MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XX


__ADS_3

“Darsi!”


Bargo terkejut ketika membuka pintu gubug dan


mendekati perempuan hamil besar yang terikat di sudut ruang. Panggilan itu


terlontar begitu saja dari mulutnya saat dia mengenali sosok yang menjadi


tawanan noni-nya.


Pekerjaanya menjadi centeng selalu berpindah-pindah


sesuai aturan perusahaan. Anne Van Den Berg adalah sekretaris dari pabrik gula


dimana ia bekerja selama ini.


Dua tahun yang lalu Bargo sempat dipindahkan


ke Batavia. Niatannya yang semula ingin menikahi Darsi menjadi berantakan.


Dengan terpaksa dia mengikuti aturan perusahaan. Ketika dipindahkan lagi ke


Jawa, dia sudah naik pangkat menjadi wakil dari kepala centeng.


Kepiawaiannya dalam berkelahi dan mengatur


strategi keamanan menjadi penilaian sendiri bagi presiden direktur perusahaan


itu. Sehingga ia dipilih menjadi centeng pribadi dari sang sekretaris, Anne Van


Den Berg.


Kesetiaan Bargo terhadap majikan membuat si


noni mempercayai untuk menjalankan misi rahasianya saat ini. Menjaga tawanan


orang penting yang telah berkhianat padanya. Otak nya selalu diracuni, bahwa


perempuan ini telah menggelapkan uang perusahaan sebesar tujuh juta gulden.


“Nilai yang banyak”, kekeh Bargo.


Sifat kejamnya pun muncul saat dia


mendengarkan penjelasan gamblang dari majikannya tersebut.


“Apakah kita perlu menculiknya non?”


“Tidak perlu Bargo, seseorang sudah


melakukannya. Kamu tinggal menjaga dia agar tidak kabur dari gubug itu dan

__ADS_1


memberinya makan setiap hari. Aku tidak mau dia mati terlalu mudah”.


“Emm, mengapa noni tidak mau dia mati.


Bukankah dia tidak layak hidup?” geram Bargo marah.


“Ouuh, itu?” memikirkan jawaban yang masuk


akal.


“Dia harus melalui sidang dulu di Musapat


Banten”, lanjutnya lagi.


Disinilah dia sekarang membeliakan matanya,


tak percaya. Hampir saja makanan yang ia bawa jatuh berantakan, saking


terkejutnya.


“Dik Darsi, ini kamu?”


“Kang Bargo, tolong aku”, rintih perempuan


itu.


Jongkok di sisinya dia melihat keadaan


bergejolak. Meletakan makanan yang dibawanya ke atas dipan. Dia pun melepaskan


tali yang mengikat kedua tangan Darsi. Dielusnya dengan sayang wajah itu.


Sejurus kemudian rambutnya dirapikan dan digelung ke atas.


Dengan kedua mata yang memerah menahan


tangis, Bargo mendudukan Darsi ke atas dipan. Menyuapinya dengan makanan yang


ia bawa.


“Makanlah dik. Biar badanmu punya tenaga”.


Dia menggelengkan kepalanya lemah.


“Ayolah makan, kasihan anak dalam perutmu


itu”, bujuknya lagi.


“Hiks....hiks. Tidak kang. Bisa kah kamu


membantuku lari dari sini. Aku lelah kang. Aku sudah tidak tahan dengan siksaan

__ADS_1


ini. Apa salahku kang?”


Tak mampu menjawab, Bargo hanya mengelus


kepalanya sayang. Ditepuk-tepuknya punggung Darsi pelan seolah memberikan


kekuatan lebih.


“Makanlah dik. Kamu pasti memerlukan tenaga


untuk pelarianmu nanti”.


“Sungguh. Kang Bargo akan membantuku?”


tanyanya penuh harapan.


“Sssst, ini rahasia kita. Bertingkah lakulah


seperti biasa agar tak ada yang curiga”.


“Baiklah kang”.


“Sekarang makanlah. Aku akan suapi kamu”.


“Te...terima kasih kang. Hiks...hiks”.


Darsi menelan suapan dengan tangisan


tertahan. Tak mampu berbuat apa pun Bargo mengepalkan tangan kirinya menahan


gejolak emosi.


“Semoga kamu kuat dik menerima cobaan ini”,


batinnya.


“Sekarang istirahatlah, pulihkan tubuhmu”.


Begitu suapan berakhir, Bargo mengulurkan


batok kelapa berisikan air putih kepadanya.


Setelah itu dia membawa wadah makanan keluar


gubug. Saat mencuci barang tersebut di pancuran belakang, ia mengepalkan


tangannya dengan emosi tertahan.


“Tunggu saja aku akan membalaskan sakit


hatimu, dik Darsi. Penipu kamu Anne!”, geramnya.

__ADS_1


__ADS_2