MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB I


__ADS_3

‘Suti…bangun, cepat sudah siang. Apakah kamu tidak sholat subuh? Ayo segera bangun!’


Aku tersentak dan duduk linglung, menoleh kiri kanan dalam kegelapan kamar yang tak


berujung. Sebelum akhirnya sudut netraku menangkap pergerakan orang lain dalam


selimut lurik di atas tempat tidurku.


‘Ouch! Brengsek’ aku mengumpat dalam hati.


Ternyata hari masih terlalu larut untuk menjalankan rutinitas pagiku.


Aku yang melihat banjir besar dengan air kotor bergulung-gulung


disekitarku serta tanpa sengaja netraku menatap begitu banyak


ikan yang timbul tenggelam di dalamnya. Dan aku yang semula berada di pinggir


tahu-tahu ikut terseret, timbul tenggelam dalam arus deras sungai kotor dan berombak besar itu.


‘Bagaimana bisa?’ batinku bertanya-tanya.


Ketika aku sudah tak mampu bernafas dengan baik dalam kubangan itu, ada dua


ikan hitam besar menyelusup dari bawah permukaan air dan menyodorkan siripnya


untuk kujadikan pegangan serta membimbingku ke pinggiran dengan selamat.


Tanpa sengaja ku melihat ikan-ikan tadi yang


terseret arus, berlompatan menyelamatkan dirinya keluar dari air. Ada yang


hidup pun banyak yang mati diterjang arus air deras itu.


‘Hei!’ aku menjerit. Ketika kesadaranku


mencapai sempurna. Bukankah sinar mata mereka mirip seseorang. Ya….seseorang


yang mencuri hati dan perasaanku beberapa hari ini.


Dan ‘heeemfh’ bukankah yang membangunkanku

__ADS_1


dari mimpi tak bertepi tadi mas Mukharom, teman satu kelasku. ‘Bagaimana bisa?’


Jeritku dalam hati. ‘Itu sangat-sangat tidak mungkin?’


Di kampus.


‘Pagi, Suti!’ sapaan dari Padmi nyaring terdengar.


‘Pagi’ Jawabku


‘Bagaimana, sudah ada judul yang akan kamu ajukan ke pak Fadli?’


Aku hanya mengerjap kebingungan dengan pertanyaan itu. Situasi yang sama dengan minggu kemarin.


‘What the hell situation?’ bagaimana bisa aku menjawabnya


sedangkan aku tak punya gambaran apapun di otak kecilku ini.


Betul-betul buntu. Kulihat sebelah Padmi ada kak Ester yang telah siap dengan


berkas-berkas proposal dan siap untuk diajukan. Betapa nelangsanya perasaan ini.


Tergesa kudekati mereka yang menunggu giliran


dengan hembusan napas besar, sekedar pelepas rasa gusar atas ketidak mampuanku


dalam menentukan judul yang sederhana pun.


‘Ouh dunia yang kejam’, batinku bersuara lagi.


Berkali-kali kugelengkan kepala seolah mengusir penat dan lelah yang


berhari-hari ini kurasakan, semenjak aku mengalami mimpi yang aneh kemarin.


Hari ini sama dengan berlalunya alur cerita


yang tak usai, ku lalui dengan berbagai macam perjalanan yang berbeda, tapi aku


masih tetap disini berdiri di sisi ketidak berdayaanku atas kesulitan seperti


hari-hari kemarin. Ketika kudengar celetukan dari kak Ester yang seolah

__ADS_1


mengerti dengan kebingunganku.


‘Meskipun bingung, aku tetap mengajukan judul


penelitian ini. Dan aku berusaha untuk merealisasikannya dalam sebuah tesis’.


Aku tersentak, sebelum akhirnya menjawab, ’punya


rekomendasi judul buatku, tidak?’ tanyaku penuh antusias.


‘Ada, tapi keluarkan idemu dulu, kamu mau meneliti apa?’


‘Eehhmmmm, apa ya’, sekilas pikiranku melayang


ke berbagai macam permasalahan yang selama ini kuhadapi ketika mengajar di


kelas.


Dan ‘bingo!’ ide itu melintas begitu saja di otak ku.


‘Bagaimana dengan The Difference achievement between the student with the English background and those who don’t have any background?’ jawabku.


‘Oke, tampaknya bagus. Tapi jangan hanya


mengajukan satu, kuatirnya nanti ditolak. Coba buat judul yang lain juga’.


‘Hadeeww, keluhku. ‘Aku nyerah deh kak, mana


mungkin otak minimalisku ini punya alternative judul yang lain. Bagaimana kalau


kak Ester saja yang buatkan?’


‘Kamu itu, Suti…..Suti. Tetap saja dari dulu’,


ditoyornya kepalaku pelan.


Sedangkan aku hanya cengengesan. Meskipun


dengan berat hati kak Ester tetap membuatkanku dua judul yang bagus sambil menjelaskannya


panjang lebar. Aku hanya manggut-manggut seolah mengerti padahal tidak sama

__ADS_1


sekali. Karena semenjak mimpi itu kepalaku selalu terasa berat seolah ribuan


karung goni bersarang di atasnya. Sungguh muak aku dengan rasa ini.


__ADS_2