
Jay memarkirkan mobilnya dihalaman, ia memanggil Agus sang
sekuriti yang bertugas tuk membawa mobilnya ke garasi. Terburu-buru langkahnya
memasuki rumah, tak dipedulikan ketika Wati mengucapkan salam padanya.
Dilonggarkan dasinya, menaiki tangga dua-dua bukan satu seperti
yang biasa dia lakukan. Kecemasan tampak tersirat dari wajah. Rahangnya
mengetat dan tanggannya mengepal. Dengusan kasar tersembur dari bibir. Tak
sabar ia membuka pintu kamar dengan kasar.
Makian siap ia lontarkan ketika netranya melihat rambut panjang
istrinya yang tergerai diatas bantal dan tangannya memeluk guling menghadap
tembok. Emosinya langsung lenyap seketika. Dengan sedikit berjingkat, seolah
tak ingin membangunkan si penghuni kamar, Jay meletakan tasnya di atas meja,
menuju almari pakaian mengambil piyama serta gegas ke kamar mandi.
Guyuran air hangat dari shower menghilangkan jejak emosi yang
bercokol dalam jiwa Jay. Dengan lembut mencuci rambut memakai shampoo beraroma
lavender kesukaannya. Ia menikmati ritual mandi hampir setengah jam. Setelah
dirasa gejolak jiwanya mulai surut dia mengeringkan tubuh dengan handuk.
Mengenakan piyama, menuju tempat tidur. Sesaat setelah merebahkan
diri disamping Suti, ia memandangi wajahnya yang terlelap damai. Nampak sedikit
bengkak disekitar mata, tapi senyuman terukir jelas di bibir mungil itu.
Menghela napas Jay mulai menyusul istrinya ke alam mimpi.
Ke esokan hari.
Jay terbangun jam setengah tujuh pagi, mengerjapkan mata sebagai
tanda bahwa ia siap menyambut hari yang padat dengan schedule-schedule
perusahaan. Tangan kanannya meraba sisi tempat tidur, dingin. Ia pun
memfokuskan pendengaran pada bunyi air yang ada dikamar mandi namun nihil.
Dengan cemas disingkapkan selimut yang menutupi tubuh, ia beranjak
dengan terburu-buru tuk keluar kamar. Gerakannya terhenti ketika dia mendengar
tawa mamanya yang sedang menggoda Suti dari arah taman belakang rumah. Itu
adalah tempat favorit Laura dengan menantunya menghabiskan waktu di pagi hari
sebelum menikmati sarapan pagi diruang makan sekitar jam setengah delapan.
Menuju jendela, Jay menyingkap korden kamar menengok kebawah,
dimana mamanya dan Suti sedang bercengkerama sembari kedua tangannya sibuk merawat
bunga mawar dan anggrek yang sedang bermekaran menunjukan keindahan kelopak
mereka yang berwarna warni.
“Bagaimana dengan tulip yang aku pesan dari ‘Nanda florist’.
Apakah sudah diantar?”, batin Jay.
Merasa ada yang menatap dari lantai dua, Suti mendongakan kepala
dan memandang tajam ke arahnya. Mata nan keji dan hijau menyorotkan rasa
kebencian yang mendalam. Jay tersentak,
“Apakah itu Suti istriku?”, tanyanya dalam hati. Menggelengkan
kepala, sedetik kemudian ia melihat lagi kearah istrinya yang tampak normal
dengan pupil hitam besar nan cantik.
Dia menghela napas, “ternyata aku salah lihat, perempuan itu
tampak normal”. Menutup korden, menuju kamar mandi. Sayup-sayup Jay mendengar
__ADS_1
cekikikan mamanya kembali, entah apa yang mereka bicarakan.
“Hayo lihat apa kamu?”
“Eh mama bikin kaget saja”.
“Mangkanya jangan melamun pagi-pagi ntar kesambet loh”.
Tersenyum terselubung Suti menjawab, “kayaknya Jay sudah bangun
deh ma”.
“Ya sudah cepat sana, siapkan keperluan suamimu sebelum berangkat
ke kantor”.
“Oke ma. Kutinggal dulu ya, tak apa-apa kan?”, jawabnya memastikan.
“Tentu saja, kamu pikir apa yang akan terjadi denganku di pagi
yang cerah ini. Cepat bergegas, jangan kuatirkan mama”.
“Emmm, baiklah”.
Gegas Suti melewati pintu samping, penghubung mansion dengan taman
bunga. Menuju lantai dua dengan melewati anak tangga melingkar yang ada disudut
ruang keluarga. Membuka pintu perlahan, terdengar suara gemericik air dari
kamar mandi.
Ia pun menuju almari tuk mengambil setelan baju kerja Jay, celana
abu mentah dipadukan dengan kemeja warna biru navy serta dasi senada.
Diambilnya jas dari sisi almari yang berbeda dan segera meletakan semuanya di
atas tempat tidur. Teringat hal yang kurang kembali ia menuju kesana membuka
laci dan memilih kaos kaki berwarna abu gelap tuk dikenakan hari ini.
Mengenakan wardrobe Jay keluar dari kamar mandi. Netranya melihat
istrinya yang tengah sibuk menyiapkan setelan yang akan dia kenakan. Sorot
dalam berwarna putih disusul dengan celana serta kemeja warna navy. Kemudian tangan
kanannya terjulur ke arah Suti sebagai pertanda meminta dipasangkan dasi.
Suti meraih benda tersebut dan menyimpulkannya ke leher Jay, tanpa
kata dan hanya fokus kepada potongan kain berwarna biru dongker yang berbentuk
seperti lidah katak, lancip diujung.
Jay memandangi wajah istrinya yang sibuk memasangkan dasi dan
mencoba mencari-cari jawaban atas kejadian kemarin. Tak menemukan apa pun
karena Suti hanya diam tak bersuara. Memecah kekakuan yang sedang berlangsung
dia membuka suara,
“Apakah kamu mengantarkan makan siangku hari?”
Suti hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
“Kamu akan berbelanja dengan mama?”
Lagi-lagi hanya gelengan kepala yang dia dapatkan. Putus asa
dengan usahanya untuk mengajak berbicara ia memilih diam dan meraih jas dari
atas kasur.
Menuju ruang makan. “Temani aku sarapan pagi!”, pintanya sebelum
menutup pintu.
Hanya helaan napas yang diberikan oleh Suti sebelum menyusul Jay
ke lantai bawah.
Melbourne Australia, disebuah apartemen mewah.
“Hi honey, what are you doing?”, tanya seorang gadis bule pada
__ADS_1
seorang pria gagah nan menawan dari balik punggungnya.
“Nothing”, sahutnya pendek.
“Lantas ada apa dengan kerutan di dahimu itu?”, tanyanya lagi.
“Kuatir padaku heemmm?”
“Oh ayolah Clark, aku sudah menemanimu bertahun-tahun. Aku tahu
semua isi kepalamu hanya dari ekpresi wajahmu”.
“Ha…ha…ha, kamu benar honey”.
“Well”.
“Tidak ada hanya saja aku merasa senang karena dia sudah kembali”.
“Maksudmu makhluk itu?”
“Yeah, siapa lagi. Dan aku sudah siap menjadi majikannya lagi.
Ha….ha…ha”, tawa puas membahana.
“As you wish honey”, perempuan itu hanya mengedikan bahu.
Ruang makan mansion Cartwright.
“Honey, mengapa porsi sarapanmu sedikit sekali hari ini?”, suara
mama Laura memecah keheningan di meja makan.
“Tidak apa-apa ma”, jawab Suti kalem.
“Apakah kamu sakit. Lihatlah wajahmu itu sangat pucat. Apa perlu
ke rumah sakit?”
“Aku……ah tidak ma, mungkin hanya masuk angin saja”.
Jay meletakan sendok dan garpu yang dipegangnya, menelengkan
kepala ke arah samping dimana Suti duduk. Mengerenyitkan dahi sembari memandang
intens istrinya. Lantas bergumam dalam hati,
“Dia tampak sehat-sehat saja hanya wajahnya sedikit pucat. Dan hei
apa itu, sinar matanya ada yang sedikit berbeda”.
Sejenak menggelengkan kepala sebelum pikiran warasnya merajai.
“Mungkin kamu harus mendengarkan kata mama untuk pergi ke dokter”.
“Emmm, tidak. Aku rasa hanya perlu istirahat sedikit”, elaknya.
“Atau kupanggilkan dokter keluarga?”
Tampak Laura ikut menggangguk tanda setuju.
“Tidak perlu Jay aku baik-baik saja. Istirahat sebentar di kamar
pasti memulihkan tenagaku”.
“Terserah kau saja. Nanti telepon aku bila ada yang tidak beres”.
Meletakan serbet di atas meja sebelum mencium ubun-ubun istrinya
seraya berucap, “aku pergi dulu istirahatlah yang cukup!”
Suti sedikit tersentak dengan perlakuan manis itu. Jiwanya mulai
berontak. Sisi manusianya merasa hangat karenanya sedangkan sisi iblis direlung
hati terdalam tersenyum sinis. Seolah tak terpengaruh dengan segala perubahan
sikap Jay yang cenderung manis.
“Mungkinkah ini tebusan atas perselingkuhannya dengan Selly
beberapa hari yang lalu?”, Suti tak habis pikir. Hanya senyuman yang dia
berikan saat melepas Jay didepan pintu utama mansion.
“Brmmmm”, deruman mobil meninggalkan halaman.
Gegas Suti masuk kedalam rumah tuk beristirahat dikamar.
__ADS_1