
Clark’s brother building, Batu.
“Ha…ha…ha. Akhirnya aku menghancurkanmu Anne. Bagaimana apakah
kamu bisa melihatnya dari atas sana? Ha…ha…ha” tawanya keras saat melihat
laporan orang suruhannya dari laptop.
Kehancuran keluarga Cartwright adalah tujuan utama Clark. Dendam
lamanya atas keturunan Anne Van Den Berg betul-betul telah mendarah daging.
Saat ini kemenangan jelas telah digenggam. Apalagi saat laporan
demi laporan bawahannya membuat kebahagiaannya semakin lengkap.
Hancurnya anak cabang perusahaan Cartwright di Inggris.
Bangkrutnya The London Company di Amerika. Membuat senyum puasnya semakin
lebar.
Dia yang menatap laptop dengan rasa yang berbunga. Mulai
memikirkan cara untuk menghancurkan perusahaan dua keluarga itu yang berada di
Indonesia.
Meskipun sedikit mustahil untuk menghancurkan perusahaan induk.
Dia akan tetap menjalankannya. Apalagi akhir-akhir ini kekuatan supranaturalnya
semakin meningkat dengan sakitnya Jodi, sang keturunan langsung dari Anne Van
Den Berg.
Keberhasilannya dimulai dengan mengirimkan ular suruhannya untuk
menghancurkan mesin kapal, yang mengangkut barang ekspor perusahaan Cartwright.
Tak ada yang menyadari hal itu. Bahkan ilmu modern tak sanggup
mendeteksinya.
Dengan penuh kepuasaan, Clark berjalan menuju ruang rahasia yang
ada di kantor presiden direktur. Melakukan ritual seperti biasa.
Memposisikan diri di meja yang mirip altar, dia melantunkan
langgam mantra kekuatan pembelah jiwa.
Asap putih keluar dari kepala membentuk siluet Clark berambut
gondrong namun lebih kurus.
Pakaiannya seperti seorang presiden direktur jaman dahulu, lengkap
__ADS_1
dengan topi dan payung ditangan kanan.
Netranya memperhatikan raga yang akan dia tinggalkan sejenak dan
bergumam.
“Baik-baik kau disini Clark dan jangan nakal heum.”
“Ha…ha…ha”.
Dia pun musnah menjadi kepulan asap serta melayang keluar ruangan.
Malam ini seperti biasa Suti mengintip kegiatan mama Laura yang
sedang menjenguk anaknya di rumah sakit, yang tampak bergumam mengajak Jodi
berbicara.
Hampir berjam-jam lamanya ia mengajak anaknya berkomunikasi. Meski
tak ada respon sama sekali dari lawan bicara.
Tak beberapa lama kemudian netranya melihat sang mama yang
menangis tergugu disana.
Sedu sedannya terdengar jelas ditelinga Suti, karena perwujudannya
yang saat ini berubah menjadi siluman.
“Ssssh…jangan bersedih ma. Aku ada disini. Maaf aku tak mungkin
“Blap”. Dalam sekejap tubuhnya pun menghilang menuju ke utara.
Suti yang berwujud setengah siluman ular, terbang menuju gua di
hutan gunung Ringgit. Dia bergelung diatas batu pipih yang ada disana. Dan memejamkan
mata menunggu sang surya.
Sinar yang mampu membuat wujudnya kembali menjadi manusia.
Desa Prigen di pagi hari.
“Pagi lek Parjo”.
“Pa-Pagi. Eh kamu Suti”.
“Ya lek”.
“Kapan kamu datang?”
“Sudah lama lek. Hampir tiga bulan”.
“Ti-tiga bulan. Dimana kamu menginap selama ini. Mengapa tidak
kerumah lek mu ini”.
__ADS_1
“Maaf Suti tidak bisa menemui mu. Karena perwujudan Suti yang
berubah-ubah lek”.
“Apakah dia mempengaruhimu?”
“Sangat. Aku masih belum bisa mengendalikannya. Apakah kamu bisa
membantuku?”
Mendengar nada bicara Suti yang berubah-ubah. Parjo jadi menyadari
sesuatu. Dia pun mengajaknya masuk kedalam rumah.
Menuju kamar yang ada dibagian belakang.
Kotor dan berdebu, itulah penampakan ruangan yang dimasuki
keponakan dan paman kecilnya.
Saat pertama kali dibuka, bau apek masuk ke indra penciumannya. Seolah tak merasakan
apa pun, Suti langsung menuju tikar ditengah ruangan.
Parjo yang sedari tadi sibuk mencari sesuatu dari rak yang ada
diruangan, menghampiri Suti sambil membawa sebuah gulungan yang terbuat dari
kulit hewan.
Membukanya dan membacakannya dengan seksama huruf Jawa dalam
perkamen kuno tersebut.
“Kamu mengerti nduk?” tanyanya tiba-tiba saat kalimat terakhir
dari gulungan itu selesai dibaca.
“Mengerti lek. Jadi aku harus kembali ke gua itu dan melakukan
ritual yang sama seperti ki Nogo dan nenek Darsi”.
“Benar. Tiga hari dari sekarang adalah malam bulan purnama. Kamu harus
bersemedi sampai hari itu terjadi agar bisa mengendalikan kekuatan supra
naturalmu”.
“Aku mengerti lek”.
“Heem”.
“Aku pamit”.
“Ya semoga berhasil, Nduk”.
“Terima kasih lek”.
__ADS_1
Parjo mengusap kepala Suti sayang. Sebagai pertanda merestui sang
keponakan untuk bertapa.