
POV SELLY 1.
Namaku Selly Santoso. Aku dilahirkan dalam keluarga yang serba
kekurangan. Meskipun aku anak tunggal, tetap saja bapak sama ibu tak mampu
membiayai pendidikanku.
Penghasilan mereka pas-pasan. Mungkin kutukan garis kemiskinan
dari kakek nenek kedua orang tuaku.
Untunglah saat aku SMA, mendapatkan biaya pendidikan secara
gratis.
Kemampuan otak yang diatas rata-rata, membuatku mendapatkan kuliah
jalur bidik misi. Yah, semenjak Sekolah Dasar selalu mendapatkan juara satu.
Bahkan aku sering mendapatkan piala atas prestasiku. Dibidang
akademik maupun non akademik.
Tampaknya Tuhan cukup adil bagiku. Meskipun kekurangan dibidang
biaya hidup tapi mempunyai kelebihan IQ yang diatas normal.
Bahkan tak jarang pula, aku memenangkan kejuaraan lomba dibidang
catur dan bulu tangkis. Yang merupakan olah raga favoritku.
Dengan beasiswa penuh, aku kuliah di jurusan Manajemen perusahaan.
Satu kampus dengan Suti. Gadis yang ramah, cantik serta pintar. Meskipun tak sepintar
diriku. He…he…he.
Sayangnya dia lebih segalanya dariku. Yah, fisiknya yang sempurna.
Kepolosan wajahnya yang tak suka memoleskan make up disana. Dia
hanya menyukai pembersih wajah murah dan memoleskan bedak tabur setelahnya.
Betul-betul kecantikan yang alami.
Dan satu lagi. Dia itu adalah kembang desa. “Apakah kamu tahu
konsep dari julukan itu?”
“Aku yakin kalian tidak memahaminya, ya kan?”
Konsep kembang desa disini adalah sosok perempuan yang mempunyai
inner beauty.
Jadi itu merupakan anugrah dari Tuhan. Tanpa usaha keras untuk
memoles penampilannya.
Atau harus membeli barang-barang branded. Sudah muncul
kecantikannya.
Bahkan model serta warna apapun baju yang ia kenakan. Sudah mampu
menarik lawan jenis.
Apalagi ditambah dengan sifat dia yang supel dalam pergaulan.
Sehingga temannya sangat banyak.
Dia sangat terkenal di jurusan lain. Terutama departemen dengan
mahasiswa yang diminati anak laki-laki.
Di kampus ‘Bens’ peminat jurusan ini sangat banyak. Aku sendiri
tak mengerti. Mungkin karena lebih mengandalkan fisik serta aktifitas diluar
kelas.
Banyak isu yang kudengar tentangnya. Mulai dengan berpacaran
dengan si ‘A’ dari jurusan ini atau lain hari dengan si ‘B’ dari departemen
yang berbeda.
Kamu tahu, kabar itu dalam hitungan hari bukan dalam sebulan atau
setahun.
“Kupikir, anak ini betul-betul mata keranjang ataukah gadis
brengsek yang suka mengumbar cintanya sembarangan?”
Pemuda terkaya dikampus pun ikut berlomba untuk mendapatkan cinta
Suti.
Aku jadi cemburu dan benci kepadanya. Sering timbul pertanyaan
dari benak, “Mengapa bukan aku? Apa kekuranganku dibandingkan dengannya? Tak
ada, malah aku lebih segalanya dari dia”.
Penampilanku…kemampuan otak ku semuanya jauh diatas dia.
Hanya saja aku lebih suka menutupi wajahku dengan bedak berlapis
dan riasan yang tebal.
Dan aku sedikit sombong. Tapi itu sih kata teman-teman yang iri
padaku.
__ADS_1
Tak ambil pusing. Saat ini aku menargetkan ‘Dandy’, sicowok kaya
raya dengan mobil sportnya.
Dia anak jurusan analisis perusahaan. Dan aku dengar ia adalah
pewaris perusahaan terbesar di daerah Malang. Sangat cocok dengan kriteriaku.
Segala daya serta upaya kulakukan, sampai akhirnya dia bertekuk
lutut dikakiku.
Aku mendapatkan cintanya sekaligus bermanja dengan kekayaannya.
Dandy termasuk cowok yang sangat royal. Segala keinginanku
terpenuhi.
Kebahagiaan? Jangan ditanya. Dia sering mengajaku liburan ke
Amerika bahkan pernah ke Paris Perancis.
Hebat kan? Padahal aku hanyalah anak orang miskin tapi bisa
travelling ke penjuru dunia.
Untuk memenuhi ambisiku ini, aku harus kehilangan keperawananku.
Dia adalah orang pertama yang merengut kesucianku saat kami berlibur di Paris.
Entah karena terbawa suasana romantis atau kah memang hal itu
telah direncanakannya sejak awal. Yang jelas kami berdua menikmatinya.
Tapi sayang, hari itu adalah hari terakhir kebersamaanku
dengannya. Semenjak hubungan itu tercium oleh kedua orang tua Dandy. Mereka
menolak mentah-mentah keberadaanku.
Bahkan mama serta papanya menawarkan uang yang banyak, agar aku
menjauhinya.
Pun demikian, kami tetap ngotot dengan hubungan cinta yang sudah
terjalin. Hanya saja usaha keras dari Dandy dan aku tak membuahkan hasil.
Orang tuanya mengirim dia ke luar negeri. Entah Negara mana. Aku
pun tak bisa mencari tahu. Karena keterbatasan biaya.
Untung aku tidak hamil. Sehingga bea siswaku tidak sampai dicabut
oleh kampus.
Kutepis segala keinginan cintaku, dengan serius kuliah dan target
nilai yang bagus.
seorang kekasih. Ditengah kegalauan dengan kesendirianku.
Kucoba menyelidiki. Aku akhirnya bisa tertawa penuh kemenangan.
Saat tahu siapa kekasihnya.
Jodi…yah, cowok yang berpenampilan dengan rambut gondrong serta
tak terurus. Badannya kurus kekurangan gizi.
Ganteng sih, oke. Karena dia lelaki blasteran. Tapi dia bukan
kriteriaku. Seorang mahasiswa murni dan anak orang tak berpunya.
Aku hanya menggelengkan kepala tak habis mengerti. Yah, gadis desa
dan pria miskin sangat cocok menjadi julukannya.
Meskipun kemesraan yang mereka umbar, terkadang membuat ku iri.
Tak mengapa, yang penting dia dapat seorang pria yang bukan
levelku secara finansial.
Walaupun persaingan di bidang perkuliahan masih terus berlanjut.
Sampai suatu saat ada Maba dikampus kami.
Dari kelas sore yang selalu terisi penuh dengan para mahasiswa
yang kuliah dan bekerja.
Salah satunya adalah ‘Hendri’ sang supervisor di perusahaan
penerbangan milik Negara.
Dia kuliah hanya untuk menambah gelar, yang nantinya digunakan
sebagai pra syarat kenaikan pangkat di instansinya.
Dan aku, Selly Santoso sang play girl menginginkannya. Mutlak tak
bisa di ganggu gugat.
“Ha…ha…ha. Akhirnya dia ada di genggamanku. Tapi hanya sebagai
konsultan atas cintanya pada Suti. Tak apalah yang penting dia orangnya tidak
pelit. Dan setiap konsultasi pun tidak gratis”.
Miris ya, aku yang semula menggebu untuk membuat dia jatuh cinta.
Malah bertekuk lutut dengan hanya sebagai konsultan percintaan.
Kalau sekarang, mungkin si Hendri itu sudah kudapatkan sepenuhnya.
__ADS_1
Karena aku punya banyak trik kotor yang kupelajari dari Mr. Clark.
Perkenalanku dengan majikanku ini, sebenarnya tak disengaja. Saat
itu aku lagi mengunjungi sebuah club malam di Malang.
Hal itu kulakukan karena uang suap dari orang tua Dandy, sudah
habis tak bersisa. Maklumlah aku bukan seorang wanita yang suka hidup berhemat.
Karena bagiku, kemiskinan selama ini sudah cukup menjerat.
Yaah, dari orang baik-baik. Aku berganti haluan menjual diri. Bahkan
sudah melayani banyak tamu waktu itu. Tak kupedulikan yang penting kebutuhanku
terpenuhi serta kuliahku tidak putus ditengah jalan.
Mr. Clark adalah bule tampan dengan banyak harta. Ketika pertama
kali, aku diajak kerumahnya alih-alih kesebuah hotel. Kutahu dan yakin seratus
persen, dia amat-amat kaya bahkan melebihi kekayaaan keluarga Dandy.
Tapi yang membuatku heran. Tak pernah sekalipun dia memintaku
menemaninya ditempat tidur. Sampai kadang kala kupikir ‘Gay”.
Nyatanya pemikiran absurdku ini salah. Dia lelaki normal. Bahkan ada
foto istrinya dan bayi laki-laki dipajang diruang keluarga.
Em…istrinya itu orang Indonesia. Cantik dan kelihatan bersahaja
dengan balutan kebaya. Sedangkan anak laki-lakinya kelihatan lucu dan
menggemaskan.
Mungkin saat dia dewasa nanti akan seperti Mr. Clark yang tinggi
dan tampan. Dan satu lagi, bola matanya itu loh…biru. Sebiru lautan yang tak
bertepi.
Sedangkan istrinya kalau dilihat secara lama. Seperti penuh
misteri dan ada aura jahat didalamnya.
Yang membuat aku heran. Lama berada di rumah beliau. Tak pernah
sekalipun aku bertemu dengan istri dan anaknya itu.
Dengar-dengar dari pembantu yang sudah lama bekerja disana. Mereka
telah meninggal. Aku merasa terkejut sekaligus kasihan padanya.
Pantas saja terkadang orang itu kelihatan seperti melamun. Meskipun
tak mengurangi kharismanya.
Dalam hitungan tahun aku sudah selesai dengan pendidikan ku. Dan bekerja
di perusahaan ‘Dico Hotel and Travelling’ sebagai marketing executive.
Banyak tender yang kumenangkan dengan Pak Arman, selaku manajer
bagian senior. Hanya dalam enam bulan aku sudah bisa membeli mobil mewah serta
hunian yang berkelas mahal.
Kamu tahu mengapa demikian? Itu karena aku punya pekerjaaan ganda.
Yaitu merayu para bos dan investor dengan kemolekan tubuhku.
Meskipun terkadang jijik saat melakukannya. Tubuh mereka yang
tambun. Kepala plontos. Dan perlakuan mereka yang semena-mena, membuatku merasa
tak nyaman.
Banyak diantara mereka yang hanya menyalurkan hasrat binatangnya. Tanpa
memikirkan perasaaan pasangannya.
Hanya saja semua itu tertepis dengan keinginan kuatku untuk meraih
harta dan tahta. Miris ya?
Sampai suatu hari kau bertemu dengan Jodi. Pengusaha kaya dengan
nama keluarga Cartwright dibelakangnya. Bagaimana bisa? Seorang pemuda miskin
tiba-tiba menjadi seperti itu.
Ternyata orang yang selama ini mengasuh dia, adalah keluarga dari
suruhan orang tua kandungnya untuk menyelamatkan dia dari musuh keluarganya.
Seolah harapan hidupku kembali muncul. Ku ingin mengenggam dia
dalam pesonaku. Dan kalau perlu aku bisa menjadi ratu di Mansionnya.
Tapi harapan tinggalah harapan. Akhirnya jadilah aku seperti
pedang bermata dua.
Satu sisi mendukung kepentingan Jodi dan dilain sisi membantu Mr.
Clark untuk menghancurkannya. Tak ambil pusing dengan permusuhan kedua orang
itu. Yang jelas ‘Mission acomplished’ adalah moto yang kuterapkan pada
keduanya.
Yang berujung dengan mengalirnya dana ke rekeningku dalam jumlah
__ADS_1
yang sangat besar.