MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XIX


__ADS_3

“Kang Bargooo”.


“Ada apa dik Darsi?”


“Kita ke lapangan yuk. Teman-teman sudah


menunggu”.


“Baiklah”.


“Setelah itu kita ke sungai ya kang. Mandi


sekalian nyeser ikan buat emak masak dirumah”.


“Em”.


Gegas Bargo mengekori Darsi yang berjalan


cepat di depannya. Kaki mungilnya sangat lincah melewati pematang sawah seolah


ada mata kedua diujung kaki itu.


“Dik Darsi jangan cepat-cepat”.


“Weeh, cemeng. Cepetan kang ntar keburu


gelap”, sambil menjulurkan lidahnya mengejek.


“Waduh dik, jangan gitu toh. Kakang kan sudah


lama tidak pulang kampung. Perlu pembiasaan lagi jalan di pematangnya”.


“Emangnya di kota gak ada sawah kang?”


“Mana ada dik. Disana banyak pabrik sama


rumah besar milik Belanda”.


Merasa tertarik Darsi menghentikan


langkahnya. Netranya mengerjap jenaka menggoda.


“Beneran kang?”


Bargo gelagapan, sejenak dia terpesona dengan


pemandangan indah dimatanya. Menahan napas sebelum menjawab.


“Tentu saja dik Darsi. Nanti kalau kang Bargo


sudah tidak sibuk dengan pekerjaan pabrik. Akan kakang ajak kamu ke kota”.

__ADS_1


“Heem, boleh. Memangnya kamu kerja sebagai


apa kang disana?”


“Centeng lah dik. Jadi apalagi kemampuan


kakangmu ini kan berkelahi”, sembari menepuk dadanya menyombongkan diri.


“Cocok sih kang. Badanmu kan gede terus


pinter silat lagi”.


“Nah itu”.


“Menjadi centeng di rumah orang Belanda ya


kang?”


“Nggak, kakang kerja di Suikerfabriek. Di


kediri”.


“Kediri itu jauh ya kang?”


“Ya jauh lah dik, dua hari perjalanan dari


sini”.


“Ouh, tapi bener ya kang nanti aku diajak


“Janji”, mengulurkan jari kelingkingnya.


Darsi pun menerima uluran tersebut dan mereka


saling menautkannya, sejenak sebelum sifat jailnya keluar. Tangan kanan yang terbebas


menyentil jidat Bargo keras lalu melarikan diri dengan cepat.


“Woooi Darsi tunggu dong”, teriaknya sambil


mengejar.


Yang dikejar menoleh sejenak sambil


menjulurkan lidah kemudian kembali mengayunkan langkah dengan cepat.


“Tuh anak makin cantik saja tapi hobinya


menjulurkan lidahnya dari dulu tak pernah hilang. Kayak ular saja”, batin Bargo


terkekeh geli.

__ADS_1


Gegas dia pun menyusul Darsi tuk bergabung


dengan yang lainnya di lapangan tempat mereka biasa berkumpul.


Begitu Darsi dan Bargo datang beriringan, kehebohan


terjadi. Riuh canda tawa menggema di tempat itu. Mereka saling melepaskan rindu


karena kepergian Bargo yang mengais rejeki di luar desa.


Banyak pertanyaan terlontarkan kepadanya


sekedar mengurai ke ingin tahuan atau hanya sekedar basa-basi melepas


kecanggungan.


Sifat Bargo yang tak mudah bergaul


terkikiskan oleh Darsi yang kocak dan penuh canda. Lapangan yang semula sepi


pun menjadi ramai.


Bahkan ketika mereka berpindah tempat menuju


sungai untuk mandi dan menangkap ikan. Jeritan para gadis dan keusilan anak


lelaki memecah suasana desa yang beranjak sore.


Cipratan air sungai berhamburan kemana-mana,


bahkan membasahi baju-baju mereka yang diletakan diatas batu. Mereka tak


perduli asal, para gadis itu menjerit keras karena air membasahi rambut mereka sehingga


menjadi lepek serta menutupi wajahnya.


Beberapa petani yang hendak pulang kerumah


masing-masing, hanya mampu menggelengkan kepala melihat keceriaan anak-anak


muda yang tengah menikmati suasana sore hari di sungai desa.


Kegiatan yang tak biasanya itu mampu menyedot


perhatian siapapun yang melintas di lokasi tersebut. Kesunyian yang merupakan


bagian dari suasana desa menjadi porak poranda, hanya dengan kehadiran Bargo


yang disambut ramah oleh teman-temannya.


Saat bunyi kerikan jangkrik menggantikan keriuhan

__ADS_1


binatang siang. Mereka mulai membubarkan diri menuju rumah masing-masing,


dengan keceriaan yang masih melekat di wajah-wajahnya.


__ADS_2