
Dalam pelayaran, kembali ucapan ki Nogo tergiang-giang ditelinga
Sukirno.
“Jauhkan dia dari keturunannya. Begitu pula dari darah orang
pribumi. Jika tidak ingin kekuatannya bertambah besar”.
“Simpan cincin permata merah ini. Berikan padanya pada saat dia
sadar. Kekuatannya mampu mengendalikan
iblis dalam jiwanya. Sedangkan keris kuning ini, kamu simpan. Suatu saat dia
akan hilang memasuki raga keturunan Jansen ketika mereka berusia tujuh belas
tahun”.
“Apa saya harus melakukan ritual?”
“Tidak perlu. Benda itu akan mencari tuannya sendiri. Jalankan
saja apa yang sudah kuperintahkan kepadamu”.
“Baik, ki”.
***
Setelah berhari-hari dalam pelayaran, sampailah mereka di Amerika.
Dengan jalur kereta api ketiganya menuju Montana.
Menempati mansion perkebunan gandum yang luas. Beberapa pelayan
berkulit gelap, siap melayani segala keperluan.
Sukirno dan istrinya mengatur semua demi sang majikan yang masih
belum normal. Kadangkala, masih tersenyum dan tertawa sendiri.
Seperti yang dia lakukan saat ini. Berdiri dihalaman dan
memandangi bunga, memetiknya kemudian menciumi lantas kembali tersenyum seolah
orang yang sedang jatuh cinta.
Tak lama kemudian mengayunkan tangan seperti menggendong bayi. Dan
sebentar kemudian menggumamkan lagu dengan lirih.
Sukirno mendekat, dia menghembuskan napasnya sebentar. Lantas
bertanya, “sedang apa bocah bagus?”
“He…he…he. Ssst jangan berisik, anak ku sedang tidur” meletakan
jari telunjuknya ke mulut.
“Ini kan masih pagi, mengapa dia tidur lagi?”
“Dia…dia begadang tadi malam di pos ronda” senandungnya kembali
terdengar.
“Loh kan masih bayi ngapain di tempat itu?”
“Ikut menjaga keamanan agar tidak ada pembunuh yang menculik
__ADS_1
ibunya. Ha…ha…ha”
Jansen lantas berubah marah. Dia mengayunkan tongkat ke arah bunga
didepannya berkali-kali. “Pembunuh….pembunuh, kalian harus mati ditanganku”.
Keanehan pun terjadi. Sorot matanya berubah menjadi merah.
Melihat hal itu, Sukirno mengarahkan cincin pemberian ki Nogo ke
hidung Jansen. Tak lama kemudian dia pun ambruk ke tanah.
Tak beberapa lama, tampak pelayan laki-laki berlarian ke arah keduanya.
Saat melihat lambaian tangan sang asisten majikan. kemudian mereka pun membopong tubuh
Jansen menuju kamar utama.
Sudah tiga hari semenjak pingsan di taman, dia tak pernah membuka
matanya. Sukirno yang kuatir, menempatkan beberapa pelayan perempuan untuk
selalu menjaga sang majikan di kamar.
Saat ini mbok Ginah sedang mengganti kain basah yang ditempelkan
di dahi sang majikan. Memerintahkan kepada salah seorang pelayan untuk
mengambil yang kering dari almari. Bersamaan dengan sang suami yang tengah
memasuki kamar dengan seorang dokter.
Dia adalah dokter keluarga yang juga berasal dari Belanda. Memeriksa
nadi Jansen dengan tangan kiri sambil melihat jam tangan. Kemudian mengangguk.
dengan sang asisten majikan.
“Wat gebeurt er in? Sudah berapa lama dia tak sadarkan diri?”
“Sudah tiga hari. Saya sendiri juga tidak
mengerti. Dia hanya berbicara sendiri di taman kemarin lantas tiba-tiba pingsan”.
“Tak ada yang salah dengan fisiknya. Denyut nadinya
juga normal. Dia hanya tidur dengan pulas”.
“Apa mungkin hanya psikisnya saja dok?”
“Aku rasa demikian. Dia hanya trauma psikis
dan tak mau bangun untuk menghadapi kenyataan”.
“Lalu apa yang saya harus lakukan?”
“Tunggu sampai dua puluh empat jam. Jika tidak
ada perubahan bawa dia ke klinik tempatku”.
“Baik”.
“Aku permisi, Sukirno”.
“Mari” dia pun mengantarkan dokter itu sampai
ke halaman. Mengangguk sebagai tanda hormat.
__ADS_1
“Jalan pak” perintah sang dokter kepada
sopirnya.
Debu pun bertebaran diudara, saat mobil itu
melaju ke jalan utama. Sukirno kembali memasuki mansion ketika kendaraan itu
sudah tak terlihat.
Dia berjalan menuju kamar pribadi yang berada
di ujung koridor. Ruangan dengan ukuran empat kali empat meter. Tempat dimana
dia melakukan komunikasi dengan leluhurnya.
Menyalakan anglo serta menaburkan dupa. Mulutnya
mulai komat-kamit membaca mantra. Tak beberapa lama kemudian muncul asap tebal
dalam ruangan dan membentuk siluet seorang petapa.
Tanpa perlu penjelasan, siluet itu
menyanggupi keinginan cucu buyutnya. Dia mengibaskan tangan ke udara. Membuat seluruh
penghuni mansion tertidur. Menyisakan Sukirno dan mbok Ginah.
Asap tersebut menuju kamar Jansen. Berdiri di
sisi kasur, memandanginya sejenak. Lantas mulutnya bergumam sebentar. Mengarahkan
tangan kanan ke wajah pria yang tak sadarkan diri di depannya.
Jansen pun membuka mata bersamaan dengan
menghilangnya asap ki Nogo ke udara.
Mengerjapkan sebentar kemudian berkata, “Mbok
aku lapar”.
“Alhamdulilah deeen. Akhirnya kamu sadar. Pelayaan
ambil makanan buat tuan!”
“Baik”.
Sang asisten rumah tangga berkulit gelap
tersebut meninggalkan kamar. Dan tak beberapa lama kemudian kembali lagi
membawa nampan yang berisi roti, sup dan susu. Meletakannya di meja, sebelah
kanan kasur.
Jansen bangkit, menjejakan kedua kakinya ke
lantai. Meminta mbok Ginah untuk memposisikan makanannya. Lantas dengan lahap
dia menghabiskan semua yang dihidangkan. Bahkan menambah porsi makan sampai
tiga kali. Perempuan tua itu pun tersenyum bahagia, melihat sang majikan yang
pulih kembali.
Dari balik pintu, Sukirno melihat aktifitas
__ADS_1
yang ada dikamar. Dia pun mengucap syukur atas kesembuhan sang majikan.