Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Bahagia Itu Sederhana


__ADS_3

Dinyatakan positif hamil misalnya.


Meski Dinka harus menahan ketakutan, tapi gelenyar bahagia menguat perlahan. Entah darimana asalnya, tapi Dinka tak henti menatap perutnya sendiri—dan mengelusnya, bibirnya kerap tersenyum sendiri. Aneh sekali kekuatan sesuatu yang belum terlihat bahkan dengan alat ultrasonografi yang canggih itu. Hanya tampak bulatan yang disebut sebagai kantung janin saja yang—konon katanya, adalah tempat calon anak Abid tumbuh.


"Masih kecil, Dinka, ini baru 6 minggu lima hari. Kantung janin ada kok, bagus juga." Abid membawa Dinka pulang lebih dulu, harus banyak istirahat dan tidak boleh lelah.


"Mas tau dari mana? Mas kan bukan dokter kandungan?" Dalam mobil ini terasa dingin, sebab keterangan dari dokter agak membingungkan membuat mereka tegang berdebat.


"Mas juga belajar soal itu sebelum seperti sekarang!" terang Abid seraya menatap Dinka sekilas. "Setiap mahasiswa kedokteran pasti memperlajari—"


"Mas yakin ini anak Mas, kan? Nikah belum selama itu loh kita? Aku takut Mas ragu itu bibit keluaran pabrik kamu!" Dinka mengubah topik. Pasti Abid akan menjelaskan panjang lebar bagaimana seorang mahasiswa jurusan kedokteran belajar. Dia sedang muak dan galau sebenarnya, jadi dia tidak bisa menjadi pendengar yang baik.


"Ck! Ngapain ragu? Wong aku yang jebol selaput kamu, kok! Namanya hamil kan dihitung dari haid terakhir kamu, bukan kapan buatnya!" Abid menggeleng kuat. "Nggak ragu sama sekali aku tuh!"


"Syukur deh," sahut Dinka lega. Abid menoleh mendengar tanggapan yang menurutnya terlalu biasa untuk pertanyaan yang sensitif. Syukur aja? Nggak pake drama? Apa memang Dinka kaum 'Ya udah, sih' atau memang sedatar itu Dinka ini? Terlalu ajaib memang.

__ADS_1


Merasa di tatap, Dinka menoleh. Dia tidak paham kenapa Abid syok begitu. Bagus kan, dia tidak mempermasalahkan lagi, tapi ... cewek tanpa mendebat membabi buta kaya ada yang kurang gitu. Abid biasa dituntut ini itu, tapi giliran sekarang, dia merasa aneh ketika Dinka tidak.begitu.


"Aku takut kaya temen aku, Mas." Dia hanya menjelaskan apa yang ada di dalam hatinya. "Ada teman aku namanya Nisa, yang dipulangkan oleh suaminya karena nikah baru satu bulan, tapi Nisa sudah hamil 6 minggu. Suaminya curiga Nisa hamil anak orang lain."


"Otak suami Nisa yang nggak beres." Mendadak Abid kesal sendiri.


"Ya, dan ketidakberesan otak suami Nisa itu membuat aku takut." Dinka jujur. Diantara semua masalah dengan otak pria, pengalaman Nisa adalah yang paling buruk. Dinka melihat sendiri bagaimana Nisa menahan derita 9 bulan lamanya, lalu ketika melahirkan suami Nisa datang untuk mengklaim bayinya.


Dan banyak lagi masalah pria yang imbasnya ke wanita cukup mengerikan. Dia tau, perlahan semua itu mempengaruhi pikirannya, lalu kemudian dia memilih menjauh. Dekat tidak terlalu dekat, jauh tidak terlalu jauh. Memilih berada ditengah-tengah, menjaga perasaan, menjaga kewarasan, sebab dia tau dirinya mudah terpengaruh keadaan.


"Makanya aku memastikan, Mas. Hati manusia itu kalau mau puter balik, nggak perlu pake sein. Nggak ada kode, tau-tau muter dan jadinya aku nubruk, bonyok dimana-mana."


Keduanya saling menatap dengan ekspresi yang jauh lebih dalam. Yang baru Abid sadari adalah Dinka mampu mengcover semua beban itu di antara wajah cueknya. Dia melampiaskan dengan cara yang baik, menyembuhkan diri sendiri dengan cara yang menurutnya paling baik.


"Kalau gitu Mas hanya bisa serahkan hati ini pada Pemiliknya," ucap Abid pelan. "Kamu minta aja sama yang punya, minta supaya hati dan perasaanku tak berkurang sama sekali sampai akhir nanti."

__ADS_1


Dinka tersenyum sekilas, tanpa melepas tatapan dari Abid. "Aku kalau minta maruk. Padahal aku tau kita nggak boleh egois."


"Jadi kamu biarkan aku cinta berat sama kamu, tapi kamu mau biasa aja ke aku? Nggak mau secinta-cintanya gitu?" Entahlah, Abid getir sendiri.


Dinka diam. Dia belum bisa mengubah setelan hatinya ke mode bucin. Tapi kalau cinta sewajarnya dia pasti bisa.


"Buat aku cinta secinta-cintanya kalau gitu," jawab Dinka setelah begitu lama.


"Itu mudah," cibir Abid meremehkan. "Tapi caranya berat. Kamu harus kuat, ya!"


Dinka hanya tertawa. Apa memangnya yang bisa Abid lakukan?


Abid pun tertawa. "Nitip anaknya Mas, ya, Din. Makan yang sehat dan bergizi. Minta sama Mas apa aja yang kamu mau, yang dedek bayi mau."


"Aku ingin makan Mas aja, yang gizinya udah lengkap."

__ADS_1


Ya salam.


__ADS_2