MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XXI


__ADS_3

‘Kang Bargooo’.


‘Ada apa dik Darsi’.


‘Kita ke lapangan yuk. Teman-teman sudah menunggu’.


‘Baiklah’.


‘Setelah itu kita ke sungai ya kang. Mandi sekalian nyeser ikan buat emak


masak dirumah’.


‘Em’


Gegas Bargo mengekori Darsi yang berjalan cepat di depannya. Kaki mungilnya


sangat lincah melewati pematang sawah seolah ada mata kedua diujung kaki itu.


‘Dik Darsi jangan cepat-cepat’.


‘Weeh, cemeng. Cepetan kang ntar keburu gelap’, sambil menjulurkan lidahnya


mengejek.


‘Waduh dik, jangan gitu toh. Kakang kan sudah lama tidak pulang kampung.


Perlu pembiasaan lagi jalan di pematangnya’.


‘Emangnya di kota gak ada sawah kang?’


‘Mana ada dik. Disana banyak pabrik sama rumah besar milik Belanda’.


Merasa tertarik Darsi menghentikan langkahnya. Netranya mengerjap jenaka


menggoda.


‘Beneran kang’.


Bargo gelagapan, sejenak dia terpesona dengan pemandangan indah dimatanya.


Menahan napas sebelum menjawab.


‘Tentu saja dik Darsi. Nanti kalau kang Bargo sudah tidak sibuk dengan


pekerjaan pabrik. Akan kakang ajak kamu ke kota’.


‘Heem, boleh. Memangnya kamu kerja sebagai apa kang disana?’


‘Centeng lah dik. Jadi apalagi kemampuan kakangmu ini kan berkelahi’,


sembari menepuk dadanya menyombongkan diri.


‘Cocok sih kang. Badanmu kan gede terus pinter silat lagi’.


‘Nah itu’.


‘Memang centeng di rumah orang Belanda ya kang?’


‘Nggak, kakang kerja di Suikerfabriek. Di kediri’.


‘Kediri itu jauh ya kang?’


‘Ya jauh lah dik, dua hari perjalanan dari sini’.


‘Ouh, tapi bener ya kang nanti aku diajak jalan-jalan ketempat mu bekerja’.


‘Janji’, mengulurkan jari kelingkingnya.


Darsi pun menerima uluran tersebut dan mereka saling menautkannya, sejenak


sebelum sifat jailnya keluar. Tangan kanan yang terbebas menyentil jidat Bargo


keras lalu melarikan diri dengan cepat.


‘Woooi Darsi tunggu dong’, teriaknya sambil mengejar.


Yang dikejar menoleh sejenak sambil menjulurkan lidah kemudian kembali


mengayunkan langkah dengan cepat.


‘Tuh anak makin cantik saja tapi hobinya menjulurkan lidahnya dari dulu tak


pernah hilang. Kayak ular saja’, batin Bargo terkekeh geli.


Gegas dia pun menyusul Darsi tuk bergabung dengan yang lainnya di lapangan


tempat mereka biasa berkumpul.


Mansion Cartwright, beberapa tahun yang lalu.


‘Laura......Laura’.


‘Bob....Bobby honey’.


Laura mengikuti panggilan dari suaminya. Tampak dia sedang mengenakan

__ADS_1


tuxedo hitam sambil menunggu dalam diam, memunggungi. Berjalan mendekat dan


hendak menyentuh punggung suaminya, Bob malah menjauh. Langkahnya ringan


seringan kapas. Laura berusaha menggapai suaminya selalu gagal. Dia ikuti dari


belakang sampai menuju lorong gelap tanpa cahaya dan berkabut. Begitu sampai


diujung lorong hutan belantara terlihat. Dia menoleh kekiri dan kekanan


berharap bisa menangkap bayangan Bobby, tapi tak bisa.


‘Booob, Bobby honey. Dimana kamu, jangan tinggalkan aku sendiri’,


teriaknya.


Hanya kesunyian yang menyapa. Merasa putus asa dan ketakutan air matanya


mulai mengalir deras. Bersimpuh dalam keputus asaan.


‘Bob jangan tinggalkan aku sendiri. Aku takuut’, rintihnya.


Punggungnya bergetar menahan senggukan yang semakin keras terdengar.


Perlahan bayangan Bob mulai mendekat menyentuh pundaknya dalam diam seolah


menenangkan. Laura pun berdiri menghadap suaminya memeluknya erat dan menumpahkan


segala penat dihati. Dibiarkan istrinya menangis dalam pelukan, tangannya terjulur


mengelus rambut panjang Laura berkali-kali. Menerima perlakuan itu tangisnya


pun semakin menjadi-jadi.


‘Cup....cup, sudahlah Laura. Kamu bukan anak kecil lagi. Berhentilah


menangis’.


‘Aku capek Bob...aku lelah. Biarkanlah aku bersandar didadamu menumpahkan


segala yang menyesak kan ini’.


‘Bersabarlah Laura semua akan berakhir. Dan kamu harus melindungi Jodi


putra kita. Keturunan kita satu-satunya. Pewaris Cartwright’.


‘Aku....aku tidak sanggup lagi Bob. Aku ingin ikut kamu. Mereguk manisnya


sebuah hubungan keluarga nan manis seperti dulu’.


kita’.


‘Hiks...hiks’, tangisnya semakin keras.


‘Sabar ya sayang semua akan indah ketika waktunya tiba’.


Melepas pelukan dari suami Laura perlahan mengusap air matanya dengan sapu


tangan yang dia bawa, dengan mata yang terpejam. Saat ia membuka mata, Bobby


telah hilang dari hadapannya.


‘Booob, Boobby. Where are you?’, panggilnya lagi.


‘Laura...Laura. aku disini’, suara itu sayup-sayup terdengar.


Melangkahkan kaki semakin masuk kedalam ruang gelap yang tak berujung, Laura


menajamkan telinga mengikuti suara itu. Tak ia pedulikan goresan rumput ilalang


yang setinggi manusia disekelilingnya. Rasa pedih dan perih saat benda itu


menggores kulit lembutnya pun tak dia hiraukan. Hingga netranya menangkap


bangunan mansion bergaya Belanda dihadapannya.


Ingin masuk melalui pintu utama yang kokoh dan terkunci, tak mampu.


Akhirnya dia hanya diam sambil kembali menajamkan telinga mencari suara


suaminya. Hening. Dalam keputus asaan.


‘Laura....Laura. masuklah’.


Dia terkejut.


‘Ma.....masuk’, tanyanya bingung.


Perlahan pintu kayu nan kokoh dan tinggi itu pun terbuka perlahan. Gegas


dia berjalan menuju suara yang terus memanggil seolah memberi petunjuk atas


keberadaannya.


‘Blammm’.

__ADS_1


Suara debaman itu tak menyurutkan langkahnya tuk mencari sumber suara.


Menoleh kekanan dia melihat sebuah ruang dengan pintu kayu berukiran Jepara.


Laura merasa akrab dengan ruangan itu. Akal sehatnya seolah menuntun pada


realita tapi perasaannya terhipnotis, tanpa sadar ia memasuki ruangan sampai


menemukan lukisan seorang wanita Indonesia yang mengenakan mahkota dikepalanya


sedang duduk berdua dengan pria dari belanda. Mereka tampak anggun dan


bersahaja yang merupakan ciri khas dari kaum bangsawan jaman dulu.


Sedetik kemudian asap mengepul keluar dari lukisan lelaki itu membentuk


siluet seorang pria bangsawan tampan dari Netherlands. Tinggi badannya seratus


sembilan puluh sentimeter, rambutnya pirang dan wajahnya halus sehalus boneka


porselen.


‘Bobby!’, bisiknya tanpa sadar.


‘Nee’, jawab sosok itu.


‘Kamu siapa?’


‘Ik ben de overgrootvader van je man’.


‘Tidak mungkin. Wajah kalian sangat mirip’.


‘Tentu saja, kita masih sedarah meskipun beda generasi’, tegasnya lagi.


‘Lantas dimana Bobby suamiku’.


‘Dia ada disini’, sosok itu menepuk dadanya.


‘Suruh dia keluar’, kata Laura.


‘Kan niet’. Dia akan muncul setelah aku selesai dengan urusanku’.


‘Apa mau mu?’.


‘Nikah kan cucu buyutku dengan perempuan yang bernama Suti’.


‘Tidak bisa. Jodi telah bertunangan dengan Marcella’, tolaknya tegas.


‘Ha....ha....ha. jangan bodoh kamu. Kalau kamu mau keturunan kita tidak


musnah. Maka nikahkanlah mereka. Kutukan keluarga ini akan hilang apabila Suti


dan Jodi punya anak’.


‘Emm tidak. Apa maksudmu dengan kutukan?, apakah Cartwright?’, tegasnya


lagi.


‘Heeem, nee, itu bukan dari Cartwright tapi dari mu Laura’.


‘Aku bagaimana mungkin. Apa salahku?’, tanyanya bingung.


‘Apa Van den berg, berarti sesuatu bagimu?’.


‘Hei mana mungkin. Aku adalah Laura london, nama familyku adalah the London’s.


Kami berasal dari Washington Amerika. Bagaimana bisa Van den berg adalah garis


keturunan kami’.


‘He.....he’, tawanya lagi.


‘Cari diruangan ini Laura kamu akan menemukan jawabannya. Semua yang ingin


kamu ketahui termasuk meninggalnya Bobby suami mu’.


‘Suamiku, bukankah dia meninggal karena serangan jantung?’


‘Dom, manusia modern memang tak mengenal itu, cari sendiri jawabannya Laura.


Waktu ku sudah habis. Jika kamu masih menginginkan Jodi hidup maka turuti


nasehatku’.


Tak lama kemudian kepulan asap melingkupi sosok itu dan menghilang dalam


sekejap membawa bayangannya. Laura terbangun dari tidurnya. Dia kaget ketika


melihat sekeliling ruangan. Badannya bersimpuh didepan lukisan kakek dan nenek


buyut Cartwright.


‘Bagaimana bisa aku tertidur dalam ruang musium keluarga’,


Menggeleng pelan sebelum beranjak meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2