MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XX


__ADS_3

Perempuan bercadar itu berkali-kali menampar


wajah seseorang yang terikat dikursi sambil


mengucapkan kata-kata kotor.


‘Hoer, weet niet in winst. Murahan,’


Lelaki yang ada di sisinya hanya menatap kasihan kepada wanita yang


dipukulinya berkali-kali itu. Tatkala perempuan itu meminta cambuk yang


terselip diantara dinding gubug, dia melangkah dengan penuh keraguan,


‘Cepat bargo, ambilkan cambuk itu. Aku ingin menghajar perempuan ini


sebelum melemparkannya ke dasar jurang dibawah sana’, bentaknya kasar.


Perempuan yang di kursi itu semakin melotot ketakutan.


‘Ta....tapi non’,


‘Bargooo, aku yang membayarmu ingat itu dan kamu tidak boleh membantah’,


‘I....iya non’,


Gegas ia menuju dinding gubug tuk mengambil dan menyerahkan cambuk itu


kepada nonanya.


‘Cetar.....cetar’, dengan sekuat tenaga ia mengayunkan benda itu.


Sedangkan perempuan yang terikat itu semakin tak berdaya. Tubuhnya telah


penuh luka dengan pukulan hingga cambukan yang diterimanya saat ini. Kekejaman


yang semakin menyakiti tubuhnya, membuat ia pingsan.


‘Huh....dasar. Kamu tak akan kubiarkan mati dengan mudah, nyai. Ingat


hidupmu itu milik ku. Hanya milik ku, ha......ha....ha’, melepas cadarnya dan


meninggalkan perempuan itu sendiri di gubug.


‘Bargo, kasih perempuan itu makan begitu dia sadar’.


‘Baik non’.


Berjalan menuju kudanya, dia melesat meninggalkan area. Sejenak hutan itu


kembali sunyi tak ada lagi jerit kesakitan dan teriakan kemarahan hanya suara


binatang malam terdengar dimana-mana.


Cartwright building.


‘Tas nya tuan’.


‘Hem’.


Memencet lift khusus petinggi perusahaan menuju lantai delapan.


‘Wuuuung’


‘Ting’


Jay keluar dari lift dengan Andrew mengekorinya. Berjalan lurus di koridor


sampai di pintu ruang yang bertuliskan Presiden Direktur.


‘Silahkan tuan’, kata Andrew sambil membukakan pintu.


‘Terima kasih Ndrew. Duduklah ada yang ingin kubicarakan’,


Melangkah menuju sofa tunggal dan memposisikan diri didepan sang bos.


Sebelum membuka pembicaraan Jay memijit pelipisnya seolah melepas beban berat


dalam hati.


‘Heem, begini. Aku ingin kamu mencari seseorang’.


‘Seseorang bos?’, tanyanya memastikan.


‘Ya cari perempuan yang bernama Dona. Ciri fisiknya sama dengan istriku


hanya saja dia lima centi lebih pendek. Dia bekerja sebagai waitres di


Butterfly Night Club’,

__ADS_1


‘Oke bos’.


‘Dan satu lagi cek CCTV di ruang privat club itu. Fokuskan pada aktivitasku


tadi malam disana. Aku ingin tahu apa Clark dan David terlibat didalamnya’.


‘Beres bos, aku akan menghubungi Jeff’.


‘Bagus urusi segera’.


‘Saya pamit bos’,


‘Hem’.


Cartwright mansion.


Memandangi tulip dan mawar yang bergoyang ditiup angin, membuat Suti


tersenyum apalagi ketika netranya termanjakan dengan warna warni bunga, sungguh


ciptaan Tuhan yang tiada tandingannya. Sayang sekali ketenangan jiwa yang dia


rasakan saat ini harus terjeda oleh dering telepon berkali-kali.


‘Truuut.....truuut’.


Diambilnya benda itu di atas meja taman disisinya.


‘Halo, siapa ini’.


‘Halo nyai. Apa kabarmu?’


Suti terhenyak hampir saja hand phone nya terjatuh ke atas rerumputan


mendengar suara itu.


‘Siapa kamu?’, tanyanya kembali.


‘Apa nyai tidak ingat siapa aku. Suami yang paling kau cintai ini’.


‘What the hell? Suami......aku tidak mengenal kamu. Suamiku adalah Jay,


jangan bercanda’.


‘Aku tidak bercanda nyai, coba tanyakan hatimu. Raba perasaanmu dan gali


ingatanmu’.


Menahan amarah karena merasa dipermainkan, Suti mematikan telepon dan


memblokir nomor asing tersebut.


‘Ha......ha....ha. Segera nyai....segera kau akan mengenaliku’, tawa


berkepanjangan dari seberang sana terdengar.


‘Heeemrmm’, Suti menggeram hati dan pikirannya berkecamuk. Cemas


berkepanjangan serta takut yang dia rasakan, mampu membangkitkan sisi lain dari


dirinya. Pupilnya mulai meruncing dengan sinar mata berubah hijau. Smirk


mengerikan muncul dari bibir mungilnya. Lidahnya pun mulai terjulur bercabang.


‘Sssssh, mau apa dia menganggu anak cucuku’, desisnya.


‘Jangan terpancing Dinda, yang dia inginkan adalah kemunculanmu. Ingat


keberadaan kita disini’.


‘Ssssh, hal ini tidak akan terjadi jika waktu itu Yunda tidak jatuh cinta


pada lelaki itu’.


‘Itu adalah masa lalu, jangan diungkit lagi. Yang penting kita harus


melindungi Suti dari perbudakan manusia itu’.


‘Sssssh, baiklah yunda asal kamu tidak mengulangi hal yang sama’.


Wati yang membawa minuman dingin dan cemilan di nampan berjalan menuju


taman. Dari kejauhan dia melihat nyonya mudanya yang berbicara sendiri dengan


kepala berlenggok kekiri dan kekanan seperti ular. Merasa heran dia mendekat


seraya berkata,


‘Nyonya muda ini minuman dan cemilannya’, sambil meletakannya di meja

__ADS_1


taman.


Suti tak menjawab, dia hanya menunduk. Badannya tersentak sebentar sebelum


merespon’, terima kasih Wati’.


Ia mengerenyitkan dahinya dan mendongak ke arah majikannya. Ketika netranya


melihat bahwa dia tampak normal seperti biasa ia mengangguk penuh hormat.


Sebelum pamit kembali kedalam mansion.


Hotel horizon, balkon kamar 302.


‘Ha....ha.....ha’, tawa puas menggema berkepanjangan.


‘Dave kirim video itu ke hand phone ku’, titahnya.


‘Baik bos. Kapan kita akan mengirimkannya’.


‘Tunggu waktu yang tepat Dave, dia masih lemah. Sisi manusianya terlalu


mendominasi saat ini. Kita harus bersabar’.


‘Tentu, sir dan saya ada informasi dari orang kita yang ada di club tentang


penyelidikan yang dilakukan Andrew’.


‘Kalian sudah membereskannya kan, termasuk CCTV itu’,


‘Tak masalah dengan itu, sir’.


‘Ha....ha....ha. Aku suka dengan cara kerjamu Dave’.


‘Dan kamu Cartwright, lihatlah kemenanganku sebentar lagi termasuk


musnahnya keturunanmu. Yaah, Anne van den berg, kamu bisa menyaksikannya dari


atas sana. Ha....ha’, tawanya lagi.


David hanya menggelengkan kepala melihat hal itu.


 Cartwright building.


‘Tok....tok’.


‘Masuk’.


‘Duduklah Ndrew. Ada kabar apa’, tanyanya sambil meletakan dokumen yang ia


pelajari.


‘CCTV yang diretas orang kita, hanya memperlihatkan wanita itu masuk keruangan


bos, begitu Clark dan David keluar ruangan’.


‘Jadi’.


‘Hanya bos dan wanita itu yang ada diruang privat’.


‘Damn, itu tidak mungkin. Meskipun aku setengah sadar, aku masih ingat jika


Clark ada didepanku duduk di sofa yang sama dan melihat wanita itu mencumbuku.


Aku yakin David pun ada disana’.


‘Apa bos merasa ada editan dari hasil rekaman itu’.


‘Itu jelas Ndrew, suruh IT kita menyelidikinya’.


‘Baik bos’.


‘Bagaimana dengan yang di hotel?’.


‘Hanya petugas hotel yang membantumu bos. Wanita itu tak ada disana’.


‘Huh, aku yakin dia kabur sesudah mendapatkan apa yang di inginkan’.


‘Maksud bos’.


‘Yaah, pasti wanita itu punya maksud tertentu. Dan ada konspirasi dengan Clark.


Tapi aku masih belum pasti dengan tujuan laki-laki itu. Dan mengapa dia mau


menawarkan kerja sama yang sangat menguntungkan perusahaan kita. Aku yakin ada


maksud terselubung. Selidiki lagi Ndrew, kerahkan anak buah kita’.


‘Oke bos’.

__ADS_1


‘Heem’.


__ADS_2