Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Prince Arion Akhchazia


__ADS_3

Dalam beberapa minggu selanjutnya, Dinka menjalani serangkaian pemeriksaan dan penanganan terkait kondisinya. Bersyukur, Dinka masih berpeluang besar bisa berjalan kembali asal mau mengikuti prosedur yang telah dianjurkan Dokter.


Tentu, siapapun yang mengalami keadaan seperti Dinka, pasti merasa sedih dan tertekan, tetapi Dinka tak butuh waktu lama untuk meratapi keadaannya. Dia tidak menyesali kondisinya sekarang, sebab ada keselamatan Honey yang ditukarkan. Toh semuanya selamat, dan dia hanya tidak bisa jalan sementara waktu.


Lagipula, sudah lama sekali dia menjadi pribadi yang mager kemana-mana, jadi ya sudah, anggap saja sedang diberi kesempatan berlama-lama duduk dan diam. Hanya perlu menyesuaikan diri dengan kursi roda saja. Pasti akan jadi menyenangkan ketika dia bisa mengendarai semua jenis kendaraan beroda.


Hampir sebulan usia baby boy Dinka, tetapi belum juga diberi nama. Selain belum memikirkan, juga karena mereka sibuk berdebat soal jenis kelamin selama hamil dan juga kondisi Dinka yang masih butuh perhatian ekstra. Ditambah sekarang kondisi Dinka yang harus diperhatikan lebih, Abid—Otor wkwwkkwkwk—belum sempat mencari wangsit untuk memberi nama sang anak.


Hari ini, Dinka baru pulang dari rumah sakit bersama bayinya. Sejauh ini, perkembangannya cukup baik, hanya memang masih butuh bantuan untuk berpindah dan berdiri. Tungkai kaki sudah bisa digerakkan hanya memang kekuatannya melemah.


"Operasinya kapan, Mas?" tanya Dinka begitu tubuhnya mendarat di kasur. Dia ingin bertanya tadi sewaktu berhadapan dengan dokternya, tapi selalu saja urung sebab Abid tak memberinya kesempatan bertanya.


"Nggak usah dipikirkan, Din ... operasi terjadi kalau semua terapi dan obat-obatan ini, tidak bekerja." Abid menghembuskan napasnya keras-keras saking lelahnya seharian ini, tapi dia tidak mengeluh.


Ia justru menatap Dinka hangat dan lembut. "Kita optimalkan terapinya, sampai waktu yang ditetapkan oleh dokter. Kalau memang tidak berhasil baru kita ambil jalan operasi."


Diusapnya kerudung Dinka lembut, lalu diciumnya kening dan bibir Dinka. "Jangan mikir jauh dulu, ya ... kamu pasti bisa jalan tanpa operasi."


"Aku hanya harus lihat saldo rekening, Mas ... takut uang ku nggak cukup." Dinka hanya takut membebani Abid. Sudah cukup dia menambah beban hidup Abid dengan sakitnya, tidak mau lagi membuat Abid harus cari dana untuk operasi.


Abid tersenyum lalu mencubit pelan hidung Dinka. "Nanti Mas ajukan proposal ke Ranu kalau uang Mas nggak cukup. Lagian, kamu di sana masuk daftar VIP, sudah ada di daftar prioritas termasuk aku dan baby kita. Bahkan Mama Papa dan keluarga kita. Kalaupun bayar itu hanya untuk obat yang langka, pemeriksaan gratis."


Dinka tahu, tapi kadang dia merasa tidak enak sendiri. Siapa sih dia, istimewa sekali untuk keluarga itu, padahal dia hanya berteman dengan Ranu saja. Tak ada sumbangsih berarti.


"Jen juga sudah bilang ke Mas kalau kamu hanya harus rajin terapi dan minum obat, nggak usah mikir apa-apa, itu pengasuh dibayar sama dia, karena dia nggak bisa bantu kamu selama sakit." Abid melanjutkan membuat Dinka merembeng.


"Aku ingin cepat sembuh, Mas ... aku ingin balas semua kebaikan mereka." Dinka menangis lalu ditarik Abid ke pelukan. Ditenangkan dengan tepukan lembut, dengan usapan menentramkan.


Ini kenapa dia tidak suka sakit dan tidak berdaya. Karena akan banyak yang membantunya, tanpa berhitung berapa banyaknya. Sampai apapun bentuk balasannya rasanya tak pernah cukup.

__ADS_1


"Udah ...." Abid berkata serak. "Arion nangis, tuh."


Arion siapa?


Dinka sedikit bingung meski masih sedih.


Abid menegakkan tubuh Dinka agar berhadapan dengannya. "Arion Akhchazia, nama anak kita ...."


Dinka melirik boks bayi yang ada di kamarnya. Meski masih kosong sebab bayinya tidur bersama suster, Dinka tersenyum.


"Bagus, nggak?"


Dinka mengangguk. Boro-boro nama anak, terkadang dia malah sibuk memikirkan bagaimana mengatasi kelumpuhannya agar bisa merawat bayinya tanpa bantuan lagi.


"Arion adalah nama pemberian Mamaira dan Papa Harris, Jen juga setuju. Akhchazia hanya terdengar unik saja sih, aku yang kasih. Sementara Honey minta diberi nama Prince, karena dia pangeran yang kuat dan tampan. Tapi Prince agak berlebihan menurutku." Abid menjelaskan seraya menatap Dinka lamat.


"Prince Arion Akhchazia?" Abid agak janggal dengan susunan itu.


"Kedengarannya bagus." Dinka tersenyum. "Aku suka, Mas ...."


"Oke kalau gitu." Abid segera bangun dan mengambil ponsel untuk memberitahu rekannya yang akan membantu mengurus acara akikah. Abid menyiapkan acara akikah sudah lama, tapi menunggu perkembangan Dinka untuk mengeksekusinya.


Beruntung Dinka membaik dengan cepat, ditambah nama juga sudah ditentukan. Mungkin paling lama lima hari lagi akan dilaksanakan acara tersebut.


"Mas aku mau ke kamar mandi."


Abid meletakkan ponsel dan bergegas membopong Dinka.


"Duh, Mas dipapah aja, aku berat." Dinka ingin belajar berjalan.

__ADS_1


"Pegangan di leher Mas, Sayang ... biar gak jatuh." Abid memerintah tanpa mengindahkan ucapan Dinka. Pasti akan lama kalau harus dipapah.


"Mas ...."


"Mas suka gendong kamu, kok ... malah Mas rela kalau kamu begini terus, dengan begitu, kamu selalu bergantung sama Mas. Nggak melulu jadi wanita yang serba bisa, kesannya Mas itu nggak ada artinya buat kamu."


Dinka menatap suaminya lama dan dalam. "Mas itu berarti buat aku. Dalam hati aku. Sandaran aku. Kamu berarti di hidup aku, tapi bukan berarti aku bisa sendiri itu nggak butuh Mas lagi. Aku butuh, Mas ... ada hal-hal yang aku nggak bisa sendirian ngelakuinnya."


"Pasti hanya satu atau dua, seperti bikin kamu kli Mak s maksimal, atau bikin kamu bunting. Itu saja, kan?"


Dinka tertawa. "Bukannya itu yang paling urgent, ya ... daripada pake jarum suntik, mending pake suntikan mautnya Mas. Yang gede dan bikin enak."


"Cuma itu yang kamu ingat dari Mas, kan?" Abid agak kesal. Dia sudah seperti pemuas semata, walau sebenarnya dia bangga.


"Emang mau di inget galak dan judesnya juga?" Dinka nakal menggigit leher Abid.


"Ya Allah, Din ... kamu masih nifas. Jangan mancing-mancing, dah!" Abid mendengus. Kenapa dia ingin menggarap Dinka pas lemah begini, ya? Merasa kalau Dinka tidak bisa menedangnya kali, ya!


"Pake mulut bisa, Mas ... aku mau kok, bahkan sampe keluar." Dinka mengerling nakal. Susah sih, kalau badan dan pikiran sehat wal afiat, termasuk gairah, hanya gerakan kaki membatasi. Pasti itu tetap hidup. Dan keduanya susah dihentikan kalau sudah punya keinginan.


Sekali lagi, Abid diuntungkan atas inisiatif Dinka.


***


Dilarang komen; akhirnya up juga😑


Kalau Tidak, nanti tak suruh patungan buat beli hape buat aku🤣🤣🤣 hape masih gantian, ya ... doain besok bisa beli meski cuma ram 3/32 keluaran cina🤣


Doain aja dapat utangan sejuta 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2