
Di balkon horizon hotel, kamar 302.
David mengutarakan penyelidikan orang-orang suruhannya kepada sang
bos. Dia mendengarkan semua informasi dengan seksama sampai terdengar nama
Selly disana, ia pun menjeda.
“Tunggu Dave, apa yang terjadi dengan perempuan bodoh itu?”
“Dua bulan yang lalu dia sempat menghubungi bos, tepat dua hari
setelah kematian Dina”.
“Apa yang ingin dia tanyakan?”
“Dia meminta berbicara denganmu tentang ketakutannya dipenjara”.
“Hem itu ya. Ha…..ha…..ha. Sekali pengecut tetap saja pengecut.
Lantas apa yang kamu sarankan?”
“Menghilang bos, untuk sementara. Tapi tampaknya kepolisian sudah
mengetahui keberadaannya”.
“Dimana itu?”
“Amerika bos, dikediaman keluarga Robinson yang lama”.
“Heem, rupanya sepupuku sudah bosan hidup sehingga dia berani
menampung perempuan itu” smirknya muncul.
“Baiklah Dave. Tinggalkan aku sendiri”.
“Baik bos saya permisi”.
“Hem”.
Clark menyalakan rokok yang belum sempat disentuhnya dari meja.
Dia pun mulai menghisap pelan-pelan dan menghembuskan lewat mulutnya ke udara.
Dalam sekejap aroma tembakau memenuhi setiap sudut balkon.
Netra Clark memicing ke arah kegelapan malam yang semakin pekat di
atas sana. Asap rokok yang menguar disekitar wajahnya, mampu membawa pikirannya
melayang ke kejadian tadi pagi.
“Heems, siapa yang berani menyerangku tadi pagi, sudah bosan hidup
dia rupanya?”
“Apakah si nyai, hanya dia yang mampu menandingi ilmu warisan ki
Nogo? Tapi aku tak dapat mengendus keberadaan perempuan itu”.
“Aneh betul-betul aneh” gumamnya berkali-kali, tak habis pikir.
“Ah lebih baik aku fokuskan mencari keberadaan Selly. Aku tak mau
rencanaku jadi berantakan gara-gara kecerobohannya”.
Dia pun diam dan memfokuskan pikirannya mendeteksi keberadaan
wanita itu di Amerika. Jiwanya melayang dari satu tempat ke tempat yang lain,
dimana Robinson tinggal. Tak menemukannya dia pun kembali ke raga kasar yang
saat ini berdiri di balkon hotel, sembari melanjutkan hisapan rokoknya.
Lantas ia pun memanggil sang asisten untuk mengerahkan anak
buahnya menyusuri keberadaan Selly dengan teknologi canggih.
__ADS_1
Di rumah sakit pukul dua malam.
Suti yang semula tertidur lelap tiba-tiba tersentak bangun. Dia
mengulas senyum licik saat netranya melihat keberadaan Jodi disamping
ranjangnya.
Pelan-pelan ia melepaskan jarum infus yang menancap di tangan dan
mendekati brankar Jodi. Dari sisi ranjang, dia menelusuri tubuh Jodi dari atas
sampai ujung kaki. Lidahnya yang bercabang pun menjulur ke sambarang arah
seolah melihat makanan lezat terhidang diatas meja.
“Dinda apa yang akan kau lakukan?”
“Ssssss, aku ingin membunuhnya Yunda”.
“Jangan dinda, anak ini dicintai oleh keturunan kita”.
“Apakah anak ini juga mencintai cucu buyut kita yunda? Aku lihat
dia kejam sekali dengannya”.
“Bisakah kamu membedakan kekejaman dan kecemburuan adik ku?”
“Cuih, mana ku tahu, aku hanyalah siluman murni dan tak mengenal
apa itu cemburu atau cinta. Yunda mungkin tahu karena kamu bagian dari mereka”.
“Rasakanlah adik ku, kamu pasti bisa mengerti karena kita ada
didalam tubuh Suti’.
Sejenak raga Suti bergetar hebat. Matanya berubah menjadi putih
sebelum normal kembali.
kekehnya keras.
“Ah sudalah dinda, mari kita istirahatkan raga ini. Dia kehilangan
banyak darah karena pertengkaran itu”.
“Sssssh, baiklah”.
Enam bulan kemudian.
Laura mencemaskan keadaan anak semata wayangnya yang tak kunjung
sadar. Berulangkali dia meminta para dokter untuk memeriksa kesehatannya.
Mereka memberikan hasil diagnosa yang sama, bahwa Jodi baik-baik saja.
Terbersit niatan akan merawat Jodi di Singapura, dia bimbang.
Antara mengkhawatirkan perusahaan, Suti dan semua bisnis yang digelutinya.
Untuk the Cartwright Company, dia serahkan pada Andrew sang
asisten kepercayaan putranya. Sedangkan Suti yang sudah sebulan ini menghilang
dari rumah, masih belum mampu ia temukan, walaupun sudah mengerahkan semua
orang yang ada di basecamp.
Bahkan sudah mencari sampai ke desa tempat asal Suti di Prigen dan
rumah ibunya di daerah Lumajang pun, dia tak ada. Seolah menghilang ditelan
bumi.
Pakar IT dari perusahaan pun menyerah karena tak mampu mendeteksi
lokasi penyadap dari liontin yang dia kenakan.
__ADS_1
Mendengar semua informasi yang mengecewakan dari semua anak
buahnya. Laura saat ini terduduk di sofa ruang tamu sambil memijit kening.
Dihirupnya udara kemudian dilepaskan pelan-pelan melalui mulut.
Saat dirasa ketenangan sudah menguasai diri, dia diam berpikir sambil
memejamkan mata.
“Apa yang harus kulakukan?” pikirnya.
“Hiks….hiks. Bob seandainya kamu masih hidup aku yakin kita dapat
segera menyelesaikan masalah ini. Hiks…hiks, aku capek suamiku. Bisakah kamu
menolongku. Please, datanglah mesti dalam mimpi” keluhnya sambil menutupi wajah
dengan kedua tangan.
Tak beberapa lama kemudian Laura tertidur di sofa itu. Dan dia
bermimpi pada kejadian berpuluh tahun yang lalu, saat semua permasalahan ini
timbul.
Suara gelak tawa para tamu undangan memenuhi aula hotel di
Amerika. Dentingan gelas yang diadu bertanda ucapan selamat atas pernikahan
yang dijalani oleh pasangan yang saling mencintai. Yah siang itu adalah
pernikahan antara Bobby Bimantara Cartwright dengan Laura London.
Keluarga Cartwright maupun The London’s adalah pebisnis yang
sukses. Mereka merajai disegala aspek perdagangan. Mulai dari pembuatan kapal
laut, udara sampai mendatangkan rempah-rempah dari Indonesia.
Karena kesuksesan dari kedua belah pihak, banyak diantara rekan
bisnisnya yang menganggap bahwa pernikahan mereka sekaligus pernikahan dua
kerajaan perusahaan besar, Cartwright company dan The London’s.
Para investor saham didua perusahaan tersebut merasa gembira
sekaligus lega dengan jaminan nilai stock yang otomatis membumbung naik. Apalagi
dengan ‘Go Public-nya’ investasi dalam Cartwright Company.
Sudah beberapa dekade sejak perusahaan itu didirikan, tak pernah
sekalipun mereka membuka peluang bagi para investor luar, menanamkan modalnya
dengan dalih, itu adalah bisnis keluarga.
Tapi hari ini lain, undangan yang tersebar kepada para tamu
menambahkan catatan tambahan didalamnya tentang ‘Go public-nya’ perusahaan
raksasa tersebut. Dan wajah-wajah para tamu yang hadir dipesta itu pun, semua
kalangan pebisnis.
Ada yang datang dengan niatan tulus memberikan restu dan ucapan
selamat, ada pula yang sekedar memberikan nama serta mukanya bahwa mereka siap
untuk menjadi investor.
Laura dan Bobby tak memperdulikannya, yang jelas
kedua pengantin sedang menikmati momen sakral yang digelar saat ini. Karena mereka saling
mencintai.
__ADS_1