
Kebakaran terjadi di sebuah perumahan padat penduduk, sebenarnya agak jauh dari rumah sakit ini. Namun karena satu dua hal, rumah sakit menerima beberapa pasien yang kondisinya parah.
Beberapa anak menerima bantuan pernapasan duduk di ranjang IGD ditemani kerabat atau orang tua mereka.
Abid sibuk memberi instruksi diantara tangis penuh trauma anak-anak itu kepada perawat dan tenaga medis lain di ruangan itu.
Dia sebenarnya sudah selesai bekerja sore ini, tetapi karena keadaan darurat ini, dia diharuskan membantu.
Olla baru saja tiba dan kaget mendapati UGD begitu ramai. Mood-nya sedikit buruk sebab tiba-tiba saja jam kerjanya diubah. Namun, dia tetap berusaha tersenyum dan fokus pada pekerjaannya.
"Dokter, pasien anak ini orang tuanya masuk ICU, dia sesak napas!" Seorang perawat menghadang Olla, dan langsung menyeret wanita itu ke hadapan balita satu setengah tahun yang mengalami kesusahan bernapas. "Dia emang udah ada riwayat sesak napas, kata orang yang anter tadi. Ibunya udah nggak sadar sejak tiba di sini karena melindungi anaknya dari api! Mereka terjebak di kepungan asap cukup lama."
Olla bergegas memeriksa balita yang dipegangi oleh perawat lain tersebut. Kemudian segera memasang alat bantu pernapasan ke anak tersebut.
"Dia cukup baik, hanya karena riwayat sesak yang dimiliki membuatnya sedikit mengkhawatirkan." Ketika selesai memasang, Olla menatap sekeliling. "Apa nggak ada dokter dari spesialis anak yang bantu kemari?"
"Ada, tapi sibuk semua, Dokter." Perawat yang disebelah Olla menjawab. "Dokter Abid juga saya paksa tinggal saking paniknya kita tadi."
Olla merasa matanya berbinar mendengar itu. "Baguslah, setidaknya anak-anak ditangani oleh ahlinya."
Dia segera pindah ke pasien lain usai memastikan anak itu sudah bisa bernapas dengan baik.
"Anak tadi nggak ada kerabatnya, Dok." Dia mengangguk ke arah perawat yang mengekor di belakangnya. "Saya bingung harus minta siapa buat beli perlengkapan seperti diaper."
"Biar saya yang belikan." Olla melirik sepatu yang berada di balik tirai seberang. "Biar anak itu sama saya selama ibunya belum sadar."
"Dokter Olla emang baik hati." Perawat itu memuji lalu segera membantu Olla menangani pasien yang datang silih berganti. Ini hari yang penuh tantangan, setidaknya sampai malam hari, mereka tidak akan bisa menarik napas sedikit panjang.
Benar sekali, korban kebakaran makin banyak yang datang. Abid segera ingat kalau dia harus pulang ketika jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Keadaan sedikit mulai teratasi dan dia sejenak beristirahat.
"Dokter Abid!" Abid barusan akan minum sebab tenggorokannya terasa kering. Pria itu menoleh.
"Pasien anak mengalami sesak napas parah! Dia ditangani Dokter Olla sekarang!"
Abid melempar botol itu dan berlari ke ruangan yang ditunjukkan oleh perawat tersebut. Dia melihat Olla panik dan mencoba memberikan pertolongan.
"Ah, untung Dokter segera datang," ucap Olla lega. Kemudian menjelaskan kondisi anak itu pada Abid yang menatapnya dingin.
Abid segera mengambil tindakan hingga anak itu kembali bernapas dengan baik.
"Pindahkan ke PICU, nanti saya pantau langsung!" Abid mengatakan itu kepada perawat, mengabaikan Olla.
Sama sekali tidak mengindahkan keberadaan Olla karena janjinya pada Dinka. Dan memang begitulah Abid bersikap terhadap Olla sejak dia menikah.
"Ibunya di ICU, Bid! Dia tanggung jawab saya." Olla menjelaskan tanpa diminta, bahkan dia mengekor Abid yang meninggalkan tempat ini menuju PICU.
"Kamu memang berhati mulia, Olla." Abid menyindir. "Seorang dokter harus punya sikap seperti kamu."
Olla tersenyum manis, menyembunyikan senyum getir dan perasaan tersindir. Dia harus sabar menghadapi sikap Abid yang berubah drastis padanya.
"Aku senang kamu mau bantu aku mantau kondisi Theresia—balita tadi. Katanya dia anak kurang beruntung, dan dengan keadaan ibunya yang belum sadar, aku berniat asuh dia sementara waktu. Bukan untuk dipuji, hanya aku merasa kasihan. Dia nggak punya siapa-siapa."
Abid berhenti, menarik napas panjang, lalu memutar badan menghadap Olla. "Aku hanya menjalankan tugas sebagai dokter, soal gimana kamu, mau lakukan apa kepada siapa, bukan lagi urusanku. Kamu bebas melakukan apa yang kamu inginkan, Olla!"
Olla tersentak, diam, tergamam, dan perih. Abid dingin dan kejam kepadanya. Itu sangat terasa dan begitu kontras memperlakukannya. Sesulit inikah, perjuangan keduanya ini?
"Sama kaya kamu bebas membuat aku kaya pengemis, nggak berharga di mata kamu dan Mama kamu! Kamu bebas memilih pergi dan ninggalin semuanya hanya karena alasan konyol yang tak masuk akal! Aku tahu kamu mengada-ada agar bisa pergi tanpa rasa bersalah!"
Olla sedikit senang mendengar kemarahan Abid yang ini. Ada nada tak rela dan luka di dalamnya, tapi dia tahu kalau Abid masih belum terima kenyataan dicampakkan olehnya kemarin. Abid masih ingin dibujuk dan dirayu olehnya. Abid belum selesai dengannya jika terus mengungkit masalah itu.
__ADS_1
Sementara Abid pergi, dengan rasa kesal luar biasa. Kenapa dia harus berinteraksi dengan Olla lagi? Janjinya pada Dinka ingkar. Tapi dia berharap setelah ini, Olla tidak berani lagi mendekatinya. Kalimat tadi sudah cukup kejam, kan?
***
Dinka terbangun dengan tubuh terasa berat di bagian perut. Seingatnya, dia tertidur di sofa dengan tangan memegang buku novel. Mata wanita itu membeliak seketika, saat melihat Abid memeluknya erat.
"Bukuku ...." Dia hendak bangun dan mencari novel kesayangannya. Bahaya kalau Abid tahu dia suka baca novel roman remaja.
Namun, tangan raksasa Abid justru makin kuat membelit perutnya. "Jangan kemana-mana, Din!"
Ucapan itu tidak terlalu jelas, tapi Dinka mendengarnya.
"Udah subuh, Mas ... Mas nggak bangun?" Dinka melembut. Hatinya meleleh nggak kira-kira. Kenapa begini, sih?
"Mas pulang jam berapa?" Dinka menyambung. "Ayuk bangun, nanti sambung tidur lagi," bujuknya.
Abid menarik tangan Dinka dan meletakkan di kepalanya. "Di sini sakit, Din. Pijet bentar, boleh?"
Dinka tercengang. Tapi perlahan dia memijat lembut dimana Abid merasa sakit. Kepala Abid beringsut ke pangkuan, mengarahkan tangan Dinka ke semua bagian yang sakit sampai dia harus menumpu wajah ke paha Dinka.
"Mas ...."
"Sini, Din ... enak pijatanmu" Abid bebal, dia menujuk belakang kepala hingga ke ubun-ubun. "Ya, gitu, Din. Terus, enak banget."
Abid mengerang saat Dinka mengurut dari pundak ke kepala. Sakit tapi enak banget. Dia baru selesai jam 1 malam, sebab semakin banyak korban kebakaran yang datang. Bukan hanya Abid saja, tapi semua tenaga medis di rumah sakit harus bekerja di luar waktu kerja mereka.
Jelas Abid kelelahan, badannya pegal, dan rasanya malas sekali bangun apalagi dengan Dinka di pelukan, dia mendadak jadi pemalas.
"Udah, Mas ... waktu subuh udah hampir habis." Dinka mengingatkan.
"Mas minta di charger bentar, boleh, nggak? Rasanya tenaga Mas abis ... lihat!" Dia menunjukkan tangannya yang lemas sembari bergerak telentang.
"Dia on, orang dari semalam dia nggak mau tidur. Ngarep bisa kangen-kangenan sama kamu, tapi kamunya tidur. Jadi hanya bisa nempel kaya cicak doang." Abid bersemangat melihat pipi Dinka yang merah.
"Mas kelelahan—udah ih, jangan gitu!" Dinka mencoba menolak, tubuhnya gemetar sendiri. "Subuh yuk, nanti aja kalau udah abis mandi."
"Bener, ya! Abis subuh! Jangan boong, ya!" Abid bangun dengan muka menahan senyum. Matanya masih mengawasi Dinka. Sementara Dinka yang bebas dari Abid bergegas keluar kamar, untuk melihat keadaan dapur. Dia biarkan Abid siap-siap dulu.
"Ante ngapain lari?!"
Dinka kaget, "Ace?!"
"Mana hijabnya? Untung aku muhrim, kalau enggak, Ante dosa!" Ace mendelik dengan tangan berkacak pinggang.
Dinka lupa, tapi ini kan di rumah. Prianya muhrim semua, jadi nggak masalah. "Ih, bocil ini ...!" Dinka menyerbu Ace dan mencubit pipi anak kelas 1 SD itu.
"Mau jadi ustadz ya, pinter bener mulutnya!" Dinka gemas dan menguyel-uyel Ace dengan tangannya hingga ke pinggang.
"Ih, Ante ... sama laki kok genit! Nggak baik!" Ace mundur dan merengut. "Nggak boleh, ya—"
"Jangan diulang!" Dinka terkekeh, melihat Ace kesal ucapannya dipotong begitu saja. Ace menirukan Papi-nya yang biasa menggunakan kalimat itu untuk menasehatinya.
"Ante kira kalian pulang tadi malam!"
"Jenna nggak mau pulang, mau tidur sama Ante tapi dilarang sama Mami! Tuh, Jenna masih rewel dan nggak mau tidur." Ace menunjuk kamar Mami Papinya di lantai dua.
"Ya Allah, kasihan banget sih." Jen kejam sekali melarang Jenna tidur dengannya.
"Katanya takut ganggu Ante sama Om! Kalian lagi bikin bayi, kata Mami!" Ace bersedekap, "Bener nanti Ante punya bayi dan lupa sama kita? Dan Ante juga udah punya anak dari Om itu, makanya sejak tinggal disana, Ante nggak ada hubungi Ace lagi! Ante lupa sama kita, kan?"
__ADS_1
Dinka mengurung langkahnya yang hendak menuju kamar Jen. Dia menatap Ace dan kemarahan di wajah anak kecil itu.
"Ante nggak lupa, tapi pas Ante telpon, katanya kalian tidur. Ante nggak tega bangunin kalian berdua—"
"Jenna nangis terus!" potong Ace ketus. "Ante jahat!"
Ace membuang muka. Sementara Dinka tertawa kecil.
"Hari ini Ante di rumah sama kalian! Kita main sampai puas ... dan Ante kabulin apa mau kalian berdua, okey!" Dinka membujuk. Tangannya terulur ke depan Ace untuk mengadu tos, tapi Ace masih kesal, dan membalas tos itu setengah tidak rela.
"Kalau Ante boong, Ace doain Ante bisulan. Di kening, biar Om itu ilfil sama Ante!"
Dinka langsung mencebik takut. Tangannya saling menangkup di depan dada. "Uh, seram banget! Ante takut, Penyihir Ace ... Tolong cabut kutukan itu! Please, Ante mukanya cuma satu, pas-pasan pula, kalau bisulan nanti jadinya pas doang!"
Ace geli melihat wajah Dinka hingga akhirnya dia tertawa juga. "Ante menjijikkan ... kalau Om Dokter lihat, pasti memalukan! Dia ilfil beneran sebelum bisulnya tumbuh."
Dinka meraih Ace dan memeluk anak itu erat-erat. "Mulut kecil ini, pintar banget sih, kalau ngomong!"
Ace tertawa keras sehingga membuat rumah menjadi ramai.
Sementara Abid sudah selesai mandi dan menunggu Dinka harap-harap cemas. "Jangan bilang, dia udah masak sampai lupa janjinya!"
Abid memakai sarung dan meninggalkan kamar, wajahnya gusar menahan hasrat. "Awas saja kalau sampai dia lupa!"
Namun, melihat Dinka bergurau dengan Ace hingga anak itu tertawa keras, membuat Abid menghentikan langkah. Dia melihat Dinka yang sebenarnya saat Dinka tertawa begitu. Mungkin dia harus bersyukur dengan mundurnya Olla dan datang Dinka. Abid kesusahan mendekatkan Olla dengan Bee, dengan ribuan alasan Olla yang tak masuk akal. Sementara, Dinka dengan mudah mengambil hati anaknya, walau Bee masih enggan.
Dulu, Bee juga begitu ke Olla. Dia tidak suka, dan butuh waktu lama sampai Bee menerima Olla. Mungkin, Bee hanya tidak terima ketika dia sudah menerima Olla, tapi malah diganti seenaknya dengan calon mama baru. Abid mengerti, dan dia yakin ini hanya soal waktu.
Tawa Dinka berhenti saat melihat Abid, tetapi saat itu juga, Jenna menghampirinya dengan tangis menderu keras.
Dinka hanya bisa mengatakan maaf melalui tatapan matanya. Keadaan ini diluar kendalinya. Dia tidak bermaksud ingkar pada ucapannya.
"Subuh dulu." Abid mencoba berdamai. Dia menenangkan diri. Meski dia dongkol sampai tenggorokannya sesak.
"Iya, Mas." Dinka menarik Ace dan menggendong Jenna. "Kita ke kamar Ante, yuk."
Abid mendahului. Wajahnya ditekuk, bibirnya manyun, dan itu membuat dia terlihat menyeramkan. Bahkan Abid mengambil wudhu lagi.
Dinka bergegas mandi dan bersiap dengan dua anak itu ikut shalat—mereka diam saking takutnya sama Abid.
Jenna bahkan tidak berani bergerak di posisinya, hingga kedua manusia dewasa itu selesai beribadah.
Bola mata Jenna yang bulat dan besar itu terus menatap Abid yang tak henti menatap Dinka penuh ancaman.
"Maaf, ya, Mas ... sepertinya harus kita tunda sampai nanti malam!" Dinka berbisik saat mengambil sarung dan sajadah di tangan Abid.
Abid berdecak. "Kamu sih, tadi pakai acara keluar segala! Jadinya gini, kan?"
"Maaf, Mas ... aku nggak tau mereka nginap."
Abid berdecak lagi, dia tidak berkata apa-apa, hanya langsung mengganti pakaian dengan kaos dan celana training. Dia harus jogging biar tidak meledak isi kepalanya. Dan di sana, rasanya sudah tidak tahan.
Dia menatap Dinka sekali lagi, kepalanya menyusun rencana. Pasti ada saat dimana anak-anak itu lengah. Di saat itu, dia akan menyeret Dinka. Tidak peduli sesingkat apa, atau Dinka menolak seperti apa, misi harus terlaksana. Harus!
*
*
*
__ADS_1