MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB LXIX


__ADS_3

Resto daun.


Lantai teratas dalam resto, mengalunkan lagu kenangan tahun


sembilan puluhan. Rocker Indonesia, Mel Sandy menyanyikan lagu slow rocknya


dengan begitu apik.


Di tengah ruang, duduk menunggu dua orang berpakaian resmi.


Keduanya sibuk mempelajari karakter pimpinan tertinggi dari The Clark’s


Company.


Isu dari laman berita yang dilihat, menyatakan jika sang CEO


merupakan orang yang tegas dalam menentukan kebijakan serta arah perusahaan.


Tak disebutkan di artikel, apakah sang pewaris dari Mr. Clark


Robinson seorang perempuan atau laki-laki. Yang mereka beritakan adalah sepak


terjangnya dalam dunia bisnis.


Banyak investor yang telah dan ingin bergabung dalam perusahaan,


pasca berganti pimpinan. Keuntungan yang banyak sering di share dalam artikel


bisnis.


Sosok pemimpinnya selalu menjadi ‘Bussinesman of the year’. Itulah


yang menjadi pemicu ketertarikan pewaris tunggal dari The Cartwright mengajukan


kerja sama.


Memperbarui imagenya yang hancur oleh ulah Jodi sendiri, sebelum


dia dan keluarganya mengalami pembalasan.


Jay yang hendak membalas perbuatan Clark dengan jebakan Dona,


akhirnya menuai hasil dari kekejamannya. The Cartwright dihancurkan oleh sang


pemilik Robinson.


Bisnisnya hancur serta mengalami kerugian besar. Yang tersisa


hanyalah satu perusahaan induk di Malang. Dengan posisi saham yang menurun drastis.


Bahkan untuk menopang kinerjanya, terpaksa Jodi menggunakan modal resto mamanya,


yang tak disentuh oleh Clark.


Keadaan yang sangat kacau, diterima oleh Jay saat pertama kalinya


dia kembali ke bekerja. Untunglah sang asisten setia, Andrew, masih menemaninya


sampai saat ini.


Bahkan Jeff, pimpinan bodyguard tak pernah meninggalkan keturunan


The Cartwright dalam keadaan apapun.


Begitu juga dengan pegawai lama Mansion. Mereka rela bekerja


dengan gaji tersendat. Tiga bulan atau kadang lebih baru dicairkan.


Laura sang nyonya Mansion sudah mengusir mereka, agar mencari


nafkah ditempat lain. Tapi semuanya menolak dengan dalih berbagai macam. Juga menganggap


keluarga majikan seperti keluarganya sendiri, yang terpuruk dan perlu


perlindungan.


Dan disinilah Jodi dan Andrew sekarang, menunggu sang pewaris


tunggal The Robinson datang. Usaha yang dilakukan untuk mempertahankan bisnis


keluarganya, agar bisa menjaga kelangsungan hidup ribuan orang karyawan dari


The Cartwright Company.

__ADS_1


Diskusi antara Jodi dan Andrew terhenti, ketika seorang waiter


mempersilahkan dua orang yang baru datang. Mengantarkan kedua tamunya ke meja


nomer dua belas.


Netra Jay melihat lelaki blasteran dengan postur tinggi menawan


dan dibelakangnya di ikuti oleh seseorang yang tidak kelihatan dari depan. Siluet


yang mengekori pria itu tertutupi bentuk badan sang pria.


Meskipun putra tunggal Laura bisa menebak, jika sosok dibelakang


David adalah seorang wanita dari bunyi ketukan sepatunya. Pun dengan setelan


kerja yang tersembul sedikit dari balik punggung sang asisten pribadi, saat


sosok itu bergerak.


Jodi mengusap dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri. Denyutannya menjadi


semakin menjadi. “A~apa ini?” batinnya. Dia pun menggelengkan kepala. Menghembuskan


napas besar ke udara. Untuk menetralisir perasaan aneh yang tiba-tiba merebak.


Begitu kedua orang itu mendekati meja, Jodi melotot tak percaya. Dentaman


jantungnya pun semakin keras. Keringat dingin mulai membasahi tubuh, saat dia


mengenali perempuan itu.


Dia tak mampu berkata, hanya terpaku dengan mulut menganga. Andrew


menyenggol lengan sang bos dan mengambil alih pembicaraan.


“Si~silahkan duduk Mr. David dan nona Suti,” David mempersilahkan.


“Thank you,” jawab Suti.


Sang asisten dari The Clark menarik kursi buat bosnya. Mempersilahkan


duduk sebelum dia sendiri menempati disebelahnya.


Jay hanya melihat tindakan gentlemen dari pria indo dihadapan.


“Eh~tidak. Maafkan saya yang terlalu shock,” jawabnya dan


buru-buru duduk di posisi semula.


“Fine. Jadi apa yang akan anda sampaikan?”


Meremas tangannya sebentar, “Bisakah saya bicara berdua saja


dengan anda, nona?”


Wanita itu menoleh ke David meminta persetujuan. Sang asisten


hanya menggulirkan matanya. “Well, jadi semua terserah padaku Dave?” pikir


Suti.


Sang asisten pun mengangguk samar seolah mengerti dengan yang


dipikirkan sang bos.


“Oke~tapi setelah pembicaraan bisnis kita selesai tuan Jay”.


“Ba-baiklah saya setuju nona Robinson”.


“Good. Mari kita lakukan”.


Mereka pun melanjutkan pembicaraan serius. Mempelajari dokumen,


meneliti dan menambahkan poin-poin penting sebagai bentuk kesepakatan antara


dua belah pihak.


Kedua CEO perusahaan hanya manggut-manggut dengan pembicaraan


kedua asisten. Ya diskusi hari ini didominasi oleh Andrew dan David. Saat sang


bos berusaha dengan keras menekan kegugupannya. Ekspresi dari kegembiraan dan

__ADS_1


rindu yang mendalam terhadap perempuan dihadapannya.


Seolah tak terpengaruh dengan sikap Jodi, sang nona hanya menatap


intens semua gerakannya. Menyeruput Jus jeruk dari gelas. Sesekali menyibakan


rambut yang bergerak nakal ke wajah.


Jengah dengan tingkah laku Jay, dia pun melihat kedua orang yang


tengah mendiskusikan kerja sama disampingnya.


Tak lama kemudian kedua lelaki itu berjabat tangan. Melaporkan hasil


ke bos masing-masing. Setelah anggukan diterima, keduanya mengucapkan permisi


untuk makan siang di lantai bawah.


Tinggalah Suti dengan Jay, menikmati makan siangnya. Netra wanita


itu melihat pesanan yang tertata di meja.


“Em…jadi seleramu kembali lagi Jay, setelah koma?”


“Tidak juga. Aku selalu suka menu ini”.


“Tapi saat di Mansion dulu aku tak pernah melihat makanan ini


disajikan. Kecuali aku yang memintanya”.


“Itu-itu”.


“Kenapa?”


“Bisakah kita melanjutkan pembicaraan ditempat lain agar lebih


leluasa?”


“Aku tak yakin akan hal itu. Banyak hal yang harus kuselesaikan”.


“Ak-aku mengerti,” jawab Jay menunduk. Tenggorokannya tercekat


seolah menelan pil pahit.


“Well, karena saya sudah selesai dengan makan siang ini. Saya


pamit dulu tuan Jay”.


“Apa kita bisa bertemu lagi nona?” tanyanya penuh harap.


Menghembuskan napasnya sebentar, “itu tergantung usaha anda Mr.


Jay. Dan dia pun meninggalkan ruangan.


Lelaki itu hanya bisa menatap sendu kepergiannya. Euporia yang


sempat mencuat kembali tergelincir ke jurang terdalam lubuk hatinya.


Sang kekasih yang dirindukan, tak menanggapi rasa yang dia simpan


selama ini.


“Mungkin dia marah?” pikir Jay. “Atau dia membalasku atas


perlakuanku selama ini? Hiks…” sesalnya.


Meletakan sendok di piring, Jodi meraih air putih di hadapan. Berusaha


meneguknya dengan susah payah. Saat rasa pahit menjalar di setiap pembuluh


darah. Air mata kepedihan pun menetes tak sengaja. “Ouh betapa nelangsanya


batinku. Inikah rasa dari Suti dulu. Ketika aku acap kali menghinanya?”


Dengan gontai Jay pun menyusul semua orang, menuju lantai bawah


dimana sang asisten setia menunggu. Memaksakan senyum saat bertemu dengan


pegawai resto yang menangkup tangan sebagai tanda terima kasih atas


kunjungannya.


Menunggu Jeff di depan pintu keluar. Keduanya pun masuk ke dalam

__ADS_1


mobil, begitu gesekan ban ketanah terdengar. Tak beberapa lama kendaraan pun melaju


meninggalkan halaman menuju pusat kota.


__ADS_2