-tanya. Harusnya, Dinka takut kalau dia mengadu, kan? Kenapa wanita itu santai sekali? Apa karena bayi di perutnya adalah bayi Uncle Papa, dan sangat kecil kemungkinan kalau ditinggalkan?
"Tante sedang bekerja, Bee," tulis Olla pada pesannya untuk Bee. Yang langsung dibukanya secepat kilat. Bee tersenyum ketika Tante Olla menunjukkan foto kesibukannya di UGD.
Mereka sudah sangat dekat sebelum pernikahan terjadi. Bee menerima Olla setelah dirasa Olla telah melakukan banyak hal untuk merebut hatinya. Yang seperti itu wajib banget dirangkul, usahanya luar biasa, sementara Tante Jelek itu? Dia malah bersikap sebaliknya padanya, kan?
Boro-boro mendekat, membujuk, peduli saja tidak mau, malah ngancam yang bukan-bukan. Aneh memang wanita itu.
Malam ini berhari-hari sudah berlalu sejak pesta nggak penting—menurut Bee, sebab hanya menghabiskan uang saja. Memecahkan balon saja sebenarnya acara kemarin dulu itu. Pasti itu rencana si Tante Jelek.
Bee tidak bisa tidur karena dia kena omel Oma-nya. Apalagi kalau bukan harus mengucapkan selamat malam dan selamat tidur untuk si Tante Jelek itu. Ditambah di suruh mencium pipi ... ih, jijik!
Bee kesal bukan main dan mencuci bibirnya saking jijik.
Dia bermain game di tab-nya. Dia sudah sudah besar dan bisa bertanggung jawab atas tindakannya.
Suara pintu terbuka dari kamar Papanya terdengar, di susul langkah pelan namun tetap bisa didengar oleh Bee, anak itu berdiri dan mengintip.
Dia tahu Papanya kemana bersama Mas Koko tiap malam setelah menikah dengan Tante Jelek itu.
Latihan mengemudi. Ya, memang begitu kenyataannya. Pasti Tante itu yang nyuruh.
Bee tidak sampai terlihat oleh Papanya, hanya dia menyiapkan teh hangat jam 3 pagi untuk Papanya jika sudah begini. Papanya akan tegang, pucat, berkeringat, dan gemetar saat pulang nanti. Harusnya, Papa tidak usah memaksakan diri, kan?
__ADS_1
Bee melamun sampai tidak sadar Tante Jelek itu keluar kamar dan sempat bertemu tatap dengannya.
"Lihat Papa nggak, Bee?"
Bee membuang muka lebih dulu, berniat tidak menjawab, tapi ....
"Keluar tadi."
"Hapenya nggak dibawa." Dinka mengusap mata. Bergumam seraya mendekat ke arah Bee.
"Ke rumah sakit, kali ya," sambungnya datar lalu segera turun, setelah menatap Bee sekilas.
Tak perlu menyahut atau merespons. Nggak penting. Bee segera masuk dan rebahan di ranjang. Belum bisa tidur juga hingga selarut ini.
Dia duduk dan membuka roomchat Olla lagi.
"Tan ... Uncle Papa sekarang sering latihan nyetir sendiri. Papa sering lelah dan semakin kurus. Tante perhatikan nggak, sih?" ketik Bee pada pesan itu lalu mengirimnya pada Olla. Dia menahan ini sudah lama sekali. Dia sudah tidak lagi bisa memendam sendirian. Olla harus tahu.
Bee bergegas menunduk mendengar pesan masuk.
"Papa sedang melawan traumanya, Bee ... nggak apa-apa, Bee harus dukung Papa, ya." Kita semua sayang sama Papa, jadi harus support apapun yang dilakukan Papa."
Bee tersenyum. "Tapi, Tan ... Papa nggak baik-baik aja, loh ... malah udah nggak ke dokter lagi. Tante tahu soal itu, kan? Kalau Tante masih sayang, Tante harus bujuk Papa supaya kembali ke dokter, dan nggak nyetir lagi. Ini pasti karena mobil baru Tante itu, jadi Papa nekat dan nyakitin diri sendiri."
Centang biru dua, tapi tidak tampak Tante Olla typing.
Pasti dia sedang sibuk. Wajar kalau dokter begitu, kan? Beda sama yang sok sibuk walau kerjaannya cuma makan dan rebahan kaya tante itu.
"Papa udah sembuh mungkin, Bee. Bee harusnya senang, kan? Papa dirawat dengan baik oleh Mama baru kamu berarti. Jangan berburuk sangka sama orang. Nggak baik, Sayang."
__ADS_1
Cih!
Apanya?
"Tante itu hanya bikin repot Papa. Papa makin lupa sama kita, Papa hanya sibuk sama istrinya. Kita dilupakan."
"Aku bilang gini, karena aku tau apa yang terjadi sebenarnya, Tante."
Bee kesal saat mengetik itu. Ingin dia memaki, tapi Bee tak pernah mampu mengeluarkan suara sedikit saja. Dia menjaga perasaan Opa dan Papa.
"Tante tetap sayang kamu, kok, Bee ... Sama kaya Papa dan Mama baru kamu, mungkin hanya kamu belum dekat sama dia."
"Kapan-kapan kita main, ya ... Tante ada temen kecil yang cantik banget. Mau kan?" Sebuah pesan dari Olla menyusul masuk.
Bee merasa terhibur. "Mau, Tan. Minggu ini, ya."
"Oke, Bee Sayang. Udah, ya ... Tante kerja lagi. Ada pasien datang."
Tersenyum simpul, Bee segera berdiri dari ranjang dan ke kamar mandi. Hatinya lega, pasti tidurnya nyenyak.
Kamar Bee lupa ditutup, jadi Dinka leluasa masuk. Tab di ranjang masih menyala. Dinka berniat mematikannya. Namun, justru kenyataan lain di dapat. Dan itu membuat Dinka terkejut dan buru-buru keluar kamar.
"Kenapa, Tan?" Suara Bee membuat langkah Dinka terhenti. Dia menoleh.
"Papa keluar buat nemuin Tante Olla." Bee menatap tab-nya yang sudah mati. Mungkin Tante itu ingin bertanya kemana Papa, kan? Dan tab itu sudah diberi sandi angka, jadi Tante itu pasti tidak bisa melihat apa di dalamnya.
Dinka mengerutkan kening, tetapi dia tidak menjawab apa-apa. Dia hanya perlu keluar dan mencari Abid.
***
__ADS_1
Ini anak yatim piatu,ya ... ga boleh dihujat🤣🤣🤣 puasa juga🤣 sabar-sabar🤭