MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB LXXIII


__ADS_3

Mansion Cartwright.


“Ada perkembangan baru Jeff?” suara Laura ke orang yang ada


diseberang telepon.


“Mereka belum keluar dari kamar, bos sejak tadi malam”.


“Apa mereka bertengkar?”


“Keributannya hanya sebentar. Setelah itu saya tidak mendengar


teriakan atau umpatan apapun”.


“Fine. Ikuti terus tuan muda dan nonamu. Jangan berkedip


sedikitpun, paham”.


“Paham bos”.


“Heem”.


“Klik”.


Laura akhirnya tersenyum sembari memandang bunga yang bermekaran


dari atas balkon kamarnya. “Akhirnya Bob kita akan menimang cucu. Kau mau


laki-laki atau perempuan. Atau keduanya. Pasti akan sangat menyenangkan. Kau


mendengarkanku sayang dari atas sana. Tentu saja, ”bisik Laura lirih.


Sementara dilantai bawah kesibukan Mansion mulai terdengar. Para


pelayan dan pekerja memulai kegiatannya. Rumah itu mulai bangkit seperti dulu,


dengan dipanggilnya kembali mereka yang pernah diberhentikan karena keadaan


financial The Cartwright yang tak mendukung.


Tawa tertahan dari kesibukan didapur terdengar, kala sang koki


kepala salah menyebutkan nama asisten rumah tangga. Dengan memanggil nama


mereka terbolak balik antara ‘Sinta dan Santi’, dua kakak adik yang berasal


dari Prigen.


Keduanya adalah orang kiriman Lek Parjo untuk mengawasi sang


keponakan nantinya apabila sudah kembali ke Mansion.


“Yah dua gadis padepokan yang disamarkan menjadi asisten rumah


tangga demi kenyamanan sang nona”.


Kembali telepon di genggaman Laura berdering. Jeff sang ketua


bodyguard memberitahukan sang nyonya, jika tuan muda dan nona akan pulang


sesudah makan malam. Laura pun mengangguk dan tetap memerintahkan sang pengawal


untuk menjaga keselamatan keduanya.


Tepat pukul tujuh tiga puluh, Laura turun dari kamarnya menuju


ruang makan. Netranya menangkap sang koki kepala yang tengah menyiapkan menu


kegemarannya.


Dia mendekat dan mengucapkan selamat pagi kepada semua yang ada di


ruangan. Seorang pelayan laki-laki pun menggeser kursi buat sang majikan dan

__ADS_1


mempersilahkannya duduk.


Mengibas lembut napkin diatas meja. Meletakannya dipangkuan sang


nyonya.


Laura pun mengucapkan terima kasih serta memulai ritual makan pagi


dengan penuh selera. Tanpa terasa sampai menambah tiga kali menu berbeda dalam


piringnya.


Chef kepala sampai menggelengkan kepala, heran dengan kelakuan


absurd sang majikan. Tatkala hendak menambahkan dessert ke piring, dia


bertanya.


“Ehem, maaf jika saya lancang nyonya. Apa perut anda baik-baik


saja dengan menu sarapan pagi ini?”


“Ya, aku baik saja. Mengapa kamu bertanya hal itu?”


“Maaf nyonya, “jawabnya sambil memberi kode ke atas meja.


“Whaat! Itu semua aku yang menghabiskan?”


Sedikit tersenyum, “Betul nyonya”.


“Ouh pantas saja perutku sedikit sesak, “tukasnya datar.


Laura pun menyudahi sarapan pagi dengan meminum segelas air putih.


Dan di akhiri dengan mengusap lembut bibirnya menggunakan napkin yang ada di


pangkuan. Meletakan kembali benda itu ke atas meja.


bodyguardnya untuk berkumpul. Begitu juga dengan para pegawai laki-laki yang


ada di mansion.


Meminta mereka untuk mengatur ulang semua ruangan, karena


kedatangan menantu dan anak tunggalnya dari hotel.


Terutama kamar Jay dan Suti, mereka harus mendekor ulang


interiornya. Agar tak tersisa jejak-jejak masa lalu yang menimbulkan kesedihan


bagi siapa pun yang melihat. Dengan mengganti semua barang lama menjadi baru. Saat


semua instruksi telah diterima dengan baik. Mereka pun bubar menuju tugas


masing-masing.


Tak beberapa lama kemudian, The Robinson Moving pun datang. Maka dimulailah


kesibukan seluruh pegawai dan pengawal pribadi Mansion.


Mereka menjalankan tugasnya tanpa bertanya lagi. Hingga semuanya


telah usai, saat makan siang menjelang.


***


Di hotel Horizon.


Suti dan Jay tengah menikmati brunch di lobi kamar. Sengaja mereka


lakukan karena ingin menikmati momen makan berdua yang santai. Sambil menikmati


pemandangan di luar sana.

__ADS_1


Kamar mereka yang menghadap ke kolam dan zona hijau hotel, membuat


keduanya merasa healing.


“Kamu bahagia sayang?” tanya Jodi sambil mengusap sudut bibir


istrinya yang merah oleh selai strawberry.


Lalu jempol yang dia gunakan untuk mengusap pun dibersihkan dengan


menjilatinya, menggoda.


Suti menunduk malu dengan semburat merah dipipi.


“Apa itu?” tanya Jay sambil menangkup wajah istrinya.


“Jay~masih pagi tahu?”


“Aku tahu sayang. Tapi olah raga pagi berdua akan sangat


menyenangkan bukan?”


“Di kolam renang, Jay?” tanyanya bloon.


“Ha…ha…ha. Maksudku olahraga membuat adonan, sayang”.


“Adonan?”


“Ya adonan. Gerakan memutar dan mengaduk seperti tadi malam, “bisiknya


di telinga sang istri.


“Heum, Jay. Kamu nakal, “dicubitnya pelan lengan sang suami.


“Ha…ha…ha”.


Kembali digendongnya Suti ala pengantin ke dalam kamar. Dibaringkannya


ke atas kasur, menatap tepat di manik hitam sang istri. Dan mereka pun


terhanyut dalam sebuah adegan yang alami.


Sebuah scene dengan nama insting dasar, cinta sejati. Yang membuat


sebuah pasangan tak bisa menahan diri. Merasa rindu pada saat berjauhan. Tak nyaman


apabila tidak bersentuhan.


Mereka pun menikmatinya. Hingga ke empat kalinya. Dengan peluh


bercucuran, keduanya terlelap dalam selimut tipis hingga tanpa terasa sang


fajar penguasa siang tergelincir di ufuk barat.


Jeff mengawasi kamar sang bos dengan posisi yang santai. Menghisap


rokok dan minum kopi hitam dari cangkir. Mengarahkan teropong infra merahnya,


dan menggeleng pelan.


“Mereka sangat~sangat…., “pikir Jeff tak meneruskan kalimat mesum


yang mencuat. Dia pun hanya tersenyum simpul.


“Sebentar lagi pasti Mansion akan sangat ramai dengan munculnya


sang pewaris. Wow aku sangat bersemangat akan hal itu, “gumam Jeff sambil


meletakan kepala di tangan sebagai bantalan.


Kedua kakinya diangkat keatas kursi didepannya. Dia pun melamun


membayangkan kelucuan yang akan terjadi di mansion The Cartwright.

__ADS_1


__ADS_2