
“Truuut…truut”.
“Halo Laura speaking”.
“Pa-pagi mom”.
“Su-Suti…is that you?”
“Ya mom ini Suti. Hiks…hiks…hiks. Aku merindukan kalian. Bagaimana
kabar Jodi?”
“Sudah…sudah kamu jangan menangis. Mama juga merindukanmu.
Bagaimana kabarmu?”
“Aku baik-baik saja. Maafkan aku mom, tidak bisa menemuimu. Aku
takut mencelakai kalian”.
“Mama tahu sweety. Jangan kuatirkan kami. Jodi pun baik-baik
saja”.
“Apa dia sudah sadar?”
“Emm itu…belum. Kata dokter tidak ada yang salah dengan fisiknya.
Semua baik-baik saja. Hanya saja dia belum mau membuka matanya”.
“Aku ingin menengoknya mom, tapi aku masih belum bisa
mengendalikan makhluk ini. A-aku tak ingin mencelakai Jodi”.
“Aku tahu sayang…aku tahu bersabarlah. Lek Parjo sedang
mengusahakannya”.
“Apa mama sudah kesana?”
“Sudah. Dia bilang masih berusaha mencari keberadaan ki Nogo”.
“Petapa itu. Bukankah dia sudah meninggal berabad yang lalu?”
“Belum, honey. Dia masih hidup. Yang mati adalah nyi Darsi,
leluhurmu”.
“Baiklah mom. Aku juga sedang berusaha menetralkannya. Sampai
ketemu lagi. Jaga diri mama baik-baik”.
“Tentu sayang. Kamu pun juga demikian”.
“Sure mom. Good bye”.
“Good bye dan jaga diri baik-baik”
“Heem”.
“Klik”.
***
“Hei Jay, ada apa, tumben kemari?”
“Aku ingin berbicara”.
“Duduklah. Apa yang ingin kamu bicarakan?”
Digenggamnya tangan perempuan itu. “Apa kamu benar-benar mencintai
Hendri?”
Tak lantas menjawab, dia hanya menggulirkan bola matanya
kesamping.
“Aku butuh jawabanmu Suti”.
“Apa itu perlu Jay. Setelah semuanya ini?”
“A-aku perlu dan itu penting bagiku. Please”.
“Lalu bagaimana dengan Selly?”
“Haaa…aku ingin jawabanmu. Bukan bertanya hubunganku dengan
perempuan itu”.
“Bukankah semua sudah jelas Jay. Apa lagi yang kau inginkan?”
“Tidak…tidak, bukan itu yang ingin aku dengar. Tolong jawablah
dengan jujur. Dari lubuk hatimu” ditunjuknya dada Suti.
Dengan malas kembali dia berujar, “Heems, apalagi Jay. Apa yang
ingin kamu dengar? Bukankah semua sudah jelas”.
__ADS_1
Menggusrak rambut dengan kasar. Kekecewaan jelas tergambar dari
sorot matanya yang memelas. Namun dia tak bisa berkata-kata lagi. Untuk sekedar
membujuk sang mantan kekasih yang masih sangat dicintainya.
Rupanya sakit hati yang diterima Suti terlalu dalam. Bahkan saat
ini pun dia membalas perlakuan Jay dengan lelaki lain.
Pria yang lebih segalanya dari dia. Pekerjaan bahkan kedudukannya
di perusahaan Negara, sangatlah menjanjikan buat seorang wanita yang ingin
berumah tangga.
“Tapi itu bukan salahku kan. Dia yang mengajaku bertaruh untuk
mencoba kesetiaan Suti. Kalau kemudian aku tertarik dengan Selly, apa yang
salah dengan itu?” batinnya.
“Jay…hei, apa yang kamu lamunkan. Pergilah ini sudah malam,
sebentar lagi tempat kos ini akan ditutup”.
“Ta-tapi Suti”.
“Sudah pergilah…tak ada lagi yang perlu dibicarakan antara kita”.
Dengan langkah gontai, Jay meninggalkan tempat itu dengan berbagai
pertanyaan yang berkecamuk di benak.
Dia menendang kerikil di gang menuju jalan raya. Menimbulkan bunyi
‘klontang’ yang sangat keras, saat batu itu mendarat ke arah tong sampah
disudut jalan.
Hatinya sangat sakit, atas ketidak mampuannya meraih kembali sang
cinta pertama. Penyesalan tak berujung atas taruhan bodoh yang sempat
terlontarkan.
Duduk di trotoar berselonjor, saat kakinya lelah berjalan. Menutupi
wajah dengan kedua tangan. Dan tangisan lirih pun terdengar.
Bahunya berguncang mengikuti deraian air mata yang tak mau
berhenti menetes. Untung saja jalanan itu sudah sepi dari lalu lalang mahasiswa
“Bodoh…bodoh” berkali-kali kata itu terucap dari mulutnya. Rambut gondrongnya,
digusraknya ke belakang. Lantas dia mengusap sisa air mata dengan
telapak tangan.
Sorot matanya menajam, kebencian pun menguar dari sana. Dikepalkan
tangan kanan membentuk tinju. “Lihat saja. Apa yang akan kulakukan padamu
Hendri” ancamnya dalam hati.
Dua hari kemudian.
Tepat malam minggu saat Jay dan band-nya menerima orderan manggung
di hotel Horizon. Ya dia disewa oleh instansi perusahaan penerbangan Negara dalam
rangka family gathering.
Seperti biasa dia selalu datang lebih lambat dari teman-temannya
yang lain. Serta dengan alasan yang sama, tidak ada kendaraan.
Saat akan ke ruang ganti, netranya melihat Suti yang baru turun
dari kendaraan umum. Gegas dia menyembunyikan diri ke pilar yang ada di lobi. Mengikuti
gerak gerik sang kekasih hati dalam diam.
Didepan pintu aula, Suti dijemput oleh Hendri. Dan mengajaknya
menuju kursi undangan VIP, khusus petinggi perusahaan.
Hendri memperkenalkan kepada rekan kerjanya sebelum menyuruhnya
duduk dikursi kehormatan. Dengan manis Suti pun menempati tempat yang
disediakan khusus untuknya.
Sebelum acara dimulai, Hendri ijin ke kamar mandi sebentar. Dan kembali
lagi lima belas menit kemudian. Merasa penasaran dengan apa yang dilakukannya,
sang wanita pun ingin bertanya. Niatannya tidak jadi saat sang MC mengumumkan bahwa
__ADS_1
acara akan dimulai, dengan tampilan Band Jay sebagai acara pembuka.
Suti membeliakan mata. “Kenapa kamu tidak bilang padaku Hend?”
“Apa maksudmu?”
“Kalau dia pengisi acara ini”.
“Ouh…itu aku tak tahu. Perusahaan yang atur, aku hanya sebagai
tamu undangan saja” jawabnya tak acuh.
“Hem, baiklah”.
Mereka pun terdiam dan menikmati acara demi acara yang disuguhkan.
Hingga sampailah acara santai. Dengan prasmanan bebas, yang
berarti tamu memiliki kebebasan untuk duduk dimana saja sambil menikmati
hidangan yang disuguhkan.
Suti memilih makanan yang digemarinya. Menaruhnya ke piring dan
hendak meninggalkan meja hidangan. Ketika tak sengaja seseorang menubruknya
dari belakang.
“Ma-maaf. Saya tidak sengaja” kata itu terlontar dari si pelaku.
Membalikan tubuh, Suti hanya melihat perempuan berpakaian pelayan
yang mengenakan topi. Dia tidak bisa mengenali wajahnya dengan jelas.
“Tidak apa-apa”.
“Tapi baju dan rambut nona terkena tumpahan minuman ini. Saya akan
membantu anda membersihkannya”.
“Eh itu tidak perlu. Saya akan membersihkannya sendiri. Bisa tunjukan
arah toilet?”
“Di sebelah sana nona” tunjuknya ke sisi kiri aula.
“Oke”.
Tergesa-gesa Suti menuju kamar mandi. Menutup pintu dan kemudian
menyalakan air. Dia berusaha membersihkan gaun yang dikenakan dengan
menambahkan air sabun. Tapi noda itu tidak bisa hilang. Seolah ditakdirkan
untuk menempel disana.
Dengan kesal dia pun keluar dari ruangan itu. Hendak pulang ke kosan. Saat
langkahnya hampir mencapai pintu keluar aula, munculah Hendri.
“Kamu mau kemana?”
“Pulang” sahutnya acuh.
“Acaranya kan belum selesai”.
“Kamu tidak lihat gaunku. Nih” sambil menunjukan punggungnya. Terlihat
noda merah yang memanjang mencapai pinggang. Serta rambut belakangnya ada
tetesan air.
“Apa yang terjadi?” sorot matanya melembut.
“Ditumpahin sama pelayan cateringnya”.
“Gak usah pulang ke kosan. Kamu ganti baju saja di kamar 102”.
“Hah…kamu booking disitu?”
“Tidak, itu fasilitas perusahaan bagi yang mau menginap”.
“Memangnya kamu menginap disini Hend?”
“Rencananya begitu. Aku sudah menyuruh seseorang untuk
mengantarkan baju ganti buatmu”.
“E…eh, tunggu. Kalau aku kesitu. Kamu tidak akan macam-macam kan?”
selidiknya.
Disentilnya jidat Suti. “Mikir apa kamu? Nih ambil kuncinya. Bersihkan
badanmu, setelah selesai kembalikan kepadaku”.
“Oh kupikir…”
“Sudah cepat sana pergi”.
__ADS_1
Didorongnya bahu Suti pelan, yang lantas meraih kunci tersebut dan
berjalan menuju lift. Sedangkan Hendri kembali memasuki aula.