
Terdengar suara mobil meninggalkan halaman, aku yakin kalau Jay
sudah berangkat ke kantor hari. Dari balik kelambu lantai dua kelihatan sudah
tidak ada orang sama sekali. Bahkan Jeff dan rekannya tak tampak batang
hidungnya. Ku mendengus sebal,
“Pada kemana tuh orang. Tumben-tumbenan bodyguardnya dibawa semua”.
“Sutiiii honey”, teriak mama Laura mengagetkan ku.
“Ya ma, ada apa?” sahutku sembari membuka pintu kamar.
“Sweety, lihat mama sudah masak banyak. Semua menu kesukaan Jay,
nanti siang antarkan ke kantor!”
“Tapi ma”, jawabku ogah-ogahan.
“Tak ada bantahan, mulai sekarang kamu harus lebih perhatian sama
dia, biar mama segera bisa punya cucu….ingat Suti cucu yang lucu dan
menggemaskan”, kata mama sambil mengerucutkan kedua telapak tangannya seolah
mencubit pipi yang gembil nan menggemaskan.
“Yaaah, baiklah”, sahutku mengalah.
“Perfect, Wati siapkan box makanan buat tuan Jay, ya!”
“Baik nyonya besar”.
“Dan kamu Suti, ayo segera dandan yang cantik, pakai out fit
terbaru yang cetar kayak Syahrini. Biar si Jay tergila-gila padamu. Jangan lupa
ber-make up juga tapi jangan terlalu menor. Pakai gaya natural, dia suka itu”,
kata mama heboh.
Kuhanya tersenyum canggung.
“Ayo cepat…cepat nanti keburu siang”, dia mendorongku pelan menuju
kamar tuk bersiap-siap.
Di dalam mobil tampak Tarno melirik majikannya dari spion. Ia
hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan sang majikan yang tampak
antusias dengan semua pemandangan yang terpampang dibalik jendela mobil.
Matanya yang berbinar-binar dan sesekali mengangguk seolah berkomunikasi dengan
kilasan kejadian yang dilewatinya. Terkadang dia mengerucutkan mulutnya
membentuk huruf ‘O’ kecil.
“Ah tak habis pikir aku. Mengapa nyonya muda seperti orang yang
baru dikeluarkan dari ruang isolasi”, monolognya.
“Pak Tarno, mengapa melihatku terus? Konsen pak pada mobilnya,
nanti nabrak baru tahu tuh”, protesku.
“Eh iya maaf nyonya”.
“Jangan panggil saya nyonya jika tidak ada Jay atau mama, panggil
saja nona. Mengerti pak!”
“Baiklah nona Suti. Apakah anda mau langsung ke kantor atau mampir
kemana dulu?”
“Ke toko kue pak ambil pesananku yang kemarin”.
“Yang dekat C & C mall itu nona?”
“Heem”.
“Baiklah Tarno in service”, jawabnya lagi menirukan gaya film laga
yang tadi malam ditontonnya.
Aku tergelak, dasar penggemar Netflix.
Cartwright building.
“Selamat siang mbak Santi”.
“Selamat siang nona, ada yang bisa saya bantu?”, tanyanya sembari
menangkupkan kedua tangannya di dada.
“Saya mau bertemu Mr. Jay, apakah dia ada?”
__ADS_1
“Ada, beliau ada di kantornya. Silahkan tunggu sebentar saya akan
konfirmasi ke sekretarisnya”.
“Ya silahkan”.
“Tuuut…….tuuut…..tuuut”.
Terdengar nada panggil dari alat itu, tapi hampir lima belas menit
tidak ada yang mengangkat. Dengan sedikit gugup Santi memanggilku yang sedang
menunggu di lounge kantor.
“Ma…maaf nona sekretaris tuan Jay tidak mengangkat teleponnya,
mungkin dia ikut meeting dengan big bos”.
“Tidak apa Santi, aku langsung naik ke atas saja. Minta tolong
seseorang untuk mengantarkan”.
“Baiklah nona saya akan meminta pak Kirman kepala keamanan untuk
mengantarkan anda”.
Sedetik kemudian Santi memencet tombol intercom di depannya dan
tak beberapa lama kemudian datanglah lelaki berseragam sekuriti serta
mempersilahkanku untuk mengikutinya ke lift.
“Wuuung”.
“Ting”.
“Silahkan nona kita sudah sampai dikantor Mr. Jay. Anda tinggal
melewati lorong ini sampai menemukan meja sekretarisnya di depan pintu yang
bertuliskan direktur”.
“Trimakasih pak Kirman, maaf merepotkan anda”, sahutku sopan.
“Ah itu sudah tugas saya nona, maaf tidak bisa mengantarkan anda
sampai ke ruangannya. Karena saya masih harus melanjutkan tugas”.
“Tidak apa-apa pak, selamat melanjutkan tugasnya”.
Gegas aku keluar dari lift dengan menenteng box makanan di tangan
toko kue Sabrina. Dengan langkah mantap serta hati gembira, mengikuti arahan
pak Kirman sampailah aku di depan pintu ruangan Jay.
Saat netraku menangkap meja sekretaris yang kosong, ku
mengerenyitkan dahi.
“Kemana dia, ah mungkin sedang di ruang meeting seperti dugaan Santi
tadi”, pikirku positif.
“Apa yang harus kulakukan, dimana aku menunggu? Oh lebih baik
kutunggu di kantornya saja, daripada repot dengan bawaan ini”, batinku.
Ku alihkan box kue ulang tahun ke tangan kiriku serta dagu sedikit
menunduk agar tak terjatuh atau bergeser saat aku membuka pintu. Tangan kananku
yang terbebas mulai meraih handle dan membukanya, seketika mataku terbeliak
sempurna dan barang bawaanku jatuh berserakan didepan pintu.
“Jay….selly apa yang kalian lakukan?”, teriak ku membahana.
Kedua orang itu terkejut serentak menghentikan kegiatannya.
“Blaammm”, pintu kubanting keras.
Terkejut dan bingung aku lari meninggalkan ruangan itu. Tak
kupedulikan semuanya asal dapat menjauh dari pemandangan yang menyakitkan hati.
Dengan gugup melangkah tak tentu arah, hingga mencapai pintu lift yang menuju
ke lantai bawah.
“Ting”.
Tergesa kumasuki lift yang ternyata tak seorang pun disana. Menata
napas yang tersengal, kupejamkan mata. Mencerna apa yang terjadi.
“Brengsek….bajingan dasar pelacur murahan lelaki don yuan”,
umpatku kasar di iringi air mata yang mulai mengalir deras.
__ADS_1
“Tega kamu Jay…..tega”.
Saat indikator lift menunjukan angka satu, gegas keluar dari sana.
Serta dengan terburu-buru aku lari menuju parkiran. Tak kuhiraukan sapaan sopan
Santi yang kebingungan melihat ulahku.
Pak tarno yang sedang bersender dibangku kemudi pun kaget saat
dengan kasar kubuka pintu penumpang dan menghempaskan bokongku ke atasnya.
“Jalan pak!”
“Baik non”.
Suara mobil distarter serta tuas gigi beralih kesatu tanda
kendaraan itu siap berjalan.
“Brrrrrrmmmm”.
Pelan-pelan meninggalkan gedung perkantoran
Tarno melirik majikannya dari kaca spion sambil mengerutkan dahi.
Kerutannya semakin banyak ketika netranya menangkap bahwa nona mudanya sedang
menangis. Diulurkannya kotak tisu yang ada di dashboard mobil. Sang majikan
menerima dengan tangan kanan tanpa memperlihatkan wajah sembabnya. Menghela
napas.
“Kita langsung pulang non?”
“Em tidak, saya tidak mau melihat mama bersedih dengan keadaanku
sekarang”.
“Jadi nona minta diantar kemana?”
“Kita ke desa Prigen saja pak, kerumah lek Parjo”.
“Hah itu kan jauh non, bagaimana kalau nyonya besar dan tuan Jay
mencari nanti?”
“Tidak akan pak, kita akan pulang sebelum makan malam. Aku hanya
ingin menenangkan pikiran barang sebentar”.
“Baiklah”.
Di kantor Jay, Cartwright building.
“Oh damn, turun dari meja Selly!”, perintah Jay kasar.
“Tapi Jay kita kan belum selesai”, desahnya manja sembari
menggigit bibir bawahnya.
Jay mengetatkan kedua tangannya ke meja dan,
“Braaak”
Selly terjengit kaget dan buru-buru turun serta merapikan roknya
yang tersingkap keatas. Berdiri serta mengancingkan blousenya.
“Pergi tinggalkan aku sendiri!”, bentak Jay dengan penuh
kemarahan.
Buru-buru meninggalkan ruangan Selly pun menutup pintu menuju meja
kerjanya. Merapikan dirinya yang berantakan, dia mengambil cermin dari tas
kerja serta memoleskan bedak dan gincu dibibirnya. Bayangan dicermin memantulkan
senyum sinis nan jahat darinya,
“Akhirnya dendamku terbalas”, batinnya.
Tak beberapa lama kemudian dia menuju toilet wanita diujung
koridor sambil mengenggam handphone. Setelah meyakinkan diri bahwa dia
satu-satunya di ruangan itu nada panggilan terdengar.
“Good morning Mr.clark. Aku sudah mencapai tujuanku……ya misiku
terlaksana. Jangan kuatirkan itu…..sebentar lagi dia sepenuhnya milik anda. Betul…segera
kutunggu bayaranku. Tidak…tidak aku mau tunai dalam US dollar. Ya ke rekening
yang kukirimkan ke asisten mu. Okay kutunggu kabar selanjutnya”.
“Deal”, hanya itu jawaban dari sana.
__ADS_1