Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Mari Selesaikan di Sini


__ADS_3

"Astaga, Dek!" Darren memekik secara spontan ketika dia masuk begitu saja ke ruang rawat Abid.


Dan di depan sana, kekacauan terjadi. Dinka terguling dari pangkuan Abid, dengan Abid memegangi Dinka.


"Maaf, aku balik saja."


"Kak—"


"Kunci dulu ngapa?" Darren salah tingkah sendiri. Mukanya merah, dan badannya berkeringat. Tapi dia urung pergi dari sana. Setidaknya, dia harus benar-benar menjenguk iparnya, kan? Atau Jen akan memisahkan kepala dan lehernya dengan sebilah golok.


Bukan tidak merestui, pada akhirnya dia berhenti menyudutkan Dinka dengan mengatakan keburukan Abid yang tiada habis—walau sebagian rekayasa dan dugaannya semata, tapi dia tidak punya kesempatan bicara berdua dengan Abid. Dan—yah, untuk apa? Mereka tampak akur, kemudian semuanya terbukti hari ini.


Dinka turun dari ranjang dengan wajah tertunduk.


"Saya yang minta." Abid masih sekaku itu pada Darren. Walau dalam keadaan lebih baik, dia mampu bicara santai. Sekarang—setidaknya, dia butuh sesuatu untuk menyembunyikan bagian tubuhnya yang menonjol.


"Semua terjadi begitu saja." Darren coba mengerti. "Tapi kalau udah baikan—sembuh kenapa nggak pulang?"


Pria itu duduk di sofa, tak jauh dari posisi ranjang. Mendekat rasanya tidak perlu, lagian dua orang itu tampak kepayahan, pasti mereka tidak akan nyaman.


"Masih ada yang harus diperiksa—"


"Darren saja."


"Ya!"


Darren tertawa kecil. "Maaf kalau nggak sopan, tapi setidaknya aku udah di sini, udah setor muka. Bumil di rumah cerewet sekali. Katanya ini untuk memajukan hubungan kita."

__ADS_1


Abid memasang senyum lega, yang formal tapi tidak ala kadarnya. Serius dia lega. Kendati dari segimanapun seharusnya dia yang punya effort lebih, tapi kedatangan kakak iparnya ini membuatnya legaaa. Dia akan balas itu nanti.


"Jangan ember, please!" Dinka masih menunduk. Tapi suaranya sangat keras menginterupsi. Dia paling anti dengan kelakuan kakaknya yang tidak tau tempat, tapi seharusnya dia juga tahu diri. Astaga ... entah euforia apa yang membuatnya mau saja ikut kata Abid. Beruntung mereka berdua baru pemanasan saja, cukup benahi sedikit pakaian dan menurunkan kerudungnya, semua beres. Beruntung juga, Abid belum sempat buka baju pasien itu. Kalau tidak—ya ampun! Memikirkan saja tidak berani.


"Kami nggak akan punya kesempatan—"


"Istri kamu biasanya kepo dan mulutnya an ... jim banget!" Dinka menoleh. "Dia paling suka ngoprek urusan beginian, kan?"


Darren tergelak sampai menepuk sofa. "Tau banget kamu, Dek!"


Dinka berdecak dengan tatapan malas dan kesal. Abid heran sekali melihat dua saudara ini. Jahilnya bikin suasana canggung tadi pergi begitu saja.


"Kalau sibuk, cepetan balik sana!" Untuk apa, kan, Darren di sini? Pria itu cukup setor muka, Abid tidak apa-apa, hanya sebuah formalitas yang sebenarnya tidak perlu. "Kalau senggang, urus Jenna. Bikin doang, urus nggak mau!"


"Bener juga!" Darren masih terkekeh. "Cepet sembuh, Adek ipar! Abang ipar balik dulu, biar kecil, Abang ipar punya kantor, meski masih numpang di gedung Bapak mertua," ujarnya.


"Not bad ... selain tukang sapu jalan, dipanggil begitu rasanya lebih manusiawi." Darren dari posisinya siap pergi. Namun pintu didorong dari luar, menampakkan wajah tercengang seseorang dengan balita di tangannya.


"Dia cari dokter yang biasa merawatnya." Ucapan itu terdengar gugup, sehingga Dinka menoleh, dan perlahan kesal. Mood-nya memburuk drastis. Astaga ... ini kenapa? Dia biasa tenang, menghadapi Olla, tapi sekarang rasanya tangannya gatal ingin mencabik wanita itu.


Darren menatap bergantian Abid, Dinka, dan wanita berjas putih itu. "Suami adik saya masih sakit, dan sebaiknya anak kecil tidak boleh mendekat, kan? Dokter harusnya tahu itu! Ayolah, beri contoh yang baik pada pasien! Jangan maksa begitu!"


Olla salah tingkah sendiri. "Saya nggak tahu harus gimana lagi, soalnya dia nangis terus."


Abid berdecih. Apa-apaan Olla ini!


"Saya permisi kalau begitu!" Tanpa menunggu dia dihujat lebih banyak, Olla mundur dan permisi.

__ADS_1


Dinka tahu harus melakukan apa. Sejak beberapa hari ini, jujur saja dia terganggu dengan kehadiran Olla dan anak itu.


"Kak ... nitip ini, tolong di buang di tempat sampah depan!" Dinka mengambil pakaian Abid dan meletakkan di sebuah tas. Semua itu adalah pemberian Olla. Setidaknya, Olla tahu dimana tempatnya berada—yang seharusnya.


"Oke!" Darren mendadak mau saja. Pasti ada sesuatu dan Dinka butuh bantuannya. Mereka bukan orang kaya sekali, yang membuang baju tanpa alasan yang kuat.


Serah terima selesai, Dinka mengantar kakaknya keluar.


"Untung Kakak datang, kalau enggak, pasti si dia yang mergoki kalian berdua tadi! Dan perbuatan kalian udah jauh lebih kacau dari tadi!" Darren terkekeh, Dinka salting dan hanya bisa nyengir. "Di depan mata dokter tadi, kan?"


Dia menggantung tali tas di jari tengahnya. Dinka tersenyum penuh arti.


"Oke, akan kakak usahakan! Jaga diri, ya! Bye ...!"


Dinka melambai seadanya. Lega setidaknya matanya tak lagi melihat benda-benda itu. Sisanya di rumah sudah dia packing dengan baik, mungkin untuk dikembalikan atau disumbangkan.


Darren tahu mungkin tas itu ditujukan untuk dokter tadi, jadi ketika melihat punggung wanita itu, dia menepuknya.


"Ya ... eh, maaf, Pak."


"Saya disuruh buang barang ini, tempat sampah dimana, ya? Yang langsung bisa lenyap gitu, soalnya dia takut barang ini ditemukan dan dipakai orang." Darren menunjukkan tas di tangannya. Wajahnya polos sepolos ketidaktahuannya.


Olla melongok sedikit dan langsung bisa menebak. Rere di pindahkan ke pundak. "Biar saya yang buang, Pak."


"Saya merepotkan anda, Dokter." Darren menyeringai sungkan. "Tapi tolong buang, ya ... saya tahu adik saya terganggu dengan benda ini. Maksudnya adik ipar saya yang terganggu, Dinka sih enggak."


Olla tersenyum. Tersenyum saja. Hatinya perih.

__ADS_1


__ADS_2