MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB III


__ADS_3

Rinai hujan rintik-rintik yang seperti dicurahkan dari langit


tertangkap dalam netraku. Aku menunduk semakin dalam memandangi aliran air di


jalan raya. Kuhela nafas keras-keras untuk mengusir penat dan lelah tubuh ini.


Tapi hal itu tak mampu mengusir rasa jengkelku setelah seharian ini, aku


disibukan dengan urusan kantor.


Pikiranku menerawang ke kejadian tadi pagi, ketika menemani sang


bos menemui klien di restoran hotel ‘Daun’.


“Suti, sudah kau bawa semua file yang akan kita presentasikan hari


ini?”


“Sudah, pak. Semuanya lengkap”, jawabku sambil menjinjing laptop


di tangan kiri.


“Ehm, baguslah”.


Kulihat dia sedikit gugup saat mengambil sapu tangan dari saku


celana serta mengusap peluh yang mulai bercucuran di sekitar dahi dan dagu.


“Aku harap kau nanti tidak mengecewakannya. Orangnya sangat sulit


ditebak dan pemarah. Aku dengar dari rekan-rekan sesama pebisnis bahwa ia tidak


menoleransi sekecil apapun kesalahan yang dibuat oleh orang disekitarnya”.


“Kamu tahu, Suti? Beberapa hari yang lalu, Arman kena damprat


beliau dan proposal kerjasama yang dia ajukan langsung dilempar di tong sampah.


Gara-gara hanya berbicara sedikit belibet pada saat presentasi. Padahal dia


membawa Selly, sekretarisnya yang sexy dan bahenol itu. Pun pada saat selesai


presentasi ia mencoba mendekatkan diri dengan cara yang kamu tahu lah si Arman


itu, dia akan menggunakan segala cara agar proyeknya goal”, jelasnya lagi


panjang lebar sambil sesekali mengusap peluh di dahinya yang tampak semakin


deras mengalir dari dahinya yang semakin lebar.


Aku bergidik ngeri membayangkan kata segala cara yang digunakan


oleh bos ku ini.


“Tapi pak Yono, tidak akan menjual saya kepada orang ini kan?”


“Hus, ngomong apa kamu! Aku masih waras untuk tidak melakukan hal


seperti Arman. Aku juga seorang ayah dan kakek dari satu cucu. Anak perempuanku


dapat suami orang baik-baik meskipun mereka hidup sederhana. Suaminya yang


lulusan pondok itu pekerjaanya diperoleh dengan cara halal. Bahkan aku yang


setua ini belajar banyak ilmu agama dari dia”.


“Kamu tahu, Suti? Katanya kembali. Anak semata wayangku tak mau


menerima sepeserpun bantuan yang kuberikan, walau hanya uang saku buat cucuku.


Dia malah berkata, “simpan saja uang itu buat ayah. Siapa tahu


nanti ayah butuh buat berobat. Kami tidak membutuhkannya, nafkah dari mas

__ADS_1


Pepeng sudah lebih dari cukup”, selalu itu yang dia ucapkan. Aku sangat


bersyukur sekali punya mereka. Dan aku harap kerjasama ini berhasil sehingga


aku punya bonus yang banyak dari perusahaan untuk tunjangan pensiunku nanti”.


“Amiin ya rabbal alamiin”, sahutku dengan penuh semangat.


Bergegas kami menuju ruang meeting dari hotel “Daun” yang terletak


di lantai dua.


‘Ting’ pintu lift pun terbuka tepat di lantai yang kami tuju.


Di sudut ruangan, tampak dua orang berbadan besar serta berseragam


hitam berdiri tepat depan pintu ruang yang akan menjadi tempat meeting. Dilihat


dari pakaian yang mereka kenakan, aku yakin mereka adalah bodyguard pribadi


dari ‘Mr. J’.


“Eits….tunggu. Nama itu mengingatkan pada panggilan yang sering


kugunakan dulu pada saat menjalin kasih dengan seseorang”.


“Ah tidak, mungkin inisialnya saja yang sama. Mana mungkin dia mau


berkecimpung di dunia bisnis yang kejam ini. Dia tidak pernah serius, kan?”


monologku lagi.


Aku terkesiap ketika memasuki ruangan. Kutata lagi degup jantungku


yang tak karuan.


“Kok bisa dia sih? Jadi Mr. J yang terkenal sadis itu dia”,


monologku dalam batin.


terasa panjang dan lebar. Fix, dia orangnya detil dalam memaparkan apa saja


yang menjadi hak dan kewajiban peserta tender kali ini. Wajah-wajah antusias


dari perwakilan berbagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa hotel dan


travelling memenuhi setiap sudut ruang meeting nan luas.


Sebentar netraku melirik kearah Mr. J, dia tampak dingin dan acuh.


Wajah tampan dan rambut klimisnya, terasa aneh bagiku. Tatapan tajam dan


membunuh, milik ia, membuatku bergidik ngeri. “Apa yang membuatmu berubah,


Jay?” pikirku berkata.


Kuhela napas agar mampu mengurangi kegugupan saat aku kan maju


presentasi proposal perusahaan kami. Kulihat dijajaran kursi depan, pak Yono,


mengacungkan ibu jarinya, seolah memberiku amunisi tambahan untuk mentalku yang


mulai rapuh, ketika melihat Jay di depan sana.


“Semangat, Suti. Kamu harus bisa memenangkan tender ini, demi


kelangsungan perusahaan dan para karyawan. Ingat mereka tergantung denganmu!”


gumamku pelan.


Kubagi print out proposal kepada Andrew, sesaat dia berjalan kearah


bosnya dan sedikit berbisik, kulihat Jay mengangguk tanpa ekspresi. Kurasakan

__ADS_1


kadar kegugupanku meningkat.


 “Semoga presentasiku


lancar, bantu aku ya Allah”, doaku pelan.


Aku mengangguk sopan, sesaat setelah presentasi panjang kulakukan.


Sementara disana kulihat ‘Jay’ mengepalkan tangan kirinya. Sedangkan tangan


yang digunakan untuk memegang proposal sedikit terangkat ke udara. Dag dig dug


perasaan ini, hatiku semakin menciut melihat hal tersebut.


“Please, Jay. Beri kesempatan pada perusahaan kami”, netraku


terpejam serta sedikit meremas kedua tanganku. “Semoga ada keajaiban”.


“Andrew!” bentaknya memenuhi ruang.


“Ya bos”.


“Buang sampah ini ke tempatnya! Bubarkan mereka, hanya buang-buang


waktuku saja!”


“Siap bos”.


Aku hampir menangis melihat hal tersebut. Pun pak Yono, mulai


mengelap peluh yang kembali bercucuran di dahinya. Senyum itu terlihat sedikit


kecut. Aku salah tingkah memandang beliau. Netra kami beradu pandang seolah


mengerti. Dia hanya angkat bahu seolah pasrah dengan takdir. Dengan secepat


kilat kubereskan laptop dari meja. Sedikit berlari kuhampiri Andrew.


“Mr. Andrew, please! Tolong pertimbangkan lagi proposal perusahaan


kami”.


“Hemmm, tergantung si bos, nona. Aku hanya seorang pekerja disini”.


“Jay! Eh maaf, Mr.Jay. Tak bisa kah anda meluangkan waktu barang


sebentar untuk melihat proposal kami?”


Dia menoleh, serentak semua orang dalam ruangan itu menghentikan


aktifitasnya. Dengan penuh kekuatiran mereka menantikan responnya.


Ia melihat wajahku sekilas kemudian memandangiku dari ujung rambut


sampai sepatuku. Sejurus kemudian menatap dadaku sedikit lama.


“Ehem, itu tergantung dengan performamu, nona”, bisiknya di


telingaku.


“Dasar mesum, bajingan”, kutendang dengan jurus kungfuku baru tau


rasa kau. Otak miring!” tentu saja kata-kata itu hanya ada dalam pikiranku.


Sedangkan aku sedikit tersenyum dengan tingkah lakunya.


“Brengsek!” umpatku pelan sebagai balasan atas tingkah lakunya.


Jay tampak santai serta melangkahkan kaki menuju keluar ruangan


bersama Andrew di belakangnya. Di lorong aula, Andrew mengacungkan jempolnya ke


arahku.

__ADS_1


“Apa maksudnya?”


__ADS_2