Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Sudah Pelupa, Penakut Pula, Haish!


__ADS_3

Dinka sibuk dengan ponsel yang menampakkan secara detail apa saja pekerjaan dokter hewan yang akan bekerja sama dengan petshopnya.


Dia sejak dulu memang ingin bekerja sama dengan dokter hewan, agar konsumen dan pelanggan petshopnya tidak perlu ke tempat lain untuk memeriksakan keadaan hewan piaraan mereka. Tapi sejauh ini belum terealisasikan, banyak hal yang dipertimbangkan Dinka, selain karena belum menemukan orang yang tepat, dia merasa belum membutuhkan sekali dokter tersebut.


Dinka punya kenalan, tapi dia sudah ada klinik sendiri. Jadi ketika ada Denis menawarkan kerja sama, Dinka setuju.


Dia kenal Denis sewaktu SMA, dan yang mempertemukan mereka adalah Jansen.


Kadang satu kebaikan kecil, membuka seribu jalan kebaikan yang lain.


Dia masih terhubung dengan Denis saat Abid keluar dari kamar mandi dan masuk ke dalam selimut. Pria itu menggulung selimut untuk dirinya sendiri.


Dinka tentu tak mau ambil pusing, dia bisa tidur di sofa. Abid sepertinya masih kesal dengan pertanyaan yang dijawabnya dengan candaan tadi. Dan Dinka tak perlu heran lagi, Abid sejak awal orangnya mudah marah, jadi dia berusaha menerima semua itu. Dia tidak akan rewel hanya untuk sesepele masalah selimut, kasur, atau sikap susah diajak bercanda bawaan orok milik Abid tersebut.


Mengalihkan perhatian dari Abid, Dinka kembali fokus pada PDF yang dia zoom dari Denis. Merasa tak perlu ada yang dikhawatirkan, Dinka segera keluar dari aplikasi tersebut dan berbicara dengan Denis.


"Besok bisa langsung mulai, kan?" Dinka tertawa canggung. "Terkesan buru-buru, tapi aku yakin kamu tau apa yang harus kamu lakukan! Nanti aku minta Zoya buat bantu kamu."


Dinka terus tersenyum mendengar jawaban Denis yang menyakinkan. "Senang bekerja sama dengan kamu, Den!"


Dinka menutup telepon lalu segera menghubungi Jansen.


"Halo, Kak Jansen—oh, maaf, aku lupa! Jansen ...," ralat Dinka seraya menutup mulutnya.


"Aku udah deal sama Denis, Jan!" Kepala gadis itu merosot ke lengan sofa, dimana sejak tadi dia menyandarkan punggung, menopang perutnya yang luar biasa penuh.


Senyumnya tak putus memenuhi bibir. Mereka terus berbincang akrab dan penuh tawa.


Dan dari sudut lain, sepasang mata mengawasi dibalik rambut yang menjuntai memenuhi dahi. Jangan kira Abid tidak dengar, dia dengar semuanya tanpa terkecuali. Suara Dinka berisik, tanpa ada niat untuk mengecilkan suaranya. Apa dia pikir di ruangan ini hanya dia sendiri?


Lihat tawa genitnya itu, menyebalkan bukan?


"Hahaha ... iya, aku ingat pas kejadian itu! Bola yang kamu lempar mengenai kepala aku, bukan masuk ring! Iya, aku ingat ... yang nggak ingat siapa yang bawa aku ke rumah sakit, hahaha."


Abid bangkit seraya berdecak. Pria itu berjalan ke depan Dinka, menatap marah Dinka dengan tangan berada di pinggang.


"Apa?!" Dinka kaget melihat Abid berdiri tiba-tiba begitu, lantas dia menutup ponsel dengan tangannya, matanya tanpa sengaja melihat jam di dinding. "Oh, maaf, Mas!"


Dinka segera berbicara kembali dengan Jansen. "Maaf, Jansen ... udah larut malam. Telponnya aku sudahi, ya! Kapan-kapan ngobrol lagi. Bye!"


"Udah shalat?" tanya Abid setengah menuduh.


Dinka mengangguk, tanpa mengubah posisinya. Ponsel diselipkan di antara sofa dan badannya.

__ADS_1


Sudah, tak ada alasan lagi bagi Abid untuk marah—sebenarnya. Tapi Abid masih ingin marah jadi dia berkacak pinggang. Mencoba mencari kesalahan Dinka lagi.


"Kenapa? Sana Mas tidur, aku udah nggak teleponan kok." Dinka mengusir Abid, meski dia masih heran kenapa Abid masih tegak berdiri di depannya.


Astaga, kenapa Abid jadi kesal karena Dinka tidak punya kesalahan lagi, sih?


Dinka mengerutkan wajahnya, dan mulai ngeri. Pria itu mau ngapain coba?


"Kamu bicara di telpon kaya orang hutan! Bikin orang susah tidur! Kepalaku makin pusing, meriangnya jadi makin parah! Kerokin punggungku! Aku masuk angin!" perintah Abid kemudian. Nah, ini masuk akal, kan? Dinka yang bikin dia meriang begini!


Dinka beranjak duduk. "Mas kan dokter! Percaya kalau kerokan bisa meredakan meriang? Ada gitu di kedokteran sakit masuk angin?"


Nah, lihat itu! Kepada dirinya, Dinka selalu terdengar mencela. Siapa Abid bagi Dinka, sih? Catet, ya ... Abid suami Dinka! Sama orang lain manis dan genit, sama suaminya ajak war dan debat terus.


"Kenapa nggak percaya? Toh beneran sembuh kalau cuma kehujanan karena cari seseorang dan badan jadi meriang kaya gini! Lagian apa-apa jangan langsung minum obat, selama hanya gejala flu ringan!" Abid mendudukan badan ke ranjang lagi, lalu membuka bajunya. "Buruan, sini!"


"Yee, itu mah salahnya Mas dan anak Mas itu! Coba kalau dia nggak bikin ulah, dan Mas nggak ngambek. Kita udah tidur dengan nyenyak sekarang!" Dinka perlahan beranjak. Pikirnya, Abid sakit beneran.


"Siapa tau juga kita udah habiskan dua ronde karena cuacanya mendukung banget!" goda Abid membuat Dinka mengalihkan perhatia. Asem bener ni laki, ya! Ngomongnya ke arah sana mulu!


"Mas kok nggak kotak-kotak perutnya?!" Dinka mengalihkan topik, seraya melirik ke bawah. Takut itunya beneran berfungsi dan Dinka takut kalau dia diserang pas deketan sama Abid.


"Nggak semua six pack seksìi! Justru yang kaya gini yang disukai wanita!" Abid membela diri seraya mengusap perutnya sedikit ke bawah. "Buruan, dingin nih!"


Dinka mundur, "Mas jangan macam-macam, ya!"


"Kalau macam-macam juga nggak masalah, sudah sah dan halal." Abid entah mengapa merasa hatinya hangat. Dia pintar menahan diri, dengan Dinka juga pasti bisa. Biasanya, wanita bukan tidak mau, hanya sedang membangun perasaan saja.


Menilik riwayat pernikahan mereka, wajar jika Dinka masih ingin bersahabat dengannya lebih dulu, mengenalnya, lalu pada akhirnya menyerah. Bukan masalah bagi Abid. Dia juga tidak sedang terburu-buru.


"Nggak mau kalau gitu!" Dinka duduk kembali.


Abid menoleh. "Kenapa nggak jadi? Takut? Kata kamu aku impoten kan? Jadi kenapa mesti takut?"


Pandangan Abid jelas disertai seringai mesùm yang mengejek hinaan Dinka tadi siang. Dinka membuang muka saking tak tahannya.


"Mas udah nggak impoten lagi, kayaknya! Hanya belum berfungsi dengan benar!"


"Yuk, bantuin biar benar fungsinya, Sayang!"


Dinka melesatkan pandangan penuh peringatan pada Abid yang sudah duduk kembali dan menatap aneh dirinya.


"Jangan macam-macam, Mas! Aku tendang sampai nggak bisa bangun lagi, kapok kamu!"

__ADS_1


Abid mana peduli. Dia mendatangi Dinka yang sudah siap kabur ke kamar mandi.


"Aku serìus Mas!" Dinka melesat ke kamar mandi, lantas menutupnya. Abid terkekeh.


"Aku akan tunggu di depan kamar mandi sampai kamu keluar!"


"Tunggu saja! Aku akan di sini sampai besok pagi!"


"Besok pagi juga bisa ngelakuin itu!"


"Aku nggak akan keluar sampai kapanpun, pokoknya!" teriak Dinka dari dalam.


"Terserah, aku akan di sini sampai kamu keluar!"


"Mas!" protes Dinka terdengar frustrasi.


"Hati-hati, hantu bali lebih menyeramkan daripada hantu ibukota!"


"Mas Abid ngeselin!" Pintu terbuka, dan Dinka keluar dengan teriakan panjang yang langsung disambut pelukan hangat Abid yang belum memakai baju.


Dinka merinding mendapat pelukan itu. "Aaa—"


"Ngapain sih, teriak begitu!" Abid membungkam mulut Dinka dan menyeretnya ke kasur. "Udah tidur!"


"Aku di sofa saja, Mas!" Dinka memberontak.


"Ya, nanti hantunya nyusul kamu di sana!"


"Mas!" Mata Dinka nyaris copot saking lebarnya membelalak.


Abid terkekeh. "Bobok sama Mas aja di kasur, biar makin anget!"


Dinka didorong hingga jatuh ke kasur. Abid menyusulnya dan menutup mereka berdua dengan selimut.


"Kalau kamu banyak tingkah, banyak protes, malam ini juga kamu kehilangan kegadisan kamu!" Ancam Abid serius.


Dinka membelalak sekali lagi, tapi mulutnya diam. Hilang kegadisan berarti mlendung, tekdung, mbedundung!


Tidaaak!!!!


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2