MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB VI


__ADS_3

Netraku membulat sempurna tatkala di depan


pintu kamar ada seseorang yang memperhatikan kami. Perempuan paruh baya yang


anggun dan cantik. Dia menatapku penuh kekaguman. Senyum tak lepas dari


wajahnya, ketika dia mandatangiku dan berkata,


’ Jay mama tidak pernah mengajarimu untuk


tidak menghargai perempuan’.


‘Mama?’, batinku. Keningku mengkerut


mengingat-ingat.


‘Perasaan mama Jay kan orangnya judes dan


galak. Sudut bibirnya saja melengkung ke atas dan dia tidak ada


anggun-anggunnya sama sekali. Berbeda dengan perempuan yang ada di depanku


ini’.


Ku pandangi lekat-lekat wajahnya.


‘Dia memang mirip Jay. Matanya, hidungnya


bahkan ketika tersenyum pun sangat mirip seolah bak pinang dibelah dua. Hanya


saja ia seorang perempuan. Dan pikiranku melayang jauh ke sosok yang dulu


dipanggilnya ibu. Tak mirip sama sekali, cuma Jay sangat sayang pada wanita


judes itu. Karena ia yang membesarkan dirinya sampai bertemu dengan ku di


bangku kuliah’.


‘Mama kenapa turun, sudah malam apa tidak capek setelah seharian mengurus perusahaan? Istirahatlah ma, biar Jay yang urus disini!’


‘Tidak Jay, mama tidak mau kamu perlakukan gadis ini secara sembarangan seperti kau melakukannya pada yang lainnya’.


‘Maa, aku tidak akan berbuat seperti yang dulu, percayalah padaku’, suara Jay lembut penuh kasih sayang.


‘Beda sekali cara bicaranya denganku seperti musuh tapi pada perempuan paruh baya ini dia sangat lembut seperti permen kapas’.


Membuatku larut dalam suasana sehingga ku tak mampu berkata-kata. Hanya melihatnya terkagum-kagum. Direngkuhnya bahu perempuan itu serta membimbingnya ke lantai dua. Dekat ruang yang pintunya


dibanting tadi.


‘Sayang jangan berbuat yang macam-macam. Mama


lihat dia gadis baik-baik. Dan kamu mencintainya Jay?’


‘Sssh, mama ngomong apaan sih. Dia itu sama dengan gadis-gadis yang mengejar Jay ma. Suka melihat ketenaran dan kekayaanku. Tidak tulus dalam hatinya untuk menyukai ku. Mama tahu dialah alasan Jay


seperti sekarang ini’.


‘Apa yang membuatmu kecewa sekaligus mencintanya nak. Jangan bohong sama mama. Kau anak kandungku aku tahu apa yang tersembunyi di relung hatimu’.


Jay hanya mengibaskan tangannya sebelum menyuruh mamanya masuk dan menutup pintunya pelan. Sedetik kemudian dia mendongak dan menghembuskan napas kasar sebelum mendatangiku lagi.


‘Waatii’, teriaknya.


‘Ya, tuan. Dandani perempuan itu secantik mungkin. Aku mau mendatangi undangan Marsela’.


‘Baik tuan’, sahutnya. Kemudian dia berkata lagi, ’mari nona’, kepadaku.


‘Tidak, katakan pada tuan mu itu. Aku tidak akan menuruti keinginannya sebelum ada penjelasan yang gamblang’.


‘Tapi nona, acaranya akan dimulai satu jam lagi. Saya kuatir tuan Jay akan terlambat. Anda tahu beliau tidak bisa


mentolerir keterlambatan’.


‘Apa peduliku. Mau terlambat kek, mau datang cepat kek. Tak ada urusannya denganku. Aku hanya mau pulang ke kosanku. Mau istirahat, capek dan besok aku tidak mau terlambat berjualan nasi di alun-alun kota. pelangganku menunggu’.


‘Nona cobalah mengerti, saya yakin tuan Jay bisa menggantikan kerugian nona yang sehari itu. Beliau orang kaya, bisnisnya dimana-mana. Kalau hanya untuk menggantikan kerugian anda yang sehari dengan uang sepuluh juta plus bunganya, merupakan hal kecil’.


‘Benarkah uang segitu kecil buat dia?’, mataku membulat, tertarik.


‘Tak usah basa-basi dengan dia Wati, berapa yang kamu inginkan?’, kata Jay sambil bersiap menulis nominal di cek nya.


‘Tidak aku tidak mau cek. Aku mau tunai’, seruku bersemangat.


‘Baiklah, berapa? Aku akan memenuhi jumlah yang kamu inginkan dengan tunai, asal hari ini mau menemaniku ke pesta itu’.


‘Hanya menemani ke pesta kan, tidak tidur di ranjang?’, kataku memastikan.


‘Apa salahnya dengan itu?’, Jay balik bertanya sembari menaik turunkan alisnya.


Aku hampir tertawa dengan ekspresinya yang lucu dan sangat kusukai itu sedari dulu.


‘Akhirnya aku menemukanmu Jay. Pribadi hangat itu yang selalu kurindu’, batinku.


‘Aku pernah bilang kepadamu kan, apa pun yang terjadi aku tidak akan menjual diri. Lebih baik mati kelaparan dari pada jadi pemuas nafsu lelaki, kau masih ingat itu?’, mataku mendelik sempurna.


‘Haiiis, baiklah-baiklah. Ikuti Wati sana dan dandan secantik mungkin. Aku tidak mau dipermalukan dengan penampilan kampunganmu ini!’, sahutnya tidak berperasaan.


‘Apa yang terjadi denganmu Jay?’, batinku nelangsa.


Di halaman hotel menuju ruang pesta.


Pintu mobil dibuka oleh seorang bodyguard berpakaian serba hitam, dia mempersilahkanku


untuk keluar sebelum pindah ke sisi lain dan membukakan pintu buat Jay.


Aku menunggu sampai ia menghampiriku dan mengulurkan lengannya. Kulingkarkan tanganku


padanya, ketika hampir mencapai red carpet yang membentang mulai pintu aula


sampai ke pelaminan,


Jay berbisik,  ‘ingat bertingkah lakulah seolah kita sepasang


kekasih yang saling mencinta dan hilangkan sifat kampunganmu itu’.

__ADS_1


‘Ssceek, aku pernah menjadi general marketing dari sebuah perusahaan besar Jay, jangan


mendikteku dengan etika dalam pesta resmi’, sahutku berbisik dengan nada kesal.


‘Fine, tapi ingat kita sepasang kekasih yang sebentar lagi tunangan dan menikah. Dan jangan


lupakan juga kalau kita saling mencinta’, bisiknya lagi di telingaku.


‘Baiklah, jadi kapan kita akan menikah Jay’, jawabku sembari melempar senyum ke arah para


penerima tamu yang berjejer di sisi kiri kanan red carpet.


‘Jangan mimpi kamu!’, bisiknya lagi.


Aku tertawa kecil, ’oke Jay aku ikuti permainanmu asal bayaranku sesuai dengan harga


kesepakatan kita dan tunai. Ingat Jay tunai dalam tas punggung warna favoritku’.


‘Haiiish, kau masih sama seperti dulu Suti, di benakmu itu yang ada hanya uang dan uang. Tak


bisakah kau memikirkan hal yang lainnya?’, liriknya kesal.


‘Maaf Jay, kalau masalah yang satu itu adalah kebutuhan pokok dalam hidupku. Kamu tahu kan, keluargaku


di kampung hanya mengandalkan aku untuk menafkahinya. Apalagi tahun ini adik


tiriku butuh biaya banyak buat kuliahnya dan kamu tahu ayah tiriku sudah hampir


dua tahun ini meninggal’.


‘Ibuku hanya mampu berjualan sayur di depan


rumah, yang hasilnya tidak seberapa karena kami tidak punya modal, beda


denganmu Jay. Aku lihat kehidupanmu bertolak tiga ratus enam puluh derajat dari


terakhir kali kita bertemu di malam pesta seni dulu’.


Jay hanya mengerjapkan mata sebelum menghembuskan nafasnya ke udara. Perlahan kami


mendekati pasangan pengantin di depan, sesaat setelah mengisi buku tamu.


Netraku mendelik sempurna ketika membaca apa yang ditulis Jay disana. ‘Tuan dan nyonya Jodi


Bimantara. Bolehkan aku sedikit berkhayal?’, batinku.


‘Selamat Marcella atas pernikahanmu, semoga langgeng dan hidup bahagia selamanya’, ucap Jay.


‘Terima kasih honey’, jawab pengantin perempuan sambil memeluk Jay erat dan lama, sebelum


mengurai pelukan itu dia mencium pipi kiri dan kanan Jay bergantian.


Aku hanya mengerenyitkan dahiku sambil memasang senyum palsu kepada pasangan pengantin


itu. Netraku melihat kalau suami Marcella salah tingkah serta wajahnya memerah


menahan gejolak dalam hatinya.


Jay mengepalkan tangan kanannya sebelum berucap, ’selamat Rico, kamu berhasil memenangkan


Aku sedikit menggerakan siku ku keperut Jay.


‘Ada apa sayang?’, bisik ku.


Responku halus tapi masih bisa terdengar oleh pasangan pengantin itu.


‘Dia kekasih barumu Jay’, tanya Marcella tak percaya.


‘Tentu saja, bukan hanya kamu yang bisa berkhianat Cella. Aku pun bisa’.


‘Tapi bagaimana bisa Jay, belum sebulan kita putus?’


‘Apa pun bisa terjadi Cella. Aku tak ingin menunggu janda dari pasangan berkhianat seperti


kalian’, ucap Jay sembari tersenyum seolah tak ada beban di hatinya.


Setelah basa basi yang tak bersahabat itu kami turun dari pelaminan menuju ke hidangan. Banyaknya


jenis makanan lezat serta garnish yang dibuat gaya eropa membawaku sedikit


melayang, ketika aku masih bekerja di Dico travelling and hotel.


Seingatku hampir di setiap ulang tahun perusahaan hidangannya hampir sama dengan saat ini. Hiruk


pikuk dan tawa para karyawan membahana di udara. Sangat bahagia karena saat itu


pasti ada bonus akhir tahun, hadiah perusahaan bagi mereka-mereka yang mencapai


kesuksesan dalam menjalankan bagiannya dan mencapai target.


Sehingga perusahaan maju dengan pesat. Sebelum lelaki yang kugandeng ini datang serta


menghancurkan semuanya. Aku tak mengerti apa yang terjadi tapi menurut info


yang kudapat perusahaan itu ganti kepemilikan. Siapa yang membelinya dan


berganti menjadi bisnis apa pun tak kudapatkan informasi itu.


Yang jelas di memoriku adalah semua karyawannya dirumahkan, termasuk diriku ini dan tak


kunjung memperoleh pekerjaan baru yang sesuai dengan bidangku, hingga aku


menjadi pedagang kaki lima sekedar mencari nafkah agar tetap bertahan hidup


juga bisa mengirim sedikit uang untuk biaya kehidupan keluargaku.


Itu sebabnya aku sangat antusias ketika Jay mengajak ku melakukan sandiwara ini dengan imbalan


sesuai dengan jumlah yang aku tentukan.


‘Mengapa kamu tersenyum-senyum sendiri Suti. Senang di atas penderitaanku’, tanya Jay penuh


selidik.


‘Hah, apa?’, aku tersentak

__ADS_1


‘Ah sudahlah, carilah menu apa yang kamu mau. Jangan biarkan perut miskinmu itu menyesal,


karena setelah ini kamu tidak akan makan makanan semewah ini’, sarkasnya lagi.


Meskipun hatiku tergores aku tetap menjawab dengan senyum, ’tentu saja Jay aku tidak akan


menyia-nyia kan kesempatan ini. Apakah aku boleh membungkusnya untuk dibawa


pulang?’


‘Jangan norak kamu. Aku akan membelikannya di resto Bamboo sepulangnya dari sini’.


‘Sungguh Jay?’.


‘Tentu saja, anggap itu bonus’.


‘Ha…ha…terima kasih Jay. Kamu memang the best’, tawaku bahagia.


Sedangkan Jay hanya mengetatkan rahang dan tatapan matanya sedingin es.


Tepat jam 22.00 Jay mengantarkan kembali ke tempat dia menjemputku.


’Yaah, alun-alun kota. Dua hari yang lalu ia memaksaku untuk memasuki mobilnya. Dan terjadilah kisah yang menggelikan ini. Bagaimana tidak aku pulang masih dengan mengenakan pakaian pesta dan high heels


yang melekat di tubuh. Sedangkan tangan kiri memeluk erat tas plastik hitam tempat ku membawa celana jean dan baju usang, yang jauh dari kata mewah.


Tak lupa tangan kanan ini menjinjing box makanan mahal dari resto bamboo. Dan


lucunya lagi aku memanggul backpack warna ungu. Sungguh tidak matching sama


sekali. ‘Apa peduliku! Yang penting hari ini aku pulang dengan membawa harga yang sesuai dengan kesepakatan di awal’.


Jalanan mulai lenggang. Hanya siluet panjang yang mengikuti setiap gerakan tubuh ini. Kutajamkan netraku ke pojok alun-alun dimana mas Reso biasa mangkal. Dengan sedikit was-was aku setengah berlari


menuju ke becak di kegelapan itu.


‘Fiuuuh, syukurlah mas Reso masih ada’, kataku begitu dekat dengannya.


‘Lhoo mbak Suti, darimana malam-malam begini. Kok tumben-tumbenan?’


‘Mau pulang mas. Situ narik kan?’.


‘Iya mbak lagi menunggu mbak Dian langgananku’.


‘Yang kerja ditempat fotokopi itu ya’.


‘Bener mbak’.


‘Nanti kalau mas Reso ngantar aku sebentar ke tempat kos ku bisa?’.


‘Bisa mbak. Kebetulan mbak Diannya bilang suruh njemput agak malaman dikit. Banyak penjilidan skripsi katanya’.


‘Ah iya. Sekarang kan akhir semester banyak mahasiswa yang mau wisuda’.


‘Mari mbak naik, saya antar’.


‘Ayok mas’, ku hempaskan bokongku ke atas bangku becak.


Sedetik kemudian melaju dengan pelan-pelan.


Ditengah perjalanan mas Reso bertanya,’ mbak Suti darimana toh, kok kayaknya


dari pesta?’


‘Tahu darimana mas?’.


‘Lha itu baju sama dandanannya’.


‘Ah iya aku lupa’, kutepuk jidatku pelan. ‘Dari pesta pernikahan teman mas’.


‘Pasti orang kaya ya mbak. Kelihatan dari gaun mbak Suti. Bagus bener kayak putri cinderela’.


Aku tertawa mendengar jawabannya,’Mas ada-ada saja. Ini baju boleh pinjam, tadi disewakan oleh mantan bos ku dulu di perusahaan. Nanti kalau sudah selesai di laundry kan, mau saya kembalikan’.


‘Kenapa tidak dicuci sendiri mbak?’


‘Takut rusak mas baju mahal’.


‘Oh gitu thoo’.


Sesampai di dekat gang menuju kosan aku melambai keatas agar mas Reso bisa melihat gerakanku. Decitan halus ban bergesek dengan aspal terdengar sebelum akhirnya becak itu berhenti total.


‘Turun disini mbak?’


‘Iya mas. Ini ongkosnya’, jawabku mengangsurkan uang seratus ribuan.


‘Waduuh gak ada kembaliannya mbak. Uangnya terlalu banyak’.


‘Ambil saja mas kembaliannya’.


‘Beneran nih’.


‘Bener anggap saja bonus dariku karena mas mengantarkan tepat waktu dan selamat’.


‘Alhamdulilah mimpi apa aku semalam’.


‘Mimpi diculik bidadari cantik kali mas’, kataku menggodanya.


‘Ha..ha..ha. Ada-ada saja mbak Suti. Ya sudah terima kasih banyak ya. besok kalau mau jualan nasi saya jemput deh. Dan tidak usah bayar’.


‘Iya mas..iya. selamat malam ya aku pamit’.


‘Malam hati-hati mbak gang nya gelap loh’.


‘Oke’, kataku sembari mengacungkan jempol.


Sedikit mempercepat langkah aku menuju rumah yang paling ujung dari komplek ini. Meskipun termasuk kawasan perumahan kalau di malam hari tetap saja sepi dari aktifitas manusia. Mungkin karena lokasinya yang jauh dari perkotaan, bisa dibilang ini adalah pinggiran kota.


Sepi dan mencekam, untuk menepis ketakutan yang menjalar, kulepas high heels serta lari sekuat tenaga menuju ke kosanku. Ketika aku merasa ada penguntit dibelakang.


Sebelum memasuki kamar kutolehkan kepalaku ke arah kegelapan diujung gang. Tapi tak kutemukan apa pun. Dengan terburu-buru kubuka pintu kamar dan memasukinya.


’Blam!’ pintu kubanting dan kembali dan menguncinya lagi.


Kuletakan box makanan ke meja dekat pintu sedangkan barang bawaanku yang lain terlempar di atas kasur. Kemudian kubanting tubuhku tengkurap di atasnya dan mendengkur. Kelelahan membuat mataku terpejam

__ADS_1


dan kesadaranku terseret ke alam mimpi


__ADS_2