
Dinka sudah 27 tahun, sebentar lagi 28. Dia tidak pernah berciuman, itu benar. Bersentuhan dengan laki-laki, apa lagi ... nggak pernah sama sekali. Jadi, jelas ciuman saja dia tidak tahu tekniknya. Laki-laki bukan jadi prioritasnya, baru kepikiran setelah mamanya ngomel soal berumur, tua, dan ingin punya mantu lagi. Itu pun tidak pernah menjadi fokus utamanya.
"Selama Luna Maya, Ariel Tatum, Pevita Pearce belum menikah, aku masih aman!" Itu adalah pemikiran Dinka.
"Mas ...!" Dinka mendesah berat. Dia malu tubuhnya terekspose sempurna di depan Abid, bahkan pria itu menikmati setiap jengkal kulitnya tanpa tersisa. Kepala Dinka jadi pusing sepusing-pusingnya.
Abid menjauh, melihat Dinka yang merah di wajah dan leher. "Kenapa?" Tatapan pria itu menghangat dan sendu. Beberapa tanda merah telah memenuhi leher hingga dada dan masih lanjut sampai ke perut.
"Aku nggak bisa—"
"Makanya belajar!" Abid menarik ke atas kaosnya, menurunkan celananya—Dinka membuang muka melihat dada kencang berlekuk milik Abid. Pokoknya ini keadaan darurat. Abid harus cepat.
"Kalau sakit, tahan sebentar, ya!"
Dinka menggigit bibir khawatir. Sakit kaya apa? Ditahan bagaimana? Dia nggak tahu sama sekali soal itu. Bukankah dia merasa bodoh sekarang? Malu nggak sih, oneng begini?
Dinka meremas dada Abid saat pria itu menunduk lagi untuk menciumnya di sekitar telinga, tetapi karena terlalu liat, kukunya hanya berhasil menggores kulit saja. Dibawah sana, Abid mulai aktif mengenalkan benda hangat itu ke bagian intinya. Tubuhnya gemetar.
Pikiran Dinka bercabang. Satu ke sana, satu ke sini, satu lagi ke satu ketakutannya sendiri. Sampai tanpa sadar meremas sekenanya tubuh Abid.
__ADS_1
"Coba saja dulu, kalau nggak enak nanti kamu boleh kembalikan!" Abid berbisik, seakan tahu betapa takutnya Dinka. "Rileks, ya! Tarik napas pelan, hembuskan ... tatap aku kalau kamu ragu."
Dinka melakukan apa yang Abid minta.
"Good ... sekarang berikan tanganmu!"
Dinka melakukannya, tangannya terulur dan langsung disela oleh jemari besar Abid. Digenggamnya erat, lalu sebelah lagi diletakkan di dadanya. "Kita mulai ya! Aku akan pelan."
Mata Dinka memejam. Ini satu momen yang sangat tidak ingin dirasakannya. Tapi, setelah tadi Abid menjelaskan dengan lembut, Dinka manut. Ucapan Abid membekas begitu lekat, sampai Dinka terpikat.
Benda yang waktu itu dihinanya dengan sadis, kini perlahan menusuk dan mengoyak. Napas Dinka tertahan, "Egh!"
Abid kesal. Kenapa ... susah sekali masuknya? Dia biasa tidak sabar, tapi ini jelas pengalaman sangat baru dan tidak biasa Dinka. Bayangkan ngorek kuping, meski disentuh pelan, pasti rasanya sakit kan?
Tapi, kapan masuknya kalau pelan? Keburu capek dan tegang biasanya bikin lemas duluan.
Sorry, ini terpaksa sekali ....
Abid menyentak sedikit keras.
__ADS_1
"Ah, Mas ... pelan!" Dinka tersentak. "Sakit!"
Sorry, nanggung. Abid membulatkan tekat, lalu menyentak sekali lagi hingga Dinka menjerit dan menangis. Tubuhnya melenting ke atas dengan cengkeraman yang makin kuat.
Dinka menggigit bibir, ini benar-benar menyakitkan. Kepalanya semakin pusing. Benda itu mengerikan. Padat, kuat, dan membuatnya sesak hingga susah bergerak. Apa itu sebenarnya? Benda peninggalan jaman batu?
Seringai muncul di bibir Abid. Pria itu menunduk untuk mencium Dinka. "You're my wife right now!"
Dinka merinding sebadan-badan. Hatinya berdesir tak keruan. Ini sungguh respons yang aneh. Lahir batinnya setuju dengan perbuatan Abid, meski otaknya masih arogan menyangkalnya.
"Mas, jangan sampai hamil ...!" Dia meminta saat Abid mulai memacu pelan. Instingnya mengatakan kalau Abid memang butuh ini. Dari napas pria itu panas dan cepat, ciumannya mulai random dan kasar. Bahu bahkan lengan mulai digigiti.
"Yeah! Aku usahakan!" Abid mengecup bibir Dinka. "Mulai enak, belum? Kamu gigit aku!"
Ya, dia harus bergerak, menahan diri agar tidak segera kli mak s. Dinka menghisap begitu kuat, Abid kewalahan.
Tentu Abid melihat pipi Dinka makin merah, dan Abid tahu apa artinya. Dia sudah punya dua tahun pengalaman menikah, tentu dia hafal kapan enak sudah datang, mau datang lagi, dan lagi.
Dia bergerak dinamis dan tempo semakin meningkat. Yeah, dia juga hampir sampai.
__ADS_1
"Dinka ...!" Abid menengadah. Sementara Dinka ketar ketir. Takut Abid membuatnya tekdung beneran.