
Resto daun.
Lantai teratas dalam resto, mengalunkan lagu kenangan tahun
sembilan puluhan. Rocker Indonesia, Mel Sandy menyanyikan lagu slow rocknya
dengan begitu apik.
Di tengah ruang, duduk menunggu dua orang berpakaian resmi.
Keduanya sibuk mempelajari karakter pimpinan tertinggi dari The Clark’s
Company.
Isu dari laman berita yang dilihat, menyatakan jika sang CEO
merupakan orang yang tegas dalam menentukan kebijakan serta arah perusahaan.
Tak disebutkan di artikel, apakah sang pewaris dari Mr. Clark
Robinson seorang perempuan atau laki-laki. Yang mereka beritakan adalah sepak
terjangnya dalam dunia bisnis.
Banyak investor yang telah dan ingin bergabung dalam perusahaan,
pasca berganti pimpinan. Keuntungan yang banyak sering di share dalam artikel
bisnis.
Sosok pemimpinnya selalu menjadi ‘Bussinesman of the year’. Itulah
yang menjadi pemicu ketertarikan pewaris tunggal dari The Cartwright mengajukan
kerja sama.
Memperbarui imagenya yang hancur oleh ulah Jodi sendiri, sebelum
dia dan keluarganya mengalami pembalasan.
Jay yang hendak membalas perbuatan Clark dengan jebakan Dona,
akhirnya menuai hasil dari kekejamannya. The Cartwright dihancurkan oleh sang
pemilik Robinson.
Bisnisnya hancur serta mengalami kerugian besar. Yang tersisa
hanyalah satu perusahaan induk di Malang. Dengan posisi saham yang menurun drastis.
Bahkan untuk menopang kinerjanya, terpaksa Jodi menggunakan modal resto mamanya,
yang tak disentuh oleh Clark.
Keadaan yang sangat kacau, diterima oleh Jay saat pertama kalinya
dia kembali ke bekerja. Untunglah sang asisten setia, Andrew, masih menemaninya
sampai saat ini.
Bahkan Jeff, pimpinan bodyguard tak pernah meninggalkan keturunan
The Cartwright dalam keadaan apapun.
Begitu juga dengan pegawai lama Mansion. Mereka rela bekerja
dengan gaji tersendat. Tiga bulan atau kadang lebih baru dicairkan.
Laura sang nyonya Mansion sudah mengusir mereka, agar mencari
nafkah ditempat lain. Tapi semuanya menolak dengan dalih berbagai macam. Juga menganggap
keluarga majikan seperti keluarganya sendiri, yang terpuruk dan perlu
perlindungan.
Dan disinilah Jodi dan Andrew sekarang, menunggu sang pewaris
tunggal The Robinson datang. Usaha yang dilakukan untuk mempertahankan bisnis
keluarganya, agar bisa menjaga kelangsungan hidup ribuan orang karyawan dari
The Cartwright Company.
__ADS_1
Diskusi antara Jodi dan Andrew terhenti, ketika seorang waiter
mempersilahkan dua orang yang baru datang. Mengantarkan kedua tamunya ke meja
nomer dua belas.
Netra Jay melihat lelaki blasteran dengan postur tinggi menawan
dan dibelakangnya di ikuti oleh seseorang yang tidak kelihatan dari depan. Siluet
yang mengekori pria itu tertutupi bentuk badan sang pria.
Meskipun putra tunggal Laura bisa menebak, jika sosok dibelakang
David adalah seorang wanita dari bunyi ketukan sepatunya. Pun dengan setelan
kerja yang tersembul sedikit dari balik punggung sang asisten pribadi, saat
sosok itu bergerak.
Jodi mengusap dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri. Denyutannya menjadi
semakin menjadi. “A~apa ini?” batinnya. Dia pun menggelengkan kepala. Menghembuskan
napas besar ke udara. Untuk menetralisir perasaan aneh yang tiba-tiba merebak.
Begitu kedua orang itu mendekati meja, Jodi melotot tak percaya. Dentaman
jantungnya pun semakin keras. Keringat dingin mulai membasahi tubuh, saat dia
mengenali perempuan itu.
Dia tak mampu berkata, hanya terpaku dengan mulut menganga. Andrew
menyenggol lengan sang bos dan mengambil alih pembicaraan.
“Si~silahkan duduk Mr. David dan nona Suti,” David mempersilahkan.
“Thank you,” jawab Suti.
Sang asisten dari The Clark menarik kursi buat bosnya. Mempersilahkan
duduk sebelum dia sendiri menempati disebelahnya.
Jay hanya melihat tindakan gentlemen dari pria indo dihadapan.
“Eh~tidak. Maafkan saya yang terlalu shock,” jawabnya dan
buru-buru duduk di posisi semula.
“Fine. Jadi apa yang akan anda sampaikan?”
Meremas tangannya sebentar, “Bisakah saya bicara berdua saja
dengan anda, nona?”
Wanita itu menoleh ke David meminta persetujuan. Sang asisten
hanya menggulirkan matanya. “Well, jadi semua terserah padaku Dave?” pikir
Suti.
Sang asisten pun mengangguk samar seolah mengerti dengan yang
dipikirkan sang bos.
“Oke~tapi setelah pembicaraan bisnis kita selesai tuan Jay”.
“Ba-baiklah saya setuju nona Robinson”.
“Good. Mari kita lakukan”.
Mereka pun melanjutkan pembicaraan serius. Mempelajari dokumen,
meneliti dan menambahkan poin-poin penting sebagai bentuk kesepakatan antara
dua belah pihak.
Kedua CEO perusahaan hanya manggut-manggut dengan pembicaraan
kedua asisten. Ya diskusi hari ini didominasi oleh Andrew dan David. Saat sang
bos berusaha dengan keras menekan kegugupannya. Ekspresi dari kegembiraan dan
__ADS_1
rindu yang mendalam terhadap perempuan dihadapannya.
Seolah tak terpengaruh dengan sikap Jodi, sang nona hanya menatap
intens semua gerakannya. Menyeruput Jus jeruk dari gelas. Sesekali menyibakan
rambut yang bergerak nakal ke wajah.
Jengah dengan tingkah laku Jay, dia pun melihat kedua orang yang
tengah mendiskusikan kerja sama disampingnya.
Tak lama kemudian kedua lelaki itu berjabat tangan. Melaporkan hasil
ke bos masing-masing. Setelah anggukan diterima, keduanya mengucapkan permisi
untuk makan siang di lantai bawah.
Tinggalah Suti dengan Jay, menikmati makan siangnya. Netra wanita
itu melihat pesanan yang tertata di meja.
“Em…jadi seleramu kembali lagi Jay, setelah koma?”
“Tidak juga. Aku selalu suka menu ini”.
“Tapi saat di Mansion dulu aku tak pernah melihat makanan ini
disajikan. Kecuali aku yang memintanya”.
“Itu-itu”.
“Kenapa?”
“Bisakah kita melanjutkan pembicaraan ditempat lain agar lebih
leluasa?”
“Aku tak yakin akan hal itu. Banyak hal yang harus kuselesaikan”.
“Ak-aku mengerti,” jawab Jay menunduk. Tenggorokannya tercekat
seolah menelan pil pahit.
“Well, karena saya sudah selesai dengan makan siang ini. Saya
pamit dulu tuan Jay”.
“Apa kita bisa bertemu lagi nona?” tanyanya penuh harap.
Menghembuskan napasnya sebentar, “itu tergantung usaha anda Mr.
Jay. Dan dia pun meninggalkan ruangan.
Lelaki itu hanya bisa menatap sendu kepergiannya. Euporia yang
sempat mencuat kembali tergelincir ke jurang terdalam lubuk hatinya.
Sang kekasih yang dirindukan, tak menanggapi rasa yang dia simpan
selama ini.
“Mungkin dia marah?” pikir Jay. “Atau dia membalasku atas
perlakuanku selama ini? Hiks…” sesalnya.
Meletakan sendok di piring, Jodi meraih air putih di hadapan. Berusaha
meneguknya dengan susah payah. Saat rasa pahit menjalar di setiap pembuluh
darah. Air mata kepedihan pun menetes tak sengaja. “Ouh betapa nelangsanya
batinku. Inikah rasa dari Suti dulu. Ketika aku acap kali menghinanya?”
Dengan gontai Jay pun menyusul semua orang, menuju lantai bawah
dimana sang asisten setia menunggu. Memaksakan senyum saat bertemu dengan
pegawai resto yang menangkup tangan sebagai tanda terima kasih atas
kunjungannya.
Menunggu Jeff di depan pintu keluar. Keduanya pun masuk ke dalam
__ADS_1
mobil, begitu gesekan ban ketanah terdengar. Tak beberapa lama kendaraan pun melaju
meninggalkan halaman menuju pusat kota.