MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XLVIII


__ADS_3

Dalam pelayaran, kembali ucapan ki Nogo tergiang-giang ditelinga


Sukirno.


“Jauhkan dia dari keturunannya. Begitu pula dari darah orang


pribumi. Jika tidak ingin kekuatannya bertambah besar”.


“Simpan cincin permata merah ini. Berikan padanya pada saat dia


sadar. Kekuatannya  mampu mengendalikan


iblis dalam jiwanya. Sedangkan keris kuning ini, kamu simpan. Suatu saat dia


akan hilang memasuki raga keturunan Jansen ketika mereka berusia tujuh belas


tahun”.


“Apa saya harus melakukan ritual?”


“Tidak perlu. Benda itu akan mencari tuannya sendiri. Jalankan


saja apa yang sudah kuperintahkan kepadamu”.


“Baik, ki”.


***


Setelah berhari-hari dalam pelayaran, sampailah mereka di Amerika.


Dengan jalur kereta api ketiganya menuju Montana.


Menempati mansion perkebunan gandum yang luas. Beberapa pelayan


berkulit gelap, siap melayani segala keperluan.


Sukirno dan istrinya mengatur semua demi sang majikan yang masih


belum normal. Kadangkala, masih tersenyum dan tertawa sendiri.


Seperti yang dia lakukan saat ini. Berdiri dihalaman dan


memandangi bunga, memetiknya kemudian menciumi lantas kembali tersenyum seolah


orang yang sedang jatuh cinta.


Tak lama kemudian mengayunkan tangan seperti menggendong bayi. Dan


sebentar kemudian menggumamkan lagu dengan lirih.


Sukirno mendekat, dia menghembuskan napasnya sebentar. Lantas


bertanya, “sedang apa bocah bagus?”


“He…he…he. Ssst jangan berisik, anak ku sedang tidur” meletakan


jari telunjuknya ke mulut.


“Ini kan masih pagi, mengapa dia tidur lagi?”


“Dia…dia begadang tadi malam di pos ronda” senandungnya kembali


terdengar.


“Loh kan masih bayi ngapain di tempat itu?”


“Ikut menjaga keamanan agar tidak ada pembunuh yang menculik

__ADS_1


ibunya. Ha…ha…ha”


Jansen lantas berubah marah. Dia mengayunkan tongkat ke arah bunga


didepannya berkali-kali. “Pembunuh….pembunuh, kalian harus mati ditanganku”.


Keanehan pun terjadi. Sorot matanya berubah menjadi merah.


Melihat hal itu, Sukirno mengarahkan cincin pemberian ki Nogo ke


hidung Jansen. Tak lama kemudian dia pun ambruk ke tanah.


Tak beberapa lama, tampak pelayan laki-laki berlarian ke arah keduanya.


Saat melihat lambaian tangan sang asisten majikan. kemudian mereka pun membopong tubuh


Jansen menuju kamar utama.


Sudah tiga hari semenjak pingsan di taman, dia tak pernah membuka


matanya. Sukirno yang kuatir, menempatkan beberapa pelayan perempuan untuk


selalu menjaga sang majikan di kamar.


Saat ini mbok Ginah sedang mengganti kain basah yang ditempelkan


di dahi sang majikan. Memerintahkan kepada salah seorang pelayan untuk


mengambil yang kering dari almari. Bersamaan dengan sang suami yang tengah


memasuki kamar dengan seorang dokter.


Dia adalah dokter keluarga yang juga berasal dari Belanda. Memeriksa


nadi Jansen dengan tangan kiri sambil melihat jam tangan. Kemudian mengangguk.


dengan sang asisten majikan.


“Wat gebeurt er in? Sudah berapa lama dia tak sadarkan diri?”


“Sudah tiga hari. Saya sendiri juga tidak


mengerti. Dia hanya berbicara sendiri di taman kemarin lantas tiba-tiba pingsan”.


“Tak ada yang salah dengan fisiknya. Denyut nadinya


juga normal. Dia hanya tidur dengan pulas”.


“Apa mungkin hanya psikisnya saja dok?”


“Aku rasa demikian. Dia hanya trauma psikis


dan tak mau bangun untuk menghadapi kenyataan”.


“Lalu apa yang saya harus lakukan?”


“Tunggu sampai dua puluh empat jam. Jika tidak


ada perubahan bawa dia ke klinik tempatku”.


“Baik”.


“Aku permisi, Sukirno”.


“Mari” dia pun mengantarkan dokter itu sampai


ke halaman. Mengangguk sebagai tanda hormat.

__ADS_1


“Jalan pak” perintah sang dokter kepada


sopirnya.


Debu pun bertebaran diudara, saat mobil itu


melaju ke jalan utama. Sukirno kembali memasuki mansion ketika kendaraan itu


sudah tak terlihat.


Dia berjalan menuju kamar pribadi yang berada


di ujung koridor. Ruangan dengan ukuran empat kali empat meter. Tempat dimana


dia melakukan komunikasi dengan leluhurnya.


Menyalakan anglo serta menaburkan dupa. Mulutnya


mulai komat-kamit membaca mantra. Tak beberapa lama kemudian muncul asap tebal


dalam ruangan dan membentuk siluet seorang petapa.


Tanpa perlu penjelasan, siluet itu


menyanggupi keinginan cucu buyutnya. Dia mengibaskan tangan ke udara. Membuat seluruh


penghuni mansion tertidur. Menyisakan Sukirno dan mbok Ginah.


Asap tersebut menuju kamar Jansen. Berdiri di


sisi kasur, memandanginya sejenak. Lantas mulutnya bergumam sebentar. Mengarahkan


tangan kanan ke wajah pria yang tak sadarkan diri di depannya.


Jansen pun membuka mata bersamaan dengan


menghilangnya asap ki Nogo ke udara.


Mengerjapkan sebentar kemudian berkata, “Mbok


aku lapar”.


“Alhamdulilah deeen. Akhirnya kamu sadar. Pelayaan


ambil makanan buat tuan!”


“Baik”.


Sang asisten rumah tangga berkulit gelap


tersebut meninggalkan kamar. Dan tak beberapa lama kemudian kembali lagi


membawa nampan yang berisi roti, sup dan susu. Meletakannya di meja, sebelah


kanan kasur.


Jansen bangkit, menjejakan kedua kakinya ke


lantai. Meminta mbok Ginah untuk memposisikan makanannya. Lantas dengan lahap


dia menghabiskan semua yang dihidangkan. Bahkan menambah porsi makan sampai


tiga kali. Perempuan tua itu pun tersenyum bahagia, melihat sang majikan yang


pulih kembali.


Dari balik pintu, Sukirno melihat aktifitas

__ADS_1


yang ada dikamar. Dia pun mengucap syukur atas kesembuhan sang majikan.


__ADS_2