MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XXXVIII


__ADS_3

Clark’s brother building, Batu.


“Ha…ha…ha. Akhirnya aku menghancurkanmu Anne. Bagaimana apakah


kamu bisa melihatnya dari atas sana? Ha…ha…ha” tawanya keras saat melihat


laporan orang suruhannya dari laptop.


Kehancuran keluarga Cartwright adalah tujuan utama Clark. Dendam


lamanya atas keturunan Anne Van Den Berg betul-betul telah mendarah daging.


Saat ini kemenangan jelas telah digenggam. Apalagi saat laporan


demi laporan bawahannya membuat kebahagiaannya semakin lengkap.


Hancurnya anak cabang perusahaan Cartwright di Inggris.


Bangkrutnya The London Company di Amerika. Membuat senyum puasnya semakin


lebar.


Dia yang menatap laptop dengan rasa yang berbunga. Mulai


memikirkan cara untuk menghancurkan perusahaan dua keluarga itu yang berada di


Indonesia.


Meskipun sedikit mustahil untuk menghancurkan perusahaan induk.


Dia akan tetap menjalankannya. Apalagi akhir-akhir ini kekuatan supranaturalnya


semakin meningkat dengan sakitnya Jodi, sang keturunan langsung dari Anne Van


Den Berg.


Keberhasilannya dimulai dengan mengirimkan ular suruhannya untuk


menghancurkan mesin kapal, yang mengangkut barang ekspor perusahaan Cartwright.


Tak ada yang menyadari hal itu. Bahkan ilmu modern tak sanggup


mendeteksinya.


Dengan penuh kepuasaan, Clark berjalan menuju ruang rahasia yang


ada di kantor presiden direktur. Melakukan ritual seperti biasa.


Memposisikan diri di meja yang mirip altar, dia melantunkan


langgam mantra kekuatan pembelah jiwa.


Asap putih keluar dari kepala membentuk siluet Clark berambut


gondrong namun lebih kurus.


Pakaiannya seperti seorang presiden direktur jaman dahulu, lengkap

__ADS_1


dengan topi dan payung ditangan kanan.


Netranya memperhatikan raga yang akan dia tinggalkan sejenak dan


bergumam.


“Baik-baik kau disini Clark dan jangan nakal heum.”


“Ha…ha…ha”.


Dia pun musnah menjadi kepulan asap serta melayang keluar ruangan.


Malam ini seperti biasa Suti mengintip kegiatan mama Laura yang


sedang menjenguk anaknya di rumah sakit, yang tampak bergumam mengajak Jodi


berbicara.


Hampir berjam-jam lamanya ia mengajak anaknya berkomunikasi. Meski


tak ada respon sama sekali dari lawan bicara.


Tak beberapa lama kemudian netranya melihat sang mama yang


menangis tergugu disana.


Sedu sedannya terdengar jelas ditelinga Suti, karena perwujudannya


yang saat ini berubah menjadi siluman.


“Ssssh…jangan bersedih ma. Aku ada disini. Maaf aku tak mungkin


“Blap”. Dalam sekejap tubuhnya pun menghilang menuju ke utara.


Suti yang berwujud setengah siluman ular, terbang menuju gua di


hutan gunung Ringgit. Dia bergelung diatas batu pipih yang ada disana. Dan memejamkan


mata menunggu sang surya.


Sinar yang mampu membuat wujudnya kembali menjadi manusia.


Desa Prigen di pagi hari.


“Pagi lek Parjo”.


“Pa-Pagi. Eh kamu Suti”.


“Ya lek”.


“Kapan kamu datang?”


“Sudah lama lek. Hampir tiga bulan”.


“Ti-tiga bulan. Dimana kamu menginap selama ini. Mengapa tidak


kerumah lek mu ini”.

__ADS_1


“Maaf Suti tidak bisa menemui mu. Karena perwujudan Suti yang


berubah-ubah lek”.


“Apakah dia mempengaruhimu?”


“Sangat. Aku masih belum bisa mengendalikannya. Apakah kamu bisa


membantuku?”


Mendengar nada bicara Suti yang berubah-ubah. Parjo jadi menyadari


sesuatu. Dia pun mengajaknya masuk kedalam rumah.


Menuju kamar yang ada dibagian belakang.


Kotor dan berdebu, itulah penampakan ruangan yang dimasuki


keponakan dan paman kecilnya.


Saat pertama kali dibuka, bau apek masuk  ke indra penciumannya. Seolah tak merasakan


apa pun, Suti langsung menuju tikar ditengah ruangan.


Parjo yang sedari tadi sibuk mencari sesuatu dari rak yang ada


diruangan, menghampiri Suti sambil membawa sebuah gulungan yang terbuat dari


kulit hewan.


Membukanya dan membacakannya dengan seksama huruf Jawa dalam


perkamen kuno tersebut.


“Kamu mengerti nduk?” tanyanya tiba-tiba saat kalimat terakhir


dari gulungan itu selesai dibaca.


“Mengerti lek. Jadi aku harus kembali ke gua itu dan melakukan


ritual yang sama seperti ki Nogo dan nenek Darsi”.


“Benar. Tiga hari dari sekarang adalah malam bulan purnama. Kamu harus


bersemedi sampai hari itu terjadi agar bisa mengendalikan kekuatan supra


naturalmu”.


“Aku mengerti lek”.


“Heem”.


“Aku pamit”.


“Ya semoga berhasil, Nduk”.


“Terima kasih lek”.

__ADS_1


Parjo mengusap kepala Suti sayang. Sebagai pertanda merestui sang


keponakan untuk bertapa.


__ADS_2