MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB LI


__ADS_3

“Truuut…truut”.


“Halo Laura speaking”.


“Pa-pagi mom”.


“Su-Suti…is that you?”


“Ya mom ini Suti. Hiks…hiks…hiks. Aku merindukan kalian. Bagaimana


kabar Jodi?”


“Sudah…sudah kamu jangan menangis. Mama juga merindukanmu.


Bagaimana kabarmu?”


“Aku baik-baik saja. Maafkan aku mom, tidak bisa menemuimu. Aku


takut mencelakai kalian”.


“Mama tahu sweety. Jangan kuatirkan kami. Jodi pun baik-baik


saja”.


“Apa dia sudah sadar?”


“Emm itu…belum. Kata dokter tidak ada yang salah dengan fisiknya.


Semua baik-baik saja. Hanya saja dia belum mau membuka matanya”.


“Aku ingin menengoknya mom, tapi aku masih belum bisa


mengendalikan makhluk ini. A-aku tak ingin mencelakai Jodi”.


“Aku tahu sayang…aku tahu bersabarlah. Lek Parjo sedang


mengusahakannya”.


“Apa mama sudah kesana?”


“Sudah. Dia bilang masih berusaha mencari keberadaan ki Nogo”.


“Petapa itu. Bukankah dia sudah meninggal berabad yang lalu?”


“Belum, honey. Dia masih hidup. Yang mati adalah nyi Darsi,


leluhurmu”.


“Baiklah mom. Aku juga sedang berusaha menetralkannya. Sampai


ketemu lagi. Jaga diri mama baik-baik”.


“Tentu sayang. Kamu pun juga demikian”.


“Sure mom. Good bye”.


“Good bye dan jaga diri baik-baik”


“Heem”.


“Klik”.


***


“Hei Jay, ada apa, tumben kemari?”


“Aku ingin berbicara”.


“Duduklah. Apa yang ingin kamu bicarakan?”


Digenggamnya tangan perempuan itu. “Apa kamu benar-benar mencintai


Hendri?”


Tak lantas menjawab, dia hanya menggulirkan bola matanya


kesamping.


“Aku butuh jawabanmu Suti”.


“Apa itu perlu Jay. Setelah semuanya ini?”


“A-aku perlu dan itu penting bagiku. Please”.


“Lalu bagaimana dengan Selly?”


“Haaa…aku ingin jawabanmu. Bukan bertanya hubunganku dengan


perempuan itu”.


“Bukankah semua sudah jelas Jay. Apa lagi yang kau inginkan?”


“Tidak…tidak, bukan itu yang ingin aku dengar. Tolong jawablah


dengan jujur. Dari lubuk hatimu” ditunjuknya dada Suti.


Dengan malas kembali dia berujar, “Heems, apalagi Jay. Apa yang


ingin kamu dengar? Bukankah semua sudah jelas”.

__ADS_1


Menggusrak rambut dengan kasar. Kekecewaan jelas tergambar dari


sorot matanya yang memelas. Namun dia tak bisa berkata-kata lagi. Untuk sekedar


membujuk sang mantan kekasih yang masih sangat dicintainya.


Rupanya sakit hati yang diterima Suti terlalu dalam. Bahkan saat


ini pun dia membalas perlakuan Jay dengan lelaki lain.


Pria yang lebih segalanya dari dia. Pekerjaan bahkan kedudukannya


di perusahaan Negara, sangatlah menjanjikan buat seorang wanita yang ingin


berumah tangga.


“Tapi itu bukan salahku kan. Dia yang mengajaku bertaruh untuk


mencoba kesetiaan Suti. Kalau kemudian aku tertarik dengan Selly, apa yang


salah dengan itu?” batinnya.


“Jay…hei, apa yang kamu lamunkan. Pergilah ini sudah malam,


sebentar lagi tempat kos ini akan ditutup”.


“Ta-tapi Suti”.


“Sudah pergilah…tak ada lagi yang perlu dibicarakan antara kita”.


Dengan langkah gontai, Jay meninggalkan tempat itu dengan berbagai


pertanyaan yang berkecamuk di benak.


Dia menendang kerikil di gang menuju jalan raya. Menimbulkan bunyi


‘klontang’ yang sangat keras, saat batu itu mendarat ke arah tong sampah


disudut jalan.


Hatinya sangat sakit, atas ketidak mampuannya meraih kembali sang


cinta pertama. Penyesalan tak berujung atas taruhan bodoh yang sempat


terlontarkan.


Duduk di trotoar berselonjor, saat kakinya lelah berjalan. Menutupi


wajah dengan kedua tangan. Dan tangisan lirih pun terdengar.


Bahunya berguncang mengikuti deraian air mata yang tak mau


berhenti menetes. Untung saja jalanan itu sudah sepi dari lalu lalang mahasiswa


“Bodoh…bodoh” berkali-kali kata itu terucap dari mulutnya. Rambut gondrongnya,


digusraknya ke belakang. Lantas dia mengusap sisa air mata dengan


telapak tangan.


Sorot matanya menajam, kebencian pun menguar dari sana. Dikepalkan


tangan kanan membentuk tinju. “Lihat saja. Apa yang akan kulakukan padamu


Hendri” ancamnya dalam hati.


Dua hari kemudian.


Tepat malam minggu saat Jay dan band-nya menerima orderan manggung


di hotel Horizon. Ya dia disewa oleh instansi perusahaan penerbangan Negara dalam


rangka family gathering.


Seperti biasa dia selalu datang lebih lambat dari teman-temannya


yang lain. Serta dengan alasan yang sama, tidak ada kendaraan.


Saat akan ke ruang ganti, netranya melihat Suti yang baru turun


dari kendaraan umum. Gegas dia menyembunyikan diri ke pilar yang ada di lobi. Mengikuti


gerak gerik sang kekasih hati dalam diam.


Didepan pintu aula, Suti dijemput oleh Hendri. Dan mengajaknya


menuju kursi undangan VIP, khusus petinggi perusahaan.


Hendri memperkenalkan kepada rekan kerjanya sebelum menyuruhnya


duduk dikursi kehormatan. Dengan manis Suti pun menempati tempat yang


disediakan khusus untuknya.


Sebelum acara dimulai, Hendri ijin ke kamar mandi sebentar. Dan kembali


lagi lima belas menit kemudian. Merasa penasaran dengan apa yang dilakukannya,


sang wanita pun ingin bertanya. Niatannya tidak jadi saat sang MC mengumumkan bahwa

__ADS_1


acara akan dimulai, dengan tampilan Band Jay sebagai acara pembuka.


Suti membeliakan mata. “Kenapa kamu tidak bilang padaku Hend?”


“Apa maksudmu?”


“Kalau dia pengisi acara ini”.


“Ouh…itu aku tak tahu. Perusahaan yang atur, aku hanya sebagai


tamu undangan saja” jawabnya tak acuh.


“Hem, baiklah”.


Mereka pun terdiam dan menikmati acara demi acara yang disuguhkan.


Hingga sampailah acara santai. Dengan prasmanan bebas, yang


berarti tamu memiliki kebebasan untuk duduk dimana saja sambil menikmati


hidangan yang disuguhkan.


Suti memilih makanan yang digemarinya. Menaruhnya ke piring dan


hendak meninggalkan meja hidangan. Ketika tak sengaja seseorang menubruknya


dari belakang.


“Ma-maaf. Saya tidak sengaja” kata itu terlontar dari si pelaku.


Membalikan tubuh, Suti hanya melihat perempuan berpakaian pelayan


yang mengenakan topi. Dia tidak bisa mengenali wajahnya dengan jelas.


“Tidak apa-apa”.


“Tapi baju dan rambut nona terkena tumpahan minuman ini. Saya akan


membantu anda membersihkannya”.


“Eh itu tidak perlu. Saya akan membersihkannya sendiri. Bisa tunjukan


arah toilet?”


“Di sebelah sana nona” tunjuknya ke sisi kiri aula.


“Oke”.


Tergesa-gesa Suti menuju kamar mandi. Menutup pintu dan kemudian


menyalakan air. Dia berusaha membersihkan gaun yang dikenakan dengan


menambahkan air sabun. Tapi noda itu tidak bisa hilang. Seolah ditakdirkan


untuk menempel disana.


Dengan kesal dia pun keluar dari ruangan itu. Hendak pulang ke kosan. Saat


langkahnya hampir mencapai pintu keluar aula, munculah Hendri.


“Kamu mau kemana?”


“Pulang” sahutnya acuh.


“Acaranya kan belum selesai”.


“Kamu tidak lihat gaunku. Nih” sambil menunjukan punggungnya. Terlihat


noda merah yang memanjang mencapai pinggang. Serta rambut belakangnya ada


tetesan air.


“Apa yang terjadi?” sorot matanya melembut.


“Ditumpahin sama pelayan cateringnya”.


“Gak usah pulang ke kosan. Kamu ganti baju saja di kamar 102”.


“Hah…kamu booking disitu?”


“Tidak, itu fasilitas perusahaan bagi yang mau menginap”.


“Memangnya kamu menginap disini Hend?”


“Rencananya begitu. Aku sudah menyuruh seseorang untuk


mengantarkan baju ganti buatmu”.


“E…eh, tunggu. Kalau aku kesitu. Kamu tidak akan macam-macam kan?”


selidiknya.


Disentilnya jidat Suti. “Mikir apa kamu? Nih ambil kuncinya. Bersihkan


badanmu, setelah selesai kembalikan kepadaku”.


“Oh kupikir…”


“Sudah cepat sana pergi”.

__ADS_1


Didorongnya bahu Suti pelan, yang lantas meraih kunci tersebut dan


berjalan menuju lift. Sedangkan Hendri kembali memasuki aula.


__ADS_2