
“Kalian betul-betul nakal ya” ujar Nogo Sosro pada kedua makhluk
yang tak berdaya di sisinya.
“Baiklah karena kalian sangat tak patuh, aku akan membuka
pikiranmu dulu Nogo Lelono. Bersiaplah!”
Dia pun menghadap ke kanan dan membuka kedua telapak tangannya
lebar. Membentuk putaran tiga ratus enam puluh derajat.
Kembali rasa sakit menyerang Lelono. Jeritan kesakitannya mencuat
keluar gua. Mengejutkan binatang siang yang sedang mencari makan di area itu.
Serentak mereka berlari menjauhi gua.
“He…he…he. Benar-benar bandel sekali. Tak ingat apa pun pada
tuannya. Heh! Kamu sangat menikmati kehidupan modern manusia mu, rupanya…hah!”
Kilatan yang seperti tali pun mengarah ke kepala Clark. Dia
meraung-raung kembali. Dalam sekejap tubuhnya tak bergerak.
“Tidurlah. Aku harap saat bangun nanti kau akan ingat semuanya.
Anak nakal!”
Ki Nogo memutar tubuhnya ke arah kiri. Melakukan gerakan yang
sama, ditujukan kepada Naga Gini. Raungan yang sama menyeruak keluar gua. Tak
beberapa lama makhluk itu pun pingsan, menyusul pasangannya.
Bangkit dari posisinya. Ki Nogo menjejakkan kaki ke tanah.
Memasang kuda-kuda dan memulihkan tenaga dalamnya kembali.
Memasang mantra penghalang disekitar kedua makhluk itu. Kemudian
dia menuju ruangan di sudut yang lain. Mengambil air dengan gayung batok kelapa
untuk membasuh kaki serta wajahnya.
Mengibaskan sisa air yang menempel di tubuh. Lelaki tua itu pun
membaringkan diri di lempengan batu dengan beralaskan tikar daun kelapa.
Sebentar kemudian terdengar dengkurannya dengan napas teratur.
***
Cartwright Buildings.
Jay mengetuk-ngetukkan pena ke atas meja. Dokumen yang menunggu
untuk di tanda tangani, masih tergeletak di mejanya.
Menghembuskan napas besar ke udara. Saat pikiran serta batinnya
tak bisa diajak berkonsentrasi. Netranya melotot ke arah berkas yang seharian
ini tak tersentuh sama sekali.
Merasa tak berdaya, dia pun memencet tombol dua dari telepon
disisinya.
“Siang bos. Ada apa?”
“Andrew bisakah kamu kesini sebentar?”
“Apa bos mau memesan makan siang?”
“Tidak. Ada hal lain yang mau ku diskusikan. Sekalian bawakan file
kerjasama dengan perusahaan Dico ya”.
“Baik bos”.
“Tok…tok”.
“Masuk!”
Jodi melangkah ke sofa, saat Andrew masuk ke ruangannya.
“Duduklah, Ndrew”.
“Oke bos”.
Mengulurkan dokumen ke arah sang bos. Dia menyandarkan punggungnya
ke kursi.
“Well, apa yang saya bisa bantu?” katanya kembali.
“Aku mau merevisi surat perjanjian kerja sama ini, Ndrew.
Bagaimana menurutmu?”
“Maksud anda?”
“Aku ingin menguasai perusahaan ini, Ndrew”.
“Apa!”
__ADS_1
“Ada apa dengan ekspresimu itu. Bukankah kita sudah sering
melakukannya?”
“Itu kan pada saingan bisnis anda yang tidak bisa berkomitmen
dengan baik bos. Sedangkan ini, pemiliknya adalah rekan sekaligus sahabat
anda”.
“Itulah, Ndrew. Aku tidak mau semuanya terlambat”.
“Apa yang terjadi bos?”
Jay menceritakan semua keinginannya. Termasuk melindungi sang
kekasih hati secara diam-diam. Anggukan mengerti diberikan oleh sang asisten
sebagai tanda setuju.
“Jadi kapan kita mulai menjalankannya, bos?”
“Secepatnya, Ndrew”.
“Apa anda punya orang dari perusahaan Dico yang berpotensi untuk
menjadi pengkhianat”.
“Ha…ha…ha. Ada Ndrew, justru dia dari keluarganya sendiri”.
“Maksud bos…orang itu?”
“Benar. Dia adalah partner yang sempurna. Gemar berjudi dan
gampang tergoda perempuan cantik. Kamu akan lebih mudah mendapatkan
kesepakatan. Kerjakan semuanya dengan rapi. Ajak si Jeff bersamamu”.
“Beres bos”.
Club Fantasy, malam hari.
“Permisi nona, saya ada janji dengan Mr. Jay” kata pria berpakaian
formal pada resepsionis club.
“Sebentar. Boleh tahu nama bapak?”
“Hary, perwakilan perusahaan Dico and Travelling”.
“Oh ya. Silahkan. Beliaunya menunggu anda di room empat belas”.
“Terima kasih, nona”.
“Sama-sama pak. Silahkan”.
Membiasakan matanya dengan suasana remang dalam club. Hary
mengikuti langkah bellboy menuju ruangan yang dituju.
Membiarkan sang petugas mengetuk pintu. Saat terdengar sahutan
mempersilahkan. Dia pun memasuki ruangan. Dengan sedikit bungkukan badan si
bellboy yang mengucapkan permisi kemudian menutup pintu kembali.
“Mari sini, Mr. Hary”.
“Ya, Mr. Jay”.
Dia melangkahkan kaki ke sofa yang berisikan dua lelaki dan satu
perempuan cantik. Meneguk salivanya kasar, saat matanya melihat cara berpakaian
wanita itu.
“Heem, sangat menggairahkan” batinnya.
“Bagaimana, sir?” tanya Jay sambil sedikit melirik Wanita yang
dibawanya.
“Hem, fine. Anda mengerti dengan selera saya”.
“So….?”
“Kita bisa melanjutkan kesepakatan, Mr. Jay”.
“Oke. Andrew siapkan dokumennya”.
“Ya bos”.
Hary mempelajari yang ada dihadapannya. Dan membubuhkan tanda
tangan. Kemudian dia membuka aplikasi mobile banking dari handphone, dan
mengangsurkan nomer rekening yang tertera disana pada Andrew.
Tak membutuhkan waktu lama, tanda notifikasi transaksi bank
terdengar dari telepon Hary. Melihat sebentar, dia pun tersenyum puas. Mengacungkan
jempol ke arah Jay sembari tersenyum puas.
Sang bos pun mengibaskan tangannya, sebagai tanda urusan mereka
telah selesai.
__ADS_1
“Selamat bersenang-senang, sir Hary”.
“Thanks”.
Kedua orang itu pun meninggalkan ruangan dengan suara debaman
pintu.
“It’s a piece of cake, bos”.
“Kamu benar Ndrew. Biarkan dia puas dengan apa yang ada sekarang. Setelahnya
kita libas dia sampai ke akar-akarnya. Ha…ha…ha”.
“Heem”.
***
Jay terhisap ke ruang waktu Kembali.
Dia melihat Suti yang berjalan terseok menuju kosan. Sepanjang memasuki
gang sempit dari hunian tempat kosnya, terisak lirih. Air matanya mengalir
deras, membasahi pipi.
Sejenak sang kekasih hati tampak, berjongkok untuk menetralkan
rasa sesak di dadanya.
Tangannya berkali-kali mengusap air mata yang jatuh dengan sapu
tangan di genggaman.
Ingin rasanya Jodi memeluk juga menghiburnya. Namun apa daya, saat
merengkuh sang kekasih. Kedua tangannya hanya bisa menangkap angin.
Bahkan kata penghibur yang ia ucapkan dengan teriakan ditelinga
sang pujaan, tak pernah sampai kepadanya.
Jay menyadari sesuatu, bahwa yang dia alami saat ini adalah lintasan
kejadian dari Suti.
Merasa putus asa akan semua usahanya, Jay hanya bisa mengikuti Langkah
dia berjalan. Dengan menyimpan sejuta pertanyaan.
Jodi bahkan menunggu sang kekasih hingga esok hari menjelang.
Jay memejamkan matanya, ketika melihat Suti memasuki kamar mandi
untuk membersihkan diri.
Saat dia membuka Netra kembali. Ia melihat Hendri dan Suti berada
di sebuah saung rumah makan. Mereka bertengkar hebat. Umpatan, hinaan dan
kata-kata kasar dilontarkan pria itu.
Ingin rasanya, Jay menamparnya atau bahkan meninjunya dengan bogem
mentah yang sering dilatihnya dengan sang asisten pribadi.
Atau menendangnya dengan tendangan memutar miliknya. Tapi dia bisa
apa. Selain memandang perdebatan itu.
Dia pun mendekat serta memasang telinga.
“Apa yang kamu harapkan dari dia, hah! Sudah sering kali
kukatakan, jangan temui Jodi lagi. Tapi apa yang kamu lakukan?”
“Hiks…hiks…hiks. Aku tidak menemuinya Hend. Dia hanya mencoba
menjelaskan hubungan kami”.
“Menjelaskan apa lagi Suti. Bukankah semuanya sudah jelas. Ini kedua
kalinya kamu menemui dia dibelakangku. Sekarang apa maumu?”
“A-aku ingin bersamamu Hendri. Karena aku masih mencintaimu”.
“Bullshit, Suti. Kamu dari dulu tak pernah berubah. Selalu materi
menjadi tujuan hidupmu”.
“Tidak Hendri itu tidak benar”.
“Haaa…sudahlah. Pokoknya kita putus. Jika kamu masih menyimpan rasa
di hatimu”.
“Please Hend. Aku akan kembalikan barang-barang dari Jay. Aku masih
ingin bersamamu”.
“Terlambat. Selamat tinggal”.
Hendri pergi meninggalkan Suti, setelah membayar bill restoran. Dia
pun mengendarai mobilnya menuju ke kota.
Tinggalah si Wanita yang sesenggukan menahan perih di dada.
__ADS_1