
POV JAY
Namaku Jodi Bimantara. Aku pria lajang berusia delapan belas
tahun. Kata ibuku aku adalah anak tunggal dan satu-satunya pewaris dari
keturunan ‘Sartono dan Hanifah’.
Saat usiaku memasuki empat belas tahun ayahku meninggal karena
kecelakaan. Mobilnya ditabrak oleh truk tronton yang tengah melaju kencang.
Padahal angkutan kota yang sedang dibawanya tengah diam di halte
menunggu penumpang. Saat diselidiki oleh kepolisian, ternyata sopir angkutan
barang itu tengah mabuk berat.
Jadilah kehidupan kami semakin berat dengan meninggalnya ayah.
Ibuku hanyalah wanita rumahan murni, yang tak bisa disuruh bekerja keras untuk
mencari nafkah diluaran.
Aku pun beralih tugas menjadi pencari nafkah sekaligus seorang
siswa disebuah sekolah menengah atas di Malang.
Peran ganda ini kujalani dengan lapang dada meskipun sangat berat
bagi anak seusiaku. Tapi aku tak mengeluh. Yang harus kulakukan hanyalah
mencari nafkah untuk kebutuhan dapur dan harianku juga ibu.
Biaya sekolah tak harus kupikirkan, karena kecerdasan otaku. Aku
selalu dapat bea siswa bahkan sampai di perguruan tinggi.
Sedangkan ibu membantuku mencari nafkah dengan berjualan gorengan
yang dititipkannya di warung-warung sekitar rumah. Tak menutupi biaya hidup
tentunya, tapi lumayan bisa menambah uang sakuku buat naik angkot ke sekolah.
Apalagi saat ada lomba ‘Band’ yang diadakan oleh kampus ‘Bens’.
Kami berempat kelompok ‘Black Magic Band’ meraih juara satu. Ya, group band
yang kudirikan dengan Andi sang ketua ‘OSIS SMAN PAGI’. Dia adalah basis handal
sekaligus sang pencipta lagu.
Sedangkan aku tentu saja bertindak sebagai vokalis. Meskipun
kadangkala menciptakan sebuah lagu, hanya jika perasaanku sedang senang atau
merasa jatuh cinta. “Ha…ha…ha. Lucu ya?”
Itulah titik balik kehidupan finansialku. Karena semenjak
kejuaraan tersebut kami sering dipanggil untuk mengisi acara resmi dan tidak
resmi dengan honor yang lumayan banyak.
Ku kumpulkan sedikit demi sedikit uang yang kuperoleh. Agar ibu
dan aku bisa berpakaian layak saat kami menghadiri sebuah acara kampung atau
pertemuan orang tua murid disekolah. Dan itu terwujud, meskipun saat uang sudah
kami belanjakan. Mau tidak mau aku harus mencarinya lagi dengan cara yang sama.
“Tak apalah yang penting halal, “itulah kata yang selalu ku
ucapkan dalam hati sebagai penyemangat.
Lulus dari SMAN aku diterima oleh perguruan tinggi ‘Bens’ melalui
jalur bidik misi. Saat panitia penerimaan mahasiswa baru datang cek lokasi ke
rumah, mereka langsung memberikan banyak centang persetujuan dalam daftar
formulir yang dibawanya.
Bahkan ketika bertanya kepada ketua RT dan RW juga kepala
kelurahan, mereka memberikan jawaban yang sama. “Jadi fix aku memang anak orang
tua tak mampu”.
Saat orientasi mahasiswa baru, aku sudah mulai membidik seorang
gadis. Dia dari jurusan yang berbeda denganku. Gadis itu menyukai jurusan ‘Tour
and travelling’ yang lebih banyak mengajarkan Bahasa Asing kepadanya.
“Cocok sih. Dengan wajahnya yang agak ke bule-bulean, walau
hidungnya pesek dan sedikit mekar dilubangnya. Ha…ha…ha”.
“Tapi pesonanya itu loh yang bikin aku tidak tahan. Dia punya aura
‘Kembang’. Menurut ibu perempuan yang mempunyai aura tersebut biasanya punya
khodam leluhur atau apalah. Tak kuhiraukan karena aku anak modern yang hidup di
zaman sekarang, kan?”
Dan kata ibu benar adanya, kemanapun dia melangkah tanpa perlu
tebar pesona berlebihan. Para pria selalu membicarakannya. “Suatu trending
__ADS_1
topik yang luar biasa”.
Bahkan dalam usaha pendekatan yang aku lakukan selalu saja ada
ancaman dari makhluk sejenisku. Jadi aku perlu berusaha dengan lebih keras
lagi.
Apalagi gadis itu yang belakangan kuketahui bernama ‘Suti
Subiantoro’, orangnya ramah dan pandai bergaul.
Musuh tentu saja dia punya. Terutama para gadis yang merasa
kekasihnya mata keranjang. Atau lelaki mereka yang sedang dalam mode
persaingan. “He…he…he. Ironi, bukan?”
Tapi itulah yang terjadi. Aku berusaha mati-matian untuk merebut
perhatiannya. Dan untunglah dia bukan tipe gadis yang materialistis. Dia akan
bilang suka jika memang senang dan akan bilang benci jika memang tidak suka.
Kondisi kekayaan yang bagaimana pun tak pernah membuat goyah
pendiriannya. “Itu betul-betul tipeku, kan? Apalagi dia lebih suka tampil
natural. Tanpa polesan eye shadow atau bedak berlapis-lapis. Ataupun gincu
tebal di bibir nan sexy-nya. Betul-betul seleraku banget”.
Aku berpura-pura salah masuk kamar mandi perempuan saat dikampus.
Dia yang baru keluar dari lorong toilet, kutabrak bahunya dengan sengaja. Buku
yang dibawanya pun berjatuhan ke lantai.
“Kalian tahu yang selanjutnya terjadi, kan? Tentu saja bisa
ditebak. Aku minta maaf kemudian mengambilkan bukunya yang jatuh.
Menyerahkannya dan saling berkenalan. Selanjutnya bla…bla…bla. Ha…ha…ha. Jika
kuingat momen yang sangat berkesan itu. Sampai tujuh hari tujuh malam aku tidak
bisa tidur nyenyak. Kamu tahu mengapa? Karena beberapa hari kemudian ku
utarakan niatku untuk menjadi kekasihnya. Dan diterima, guys. Huraaay….”
Saat kutanyakan apa yang membuatnya menerimaku. Dia bilang, “Aku
suka gaya urakanmu, Jay. Dan aku suka vokalis. Aku suka band”. Itu yang dia
jelaskan panjang lebar sambil matanya berbinar-binar. Sejak itulah kugunakan
nama ‘Jay’ saat aku manggung. Aku suka nama itu karena berasal dari kekasihku.
aku kuatir terkena diabetes, saking manisnya. Tak pernah sedikitpun kami
berselisih paham. Kalau ada pun kami selesaikan dengan jalinan yang sangat
romantis. Sehingga pasca kejadian, kami tak pernah mengingatnya kembali.
Hingga memasuki semester tujuh, datanglah mahasiswa baru. Dia
kuliah sore, karena paginya harus bekerja. Pendidikan S1 nya hanya digunakan
untuk melengkapi prasyarat kenaikan pangkat di instansinya.
Ya, dia salah satu abdi Negara. Yang posisinya setara dengan
manajer perusahaan. Jadi tak heran jika dia punya pengawal pribadi.
Namanya ‘Hendri’, manusia laknat yang tak tahu diri. Karena menawarkan
permainan itu. Menguji kesetiaan kekasihku. Walaupun aku bersikeras jika harta
dan kedudukan yang dia tawarkan, tak akan membuat Suti goyah.
Tapi nyatanya aku salah. Malam itu kekasihku sudah tidur
dengannya. Hotel Horizon kamar 302 menjadi saksi hubungan terlarang keduanya.
“Hatiku hancur tentunya. Dan ingin rasanya aku bunuh diri di kali
Malang. Tapi Tuhan tak merestui”.
Bahkan aku dipertemukan dengan ibu kandungku, Mama Laura. Meskipun
pada awalnya aku tak percaya, tapi itulah kenyataannya. Beliau punya
bukti-bukti yang nyata.
Akhirnya terkenalah aku dengan nama ‘Mr. J’ pengusaha yang
bertangan besi. Dan tidak pernah mentolerir sedikitpun kesalahan.
Bertunangan dengan ‘Marcella’ anak rekanan bisnisku. Gadis manja,
penuh dengan kepura-puraan. Sikapnya selalu manis apabila dekat denganku atau
mama.
Tapi dia berubah menjadi gadis yang menyebalkan saat berjauhan dengan
kami. Yang tak aku sukai dari dia adalah menghalalkan hubungan *** pranikah. “Itu
dosa, kan? Tapi dia fine-fine saja dengan prilaku zinah tersebut. Heeems…benar-benar”.
Hingga munculah Dico diantara kami. Dia yang berulangkali mengajak
__ADS_1
berhubungan badan, tak pernah berhasil. Akhirnya tergoda dengan pengusaha
rekananku yang memang sepaham dengannya.
Seringkali kupergoki keduanya keluar masuk hotel. Atau berhubungan
badan di apartemen miliknya. Tapi aku pura-pura tidak tahu. Dan menutup mata.
“Kupikir si ‘Cella’ itu goblok atau apa? Bukankah dia tahu kalau
bodyguardku ada dimana-mana? Ataukah dia sengaja memanasiku? Tak apalah karena
nanti aku bisa memanfaatkan keculasan mereka. Jahat bukan?”
Dan akhirnya hari pembalasan telah tiba. Dico yang culas terkena
permainannya sendiri. Dia pikir aku sama dengan dia. Suka one night stand
dengan gadis-gadis bispak dari club. Padahal gadis-gadis yang kuajak pulang ke
apartemen atau ke hotel adalah gadis yang kubayar tanpa boleh menyentuh tubuhku.
Dico tertipu saat kami bersebelahan dikamar apartemen miliknya. Dia
mendengar aku dan wanita bispak yang kubawa saling mendesah seolah melakukan
hubungan ***, padahal itu hanya sandiwara kami.
Saat dia sudah tidak menguping lagi, gadis itu tertawa cekikikan. Dan
aku mati-matian mengingatkan tentang kontrak sandiwara kami.
Sedangkan Dico justru melakukan hal terlarang tersebut dengan
sebenar-benarnya. “Wooh benar-benar manusia penuh dosa”.
Yang membuatku semakin ingin menghancurkannya adalah dia
menargetkan Suti, untuk menjadi korban selanjutnya.
Keserakahannya membuatku ‘Gedek’. Keinginannya memperoleh dua
wanita sekaligus membuatku ‘eneg’. Tak melepas Marcella karena kekayaannya. Mau
dengan Suti karena pesonanya.
“Marcella tak jadi masalah bagiku. Suti jangan diharap”. Meskipun aku
selalu menunjukan sikap jahatku padanya. Tapi dalam hati aku masih
sangat-sangat menyayanginya. Karena dia cinta pertamaku. Dialah satu-satunya
yang mengisi setiap helaan napasku. Hingga detik ini.
Jika aku selalu berkata kasar padanya itu karena kuingat setiap
perkataan Hendri. Bahkan masih berputar-putar dibenak acungan jempolnya saat
menceritakan gerakan erotis kekasihku.
Aku tak bisa membedakan batas tipis antara rasa cinta dan
kebencian. Hingga dia betul-betul tersakiti. Dan itu yang tak pernah terlintas
di benak.
Istriku membenciku. Hingga kejadian tak masuk akal itu terjadi. Aku
koma setelah pertengkaranku dengannya.
Semuanya terjawab saat aku tak sadarkan diri. Hanya satu masalah
yang belum.
Dan jawabannya kutemui saat kupaksa dia melayaniku di hotel
Horizon kamar 302. Ruangan yang sama saat dia terengut kesuciannya.
Ternyata aku salah. Hendri si bajingan itu tak pernah
menyentuhnya. Istriku masih suci sama dengan diriku. Kami berdua bisa menjaga
diri. “Alhamdulilah. Puji syukur kupanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Ternyata
kami tidak pernah berkubang dalam dosa”.
“Haaaa, disinilah aku sekarang. Bahagia dengan dua anak kembar
kami. Meskipun diawal kelahiran ‘Gale’ aku sempat ingin membuangnya”.
“Ya, dia lahir dengan sisik ular di dahi dan wajahnya. Bahkan tidak
berkaki tapi punya ekor. Kupikir dia cacat, bagaimana dengan kehidupannya
nanti? Tapi lek Parjo, mertuaku memberiku wejangan. Jika itu hanya sementara
dan aku harus menerimanya dengan lapang dada”.
Dan saat ini aku punya bocah dengan pipi bakpaunya. Berkulit putih
dan mata hazelnya. Satu lagi rambutnya pirang dan berhidung mancung. Begitu juga
dengan ‘Arsen’ adik kembarnya.
Duo kembar pewaris The Cartwright dan Robinson. Yang terlahir
dengan membawa berkah kekuatan supranatural kakek dan nenek buyut istriku.
“Heeem…sangat~sangat sempurna, kan?”
Meskipun dalam hati aku sering bertanya, “Pantaskah aku yang jahat
__ADS_1
ini mendapatkannya?”