
Netraku membulat sempurna tatkala di depan
pintu kamar ada seseorang yang memperhatikan kami. Perempuan paruh baya yang
anggun dan cantik. Dia menatapku penuh kekaguman. Senyum tak lepas dari
wajahnya, ketika dia mandatangiku dan berkata,
’ Jay mama tidak pernah mengajarimu untuk
tidak menghargai perempuan’.
‘Mama?’, batinku. Keningku mengkerut
mengingat-ingat.
‘Perasaan mama Jay kan orangnya judes dan
galak. Sudut bibirnya saja melengkung ke atas dan dia tidak ada
anggun-anggunnya sama sekali. Berbeda dengan perempuan yang ada di depanku
ini’.
Ku pandangi lekat-lekat wajahnya.
‘Dia memang mirip Jay. Matanya, hidungnya
bahkan ketika tersenyum pun sangat mirip seolah bak pinang dibelah dua. Hanya
saja ia seorang perempuan. Dan pikiranku melayang jauh ke sosok yang dulu
dipanggilnya ibu. Tak mirip sama sekali, cuma Jay sangat sayang pada wanita
judes itu. Karena ia yang membesarkan dirinya sampai bertemu dengan ku di
bangku kuliah’.
‘Mama kenapa turun, sudah malam apa tidak capek setelah seharian mengurus perusahaan? Istirahatlah ma, biar Jay yang urus disini!’
‘Tidak Jay, mama tidak mau kamu perlakukan gadis ini secara sembarangan seperti kau melakukannya pada yang lainnya’.
‘Maa, aku tidak akan berbuat seperti yang dulu, percayalah padaku’, suara Jay lembut penuh kasih sayang.
‘Beda sekali cara bicaranya denganku seperti musuh tapi pada perempuan paruh baya ini dia sangat lembut seperti permen kapas’.
Membuatku larut dalam suasana sehingga ku tak mampu berkata-kata. Hanya melihatnya terkagum-kagum. Direngkuhnya bahu perempuan itu serta membimbingnya ke lantai dua. Dekat ruang yang pintunya
dibanting tadi.
‘Sayang jangan berbuat yang macam-macam. Mama
lihat dia gadis baik-baik. Dan kamu mencintainya Jay?’
‘Sssh, mama ngomong apaan sih. Dia itu sama dengan gadis-gadis yang mengejar Jay ma. Suka melihat ketenaran dan kekayaanku. Tidak tulus dalam hatinya untuk menyukai ku. Mama tahu dialah alasan Jay
seperti sekarang ini’.
‘Apa yang membuatmu kecewa sekaligus mencintanya nak. Jangan bohong sama mama. Kau anak kandungku aku tahu apa yang tersembunyi di relung hatimu’.
Jay hanya mengibaskan tangannya sebelum menyuruh mamanya masuk dan menutup pintunya pelan. Sedetik kemudian dia mendongak dan menghembuskan napas kasar sebelum mendatangiku lagi.
‘Waatii’, teriaknya.
‘Ya, tuan. Dandani perempuan itu secantik mungkin. Aku mau mendatangi undangan Marsela’.
‘Baik tuan’, sahutnya. Kemudian dia berkata lagi, ’mari nona’, kepadaku.
‘Tidak, katakan pada tuan mu itu. Aku tidak akan menuruti keinginannya sebelum ada penjelasan yang gamblang’.
‘Tapi nona, acaranya akan dimulai satu jam lagi. Saya kuatir tuan Jay akan terlambat. Anda tahu beliau tidak bisa
mentolerir keterlambatan’.
‘Apa peduliku. Mau terlambat kek, mau datang cepat kek. Tak ada urusannya denganku. Aku hanya mau pulang ke kosanku. Mau istirahat, capek dan besok aku tidak mau terlambat berjualan nasi di alun-alun kota. pelangganku menunggu’.
‘Nona cobalah mengerti, saya yakin tuan Jay bisa menggantikan kerugian nona yang sehari itu. Beliau orang kaya, bisnisnya dimana-mana. Kalau hanya untuk menggantikan kerugian anda yang sehari dengan uang sepuluh juta plus bunganya, merupakan hal kecil’.
‘Benarkah uang segitu kecil buat dia?’, mataku membulat, tertarik.
‘Tak usah basa-basi dengan dia Wati, berapa yang kamu inginkan?’, kata Jay sambil bersiap menulis nominal di cek nya.
‘Tidak aku tidak mau cek. Aku mau tunai’, seruku bersemangat.
‘Baiklah, berapa? Aku akan memenuhi jumlah yang kamu inginkan dengan tunai, asal hari ini mau menemaniku ke pesta itu’.
‘Hanya menemani ke pesta kan, tidak tidur di ranjang?’, kataku memastikan.
‘Apa salahnya dengan itu?’, Jay balik bertanya sembari menaik turunkan alisnya.
Aku hampir tertawa dengan ekspresinya yang lucu dan sangat kusukai itu sedari dulu.
‘Akhirnya aku menemukanmu Jay. Pribadi hangat itu yang selalu kurindu’, batinku.
‘Aku pernah bilang kepadamu kan, apa pun yang terjadi aku tidak akan menjual diri. Lebih baik mati kelaparan dari pada jadi pemuas nafsu lelaki, kau masih ingat itu?’, mataku mendelik sempurna.
‘Haiiis, baiklah-baiklah. Ikuti Wati sana dan dandan secantik mungkin. Aku tidak mau dipermalukan dengan penampilan kampunganmu ini!’, sahutnya tidak berperasaan.
‘Apa yang terjadi denganmu Jay?’, batinku nelangsa.
Di halaman hotel menuju ruang pesta.
Pintu mobil dibuka oleh seorang bodyguard berpakaian serba hitam, dia mempersilahkanku
untuk keluar sebelum pindah ke sisi lain dan membukakan pintu buat Jay.
Aku menunggu sampai ia menghampiriku dan mengulurkan lengannya. Kulingkarkan tanganku
padanya, ketika hampir mencapai red carpet yang membentang mulai pintu aula
sampai ke pelaminan,
Jay berbisik, ‘ingat bertingkah lakulah seolah kita sepasang
kekasih yang saling mencinta dan hilangkan sifat kampunganmu itu’.
__ADS_1
‘Ssceek, aku pernah menjadi general marketing dari sebuah perusahaan besar Jay, jangan
mendikteku dengan etika dalam pesta resmi’, sahutku berbisik dengan nada kesal.
‘Fine, tapi ingat kita sepasang kekasih yang sebentar lagi tunangan dan menikah. Dan jangan
lupakan juga kalau kita saling mencinta’, bisiknya lagi di telingaku.
‘Baiklah, jadi kapan kita akan menikah Jay’, jawabku sembari melempar senyum ke arah para
penerima tamu yang berjejer di sisi kiri kanan red carpet.
‘Jangan mimpi kamu!’, bisiknya lagi.
Aku tertawa kecil, ’oke Jay aku ikuti permainanmu asal bayaranku sesuai dengan harga
kesepakatan kita dan tunai. Ingat Jay tunai dalam tas punggung warna favoritku’.
‘Haiiish, kau masih sama seperti dulu Suti, di benakmu itu yang ada hanya uang dan uang. Tak
bisakah kau memikirkan hal yang lainnya?’, liriknya kesal.
‘Maaf Jay, kalau masalah yang satu itu adalah kebutuhan pokok dalam hidupku. Kamu tahu kan, keluargaku
di kampung hanya mengandalkan aku untuk menafkahinya. Apalagi tahun ini adik
tiriku butuh biaya banyak buat kuliahnya dan kamu tahu ayah tiriku sudah hampir
dua tahun ini meninggal’.
‘Ibuku hanya mampu berjualan sayur di depan
rumah, yang hasilnya tidak seberapa karena kami tidak punya modal, beda
denganmu Jay. Aku lihat kehidupanmu bertolak tiga ratus enam puluh derajat dari
terakhir kali kita bertemu di malam pesta seni dulu’.
Jay hanya mengerjapkan mata sebelum menghembuskan nafasnya ke udara. Perlahan kami
mendekati pasangan pengantin di depan, sesaat setelah mengisi buku tamu.
Netraku mendelik sempurna ketika membaca apa yang ditulis Jay disana. ‘Tuan dan nyonya Jodi
Bimantara. Bolehkan aku sedikit berkhayal?’, batinku.
‘Selamat Marcella atas pernikahanmu, semoga langgeng dan hidup bahagia selamanya’, ucap Jay.
‘Terima kasih honey’, jawab pengantin perempuan sambil memeluk Jay erat dan lama, sebelum
mengurai pelukan itu dia mencium pipi kiri dan kanan Jay bergantian.
Aku hanya mengerenyitkan dahiku sambil memasang senyum palsu kepada pasangan pengantin
itu. Netraku melihat kalau suami Marcella salah tingkah serta wajahnya memerah
menahan gejolak dalam hatinya.
Jay mengepalkan tangan kanannya sebelum berucap, ’selamat Rico, kamu berhasil memenangkan
Aku sedikit menggerakan siku ku keperut Jay.
‘Ada apa sayang?’, bisik ku.
Responku halus tapi masih bisa terdengar oleh pasangan pengantin itu.
‘Dia kekasih barumu Jay’, tanya Marcella tak percaya.
‘Tentu saja, bukan hanya kamu yang bisa berkhianat Cella. Aku pun bisa’.
‘Tapi bagaimana bisa Jay, belum sebulan kita putus?’
‘Apa pun bisa terjadi Cella. Aku tak ingin menunggu janda dari pasangan berkhianat seperti
kalian’, ucap Jay sembari tersenyum seolah tak ada beban di hatinya.
Setelah basa basi yang tak bersahabat itu kami turun dari pelaminan menuju ke hidangan. Banyaknya
jenis makanan lezat serta garnish yang dibuat gaya eropa membawaku sedikit
melayang, ketika aku masih bekerja di Dico travelling and hotel.
Seingatku hampir di setiap ulang tahun perusahaan hidangannya hampir sama dengan saat ini. Hiruk
pikuk dan tawa para karyawan membahana di udara. Sangat bahagia karena saat itu
pasti ada bonus akhir tahun, hadiah perusahaan bagi mereka-mereka yang mencapai
kesuksesan dalam menjalankan bagiannya dan mencapai target.
Sehingga perusahaan maju dengan pesat. Sebelum lelaki yang kugandeng ini datang serta
menghancurkan semuanya. Aku tak mengerti apa yang terjadi tapi menurut info
yang kudapat perusahaan itu ganti kepemilikan. Siapa yang membelinya dan
berganti menjadi bisnis apa pun tak kudapatkan informasi itu.
Yang jelas di memoriku adalah semua karyawannya dirumahkan, termasuk diriku ini dan tak
kunjung memperoleh pekerjaan baru yang sesuai dengan bidangku, hingga aku
menjadi pedagang kaki lima sekedar mencari nafkah agar tetap bertahan hidup
juga bisa mengirim sedikit uang untuk biaya kehidupan keluargaku.
Itu sebabnya aku sangat antusias ketika Jay mengajak ku melakukan sandiwara ini dengan imbalan
sesuai dengan jumlah yang aku tentukan.
‘Mengapa kamu tersenyum-senyum sendiri Suti. Senang di atas penderitaanku’, tanya Jay penuh
selidik.
‘Hah, apa?’, aku tersentak
__ADS_1
‘Ah sudahlah, carilah menu apa yang kamu mau. Jangan biarkan perut miskinmu itu menyesal,
karena setelah ini kamu tidak akan makan makanan semewah ini’, sarkasnya lagi.
Meskipun hatiku tergores aku tetap menjawab dengan senyum, ’tentu saja Jay aku tidak akan
menyia-nyia kan kesempatan ini. Apakah aku boleh membungkusnya untuk dibawa
pulang?’
‘Jangan norak kamu. Aku akan membelikannya di resto Bamboo sepulangnya dari sini’.
‘Sungguh Jay?’.
‘Tentu saja, anggap itu bonus’.
‘Ha…ha…terima kasih Jay. Kamu memang the best’, tawaku bahagia.
Sedangkan Jay hanya mengetatkan rahang dan tatapan matanya sedingin es.
Tepat jam 22.00 Jay mengantarkan kembali ke tempat dia menjemputku.
’Yaah, alun-alun kota. Dua hari yang lalu ia memaksaku untuk memasuki mobilnya. Dan terjadilah kisah yang menggelikan ini. Bagaimana tidak aku pulang masih dengan mengenakan pakaian pesta dan high heels
yang melekat di tubuh. Sedangkan tangan kiri memeluk erat tas plastik hitam tempat ku membawa celana jean dan baju usang, yang jauh dari kata mewah.
Tak lupa tangan kanan ini menjinjing box makanan mahal dari resto bamboo. Dan
lucunya lagi aku memanggul backpack warna ungu. Sungguh tidak matching sama
sekali. ‘Apa peduliku! Yang penting hari ini aku pulang dengan membawa harga yang sesuai dengan kesepakatan di awal’.
Jalanan mulai lenggang. Hanya siluet panjang yang mengikuti setiap gerakan tubuh ini. Kutajamkan netraku ke pojok alun-alun dimana mas Reso biasa mangkal. Dengan sedikit was-was aku setengah berlari
menuju ke becak di kegelapan itu.
‘Fiuuuh, syukurlah mas Reso masih ada’, kataku begitu dekat dengannya.
‘Lhoo mbak Suti, darimana malam-malam begini. Kok tumben-tumbenan?’
‘Mau pulang mas. Situ narik kan?’.
‘Iya mbak lagi menunggu mbak Dian langgananku’.
‘Yang kerja ditempat fotokopi itu ya’.
‘Bener mbak’.
‘Nanti kalau mas Reso ngantar aku sebentar ke tempat kos ku bisa?’.
‘Bisa mbak. Kebetulan mbak Diannya bilang suruh njemput agak malaman dikit. Banyak penjilidan skripsi katanya’.
‘Ah iya. Sekarang kan akhir semester banyak mahasiswa yang mau wisuda’.
‘Mari mbak naik, saya antar’.
‘Ayok mas’, ku hempaskan bokongku ke atas bangku becak.
Sedetik kemudian melaju dengan pelan-pelan.
Ditengah perjalanan mas Reso bertanya,’ mbak Suti darimana toh, kok kayaknya
dari pesta?’
‘Tahu darimana mas?’.
‘Lha itu baju sama dandanannya’.
‘Ah iya aku lupa’, kutepuk jidatku pelan. ‘Dari pesta pernikahan teman mas’.
‘Pasti orang kaya ya mbak. Kelihatan dari gaun mbak Suti. Bagus bener kayak putri cinderela’.
Aku tertawa mendengar jawabannya,’Mas ada-ada saja. Ini baju boleh pinjam, tadi disewakan oleh mantan bos ku dulu di perusahaan. Nanti kalau sudah selesai di laundry kan, mau saya kembalikan’.
‘Kenapa tidak dicuci sendiri mbak?’
‘Takut rusak mas baju mahal’.
‘Oh gitu thoo’.
Sesampai di dekat gang menuju kosan aku melambai keatas agar mas Reso bisa melihat gerakanku. Decitan halus ban bergesek dengan aspal terdengar sebelum akhirnya becak itu berhenti total.
‘Turun disini mbak?’
‘Iya mas. Ini ongkosnya’, jawabku mengangsurkan uang seratus ribuan.
‘Waduuh gak ada kembaliannya mbak. Uangnya terlalu banyak’.
‘Ambil saja mas kembaliannya’.
‘Beneran nih’.
‘Bener anggap saja bonus dariku karena mas mengantarkan tepat waktu dan selamat’.
‘Alhamdulilah mimpi apa aku semalam’.
‘Mimpi diculik bidadari cantik kali mas’, kataku menggodanya.
‘Ha..ha..ha. Ada-ada saja mbak Suti. Ya sudah terima kasih banyak ya. besok kalau mau jualan nasi saya jemput deh. Dan tidak usah bayar’.
‘Iya mas..iya. selamat malam ya aku pamit’.
‘Malam hati-hati mbak gang nya gelap loh’.
‘Oke’, kataku sembari mengacungkan jempol.
Sedikit mempercepat langkah aku menuju rumah yang paling ujung dari komplek ini. Meskipun termasuk kawasan perumahan kalau di malam hari tetap saja sepi dari aktifitas manusia. Mungkin karena lokasinya yang jauh dari perkotaan, bisa dibilang ini adalah pinggiran kota.
Sepi dan mencekam, untuk menepis ketakutan yang menjalar, kulepas high heels serta lari sekuat tenaga menuju ke kosanku. Ketika aku merasa ada penguntit dibelakang.
Sebelum memasuki kamar kutolehkan kepalaku ke arah kegelapan diujung gang. Tapi tak kutemukan apa pun. Dengan terburu-buru kubuka pintu kamar dan memasukinya.
’Blam!’ pintu kubanting dan kembali dan menguncinya lagi.
Kuletakan box makanan ke meja dekat pintu sedangkan barang bawaanku yang lain terlempar di atas kasur. Kemudian kubanting tubuhku tengkurap di atasnya dan mendengkur. Kelelahan membuat mataku terpejam
__ADS_1
dan kesadaranku terseret ke alam mimpi