
"Kalian beneran nggak penasaran bayi kalian cewek apa cowok?!" Dokter Tiwi bertanya saat meng-USG Dinka. Tak kurang seminggu lagi, Dinka diperkirakan akan melahirkan.
Ini adalah pemeriksaan terakhir sebelum due date. Janin Dinka sudah masuk ke panggul, dan sudah siap lahir secara normal. Apapun yang dilakukan Dinka dengan Abid menampakkan hasil, meski sama sekali tidak mengurangi rasa lelah yang melanda.
"Nggak, Dokter."
"Eh, aku mau," protes Abid yang sore ini masih memakai pakaian kerja, sebab dia masih ada jadwal sampai jam 9 malam. Ia masih setia mengamati gerakan Dokter Tiwi yang mencari letak alat vital janin berada.
"Aku penasaran, makanya aku minta USG 4 dimensi. Biar lebih jelas aja buat manggil namanya lebih awal dan terbiasa." Abid bersemangat, selagi Dinka tak bisa berbuat apa-apa di atas ranjang. Memang Dinka tidak mau melihat jenis kelamin janinnya, saat kehamilan memasuki usia yang lebih tua dan alat reproduksi itu sudah jauh sempurna terbentuk. Urgensinya apa sih untuk tau, laki atai perempuan sama saja.
Dokter Tiwi tersenyum. "Kalian ini ... kaya anak kecil. Apa-apa ribut."
Dinka semula melirik Abid kesal, kemudian menatap Dokter Tiwi yang lagi-lagi menggelengkan kepala. Mungkin sudah puluhan kali dia begitu, sebab Abid dan Dinka terus berdebat.
"Bayinya cowok, kok ...Mas Abid saja yang norak, Dok."
"Nggak peduli lah pokoknya, mau kamu bilang norak atau kampungan sekalipun, aku tetap mau manggil dia Yasmin." Abid berekspresi keras. "Dia itu cewek, orang aku yang buat, kok."
"Meski buat, juga nggak tau yang bertahan sampai ke telur aku yang X atau Y, kan?"
"Tapi aku yakin, X yang berhasil." Abid berkeras. Ia sampai melupakan apa yang sejak tadi diperhatikan sebab Dinka kembali mengajaknya bertengkar. Lagi-lagi soal JK, bukan Jung Kook melainkan jenis kelamin anak.
"Tapi mas juga harus percaya feeling seorang ibu, Mas." Dinka malah makin enggan mengalah. Bukan dia tidak mau anak perempuan juga, tapi dia ingin anak pertamanya lelaki yang mampu mengayomi adik-adinya kelak—jika dia punya nyali segede gunung sih.
__ADS_1
"Nih—"
"Mana, Wi?"
Abid mengabaikan Dinka, dan langsung menatap layar monitor yang berwarna orange. "Kaya belum jelas."
"Itu cowok, Bid!" Dokter Tiwi sampai mem-pause rekaman, dan menunjuk tempat dimana dia yakin kalau bayi Abid cowok. "Sudahlah, jangan kecil hati, nanti bikin lagi."
Abid melihat jelas menara setinggi tower sutet itu tengah menegang. "Aku nggak mau Dinka hamil lagi, Wi."
Ungkapan itu berhasil membuat atensi Dokter Tiwi beralih, begitupun dengan Dinka.
Abid menatap dua orang itu bergantian. "Aku tahu hamil itu susah, lelah, dan berat. Istriku kesakitan, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menggantikannya."
Dokter Tiwi tertawa. "Kamu kelewat cinta sama istri kamu, Bid. Bahkan aku tuh bertanya-tanya, beneran Abid sama Olla tuh pernah mau nikah? Kaya nggak ada bekas sakit karena patah hati gitu di wajah kamu, Bid."
Jelas, Dokter Tiwi tahu soal Abid dan Olla, hanya merasa aneh sebab Abid move on lebih cepat dari sebelumnya. Olla dan Tiwi kerap bersama meski bukan termasuk circle pertemanan yang kental. Dokter Tiwi malah yang menyarankan Olla kembali ke Abid. Sayang sudah tidak mempan.
"Itu karena aku pandai menempatkan diri, menata hati, dan tidak semua yang kita rasakan harus kita spill, ya kan?"
Dokter Tiwi mengangguk memaklumi. Abid pasti teringat Nara jika harus bercerita soal dirinya beserta keadaanya ke orang lain. Abid tertutup untuk traumanya, jadi dia tidak pernah mempermasalahkan ketika banyak orang menggunjingkannya soal tidak bisa nyetir sendiri. Traumanya adalah miliknya. Dan melupakan kenyataan bahwa Abid dikhianati.
"Abis ini, kamu beli eskrim, Din. Makan agak banyakan dikit, walau perutmu sudah membesar seperti itu tapi bayi kamu cuma sekitar 2,8 kilo saja itupun setelah kami terus minta kamu makan es krim." Dokter Tiwi agak canggung setelahnya, jadi bergegas dia menyelesaikan USG-nya. Lagian semua sudah jelas.
__ADS_1
"Wah, kok hamil malah enak begini?" Dinka bergegas bangun dibantu Abid, yang tampak sedang menyembunyikan sesuatu di balik wajah santainya. "Eskrim adalah makanan pokokku."
Dokter Tiwi menatap Abid lamat. Tapi tidak berkata apa-apa.
"Sayang kamu pulangnya hati-hati, ya ... maaf Mas nggak bisa nganter." Abid buru-buru mengatakan itu dan Dinka langsung mengangguk.
"Mas kerja aja."Dinka turun. "Aku sama mas Koko mau makan eskrim."
Mata Abid membeliak. "Enak saja!"
Dinka mengerutkan kening heran. "Kok sewot?"
"Aku pulang juga kalau gitu!" Abid grundel. Suaminya siapa, yang diajak enak-enak siapa? Koko kesenangan pasti. Itu nggak bisa dibiarkan.
"Mas kan masih kerja."
"Terserah, lagian aku tinggal bilang sama Ranu kalau kamu harus ditemani kemana-mana. Biar kamu nggak kenapa-napa!"
Astaga ... Dinka membeliak. Sebegitunya sih, Mas?
"Yang ada nanti aku di suruh cuti sekalian sama Ranu! Supaya bisa ngurus kamu!" Abid terkekeh, sementara Dinka masih mendelik.
Dan Dokter Tiwi hanya bisa menggeleng seraya tersenyum. Dasar pasangan kang ribut.
__ADS_1