Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Dinka Saja, Selamatkan Dinka saja!


__ADS_3

Tak ada 3 menit Abid keluar, tapi ketika kembali Dinka sudah tidak ada di sana. Hanya seorang dokter menjelaskan apa saja yang dialami Dinka dan prosedur penanganannya.


"Dinka sudah masuk ruang operasi, kamu tanda tangan saja, Bid! Ya Tuhan, kamu apakan istri kamu tadi?!" Dokter itu panik bukan main. Pikirnya, pendarahan yang dimaksud adalah pendarahan menjelang persalinan. Tapi tidak tau kalau segawat ini.


"Selamatkan Dinka, apapun keadaannya, tolong selamatkan Dinka lebih dulu!" Abid memegang kedua bahu rekannya itu.


"Kami akan berusaha—"


"Berjanjilah, tolong berjanjilah ke aku!" Kalau Dinka pergi, aku juga akan ikut mati!


Keduanya bertatapan cukup lama, sebelum akhirnya dokter itu mengangguk. "Tentu, Bid!" Dokter itu memgerti betapa Abid sangat terpukul. Dua istrinya bernasib sama. Hamil dan mengalami musibah. Wajar kalau Abid setengah gila.


Abid hanya mencoret saja kolom tanda tangan dan menyerahkan begitu saja kertas bertuliskan pernyataan persetujuan tindakan yang diambil oleh dokter, lalu berlari ke depan ruang operasi. Tapi, walau dia dokter, tetap saja ruangan itu tertutup untuknya.


Jadi dia bisa apa? Ia menatap nanar ruangan itu. Hatinya terasa nyeri dan seperti tersayat sembilu. Tapi dia tahu kalau Dinka itu kuat.


Dan Abid harus membantunya. Pria itu melangkah mundur lalu melangkah cepat ke mushala rumah sakit. Dia punya Dzat yang bisa membantunya. Dia tahu kemana harus memohon dan merendahkan diri.


Dalam shalatnya, Abid menangis sampai susah bernapas. Dia hanya meminta, kalau bisa dia saja yang mati. Jangan Dinka, dan kalau beruntung biarkan anaknya juga diselamatkan.


Sepuluh menit berlalu, Abid telah kembali ke depan ruangan operasi. Di sana ada keluarga besarnya, semuanya dan yang paling depan adalah Ranu dan Jen.


Wajahnya yang sudah tak karuan lagi bentuknya itu disodorkan ke hadapan Ranu dan Jen yang tampak murka.


"Aku mungkin suami pembawa sial!"


"Jadilah pria yang kuat, sekuat Dinka menahan sakitnya." Ranu menarik napas dalam. Jen sudah cerita, dan siapa yang harus disalahkan? Dinka bukan jatuh karena ceroboh, dia hanya refleks.

__ADS_1


"Kita berjuang bersama Dinka di sini, Darren juga akan sampai sebentar lagi." Jen mengusap air matanya, berusaha terlihat kuat.


"Maafin Dinka, ya, Jen ... aku tau dia punya salah besar ke kamu—"


"Aku udah maafin, aku udah lupa malah." Jen menangis lagi. "Aku nggak pernah nyumpahin Dinka macam-macam. Dinka udah banyak bantu aku, aku-aku—"


"Mama yang salah," sela Desy seraya mendekati Jen dan memeluknya. "Mama yang kelewat kejam nyumpahin dia."


Desy menatap semua orang dengan ekspresi tegar, kendati matanya juga sama sembab dan merah. "Ini salah Mama, kalian sudah melakukan yang terbaik untuk jaga Dinka. Tolong jangan salahkan diri kalian, mari kita minta maaf ke Dinka saat dia bangun nanti. Dia pasti bangun, dia pasti selamat."


Ucapan itu sama sekali tidak menghibur Abid, tetapi dia tetap mengangguk. Dia tetap merasa takut. Disini, dia merasa paling lemah. Tidak tahu, tapi mungkin mereka pernah berada di posisi paling buruk.


Abid juga pernah, tetapi dia tidak bagaimana Nara waktu itu. Dia sendiri sekarat, bagaimana dia bisa ingat orang lain?


Hanya kondisinya sama. Beberapa jam sebelumnya, Abid menemani Dinka periksa, dulu Nara juga. Jika Dinka menjelang persalinan, Nara baru dinyatakan hamil. Jika Nara tidak sampai setengah jam, Dinka sudah dua jam berselang. Dan dua jam saja semua kebahagiaan itu lenyap. Kini berganti tangis penuh luka.


"Yang kuat, kita harus kuat untuk Dinka." Ranu menepuk pundak Abid. Tadi, Abid izin menemani Dinka, bahkan dia minta izin cuti sampai Dinka melahirkan. Sejujurnya, kata beberapa orang di kantor tadi, Abid terdengar lebay, tetapi belakangan dia tahu, Abid begitu karena pernah kehilangan istrinya. Beruntung, Ranu memberi izin dan membiarkan Abid pulang. Kalau tidak mungkin lain ceritanya.


Kejadian hari ini terjadi begitu cepat, bahkan sekarang belum jam 6 petang. Semua bisa saja terjadi, meski bukan yang terburuk yang kita inginkan.


Tapi siapa kita?


Hah?! Manusia angkuh yang banyak rencana dan pinta.


***


Lama sekali rasanya mereka menunggu di depan ruangan ini. Bahkan Abid menunaikan shalat di ruangan tak jauh dari sini. Dia tak mau jauh dari Dinka. Dia takut kehilangan momen dengan Dinka.

__ADS_1


Abid berjalan mondar mandir di depan ruang operasi, sesekali menatap pintu beberapa menit lebih lama dari sebelumnya-sebelumnya.


Sejak lima belas menit terakhir, Abid menolak duduk dan diam. Bayangan Dinka yang meninggalkannya membuat Abid mual, berkeringat dingin, dan setelah itu ia merasa sekujur tubuhnya kebas. Udara dingin menyergapnya tanpa ampun. Dan dia nyaris kehilangan kesadaran.


"Dokter Abid ...!"


Abid menoleh ke belakang. Di sana berdiri Dokter senior yang memakai pakaian hijau. Sebelum melangkah mendekat, dia menoleh ruang operasi lebih dulu, seolah memastikan Dinka aman.


Keluarga pun mendekat, ikut mengerumun di belakang Abid—sedikit memberi jarak, cukup sampai mereka mendengar apa kata dokter saja.


"Putra anda selamat," ujar Dokter tersebut tanpa tersenyum, lalu mengeluarkan kertas-kertas yang membuat Abid tak sabar.


Abid bahkan tidak mampu mengingat siapa Dokter yang menangani Dinka.


"Istri saya pasti selamat juga, kan, Dokter?!" Abid tidak mau mendengar kabar buruk. Jangan sampai keselamatan anaknya ditukar dengan nyawa Dinka.


"Dia selamat," jawab Dokter itu seraya tersenyum tipis, menatap semua orang. Abid tahu kalau itu pertanda tidak bagus.


"Dia koma?"


Dokter itu menghela napas berat. "Biarkan dia istirahat. Hari ini, dia terlalu banyak menahan rasa sakit. Tapi dia bilang ke saya sebelum hilang kesadaran."


Kening Abid berkerut.


Dokter itu melanjutkan. "Katanya kamu harus buat SIM secepatnya. Kalau beruntung, Bu Dinka ingin duduk di sebelah kamu lagi sebagai penumpang."


Ya Allah, Dinka ....

__ADS_1


Padahal sudah sekarat, tapi masih sempat bilang begitu?


__ADS_2