
"Bee, bantuin."
Sekitar jam lima sore, Dinka tersentak dari tidurnya penuh bayangan menakutkan. Ketakutan itu ternyata tidak pernah mau pergi. Kendati dia memakai banyak cara agar lupa pada pikiran tersebut.
Ia menoleh ke arah pintu. Sepertinya dia mendengar suara Honey. Kapan Honey nyusul? Dan, Bee ikut ke sini? Wah ini langka sekali.
Dinka bergerak bangun, lalu menghela napas pelan. Mengingat lagi mimpinya tadi, membuatnya merasa haus.
Bayangan dirinya menyerang Jen waktu itu berlarian di mimpinya. Kadang, posisinya terbalik dengan dia yang ada di posisi Jen. Dan Dinka merasakan jelas kesakitan Jen waktu itu.
Ia membuang napas seraya menyeka keringat. Rasanya pusing dan lemas.
"Bee ... agak susah nyeimbangin badan."
Dinka mengerutkan kening, suara Honey di halaman belakang kembali terdengar, bersamaa dengan suara halus hoverboard. Jen membelikan Honey mainan yang sama dengan yang dipunyai Ace, sebab mereka seumuran. Yang mengejutkan adalah Bee ikut kemari dan mau bergabung dengan Ace.
Dinka berjalan keluar kamar untuk melihat mereka bertiga. Di halaman belakang ramai sekali, ada pengasuh anak-anak Jen dan pengasuh Honey—Bee kini tidak lagi ditemani pengasuh.
"Honey, sini aku bantu!" Ace menuntun tangan Honey yang sedikit gemetar saat menaiki mainan mahal tersebut. Sementara Bee berusaha mengarahkan Honey agar tubuhnya bisa seimbang di atas hoverboard yang baru dibeli belum lama ini.
Dinka tersenyum melihat anak-anak itu akur sekarang. Usahanya tidak sia-sia agar mereka bisa seakur sekarang.
"Mami, lihat Honey bisa naik." Honey memekik, membuat Dinka tersentak lalu tersenyum menatap Honey.
Setelah berkali-kali akhirnya Honey bisa berdiri tanpa gemetar, meski masih dikawal Bee. Dinka agak maju ke depan agar bisa melihat anak angkatnya dari dekat.
Honey terus berteriak kegirangan, sementara Dinka menyemangati Honey dari sini.
"Mami aku pintar kan? Aku bisa loh, diajari sama Bee dan Ace!"
"Mami bilang juga apa, Honey itu emang pinter, hebat, hanya harus lebih berani dan berhati-hati."
Honey nyengir seraya terus menggerakkan mainan canggih itu memutari halaman belakang yang lumayan luas. Ada taman dengan jalan setapak mengitari rumput hijau. Di sini, mereka gunakan sebagai tempat bermain yang aman.
Sore ini cuaca terasa nyaman, teduh, dan sedikit dingin. Dinka berjalan pelan ke tengah taman tanpa alas kaki dimana ada kursi panjang yang kosong. Ia bisa melihat Honey dari sana, menyemangati anak angkatnya itu agar lebih gigih berlatih.
Bee melihat Dinka dengan tatapan kagum sekaligus ngeri. Perut Mama angkatnya itu sedikit mengerikan bentuknya.
"Bee, aku nggak usah dikawal lagi. Aku udah bisa."
"Eh, nggak bisa gitu ... kamu masih belum bisa berdiri dengan benar itu." Bee dengan suaranya yang keras mengingatkan adiknya.
Untuk urusan keras kepala, Bee dan Honey memang tak bisa diadu dengan yang lain. Mereka berdua adalah juaranya.
"Aku bisa, kok." Honey melepaskan diri dari Bee, dan kembali melaju dengan benda itu.
__ADS_1
"Honey!"
"Nih, aku bisa ...." Honey menunjukkan kebolehannya ke Bee dan Ace yang juga ingin melarang Honey melaju sendiri. Ace tampak mengerutkan wajahnya saking takut.
"Sini Mami rekam," celetuk Dinka seraya mengarahkan ponsel mengikuti gerakan Honey.
"Mami, rekam aku pas meluncur di situ, Mi!" Honey menunjuk jalan sekitar lima meter yang lurus dan menurutnya paling mudah. Dia ingin direkam penuh gaya.
"Oke ...!" Dinka berhati-hati menuju tempat yang ditunjuk Honey. Mengambil posisi yang pas, angle-nya bagus, dan hasil gambarnya juga memuaskan.
"Oke, Honey siap?" Dinka mulai merekam, sementara Honey mengacungkan jempol seraya terus berhati-hati dan menjaga keseimbangan dirinya.
"Mami ...." Honey melambai ke kamera, bergaya sangat centil di hadapan Dinka, memberi flying kiss, dan senyum yang manis.
Honey memutar lagi, Dinka terus merekam sampai putaran ke tiga, Honey sepertinya mulai kelelahan menahan kakinya. Keseimbangan tubuhnya mulai goyang, tapi dia tidak menunjukkannya. Dia masih belum puas bermain ini.
Dinka menyudahi rekamannya, lalu mengingatkan Honey agar berhati-hati. Sebelum pamit masuk ke rumah, untuk mandi dan ikut nimbrung di dapur sekadar melihat persiapan masak makan malam.
Ace dan Bee yang sejak tadi khawatir, sudah berjaga-jaga jika Honey jatuh. Namun, Honey menyuruh mereka menyingkir.
"Aku belum lelah, kok," kekeuh Honey.
Namun, ketika melihat Dinka berada di jalurnya, keseimbangan Honey sungguh tak bisa lagi dikendalikan, sehingga dia berteriak kencang.
Dinka menoleh, dan refleks mundur, sehingga ia tidak tertabrak oleh Honey. Namun Honey menutup mata malah meluncur melewati rerumputan, dan menabrak tembok pagar sebagai akhir.
"Honey!" Dinka membeliak. Ia berlari tanpa pikir panjang dan menarik baju Honey di bagian punggung. Ia menyentaknya kebelakang, lalu keduanya terjerembab bersamaan dengan perut besar Dinka sebagai lahan pendaratan.
"Auw!" Dinka mengaduh pelan.
"Mami!"
"Ante!"
"Mbak Dinka!"
"Ibuk!"
Semua orang di halaman belakang memekik dan berhamburan menghampiri Dinka.
"Telpon Papa, Bee!"
Perutnya nyeri sampai menjalar ke punggung.
"Mami ...." Honey menangis saat bangun dari posisinya. Ia ketakutan melihat Dinka yang meringis dan pucat.
__ADS_1
"Mami nggak papa, kok."
"Mbak Din, mana yang sakit?"
"Ayo kita papah ke dalam."
Dinka merasa punggungnya patah, kakinya lemas. Perutnya bukan hanya nyeri, tapi juga mengencang seperti mau meledak.
"Aaahhh!" Sakit sekali.
"Mami ...." Honey menangis mendengar suara pekikan Mamanya.
"Ya Allah ini bagaimana?!" semua pengasuh anak-anak itu tidak kuat membantu Dinka yang kakinya mati rasa.
"Telpon Mas Abid, Mbak ... tolong." Hanya dia yang bisa menolongnya saat ini.
Sepertinya, firasat Abid yang sejak tadi terus ingin bersama Dinka ada benarnya. Ia mendengar teriakan dan kepanikan di belakang tanpa pikir panjang langsung berlari ke sana. Dan betapa terkejutnya Abid ketika ia melihat Dinka terkapar di tanah dengan Honey berada di atas perut Mami nya.
"Sayang!"
"Mas, kita ke rumah sakit!" Dinka mengatakan itu alih-alih mengeluh akan kondisinya. Ia tahu semua tidak baik-baik saja.
Namun, ketika ia mencoba berdiri, kakinya ternyata masih sama lemasnya dengan tadi.
"Darah!"
"Mas—"
Abid menyambar Dinka dalam sekali sentak dan membawanya berlari ke mobil.
Darah!
Abid tahu Dinka tidak baik-baik saja.
"Bertahan Sayang! Kita kerumah sakit!"
Ia mengecup Dinka sekilas, lalu mengambil posisi di balik kemudi.
"Mas—"
"Mas akan cepat, Sayang!" Dia menyalakan mesin untuk mengalihkan perhatian dari darah yang membasahi rok Dinka.
Koko yang barusan keluar untuk membeli bakso di penjual keliling, dibuat kaget melihat mobil bawaannya melaju dengan cepat di depan hidungnya.
"Mas Abid nyetir?" Koko melongo. "Sudah pinter dia?"
__ADS_1