
Kantor Jay, Cartwright building.
‘Oh ****, apakah dia marah. Apakah dia cemburu. Apa kata mama nanti?’ bingung Jay.
‘Bruuuk’,
merebahkan tubuhnya ke sofa sembari memijit-mijit keningnya yang terasa lelah.
Matanya memerah menahan amarah atas ke egoisanya barusan, membuat Jay terduduk
dan meraih telepon didekatnya.
‘Jeff, ikuti nona muda!’, perintahnya.
‘Iii….ikuti kemana bos. Bukannya nona bersama anda sekarang?’
‘Damn you Jeff, jika dia ada disini buat apa aku menyuruhmu’.
‘Maaf bos, saya tidak tahu’.
‘Kerahkan anak-anak dari base camp’.
‘Siap bos’
‘Suruh bagian IT meretas CCTV kota’.
‘Oke bos’.
Setelahnya Jay merapikan dasi dan baju yang berantakan akibat ulah Selly. Gegas menuju
ruang istirahat tuk mengganti bajunya yang kusut. Depan wastafel dia
berkali-kali membasuh mukanya dengan air. Mencoba menghilangkan jejak Selly
dari sana. Tapi tak bisa. Dengan kesal tangan kanannya meninju cermin dan
berantakan, hancur berkeping-keping ke lantai.
‘Brengsek, mengapa aku begitu brengsek’, sesalnya berkali-kali.
Air basuhan menetes dari wajah serta rambut yang berantakan, ia menatap wajah penuh
penyesalan dari sana, betapa kepalanya seakan mau pecah. Sedetik kemudian,
‘Blaamm’, pintu terbanting.
Jay mengambil tas di atas meja, menuju keluar ruangan. Tanpa menoleh dia berkata,
‘Selly saya ada urusan diluar, cancel semua jadwal hari ini. Alihkan besok!’
‘Baik Mr. Jay’.
Dia melangkah menuju lift. Smirk Selly semakin lebar dan pancaran euporia
kegembiran begitu kentara diwajahnya. Sayangnya hal itu tak tertangkap mata
Jay.
‘Ting’.
Tepat dimeja resepsionis. Jay yang hendak meninggalkan kantor berbalik arah menghampiri
petugas yang sedang melakukan panggilan telepon.
‘Em Santi’.
‘Ya Mr. Jay’.
‘Bilang pada Andrew untuk menghandle tugas ku hari ini. Aku lupa mengatakannya tadi’.
‘Baik pak’.
‘Ingat Santi sampaikan sekarang via phone ya’, tegasnya sekali lagi.
‘Oke bos, semoga perjalanan anda menyenangkan, jawabnya sambil menangkupkan tangan.
Menjentikan jari, ia memanggil sekuriti yang berada didekat pintu masuk gedung sembari
berkata,
‘Panggil sopirku kemari’, titahnya.
‘Oke bos’.
Didalam mobil Jay berkali-kali mengurut pelipisnya yang berkedut menahan emosi. Jiwanya
hilang sesaat memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan dihadapinya terutama
mamanya yang tentu akan sangat bersedih.
‘Ini gila’, rutuknya dalam hati. ‘Bagaimana bisa aku terjebak dalam permainan Selly’
‘Kita kemana bos’, tanya Jeff yang saat ini sedang mengemudi.
‘Ada info terbaru tentang nyonya muda’.
‘Belum bos tapi pakar IT kita bilang jika mobil yang dikendarai pak Tarno sedang melaju
__ADS_1
keluar kota’.
‘Apa dia dalam keadaan terburu-buru?’
‘Em…tidak bos. Lajunya normal sekitar enam puluh kilometer per jam’.
‘Apakah sudah kelihatan mobil itu memasuki kota lagi?’
‘Sepertinya tidak bos’.
‘Damn, kemana dia ini sudah larut malam’.
‘Bos, nyonya muda menuju kampung lek Parjo di prigen’.
‘Apaa!’
Di daerah pegunungan Prigen.
Udaranya asri dan segar, tak banyak polusi disini. Jalan yang naik dan berkelok tajam,
merupakan pemandangan yang lumrah. Penduduk asli sudah terbiasa dengan
lingkungan tersebut, akan terasa berbeda dengan orang dari luar daerah yang
justru memandang keadaan itu sebagai pengalaman mengerikan. Terutama daerah
patung kuda yang sisi kanan dan kirinya merupakan perkebunan dan taman bunga. Jika
ada rumah penduduk itu pun jarang sekali.
Tarno yang punya pengalaman selama bertahun-tahun sebagai supir truk terbiasa akan hal
itu. Mengantar barang antar kota bahkan antar propinsi adalah hal yang menjadi
kebiasaannya dulu di perusahaan Cartwright. Ya dia adalah salah satu sopir
perusahaan Jay sebelum diangkat menjadi sopir keluarga karena jasanya terhadap
tuan Bob, ayah kandung Jay. Suami mama Laura, yang meninggal karena pembunuhan
berencana. Dimata orang normal seperti pembunuhan oleh senjata tajam, saat
malam naas itu beliau pulang dari kantor dan sedang dikeroyok empat orang berbadan
besar serta memakai cadar.
Hari itu dia hanya menyopir mobilnya sendirian
karena akan memberikan pesta kejutan ulang tahun kepada istrinya, sengaja
rahasianya.
Malam yang sepi tak tampak satupun sekuriti perusahaan di gerbang, membuatnya tak
mencurigai sesuatu pun. Sampai kemudian datang ke empat orang tersebut dengan
membawa belati masing-masing di tangan kanan.
Tanpa persiapan Bob melawan mereka menggunakan tangan kosong,
kalah jumlah dan tenaga dia terkapar ditanah dengan darah berhamburan
dari dada serta perutnya.
Satpam perusahaan yang telah dilumpuhkan dan di ikat oleh lawan hanya mampu
membeliakan mata tanpa bersuara. Mereka ngeri dan menangis dalam diam saat
pemandangan sadis pembantaian sang majikan tergambar dengan jelas melalui
kamera pengintai keamanan.
Tergeletak tak berdaya Bob ditinggalkan orang yang menyerangnya, mereka kabur menuju arah
timur dengan mobil van berwarna perak.
Tarno yang habis bongkar muatan di gudang perusahaan bagian belakang hendak pulang kerumah
setelah berhari-hari mengangkut bahan baku dari Jawa Barat, membuat nyawa
Mr.bobby terselamatkan walaupun sebulan kemudian dia meninggal dengan cara
mengenaskan. Dia sembuh total setelah dirawat dari rumah sakit tapi serangan
gagal jantungnya, mematikan.
Lirikan netranya kembali ia gulirkan ke majikan mudanya di bangku penumpang. Ia yang
tak mampu merangkai kata-kata manis sebagai penghiburan membuatnya diam sambil
melajukan kendaraannya pelan. Hingga sampai dikawasan yang penuh dengan
perkebunan serta sawah yang padinya tampak tumbuh subur dimana-mana,
didengarnya sebuah perintah.
‘Pak kita turun disini!’, tunjuknya pada area sawah yang dekat dengan sungai dimana
__ADS_1
penduduk desa biasanya mencuci dan mandi.
‘Tapi non, rumah lek Parjo kan masih jauh’.
‘Tak apa, pak. Ini juga merupakan sawahnya.
‘Non mau apa disini?’ dia bertanya ketika netranya melirik sang majikan yang melepas
sepatu.
‘Tunggu disini pak, aku akan duduk dibatu besar ditengah sawah itu’.
‘Tapi non’, hendak melanjutkan kalimatnya tapi tak jadi saat melihat air muka
majikannya yang tampak antusias dengan sedikit senyuman tersembul dari bibirnya
yang cantik.
Tak tega ia pun membiarkan dan hanya menunggu di tepian sawah sambil melihat sekeliling
memastikan keamanan sang nona muda.
Suti melangkah dengan mantap menuju batu favoritnya. Ia yang biasanya berjalan
hati-hati, cenderung terburu agar segera mencapai tempat itu.
Sesaat begitu tiba kaki kanan diangkat dengan tumpuan kedua tangannya diatas batu.
Permukaan batu yang sedikit kasar tak menyurutkan tekadnya.
Sedetik kemudian posisi bersila menghadap arah barat memandangi rerimbunan hutan nun
jauh disana tercapai. Memejamkan mata, menikmati hembusan angin sore membuat
tercapainya relaksasi.
Dia membuang semua bayangan kejadian dikantor Jay siang ini. Posisi intim suaminya
dengan sang sekretaris diatas meja kerja tergambar dengan jelas. Decapan ciuman
bibir dari kedua makhluk yang akrab dengannya itu tergiang kembali, ia pun
menggelengkan kepala berkali-kali. Dalam hatinya mengeluh,
‘Bunda angkat sakit hati ini. Buang jauh-jauh penderitaanku. Bunda biarkan aku ikut
denganmu. Beban hidup ini sudah tak ingin kutanggung lagi. bunda tolong aku’.
Sedetik kemudian kepala Suti tertunduk terkulai memandangi batu besar tempatnya duduk
saat ini. Tampak kemudian tubuh Suti tersentak seolah sadar akan sesuatu. Pupil
matanya berubah hijau dengan aura jahat didalamnya. Ketika adzan isya’
berkumandang dari musholla ditengah pedesaan, dia kembali normal.
Senyum sumringah terpancar dari wajahnya yang pucat terkena angin malam, ia pun turun
dari sana menuju Tarno yang sedang menunggu. Tak menyadari ada perubahan dari
sang majikan dia membukakan pintu penumpang.
‘Kita kemana lagi non?’.
‘Pulang pak’.
‘Ke kota maksudnya apa ke rumah pamannya non’.
‘Mama Laura’, hanya sahutan pendek yang didengarnya.
‘Brrrrrrrrrm’.
Mobil pun kembali melaju diantara bukit dan jalanan yang berkelok menukik tajam. Lampu
zein dihidupkan sebagai penerang diantara keheningan malam yang tiba-tiba sunyi
seolah ada makhluk gaib yang sedang melintas. Tak terpikirkan sedikit pun oleh
Tarno, karena ini adalah daerah pedesaan.
‘Tin…….tin….tin’.
Pintu gerbang dibuka, mobil pun melaju menuju depan pintu masuk mansion Cartwright.
Wati sang asisten rumah tangga membukakan pintu dan mengucap selamat datang
kepada nyonya mudanya yang dibalas hanya dengan anggukan, sebelum menuju
kamarnya di lantai dua.
Sementara Tarno membawa mobilnya menuju garasi, sesaat hendak menutup pintu mobil ia
merasakan hawa dingin berhembus. Merasa aneh dia mengusap tengkuknya serta
menoleh kesekeliling, tak ada. Ia pun membuka pintu samping garasi, menuju
kamar tuk beristirahat.
__ADS_1