Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Jangan Hubungi Aku Lagi!


__ADS_3

Sejak itu, Abid jauh lebih care pada Dinka, bukan lagi menye-menye soal bucin dan sebagainya. Dia fokus ke perkembangan bayi dan ketenangan hati Dinka. Walau sebelumya dia juga sudah perhatian, tapi kini dia memang tidak menuntut apapun.


Abid menjaga Dinka seolah Dinka adalah permata. Dia harus bersyukur kan?


"Nanti kelas yoga jam berapa, Sayang?" Siang itu, Abid pulang hanya karena Dinka tidak membalas pesan ataupun mengangkat telpon darinya. Mereka ikut kelas yoga untuk pasangan secara privat berikut kelas untuk persiapan kelahiran hypnobirthing. Jadwalnya berbeda, tapi kelas yoga sudah mereka ikuti sebulanan ini.


Abid jadi merasa dekat dengan bayinya sebab kelas itu memang bertujuan agar ayah dan bayi punya kedekatan sejak dini.


Dinka agak terkejut tapi tidak sampai yang heran kenapa suaminya pulang di jam istirahat begini. Semua yang Abid lakukan selalu dia hargai, jadi dia segera duduk di sofa ruang tengah menanti suaminya benar-benar muncul di depannya.


"Belum diberitahu sama Bu Liza, Mas. Katanya jam tigaan, Bu Liza lagi ada ngurus sodara nya yang sakit." Abid muncul di ruang tamu dan berjalan cepat ke sofa, menciumi Dinka dan perutnya banyak-banyak.


"Bee dan Honey nanti pulang jam tiga juga, Mas ... mending nanti kita ketemuan di studio, biar anak-anak sama Mas Koko pulang. Mas pulang sama aku nanti."


Abid mendongak, tangannya masih mengusap gundukan bulat kencang berusia hampir 7 bulan itu. Bayinya terus menendang jika suara Abid terdengar.


"Nggak papa kok Koko balik dulu ke rumah jemput kamu, sekalian drop anak-anak dulu. Kasihan Yasmin-ku kalau diajak nyetir." Bayi itu namanya Yasmin Sunshine—Ya Allah, norak sekali nama itu.


"Dia senang nyetir, apalagi kalau agak ngebut." Dinka terkekeh, "Mas kecapekan entar. Ini aja udah pulang, nanti masih balik pulang lagi, habis dijalan waktunya nanti."


Dinka mengusap rambut suaminya yang kian lebat dan panjang. Dia tahu Abid tidak punya waktu untuk dirinya sendiri sejak pingsan terakhir, selain kembali rutin terapi.


Dia tahu, Abid banyak berubah dan fokus ke dirinya sejak saat itu, walau Dinka merasa tidak terlalu perlu. Dia dapat semua yang perhatian, kasih sayang dan cinta dari dua keluarga, ditambah dari Abid, rasanya dadanya penuh.


"Nanti kita ke barbershop, Mas."

__ADS_1


"Mau aku panjangin, entar dipangkas pas Yasmin lahir." Abid kembali menciumi perut Dinka.


"Namanya jangan Yasmin napa? Dia laki loh." Mata Dinka mengerling jenaka. "Laki kalau dipanggil Yasmin pasti melambai."


"Kok bisa bilang laki, sih? USG loh cewek." Abid terkadang suka goyah apalagi jika Dinka menakut-nakutinya.


"Kalau cowok entar bikin lagi." Dinka menghibur. "Udah ih ndusel-nduselnya, geli tau."


Abid menegakkan tubuhnya. "Udah makan belum? Makan yuk. Mas tadi baru makan dikit, di kasih salad buah sama temen yang lagi buka usaha katering makanan organik."


"Cuma masak ayam kemangi, Mas ... gimana dong?" Abid tidak suka kemangi dan dia hari ini sedang ingin makan itu. Sambel cabai hijau dan diberi kemangi yang melimpah pakai nasi hangat. Dinka membayangkan betapa pesatnya masakan buatanya hari ini.


"Mas coba deh, pasti kalau bikinan istri sendiri beda rasanya." Dia tidak yakin, tapi bolehlah dicoba. Terkadang, dia doyan bahkan suka minta dimasukin eh, dimasakin lagi kalau yang aduk masakannya Dinka.


Di sekolah Bee hari ini, mereka mendadak pulang lebih awal. Salah satu guru di sekolah meninggal dunia, jadi hari ini pulang lebih awal, dan besok libur satu hari. Sialnya, Koko dan Abid tidak merespons panggilannya, sehingga mereka berdua harus kepanasan menunggu jemputan.


"Bee, coba telpon Mami—"


"Mami?!" Bee menukas galak. Sejak kapan Tante itu dipanggil Mami? Pasti gara-gara temenan sama ponakan Tante itu, kan?


"Kenapa sih, Bee? Dia mami kita, yang urus kita, nggak salah kalau panggil Mami begitu. Aku suka, Mami kedengaran lebih easy ketimbang panggilan kamu itu!" Honey mencibir. Ace dan Jenna jauh lebih menyenangkan dari Bee sekarang, atau memang Bee terlalu keras mengekang dan mengingatkan posisinya—mereka, di rumah Abid, jadi dia terlihat kurang menyenangkan.


"Buruan telpon Mami! Mami pasti dirumah sekarang dan bisa jemput kita!" Honey mendelik ke arah Bee yang hanya merengut menatap ponsel.


Bee mendengkus lalu mencari kontak Olla dan menghubungi nya.

__ADS_1


Namun, hingga dua kali panggilan, Olla tidak menjawab telponnya.


Jelas ... Olla sedang sibuk di dapur milik Nahwa yang kini tengah merambah dunia katering. Nahwa membuka beberapa opsi, mulai dari catering harian, hidangan khusus vegetarian, dan menu diet. Semua bahan makanan di sini organik, ditanam di kebun Nahwa sendiri di kotanya, atau terkadang dia mengambil dari Agribis.com.


Olla memenunggu kabar lanjutan dari sebuah rumah sakit di kota terpencil, nyaris dikatakan pelosok dan itu adalah satu-satunya lamaran yang mendapat jawaban. Seal emang ya!


"La, hape lu bunyi mulu!" Nahwa melirik layar ponsel Olla yang tertera kontak "B".


"Biarin aja, kalau bosen berhenti sendiri." Dia terus memotong sayuran yang hendak dijadikan menu untuk menu diet rekan kerjanya di rumah sakit Dirgantara.


"Kesian, loh."


"Dia punya emak bapak, ngapain cari gue!"


"Ya elah ...." Nahwa segera menjawab panggilan itu tanpa izin Olla. Suara getaran ponsel Olla mengganggu Nahwa.


"Halo, Nahwa Catering di sini." Nahwa tertawa kecil. "Oh, Tante Olla lagi masak, Sayang ...."


Olla mendelik seraya melempar pisau sembarangan. Tangannya langsung merampas ponsel yang menempel di telinga Nahwa.


"Eh, jangan nelpon aku lagi, ya ... kamu punya emak bapak, minta saja sama mereka, jangan ke aku, ngerti!" Entah kenapa, Olla pikir Bee seperti menyesatkannya. Jadi jauh-jauh dari pengacau itu rasanya lebih baik.


"Sekali lagi kamu hubungin aku ... aku nggak akan segan blokir nomor kamu!" Yah, dia ingat dulu sekali, Bee pernah memblokir nomornya di ponsel Abid hingga mereka berdua bertengkar hebat.


Jadi sekarang, dia balas dendam. Bee sudah terlalu banyak menyusahkannya. Anak itu tangannya kelewat gatal, jahilnya terkadang mengerikan, bahkan dia mulai punya sifat posesif akan seseorang dengan cara yang berlebihan. Bee sudah tidak sehat psikisnya.

__ADS_1


__ADS_2