
Mansion Cartwright.
“Ada perkembangan baru Jeff?” suara Laura ke orang yang ada
diseberang telepon.
“Mereka belum keluar dari kamar, bos sejak tadi malam”.
“Apa mereka bertengkar?”
“Keributannya hanya sebentar. Setelah itu saya tidak mendengar
teriakan atau umpatan apapun”.
“Fine. Ikuti terus tuan muda dan nonamu. Jangan berkedip
sedikitpun, paham”.
“Paham bos”.
“Heem”.
“Klik”.
Laura akhirnya tersenyum sembari memandang bunga yang bermekaran
dari atas balkon kamarnya. “Akhirnya Bob kita akan menimang cucu. Kau mau
laki-laki atau perempuan. Atau keduanya. Pasti akan sangat menyenangkan. Kau
mendengarkanku sayang dari atas sana. Tentu saja, ”bisik Laura lirih.
Sementara dilantai bawah kesibukan Mansion mulai terdengar. Para
pelayan dan pekerja memulai kegiatannya. Rumah itu mulai bangkit seperti dulu,
dengan dipanggilnya kembali mereka yang pernah diberhentikan karena keadaan
financial The Cartwright yang tak mendukung.
Tawa tertahan dari kesibukan didapur terdengar, kala sang koki
kepala salah menyebutkan nama asisten rumah tangga. Dengan memanggil nama
mereka terbolak balik antara ‘Sinta dan Santi’, dua kakak adik yang berasal
dari Prigen.
Keduanya adalah orang kiriman Lek Parjo untuk mengawasi sang
keponakan nantinya apabila sudah kembali ke Mansion.
“Yah dua gadis padepokan yang disamarkan menjadi asisten rumah
tangga demi kenyamanan sang nona”.
Kembali telepon di genggaman Laura berdering. Jeff sang ketua
bodyguard memberitahukan sang nyonya, jika tuan muda dan nona akan pulang
sesudah makan malam. Laura pun mengangguk dan tetap memerintahkan sang pengawal
untuk menjaga keselamatan keduanya.
Tepat pukul tujuh tiga puluh, Laura turun dari kamarnya menuju
ruang makan. Netranya menangkap sang koki kepala yang tengah menyiapkan menu
kegemarannya.
Dia mendekat dan mengucapkan selamat pagi kepada semua yang ada di
ruangan. Seorang pelayan laki-laki pun menggeser kursi buat sang majikan dan
__ADS_1
mempersilahkannya duduk.
Mengibas lembut napkin diatas meja. Meletakannya dipangkuan sang
nyonya.
Laura pun mengucapkan terima kasih serta memulai ritual makan pagi
dengan penuh selera. Tanpa terasa sampai menambah tiga kali menu berbeda dalam
piringnya.
Chef kepala sampai menggelengkan kepala, heran dengan kelakuan
absurd sang majikan. Tatkala hendak menambahkan dessert ke piring, dia
bertanya.
“Ehem, maaf jika saya lancang nyonya. Apa perut anda baik-baik
saja dengan menu sarapan pagi ini?”
“Ya, aku baik saja. Mengapa kamu bertanya hal itu?”
“Maaf nyonya, “jawabnya sambil memberi kode ke atas meja.
“Whaat! Itu semua aku yang menghabiskan?”
Sedikit tersenyum, “Betul nyonya”.
“Ouh pantas saja perutku sedikit sesak, “tukasnya datar.
Laura pun menyudahi sarapan pagi dengan meminum segelas air putih.
Dan di akhiri dengan mengusap lembut bibirnya menggunakan napkin yang ada di
pangkuan. Meletakan kembali benda itu ke atas meja.
bodyguardnya untuk berkumpul. Begitu juga dengan para pegawai laki-laki yang
ada di mansion.
Meminta mereka untuk mengatur ulang semua ruangan, karena
kedatangan menantu dan anak tunggalnya dari hotel.
Terutama kamar Jay dan Suti, mereka harus mendekor ulang
interiornya. Agar tak tersisa jejak-jejak masa lalu yang menimbulkan kesedihan
bagi siapa pun yang melihat. Dengan mengganti semua barang lama menjadi baru. Saat
semua instruksi telah diterima dengan baik. Mereka pun bubar menuju tugas
masing-masing.
Tak beberapa lama kemudian, The Robinson Moving pun datang. Maka dimulailah
kesibukan seluruh pegawai dan pengawal pribadi Mansion.
Mereka menjalankan tugasnya tanpa bertanya lagi. Hingga semuanya
telah usai, saat makan siang menjelang.
***
Di hotel Horizon.
Suti dan Jay tengah menikmati brunch di lobi kamar. Sengaja mereka
lakukan karena ingin menikmati momen makan berdua yang santai. Sambil menikmati
pemandangan di luar sana.
__ADS_1
Kamar mereka yang menghadap ke kolam dan zona hijau hotel, membuat
keduanya merasa healing.
“Kamu bahagia sayang?” tanya Jodi sambil mengusap sudut bibir
istrinya yang merah oleh selai strawberry.
Lalu jempol yang dia gunakan untuk mengusap pun dibersihkan dengan
menjilatinya, menggoda.
Suti menunduk malu dengan semburat merah dipipi.
“Apa itu?” tanya Jay sambil menangkup wajah istrinya.
“Jay~masih pagi tahu?”
“Aku tahu sayang. Tapi olah raga pagi berdua akan sangat
menyenangkan bukan?”
“Di kolam renang, Jay?” tanyanya bloon.
“Ha…ha…ha. Maksudku olahraga membuat adonan, sayang”.
“Adonan?”
“Ya adonan. Gerakan memutar dan mengaduk seperti tadi malam, “bisiknya
di telinga sang istri.
“Heum, Jay. Kamu nakal, “dicubitnya pelan lengan sang suami.
“Ha…ha…ha”.
Kembali digendongnya Suti ala pengantin ke dalam kamar. Dibaringkannya
ke atas kasur, menatap tepat di manik hitam sang istri. Dan mereka pun
terhanyut dalam sebuah adegan yang alami.
Sebuah scene dengan nama insting dasar, cinta sejati. Yang membuat
sebuah pasangan tak bisa menahan diri. Merasa rindu pada saat berjauhan. Tak nyaman
apabila tidak bersentuhan.
Mereka pun menikmatinya. Hingga ke empat kalinya. Dengan peluh
bercucuran, keduanya terlelap dalam selimut tipis hingga tanpa terasa sang
fajar penguasa siang tergelincir di ufuk barat.
Jeff mengawasi kamar sang bos dengan posisi yang santai. Menghisap
rokok dan minum kopi hitam dari cangkir. Mengarahkan teropong infra merahnya,
dan menggeleng pelan.
“Mereka sangat~sangat…., “pikir Jeff tak meneruskan kalimat mesum
yang mencuat. Dia pun hanya tersenyum simpul.
“Sebentar lagi pasti Mansion akan sangat ramai dengan munculnya
sang pewaris. Wow aku sangat bersemangat akan hal itu, “gumam Jeff sambil
meletakan kepala di tangan sebagai bantalan.
Kedua kakinya diangkat keatas kursi didepannya. Dia pun melamun
membayangkan kelucuan yang akan terjadi di mansion The Cartwright.
__ADS_1