MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB LIX


__ADS_3

“Kalian betul-betul nakal ya” ujar Nogo Sosro pada kedua makhluk


yang tak berdaya di sisinya.


“Baiklah karena kalian sangat tak patuh, aku akan membuka


pikiranmu dulu Nogo Lelono. Bersiaplah!”


Dia pun menghadap ke kanan dan membuka kedua telapak tangannya


lebar. Membentuk putaran tiga ratus enam puluh derajat.


Kembali rasa sakit menyerang Lelono. Jeritan kesakitannya mencuat


keluar gua. Mengejutkan binatang siang yang sedang mencari makan di area itu.


Serentak mereka berlari menjauhi gua.


“He…he…he. Benar-benar bandel sekali. Tak ingat apa pun pada


tuannya. Heh! Kamu sangat menikmati kehidupan modern manusia mu, rupanya…hah!”


Kilatan yang seperti tali pun mengarah ke kepala Clark. Dia


meraung-raung kembali. Dalam sekejap tubuhnya tak bergerak.


“Tidurlah. Aku harap saat bangun nanti kau akan ingat semuanya.


Anak nakal!”


Ki Nogo memutar tubuhnya ke arah kiri. Melakukan gerakan yang


sama, ditujukan kepada Naga Gini. Raungan yang sama menyeruak keluar gua. Tak


beberapa lama makhluk itu pun pingsan, menyusul pasangannya.


Bangkit dari posisinya. Ki Nogo menjejakkan kaki ke tanah.


Memasang kuda-kuda dan memulihkan tenaga dalamnya kembali.


Memasang mantra penghalang disekitar kedua makhluk itu. Kemudian


dia menuju ruangan di sudut yang lain. Mengambil air dengan gayung batok kelapa


untuk membasuh kaki serta wajahnya.


Mengibaskan sisa air yang menempel di tubuh. Lelaki tua itu pun


membaringkan diri di lempengan batu dengan beralaskan tikar daun kelapa.


Sebentar kemudian terdengar dengkurannya dengan napas teratur.


***


 Cartwright Buildings.


Jay mengetuk-ngetukkan pena ke atas meja. Dokumen yang menunggu


untuk di tanda tangani, masih tergeletak di mejanya.


Menghembuskan napas besar ke udara. Saat pikiran serta batinnya


tak bisa diajak berkonsentrasi. Netranya melotot ke arah berkas yang seharian


ini tak tersentuh sama sekali.


Merasa tak berdaya, dia pun memencet tombol dua dari telepon


disisinya.


“Siang bos. Ada apa?”


“Andrew bisakah kamu kesini sebentar?”


“Apa bos mau memesan makan siang?”


“Tidak. Ada hal lain yang mau ku diskusikan. Sekalian bawakan file


kerjasama dengan perusahaan Dico ya”.


“Baik bos”.


“Tok…tok”.


“Masuk!”


Jodi melangkah ke sofa, saat Andrew masuk ke ruangannya.


“Duduklah, Ndrew”.


“Oke bos”.


Mengulurkan dokumen ke arah sang bos. Dia menyandarkan punggungnya


ke kursi.


“Well, apa yang saya bisa bantu?” katanya kembali.


“Aku mau merevisi surat perjanjian kerja sama ini, Ndrew.


Bagaimana menurutmu?”


“Maksud anda?”


“Aku ingin menguasai perusahaan ini, Ndrew”.


“Apa!”

__ADS_1


“Ada apa dengan ekspresimu itu. Bukankah kita sudah sering


melakukannya?”


“Itu kan pada saingan bisnis anda yang tidak bisa berkomitmen


dengan baik bos. Sedangkan ini, pemiliknya adalah rekan sekaligus sahabat


anda”.


“Itulah, Ndrew. Aku tidak mau semuanya terlambat”.


“Apa yang terjadi bos?”


Jay menceritakan semua keinginannya. Termasuk melindungi sang


kekasih hati secara diam-diam. Anggukan mengerti diberikan oleh sang asisten


sebagai tanda setuju.


“Jadi kapan kita mulai menjalankannya, bos?”


“Secepatnya, Ndrew”.


“Apa anda punya orang dari perusahaan Dico yang berpotensi untuk


menjadi pengkhianat”.


“Ha…ha…ha. Ada Ndrew, justru dia dari keluarganya sendiri”.


“Maksud bos…orang itu?”


“Benar. Dia adalah partner yang sempurna. Gemar berjudi dan


gampang tergoda perempuan cantik. Kamu akan lebih mudah mendapatkan


kesepakatan. Kerjakan semuanya dengan rapi. Ajak si Jeff bersamamu”.


“Beres bos”.


Club Fantasy, malam hari.


“Permisi nona, saya ada janji dengan Mr. Jay” kata pria berpakaian


formal pada resepsionis club.


“Sebentar. Boleh tahu nama bapak?”


“Hary, perwakilan perusahaan Dico and Travelling”.


“Oh ya. Silahkan. Beliaunya menunggu anda di room empat belas”.


“Terima kasih, nona”.


“Sama-sama pak. Silahkan”.


Membiasakan matanya dengan suasana remang dalam club. Hary


mengikuti langkah bellboy menuju ruangan yang dituju.


Membiarkan sang petugas mengetuk pintu. Saat terdengar sahutan


mempersilahkan. Dia pun memasuki ruangan. Dengan sedikit bungkukan badan si


bellboy yang mengucapkan permisi kemudian menutup pintu kembali.


“Mari sini, Mr. Hary”.


“Ya, Mr. Jay”.


Dia melangkahkan kaki ke sofa yang berisikan dua lelaki dan satu


perempuan cantik. Meneguk salivanya kasar, saat matanya melihat cara berpakaian


wanita itu.


“Heem, sangat menggairahkan” batinnya.


“Bagaimana, sir?” tanya Jay sambil sedikit melirik Wanita yang


dibawanya.


“Hem, fine. Anda mengerti dengan selera saya”.


“So….?”


“Kita bisa melanjutkan kesepakatan, Mr. Jay”.


“Oke. Andrew siapkan dokumennya”.


“Ya bos”.


Hary mempelajari yang ada dihadapannya. Dan membubuhkan tanda


tangan. Kemudian dia membuka aplikasi mobile banking dari handphone, dan


mengangsurkan nomer rekening yang tertera disana pada Andrew.


Tak membutuhkan waktu lama, tanda notifikasi transaksi bank


terdengar dari telepon Hary. Melihat sebentar, dia pun tersenyum puas. Mengacungkan


jempol ke arah Jay sembari tersenyum puas.


Sang bos pun mengibaskan tangannya, sebagai tanda urusan mereka


telah selesai.

__ADS_1


“Selamat bersenang-senang, sir Hary”.


“Thanks”.


Kedua orang itu pun meninggalkan ruangan dengan suara debaman


pintu.


“It’s a piece of cake, bos”.


“Kamu benar Ndrew. Biarkan dia puas dengan apa yang ada sekarang. Setelahnya


kita libas dia sampai ke akar-akarnya. Ha…ha…ha”.


“Heem”.


***


Jay terhisap ke ruang waktu Kembali.


Dia melihat Suti yang berjalan terseok menuju kosan. Sepanjang memasuki


gang sempit dari hunian tempat kosnya, terisak lirih. Air matanya mengalir


deras, membasahi pipi.


Sejenak sang kekasih hati tampak, berjongkok untuk menetralkan


rasa sesak di dadanya.


Tangannya berkali-kali mengusap air mata yang jatuh dengan sapu


tangan di genggaman.


Ingin rasanya Jodi memeluk juga menghiburnya. Namun apa daya, saat


merengkuh sang kekasih. Kedua tangannya hanya bisa menangkap angin.


Bahkan kata penghibur yang ia ucapkan dengan teriakan ditelinga


sang pujaan, tak pernah sampai kepadanya.


Jay menyadari sesuatu, bahwa yang dia alami saat ini adalah lintasan


kejadian dari Suti.


Merasa putus asa akan semua usahanya, Jay hanya bisa mengikuti Langkah


dia berjalan. Dengan menyimpan sejuta pertanyaan.


Jodi bahkan menunggu sang kekasih hingga esok hari menjelang.


Jay memejamkan matanya, ketika melihat Suti memasuki kamar mandi


untuk membersihkan diri.


Saat dia membuka Netra kembali. Ia melihat Hendri dan Suti berada


di sebuah saung rumah makan. Mereka bertengkar hebat. Umpatan, hinaan dan


kata-kata kasar dilontarkan pria itu.


Ingin rasanya, Jay menamparnya atau bahkan meninjunya dengan bogem


mentah yang sering dilatihnya dengan sang asisten pribadi.


Atau menendangnya dengan tendangan memutar miliknya. Tapi dia bisa


apa. Selain memandang perdebatan itu.


Dia pun mendekat serta memasang telinga.


“Apa yang kamu harapkan dari dia, hah! Sudah sering kali


kukatakan, jangan temui Jodi lagi. Tapi apa yang kamu lakukan?”


“Hiks…hiks…hiks. Aku tidak menemuinya Hend. Dia hanya mencoba


menjelaskan hubungan kami”.


“Menjelaskan apa lagi Suti. Bukankah semuanya sudah jelas. Ini kedua


kalinya kamu menemui dia dibelakangku. Sekarang apa maumu?”


“A-aku ingin bersamamu Hendri. Karena aku masih mencintaimu”.


“Bullshit, Suti. Kamu dari dulu tak pernah berubah. Selalu materi


menjadi tujuan hidupmu”.


“Tidak Hendri itu tidak benar”.


“Haaa…sudahlah. Pokoknya kita putus. Jika kamu masih menyimpan rasa


di hatimu”.


“Please Hend. Aku akan kembalikan barang-barang dari Jay. Aku masih


ingin bersamamu”.


“Terlambat. Selamat tinggal”.


Hendri pergi meninggalkan Suti, setelah membayar bill restoran. Dia


pun mengendarai mobilnya menuju ke kota.


Tinggalah si Wanita yang sesenggukan menahan perih di dada.

__ADS_1


__ADS_2