
‘Kang Bargooo’.
‘Ada apa dik Darsi’.
‘Kita ke lapangan yuk. Teman-teman sudah menunggu’.
‘Baiklah’.
‘Setelah itu kita ke sungai ya kang. Mandi sekalian nyeser ikan buat emak
masak dirumah’.
‘Em’
Gegas Bargo mengekori Darsi yang berjalan cepat di depannya. Kaki mungilnya
sangat lincah melewati pematang sawah seolah ada mata kedua diujung kaki itu.
‘Dik Darsi jangan cepat-cepat’.
‘Weeh, cemeng. Cepetan kang ntar keburu gelap’, sambil menjulurkan lidahnya
mengejek.
‘Waduh dik, jangan gitu toh. Kakang kan sudah lama tidak pulang kampung.
Perlu pembiasaan lagi jalan di pematangnya’.
‘Emangnya di kota gak ada sawah kang?’
‘Mana ada dik. Disana banyak pabrik sama rumah besar milik Belanda’.
Merasa tertarik Darsi menghentikan langkahnya. Netranya mengerjap jenaka
menggoda.
‘Beneran kang’.
Bargo gelagapan, sejenak dia terpesona dengan pemandangan indah dimatanya.
Menahan napas sebelum menjawab.
‘Tentu saja dik Darsi. Nanti kalau kang Bargo sudah tidak sibuk dengan
pekerjaan pabrik. Akan kakang ajak kamu ke kota’.
‘Heem, boleh. Memangnya kamu kerja sebagai apa kang disana?’
‘Centeng lah dik. Jadi apalagi kemampuan kakangmu ini kan berkelahi’,
sembari menepuk dadanya menyombongkan diri.
‘Cocok sih kang. Badanmu kan gede terus pinter silat lagi’.
‘Nah itu’.
‘Memang centeng di rumah orang Belanda ya kang?’
‘Nggak, kakang kerja di Suikerfabriek. Di kediri’.
‘Kediri itu jauh ya kang?’
‘Ya jauh lah dik, dua hari perjalanan dari sini’.
‘Ouh, tapi bener ya kang nanti aku diajak jalan-jalan ketempat mu bekerja’.
‘Janji’, mengulurkan jari kelingkingnya.
Darsi pun menerima uluran tersebut dan mereka saling menautkannya, sejenak
sebelum sifat jailnya keluar. Tangan kanan yang terbebas menyentil jidat Bargo
keras lalu melarikan diri dengan cepat.
‘Woooi Darsi tunggu dong’, teriaknya sambil mengejar.
Yang dikejar menoleh sejenak sambil menjulurkan lidah kemudian kembali
mengayunkan langkah dengan cepat.
‘Tuh anak makin cantik saja tapi hobinya menjulurkan lidahnya dari dulu tak
pernah hilang. Kayak ular saja’, batin Bargo terkekeh geli.
Gegas dia pun menyusul Darsi tuk bergabung dengan yang lainnya di lapangan
tempat mereka biasa berkumpul.
Mansion Cartwright, beberapa tahun yang lalu.
‘Laura......Laura’.
‘Bob....Bobby honey’.
Laura mengikuti panggilan dari suaminya. Tampak dia sedang mengenakan
__ADS_1
tuxedo hitam sambil menunggu dalam diam, memunggungi. Berjalan mendekat dan
hendak menyentuh punggung suaminya, Bob malah menjauh. Langkahnya ringan
seringan kapas. Laura berusaha menggapai suaminya selalu gagal. Dia ikuti dari
belakang sampai menuju lorong gelap tanpa cahaya dan berkabut. Begitu sampai
diujung lorong hutan belantara terlihat. Dia menoleh kekiri dan kekanan
berharap bisa menangkap bayangan Bobby, tapi tak bisa.
‘Booob, Bobby honey. Dimana kamu, jangan tinggalkan aku sendiri’,
teriaknya.
Hanya kesunyian yang menyapa. Merasa putus asa dan ketakutan air matanya
mulai mengalir deras. Bersimpuh dalam keputus asaan.
‘Bob jangan tinggalkan aku sendiri. Aku takuut’, rintihnya.
Punggungnya bergetar menahan senggukan yang semakin keras terdengar.
Perlahan bayangan Bob mulai mendekat menyentuh pundaknya dalam diam seolah
menenangkan. Laura pun berdiri menghadap suaminya memeluknya erat dan menumpahkan
segala penat dihati. Dibiarkan istrinya menangis dalam pelukan, tangannya terjulur
mengelus rambut panjang Laura berkali-kali. Menerima perlakuan itu tangisnya
pun semakin menjadi-jadi.
‘Cup....cup, sudahlah Laura. Kamu bukan anak kecil lagi. Berhentilah
menangis’.
‘Aku capek Bob...aku lelah. Biarkanlah aku bersandar didadamu menumpahkan
segala yang menyesak kan ini’.
‘Bersabarlah Laura semua akan berakhir. Dan kamu harus melindungi Jodi
putra kita. Keturunan kita satu-satunya. Pewaris Cartwright’.
‘Aku....aku tidak sanggup lagi Bob. Aku ingin ikut kamu. Mereguk manisnya
sebuah hubungan keluarga nan manis seperti dulu’.
kita’.
‘Hiks...hiks’, tangisnya semakin keras.
‘Sabar ya sayang semua akan indah ketika waktunya tiba’.
Melepas pelukan dari suami Laura perlahan mengusap air matanya dengan sapu
tangan yang dia bawa, dengan mata yang terpejam. Saat ia membuka mata, Bobby
telah hilang dari hadapannya.
‘Booob, Boobby. Where are you?’, panggilnya lagi.
‘Laura...Laura. aku disini’, suara itu sayup-sayup terdengar.
Melangkahkan kaki semakin masuk kedalam ruang gelap yang tak berujung, Laura
menajamkan telinga mengikuti suara itu. Tak ia pedulikan goresan rumput ilalang
yang setinggi manusia disekelilingnya. Rasa pedih dan perih saat benda itu
menggores kulit lembutnya pun tak dia hiraukan. Hingga netranya menangkap
bangunan mansion bergaya Belanda dihadapannya.
Ingin masuk melalui pintu utama yang kokoh dan terkunci, tak mampu.
Akhirnya dia hanya diam sambil kembali menajamkan telinga mencari suara
suaminya. Hening. Dalam keputus asaan.
‘Laura....Laura. masuklah’.
Dia terkejut.
‘Ma.....masuk’, tanyanya bingung.
Perlahan pintu kayu nan kokoh dan tinggi itu pun terbuka perlahan. Gegas
dia berjalan menuju suara yang terus memanggil seolah memberi petunjuk atas
keberadaannya.
‘Blammm’.
__ADS_1
Suara debaman itu tak menyurutkan langkahnya tuk mencari sumber suara.
Menoleh kekanan dia melihat sebuah ruang dengan pintu kayu berukiran Jepara.
Laura merasa akrab dengan ruangan itu. Akal sehatnya seolah menuntun pada
realita tapi perasaannya terhipnotis, tanpa sadar ia memasuki ruangan sampai
menemukan lukisan seorang wanita Indonesia yang mengenakan mahkota dikepalanya
sedang duduk berdua dengan pria dari belanda. Mereka tampak anggun dan
bersahaja yang merupakan ciri khas dari kaum bangsawan jaman dulu.
Sedetik kemudian asap mengepul keluar dari lukisan lelaki itu membentuk
siluet seorang pria bangsawan tampan dari Netherlands. Tinggi badannya seratus
sembilan puluh sentimeter, rambutnya pirang dan wajahnya halus sehalus boneka
porselen.
‘Bobby!’, bisiknya tanpa sadar.
‘Nee’, jawab sosok itu.
‘Kamu siapa?’
‘Ik ben de overgrootvader van je man’.
‘Tidak mungkin. Wajah kalian sangat mirip’.
‘Tentu saja, kita masih sedarah meskipun beda generasi’, tegasnya lagi.
‘Lantas dimana Bobby suamiku’.
‘Dia ada disini’, sosok itu menepuk dadanya.
‘Suruh dia keluar’, kata Laura.
‘Kan niet’. Dia akan muncul setelah aku selesai dengan urusanku’.
‘Apa mau mu?’.
‘Nikah kan cucu buyutku dengan perempuan yang bernama Suti’.
‘Tidak bisa. Jodi telah bertunangan dengan Marcella’, tolaknya tegas.
‘Ha....ha....ha. jangan bodoh kamu. Kalau kamu mau keturunan kita tidak
musnah. Maka nikahkanlah mereka. Kutukan keluarga ini akan hilang apabila Suti
dan Jodi punya anak’.
‘Emm tidak. Apa maksudmu dengan kutukan?, apakah Cartwright?’, tegasnya
lagi.
‘Heeem, nee, itu bukan dari Cartwright tapi dari mu Laura’.
‘Aku bagaimana mungkin. Apa salahku?’, tanyanya bingung.
‘Apa Van den berg, berarti sesuatu bagimu?’.
‘Hei mana mungkin. Aku adalah Laura london, nama familyku adalah the London’s.
Kami berasal dari Washington Amerika. Bagaimana bisa Van den berg adalah garis
keturunan kami’.
‘He.....he’, tawanya lagi.
‘Cari diruangan ini Laura kamu akan menemukan jawabannya. Semua yang ingin
kamu ketahui termasuk meninggalnya Bobby suami mu’.
‘Suamiku, bukankah dia meninggal karena serangan jantung?’
‘Dom, manusia modern memang tak mengenal itu, cari sendiri jawabannya Laura.
Waktu ku sudah habis. Jika kamu masih menginginkan Jodi hidup maka turuti
nasehatku’.
Tak lama kemudian kepulan asap melingkupi sosok itu dan menghilang dalam
sekejap membawa bayangannya. Laura terbangun dari tidurnya. Dia kaget ketika
melihat sekeliling ruangan. Badannya bersimpuh didepan lukisan kakek dan nenek
buyut Cartwright.
‘Bagaimana bisa aku tertidur dalam ruang musium keluarga’,
Menggeleng pelan sebelum beranjak meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1